Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Mengantar pulang


Setelah mendengarkan penjelasan Kyara, Rania membawa Kyara ke dalam pelukannya. Rania tidak tahu jika niat baiknya akan membawa petaka untuk sahabatnya itu. Kedua sahabat itu nampak berpelukan sambil menangis.


"Maafkan aku, Kya... Aku tidak tahu akan seperti ini jadinya." Sesal Rania di sela tangisannya.


Kyara melerai pelukannya. " Tak apa... Aku tahu niatmu sungguh baik." Balas Kyara tersenyum. "Aku harus kembali ke dalam karena pekerjaanku belum selesai." Ucap Kyara mengingatkan.


Rania mendesahkan nafasnya di udara. "Baiklah, ayo masuk! Aku akan membantumu. Tolong jangan menolakku kali ini. Lagi pula tidak ada orang lain selain kita di sini." Ucap Rania.


Kyara mengangguk. Tubuhnya juga sudah lelah jika harus mengerjakannya sendiri.


Rania melanjutkan menyikat lantai yang belum selesai dikerjakan Kyara. Sedangkan Kyara, Rania menyuruh tegas sahabatnya itu untuk duduk di kursi yang sudah ia pinjam di pos penjagaan. Setelah selesai membersihkan keseluruhan toilet, Kyara dan Rania pun keluar dari dalam toilet untuk segera pulang.


Pandangan Rania dan Kyara tertuju pada satu mobil yang akan bergerak meninggalkan besement. Rania dan Kyara saling pandang. Mereka tahu mobil itu milik siapa. Milik Gerry—suami Kyara.


Sedangkan di dalam mobil yang menjadi pusat penglihatan Rania dan Kyara, Asisten Jimmy menatap iba pada Nyonya muda keluarga Bagaskara yang baru saja selesai mengerjakan hukumannya. Asisten Jimmy memang mengetahui jika Kyara sedang dihukum karena ia tidak sengaja mendengar percakapan Nisa dan Bobby saat ingin masuk ke dalam pantry.


"Kya... Ayo..." Ajak Rania ketika melihat mata Kyara masih menatap kepergian mobil suaminya.


"Kyara..." Kali ini tangan Rania mengelus lengan Kyara agar menyadarkan Kyara. Dan berhasil. Kyara tersadar dari lamunannya.


"Kau berbicara apa tadi, Rania?" Tanya Kyara tak enak.


"Ayo pergi dari sini. Hari sudah mulai gelap. Tidak baik Ibu hamil sepertimu di tempat seperti ini. Udara di sini cukup pengap." Ucap Rania.


"Biar aku saja yang mengantarkanmu pulang. Kondisimu sedang tidak baik jika membawa motor sendiri." Ucap Rania ketika Kyara hendak duduk di belakang pedal gas motornya.


"Lalu bagaimana dengan adikmu?" Tanya Kyara yang tahu jika adik Rania sudah menunggu di depan pagar.


"Dia bisa mengikutiku untuk mengantarkanmu lebih dulu. Jangan banyak bicara lagi. Ayo naiklah!" Perintah Rania yang sudah duduk di belakang pedal gas.


Setelah memastikan Kyara duduk dengan aman di belakangnya, Rania pun mulai menarik pedal gas motor Kyara. Motor pun mulai membelah jalanan ibu kota diikuti adik Rania dibelakang motor mereka. Suasana jalanan cukup ramai karena saat ini adalah jam para pejuang pencari nafkah pulang bekerja.


"Rania... Bukankah kau ingin membicarakan sesuatu denganku setelah pulang bekerja..." Kyara sedikit meninggikan suaranya agar terdengar jelas di telinga Rania yang tertutupi helm.


"Besok saja... Kau harus segara beristirahat..." Balas Rania yang ikut meninggikan suaranya.


"Baiklah..." Sahut Kyara.


Setelah menempuh dua puluh menit perjalanan, akhirnya motor yang dikendarai Rania berhenti di depan gedung apartemen.


"Apa kau tidak ikut ke dalam saja?" Ajak Kyara setelah Rania melepas helm di kepalanya.


Rania menggeleng. "Kapan hari bila suamimu sedang berada di luar kota saja. Aku takut jika Pak Gerry sudah sampai di apartemen kalian sekarang." Jelasnya.


***