Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Pengganggu


Ketty tak menghiraukan Gerry yang berusaha menghentikannya. Tangannya masih sibuk di dada Gerry mengelusnya dengan lembut. Wanita itu memang begitu lihat membuat lawan jenisnya meradang.


"Ssh.. Sudah cukup, Sayang... Jangan buat aku terpancing." Lirih Gerry berusaha menahan gairah.


Mendengar ucapan Gerry membuat Ketty semakin bersemangat untuk menggoda pria itu. Wanita itu sejatinya kini sangat membutuhkan belaian. Mengingat selingkuhannya yang sudah satu minggu ini tidak lagi memanjakan tubuhnya karena kesibukannya.


"Jangan menahannya, Sayang..." Ucap Ketty diiringi sentuhannya yang semakin menurun.


Gerry yang sudah hampir setiap hari menjamah tubuh istrinya pun nampak terpancing. Apa lagi sudah hampir satu bulan belakangan ini ia tidak lagi berhubungan dengan Kyara. Membuat hasratnya yang sudah lama terpendam ingin ia salurkan.


Dan kini Ketty nampak kewalahan menyeimbangi kegiatan Gerry yang memberi sentuhan-sentuhan di titik sensitifnya. Ia tidak menyangka jika Gerry sekarang sudah begitu lihai memanjakan tubuh kekasihnya. Huh... Ketty tidak tahu saja jika hampir 6 bulan belakangan kekasihnya itu sudah sering mempraktekkan kegiatan panasnya dengan sang istri.


Kini tubuh keduanya sudah berada di atas sofa. Pangutan keduanya belum terlepas. Bahkan ciuaman mereka semakin ganas. Tangan Ketty kini mulai membuka satu per satu buah kancing kemeja Gerry. Gerry membiarkan apa yang dilakukan kekasihnya itu. Hasratnya saat ini mengalahkan akal sehatnya.


Namun ketika satu buah kancing lagi yang akan terlepas. Ingatan Gerry tiba-tiba melayang pada wajah sendu istrinya. Bayangan istrinya yang selalu mengeluarkan air mata dan rintihan setiap kali ia jamah. Gerry menghentikan aktivitasnya yang masih mencium lembut bibir kekasihnya. Bahkan ia menahan tangan Ketty yang sebentar lagi berhasil melepas kemejanya.


"Kenapa?" Tanya Ketty ketika Gerry tak lagi melanjutkan kegiatan panasnya.


"Maaf..." Lirih Gerry merasa salah. "Aku tidak ingin merusak dirimu sebelum kau sah menjadi istriku." Sesal Gerry.


Ketty mendecakkan lidah. "Bukankah kita juga akan melakukannya nanti?" Ketty memberengut.


"Hanya ketika kau sudah menjadi istriku." Tekan Gerry. Tangannya kini memasang kembali buah kancing kemejanya yang sudah terlepas oleh ulah kekasihnya itu.


"Aku bukannya takut... Tapi aku hanya tidak ingin merusak dirimu." Tekan Gerry. Kini kancing kemejanya sudah terpasang sempurna.


"Tapi..." Ucapan Ketty menggantung di udara karena ketukan pintu.


Tok


Tok


Tok


"Masuk!" Perintah Gerry setelah tahu jika Asisten Jimmy-lah yang mengetuk pintu ruangannya.


"Kita masih ada pertemuan saat jam makan siang di cafe Kamila siang ini, Pak." Ucap Asisten Jimmy mengingatkan.


Gerry mengangguk sebagai jawaban. Pria itu melihat ke arah kekasihnya yang masih berwajah masam.


"Aku harus pergi dulu. Jika kau mau berada di sini tidak masalah. Kau bisa istirahat di sini. Aku tidak akan lama." Ucap Gerry begitu lembut. Tangannya membelai kepala kekasihnya yang tertunduk.


Ketty masih menunjukkan wajah masam. Tatapan kini menuju pada Asisten Jimmy yang sudah mengganggu kesenangannya. Dalam hatinya Ketty mengumpati Asisten Jimmy yang selalu saja menjadi penghalang segala rencananya.


Sedangkan Asisten Jimmy yang melihat raut wajah tidak suka Ketty padanya hanya diam. Tak lama senyum tipis nampak terbit di wajahnya ketika menyadari sesuatu. Apa lagi melihat baju yang dikenakan Ketty nampak kusut dan rambutnya sedikit berantakan. Lagi-lagi ia bersyukur menjadi penghalang kegiatan panas yang akan dilakukan Bosnya.