Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Dia tidak mengharapkanku


Bianqa Boutique.


Suasana di butik sore itu nampak sudah mulai sepi sebab para karyawan butik sudah mulai meninggalkan butik karena jam kerja mereka telah habis. Namun berbeda dengan pemilik butik tersebut yang masih berdiam diri di dalam ruangannya sambil menatap foto pria yang sampai saat ini masih dicintainya.


Ceklek


Suara pintu ruangan yang terbuka dari luar membuat wanita yang termenung itu tersadar dari lamunannya.


"Nona Bianca, apa anda belum ingin pulang?" Tanya Merry— asisten pribadinya.


"Saya akan pulang sebentar lagi. Kenapa kau masih tetap di sini? Bukankah jam kerja sudah selesai sejak setengah jam yang lalu?" Tanya Bianca setelah melihat jam di meja kerjanya.


"Saya menunggu anda untuk pulang, Nona. Semua pintu sudah saya kunci dan tinggal pintu utama yang masih terbuka." Jelasnya.


"Pulanglah. Aku akan pulang sebentar lagi. Kau bisa mengunci pintu dari luar karena aku punya kunci cadangannya."


"Tapi—" Merry nampak begitu enggan menuruti perintah Bianca.


"Aku tak apa berada di sini seorang diri, Merry." Ucap Bianca yang seolah paham ketakutan asistennya itu.


Merry nampak menimbang.


"Pulanglah!" Ucap Bianca lagi dengan tegas.


Merry menghela nafasnya lalu mengangguk. "Kalau begitu saya pamit pulang dulu, Nona." Pamitnya yang diangguki oleh Bianca.


Semenjak menikah Nona Bianca terlihat berbeda. Nona Bianca lebih sering menghabiskan waktunya di butik dan pulang jika hari sudah malam. Ucap Merry dalam hati.


Pintu kembali tertutup rapat. Bianca meletakkan kembali bingkai foto di tangannya ke dalam laci kemudian menguncinya. Tubuhnya bangkit dari kursi kerjanya lalu berjalan ke arah jendela. Menatap pada langit yang mulai gelap serta awan tebal mulai menyelimutinya.


"Untuk apa aku pulang jika kehadiranku tidak diharapkan?" Bianca merasa miris. Kondisi hatinya memang selalu buruk setelah hari itu. Hari dimana ia sah menjadi istri dari pria yang dicintainya namun pria itu sama sekali tidak mencintainya.


"Cilla..." Satu nama yang menjadi penyemangat hidupnya saat ini membuat Bianca berusaha bangkit dari kesakitan yang ia rasakan.


Bianca kembali larut dalam lamunannya. Sejak hari itu Calvin memang memutuskan untuk bekerja di perusahaan cabangnya yang terbilang cukup kecil yang ada di kota tempat Bianca tinggal dengan ibunya dengan alasan tidak ingin jauh dari putrinya— Cilla. Dan sesekali Calvin juga kembali ke kota C untuk bekerja dan memantau perkembangan perusahaannya di sana.


Suara petir yang terdengar cukup keras mengembalikan kesadaran Bianca yang masih larut dalam lamunannya.


"Sepertinya akan turun hujan lebat. Sebaiknya aku segera pulang." Ucapnya lalu menutup gorden jendelanya.


Tap


Tap


Tap


Suasana di lantai satu butiknya nampak sudah gelap dan hanya ada sedikit penerangan di sudut ruangan. Bianca melangkah tanpa ragu dan takut meski hanya ialah yang berada di sana saat ini.


Ting


Sebuah notifiksi yang masuk ke dalam ponselnya membuat Bianca menghentikan langkahnya.


Bianca... ibu dan Bibi Nancy sudah mengantarkan Cilla pulang ke rumahmu dan Calvin. Saat ini Ibu sudah kembali berada di rumah bersama Bibi Nancy.


"Aku jadi tidak enak dengan Ibu. Seharusnya aku sudah berada di rumah sehingga bisa bertemu dengan Ibu." Bianca kembali mematikan layar ponselnya lalu memasukkannya ke dalam tas sandangnya.


Bianca kembali melanjutkan langkahnya. Langkah kakinya semakin melebar menuju pintu keluar. "Sepertinya Calvin sudah pulang sehingga Ibu sudah kembali ke rumah." Gumamnya saat masuk ke dalam mobilnya.


***


Komen, vote dan like dulu baru lanjut deh😌


Sambil menunggu cerita HSM update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺


- Dia Anakku, Bukan Adikku (On Going)


- Serpihan Cinta Nauvara (End)


- Oh My Introvert Husband (End)