Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
Episode 94


Setelah sampai di ruang perawatan, suasana menjadi hening. Semua larut dalam pikiran masing-masing dengan keadaan Kenan saat ini, dan juga sangat kasihan melihat keadaan Diva. Tatapan mata dan sorot kesedihan semua tertuju kepada Diva, yang tak pernah melepaskan genggaman tangannya dari tangan Kenan, dengan air mata yang terus saja keluar membasahi wajahnya.


Begitupun dengan Bunda Vivian wajah kesedihan dan kepiluan, walaupun ia tak pernah mengatakannya, tapi terlihat jelas dari raut wajah wanita tersebut, kalau dirinya sangat terpukul dengan keadaan putra semata wayangnya. Matanya memerah dengan air mata yang meluruh tanpa henti, sesekali hanya isakan kecil yang terdengar dari wanita paruh baya itu, sambil sesekali menyeka air matanya dengan tisu.


"Vi ...." Sahut Bunda Hani, sambil mengusap pelan bahu besannya itu.


Bunda Vivian hanya menoleh, dan tersenyum yang terkesan di paksakan. Bunda Hani mengubah posisinya menjadi menghadap besarnya itu, yang tadinya mereka duduk berdampingan di sofa, Bunda Hani memeluk besannya Itu, mencoba untuk menguatkan nya, sambil mengusap punggungnya.


Bunda Vivian menangis sangat pilu, tanpa mengeluarkan suara, hanya punggungnya lah yang bergetar karena menangis, di pelukan Bunda Hani.


"Yang Sabar, dan jika kau mau menangis menangislah, jangan kau tahan-tahan seperti ini, hal ini juga tidak baik buat kesehatan kamu, menangislah dengan kencang jika itu akan membuat dirimu lebih baik ! Ujar Bunda Hani.


Bunda Hani mengerti dengan apa yang di rasakan besannya saat ini, karena dia juga seorang ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya, ibu mana yang tidak sakit melihat anak yang telah di lahirkan terbaring tak berdaya seperti itu, hanya bantuan alat-alat yang menopang hidupnya.


"Kita doakan dia bersama-sama, agar Kenan segera di sembuhkan, dan kembali berkumpul bersama kita !" Ucap Bunda Hani setelah Tangis Bunda Vivian sudah sedikit redah.


"Terimakasih Han, karena kamu dan keluargamu, selalu ada di sisi kami, saat-saat seperti ini, dan juga ikut memberi dukungan buat Kenan." Ucap Bunda Vivian melepaskan pelukannya dari besannya.


"Apa yang kau katakan ! Kita ini keluarga, keluarga memang seharusnya seperti itu, dan untuk Kenan, dia juga adalah anak kami, jadi sudah seharusnya kami melakukan ini semua." Ucap Bunda Hani menggenggam tangan Bunda Vivian.


🍀🍀🍀


Tiga bulan kemudian


Kenan sepertinya masih nyaman dengan tidur panjangnya, sedangkan Pak Salman sudah kembali normal, tapi masih mengonsumsi obat-obatan untuk menyetabilkan sel-sel baru, setelah melakukan donor sumsum tulang belakang.


Selama Tiga bulan ini, Diva tidak pernah kembali ke apartemen, Diva selalu setia merawat suaminya. Seperti halnya saat ini dia sedang melap tubuh suaminya dengan sangat telaten, walau sudah sedikit kesusahan karena perutnya sudah semakin besar. Kandungan Diva sudah memasuki bulan ke sembilan, menurut perkiraan dokter seminggu lagi ia akan lahiran.


Setelah melap seluruh badan suaminya itu, kini ia ikut membaringkan badannya di samping sang suami, dengan posisi memiringkan tubuhnya menghadap Kenan.


Diva meraih tangan suaminya itu, dan ia letakkan di atas perutnya.


"By', kapan kamu akan bangun, apa kamu tidak capek tidur terus hemm ? Diva mengajak Kenan bebicara, walaupun Kenan tidak pernah menjawabnya, tapi itu yang Diva selalu lakukan.


"By', kata dokter seminggu lagi, anak kita akan lahir, apa kamu tidak mau melihat anak kita untuk pertama kalinya ia lahir kedunia ?" Lanjut Diva dengan suara seraknya, air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya siap-siap untuk meluncur keluar.


"By', Cepatlah bangun ! Aku ingin seperti ibu-ibu pada umumnya, yang melahirkan anak mereka dengan suaminya yang setia mendampinginya, memberinya semangat." Kini Air matanya yang sedari tadi tertahan, kini sudah lolos membasahi pipi chubby nya.


Diva menyeka air matanya, sedikit kasar, kemudian melanjutkan kata-katanya.


"By', kamu sudah janji, akan menemaniku saat anak kita akan lahir, dan aku mau kamu yang pertama kali memberinya nama, aku tidak akan menamainya sebelum kamu bangun."


"By', apa kamu tahu ? Kata dokter anak kita laki-laki loh."


"Apa kamu tidak ingin segera bangun, mengajak anak kita nantinya bermain ! Ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Diva di iringi dengan tangis.


Diva menelusup kan wajahnya di lengan Kenan sambil menangis terisak, mungkin karena kelelahan menangis, dengan perlahan mata Diva terpejam dan tertidur di lengan Kenan, berharap jika ia bangun nanti, senyum suaminya lah yang ia liat pertama kali.


Jangan tanya kenapa bisa Diva bisa tidur di dekat suaminya. Ya... Pak Salman sengaja meminta tempat tidur yang lebih besar yang di muat untuk dua orang, agar Diva bisa ikut tidur di samping Kenan.


Karena Pak Salman selalu melihat menantunya tertidur di kursi samping brankar Kenan yang dulu, dan Diva juga tidak ingin jauh-jauh dari Kenan. Pak Salman merasa kasihan dengan menantunya itu, apalagi dia sedang hamil. Biarpun biayanya lebih mahal lagi, tapi jika itu semua demi kenyamanan anak dan menantunya Pak Salman rela berapapun akan ia keluarkan demi mereka.


Sore hari Pak Salman dan Bunda Vivian masuk keruangan Kenan di rawat, sambil menenteng kantong makanan.


"Yah, kasihan sekali menantu kita, setiap hari ia seperti itu, dia selalu saja menangis dan akhirnya tertidur setelah lelah menangis." Ucap Bunda Vivian setelah memakaikan selimut untuk Diva.


"Iya Bun, kita doakan saja, semoga Kenan cepat bangun." Sahut Pak Salman menatap nanar kepada menantunya dan juga anak semata wayangnya yang terbaring tak sadarkan diri.


🍀🍀🍀


Lima hari telah berlalu begitu cepat, Diva masih selalu sibuk mengurus suaminya, walaupun bunda Vivian melarangnya dan ia akan yang mengurus Kenan, karena kasihan melihat menantunya yang kadang kesusahan karena perutnya yang semakin membesar, namun Diva selalu menolak, selama dia masih bisa, dia yang akan melakukannya.


"Sayang kamu kenapa ?" Tanya Bunda Vivian sedikit menaikkan nada bicaranya, karena saat ini ia sedang berada di sofa menyiapkan salad buah yang di inginkan Diva, saat melihat Diva bersandar di kepala tempat tidur seperti menahan sakit.


"Ini Bun, perut aku sakit. Ishh..." Diva kembali meringis.


"Jangan-jangan kamu mau lahiran." Ujar Bunda Vivian menghentikan aktivitasnya kemudian menghampiri menantunya itu dengan segera.


"Tapi menurut prediksi dokter masih dua hari lagi Bun." Ucap Diva lirih karena sakit yang sering datang menyerang di bagian perut dan pinggangnya.


"Tapi sayang, itu hanya prediksi dokter, lahirannya bisa saja cepat, ataupun terlambat." Jelas Bunda Vivian sambil mengusap pelan pinggang Diva.


"Bunda .... " Ucap Diva sedikit berteriak karena rasa sakit yang teramat dia rasakan di pinggangnya, tanpa sengaja Diva meremas kuat lengan Kenan yang berada di sampingnya.


Bunda Vivian terlihat panik saat melihat air ketubannya sudah pecah.


"Sayang sepertinya kamu akan melahirkan !


"Yah ..... " Teriak Bunda Vivian memanggil Pak Salman yang berada di Toilet.


"Yah, Cepat bawa menantu kita ! Dia akan segera melahirkan." Seru Bunda Vivian saat mendengar ayah Salman keluar dari toilet.


"Tunggu ! Aku pakai baju dulu." Pak Salman kembali masuk ke toilet untuk memaki pakaiannya kembali, karena tadi ia akan mandi, namun ia urungkan saat mendengar teriakkan istrinya.


Setelah keluar dari toilet, Pak Salman langsung mengangkat tubuh Diva keluar ruangan, menuju ruangan bersalin, Bunda Vivian segera menghubungi Dokter clarine.


Tanpa mereka sadari tadi, tangan Kenan bergerak....


Bersambung....


Untuk permintaan maaf karena kemarin nggak Up, hari ini aku Upnya dua episode.


Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan kalian


Like


Vote


Favorit


Rate


Dan jangan lupa komentarnya di kolom komentar jika ada saran dan kritikan. 🙏🙏🙏


🤗🤗🤗❤️❤️❤️