Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Tidak peka


Hari yang ditunggu-tunggu Rania pun akhirnya tiba. Pagi-pagi sekali Rania sudah bangun dari tidurnya untuk mempersiapkan kembali segala sesuatu kebutuhan untuk suaminya selama ia tinggalkan satu minggu ke depan. Seperti menyiapkan baju kerja suaminya untuk satu minggu kedepan mengisi kulkas dengan berbagai makanan instan agar suaminya tidak perlu kerepotan jika merasa lapar pada malam hari dan juga merapikan barang-barang William yang belum tersusun rapi


Setelah memastikan semua kebutuhan suaminya sudah siap, Rania pun segera masuk kembali ke dalam kamar untuk membersihkan diri. Sosok yang masih nyaman bergulung di dalam selimut membuat senyuman Rania terkembang. Rania menggeleng perlahan saat begitu memuja wajah suaminya yang begitu tampan. Agh, hingga sampai saat ini Rania masih saja mengagumi makhluk ciptaan tuhan yang satu itu.


Setelah cukup puas memandang wajah tampan suaminya, Rania pun buru-buru masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Pagi ini ia, Sean dan Felix akan berangkat menunju kota B pukul setengah delapan pagi. Dan Rania tidak ingin ia sampai terlambat dalam perjalanan bisnisnya untuk pertama kalinya.


"Kenapa kau tidak membangunkanku?" Ucap William dengan suara serak sambil memeluk tubuh Rania dari belakang.


Rania yang sedang menyisir rambutnya pun menghentikan aktivitasnya. "Bukankah hari ini kau tidak berangkat ke perusahaan? Maka dari itu aku tidak ingin mengganggu tidurmu." Ucap Rania.


"Apa kau berniat pergi tanpa berpamitan padaku, hem?" William semakin mempererat pelukannya di pinggang Rania.


"Lepaskan... Kau membuat tubuhku terasa sesak!" Ucap Rania berusaha melepaskan pelukan suaminya.


Bukannya melepas, William justru semakin mempererat pelukannya. "Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku!" Sungutnya.


"Aku tidak mungkin tidak berpamitan denganmu. Lagi pula aku sudah berniat membangunkanmu sebentar lagi." Ucap Rania.


William melonggarkan pelukannya namun tidak melepaskannya. "Kenapa kau berdandan cantik sekali pagi ini?" Ucap William merasa tak suka.


"Aku berdandan seperti biasanya. Namun aku hanya mengganti warna lipstikku agar lebih terlihat cerah." Balas Rania.


William mendengus dan akhirnya melepaskan pelukannya.


"Apa kau tidak ingin mandi dulu?" Tanya Rania yang sudah merasa risih karena di tatap suaminya dari belakang.


"Ya. Aku akan mandi." Ucap William kemudian membalikkan tubuhnya berjalan menjauhi istrinya. "Dia itu tidak peka sekali jika aku sedang kesal!" Gerutu William dengan pelan melangkah ke dalam kamar mandi.


Pukul tujuh pagi, Rania sudah berangkat menuju tempat yang sudah ia dan Sean janjikan untuk bertemu dengan diantarkan oleh William. Di dalam perjalanan, pria bule yang memakai kaca mata hitam bertengger di hidung mancungnya itu nampak diam saja dengan pandangan fokus ke depan.


Ada apa dengannya? Apa aku membuat kesalahan? Batin Rania bertanya-tanya.


Rania yang hendak membuka pintu mobil seketika mengurungkan niatnya saat pergelangan tangannya dicekal oleh William.


"Tetap diam. Aku akan membukakan pintu untukmu." Tekan William lalu keluar dari dalam mobil.


Sean yang sedang berbincang dengan Felix dan petugas gudang arsip menghentikan percakapan mereka lalu menatap pada mobil hitam yang terparkir di depan mereka. Seorang pria bule dengan tubuh kekar dan gagahnya nampak keluar dari dalam mobil kemudian memutari mobil membukakan pintu untuk istrinya.


*


Buat teman-teman semua... Mampir ke karya baruku yang berjudul "Dia Anakku, Bukan Adikku." Yuk sambil menunggu cerita Rania dan William update:)


^^^Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!^^^


^^^Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.^^^


^^^- Serpihan Cinta Nauvara (End)^^^


^^^- Oh My Introvert Husband (On Going)^^^


^^^Jangan lupa beri dukungan dengan cara^^^


^^^Like^^^


^^^Komen^^^


^^^Vote^^^


^^^Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...^^^