
"Turunkan aku di sini saja!" Ucap Rania saat mobil sudah dekat ke gerbang perusahaan Wilson.
"Steve..." Ucap William seakan memberi perintah.
Steve menghentikan laju mobilnya.
"Kenapa kau meminta turun di sini?" Tanya William merasa heran.
"Aku hanya tidak ingin orang-orang berpikiran yang tidak-tidak jika mereka melihatku turun dari mobilmu. Lagi pula orang-orang di perusahaan tidak ada yang mengetahui jika aku sudah menikah." Terang Rania.
William terdiam sesaat. "Jam berapa kau akan pulang? Steve akan menjemputmu."
"Tidak perlu menjemputku. Karena aku akan pulang dengan temanku nanti sore." Tolak Rania.
"Temanmu yang mana? Apa anak Tuan Richard itu?" Tanya William merasa tak suka.
Rania membuang nafas pelan di udara. "Tidak. Aku akan pulang dengan sekretaris Deby. Karena kami akan pergi ke pusat perbelanjaan sepulang bekerja." Jelasnya.
William mengangguk. "Baiklah. Namun besok kau akan pulang dijemput oleh Steve." Tekan William.
"Terserah kau saja." Balas Rania tak mau bersebat.
Akhirnya Rania pun turun dari dalam mobil setelah melakukan sedikit drama suami istri dengan suaminya.
"Selalu pantau gerak-gerik istriku. Aku tidak ingin laki-laki itu berusaha untuk mencari kesempatan untuk merebut istriku." Perintah William pada Steve.
"Baik Tuan." Balas Steve patuh.
Rania melangkahkan kakinya dengan buru-buru memasuki gerbang perusahaan Wilson. Kepalanya tak henti berputar untuk melihat apakah ada orang yang melihatnya turun dari mobil William atau tidak.
"Apa kau diantar oleh suamimu pagi ini, Rania?" Ucap seseorang secara tiba-tiba di belakang Rania.
Rania mengelus dadanya. "Kau mengejutkanku, Tuan Sean!" Amuk Rania menatap sebal pada Sean.
Sean tertawa. "Apa kondisi jantungmu sudah mulai bermasalah, Rania?" Tanyanya mengejek.
"Cih. Bukan jantungku yang bermasalah. Tapi karena kau yang mengejutkanku!"
"Lagi pula tingkahmu berjalan sudah seperti seorang pencuri saja." Sean pun melanjutkan jalannya disusul oleh Rania. "Apa kau sebegitu takutnya jika orang lain melihat wajah suamimu itu?" Cibir Sean sambil terus berjalan tanpa membalikkan tubuhnya ke belakang.
Bruk
"Salah kau sendiri kenapa tidak menjawab pertanyaanku!" Seru Sean.
Para karyawan yang sedang berlalu-lalang nampak menahan tawanya melihat tingkah Rania dan Sean yang selalu saja bagaikan anjing dan kucing. Namun tidak ada satu pin dari mereka yang merasakan iri aatas kedekatan keduanya. Karena dari awal mereka sudah diperingati agar tidak ada saling iri dengki selama bekerja di perusahaan Wilson. Dan lagi pula tingkah Sean dan Rania cukup menghibur mereka selama bekerja.
"Sudahlah aku sedang tidak ingin berdebat denganmu." Dengus Rania sambil berjalan mengikuti langkah Sean yang sudah kembali melanjutkan langkahnya. "Oh iya, dimana Felix?" Tanya Rania saat menyadari jika pria yang selalu berada di belakang Sean tidak terlihat sejak tadi.
"Felix sudah berada di ruangannya."
"Berada di ruangannya? Kenapa cepat sekali?" Gumam Rania melirik jam di pergelangan tangannya.
"Karena dia sedang menyiapkan laporan yang akan kita presentasikan nanti siang di perusahaan Bagaskara."
Ting
Pintu lift pun terbuka. Rania dan Sean pun masuk ke dalam kotak besi yang akan membawa mereka ke lantai tertinggi perusahaan.
"Astaga, aku hampir melupakannya!" Seru Rania menepuk jidatnya.
"Kau ini..." Dengus Sean. "Namun kau tidak lupa bukan jika nanti siang kita akan bertemu dengan Tuan Gerry sekaligus dengan sahabat Tuan Gerry yaitu suamimu?"
***
^^^Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!^^^
^^^Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.^^^
^^^- Serpihan Cinta Nauvara (End)^^^
^^^- Oh My Introvert Husband (On Going)^^^
^^^Jangan lupa beri dukungan dengan cara^^^
^^^Like^^^
^^^Komen^^^
^^^Vote^^^
^^^Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...^^^