Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Manis dan pengertian


Petang mulai menyambut. Gerry dan Kyara sudah menghabiskan waktu cukup lama di taman sambil menikmati beberapa jajanan yang dibeli Gerry. Beberapa jam di taman mereka habiskan untuk bercerita tentang masa kecil masing-masing dan juga perkembangan Baby Rey. Walau hubungan mereka masih terkesan kaku, baik Gerry maupun Kyara mencoba untuk memperbaikinya dengan memperbanyak saling bercerita.


Tak terasa beberapa orang mulai berhamburan meninggalkan taman. Begitu pula Gerry dan Kyara yang memutuskan untuk pulang mengingat mereka sudah terlalu lama meninggalkan bayi kecil mereka.


"Kyara..." Gerry menahan tangan Kyara yang hendak bangkit dari duduknya.


"Ya, ada apa?" Mengurungkan niatnya untuk bangkit dan kembali duduk.


"Bagaimana perasaanmu saat ini kepadaku?" Tanya Gerry sedikit ragu.


Kyara mendongak menatap wajah Gerry yang jauh lebih tinggi darinya.


"Entahlah. Untuk saat ini biarkan seperti ini dulu." Helaan nafasnya terdengar berat. Lagi-lagi ia belum bisa membalas perasaan suaminya itu. Rasa sakit yang ia rasakan sejak awal menjadi istri Gerry masih saja meninggalkan jejak di pikirannya hingga saat ini.


"Baiklah. Tak apa. Ayo pulang." Gerry memaksakan senyumannya. Kemudian mengulurkan tangannya membantu Kyara untuk berdiri.


"Maaf..." Lirih Kyara yang dapat melihat raut kekecewaan pria itu.


"Sudahlah, tak usah dipikirkan. Ayo!" Ajaknya menarik lembut tangan Kyara.


Selama dalam perjalanan untuk pulang, baik Gerry maupun Kyara hanya diam. Suasana yang hangat di taman tadi seolah sirna begitu saja oleh penolakan Kyara untuk yang kesekian kalinya. Pandangan Gerry lurus ke depan menatap banyaknya kendaraan yang menghalangi jalannya. Kedua matanya yang mulai berembun itu tertutupi oleh kaca mata hitam yang dikenakannya.


Agh, lagi-lagi perasaannya tak terbalas.


"Gerry, berhenti!" Pinta Kyara saat melihat martabak langganannya di kota A.


Gerry pun seketika memelankan laju mobilnya.


"Aku ingin membeli martabak itu." Ucap Kyara memutarkan tubuhnya ke belakang. Pandangannya terpusat pada gerobak martabak yang sedang dikelilingi para pembeli.


Gerry ikut memutar tubuhnya.


"Kau ingin martabak yang sedang ramai itu?" Tanya Gerry memastikan.


Kyara dengan cepat mengangguk.


"Baiklah." Ucapnya kemudian menepikan mobilnya.


"Tapi—"


"Di sana cukup ramai. Aku tak ingin kau kesulitan bernafas diantara para ibu-ibu itu." Tukas Gerry.


"Kau ingin rasa apa?"


Kyara memberengut. "Coklat keju."


"Baiklah. Tunggulah di sini." Gerry menanggalkan kaca matanya dan meletakkannya di atas dashboard.


"Kau begitu baik dan perhatian padaku, Gerry. Namun maaf aku belum bisa memberi apa yang kau mau." Lirih Kyara melihat pada kaca spion dimana Gerry sedang berjalan ke arah penjual martabak.


Kedatangan Gerry ke gerobak martabak itu berhasil mencuri perhatian wanita di sana. Tatapan memuja mereka hunuskan pada Gerry membuat pria itu bergedik. Walau terpesona dengan wajah Gerry, namun Ibu-ibu itu tak urung memberi ruang pada Gerry untuk lebih dulu mendapatkan antrian. Lebih baik Gerry saja yang dapat antrian terakhir agar mereka bisa lebih lama melihat wajah pria itu, pikir mereka.


"Dia pasti tidak biasa mengantri seperti itu." Gumam Kyara melihat Gerry yang masih diapit oleh banyaknya antrian pembeli.


Tiba-tiba pandangan Kyara tertuju pada anak kecil di depan mobil mereka yang sedang memainkan bola.


"Lucu sekali. Apa Rey akan selucu anak itu jika besar nanti?" Kyara tersenyum sendiri mengingat bayinya di rumah.


Namun seketika kedua bola mata Kyara membola sempurna saat bola anak itu menggelinding di jalan raya. Melihat anak itu berlari mengejar bolanya, Kyara pun dengan cepat keluar dari dalam mobilnya berniat menghentikan langkah anak itu.


***


Lanjut lagi gak?


Eits... Tapi jangan lupa berikan dukungan dalam bentuk


like


komen


dan votenya, ya:)