
Tiga hari berlalu setelah mereka berbelanja, dan jalan-jalan, karena hari itu mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu berdua.
Pagi ini Enzy bengun pagi untuk membuat sarapan seperti yang di inginkan Khay tadi semalam, Khay meminta ingin di buatkan nasi goreng seafood dan susu kocok kegemarannya.
Saat asik sedang buat sarapan tiba-tiba saja lengan kekar melingkar di perutnya, dan subuah ciuman di tengkuknya.
"Pagi istriku." Ucap Khay serak sepertinya pria itu baru saja bangun dan langsung menuju dapur tanpa mencuci mukanya terlebih dahulu.
"Kamu baru banget bangun ya ?" Tanya Enzy menghentikan sejenak mengaduk nasi gorengnya lalu menoleh ke belakang.
"Emmm...." Sahut Khay memejamkan matanya sambil bersandar pada bahu Enzy dengan manja.
"Khay aku lagi masakin kamu nasi goreng, entar gosong kalau kamu seperti ini terus." Ucap Enzy melanjutkan nasi gorengnya.
"Aku ingin seperti ini." Ujar Khay.
"Khay !" Pekik Enzy saat Khay menggigit lehernya dan meninggalkan bekas kepemilikan disana.
"Aku mandi dulu istriku." Ucap Khay lalu segera meninggalkan dapur. sebelum spatula yang digunakan istrinya itu mendarat di kepalanya, karena ulahnya sendiri yang membuat wanita itu kesal.
Sementara Enzy hanya meberenggut kesal, apalagi kali ini Khay membuatnya di bagian yang susah di tutupi.
Lima belas menit kemudian Enzy menyelesaikan masakannya, dan menatanya di meja makan, setelah itu ia naik menuju kamarnya untuk siap-siap berangkat ke kampus sebelum sarapan.
Saat masuk ia mendapati Khay baru saja selesai dan baru akan keluar.
Dengan wajah kesal Enzy melewati suaminya itu begitu saja, membuat Khay terkekeh, ia yakin istrinya sedang marah karena ulahnya.
"Sayang, kenapa kesal gitu ? Kamu tambah cantik tau kalau seperti itu." Ucap Khay mengikuti Enzy dari belakang.
Enzy malah tak menghiraukan laki-laki itu, langsung membuka lemarinya mencari pakaian apa yang kiranya cocok buat menutupi bekas gigitan serangga raksasa itu, dan tentunya cocok ia gunakan ke kampus.
"Sayang !" Khay memeluk Enzy dari belakang.
"Jangan peluk-peluk !" Ujar Enzy masih kesal sambil melepaskan lengan laki-laki itu yang melingkar sempurna di pinggangnya.
"Aku minta maaf." Ucapnya melepaskan pelukannya.
"Maaf kamu tidak akan menghilangkan bekas ini dari leherku, jangan sampai anak di kampus berpikiran tidak-tidak melihat ini." Ujar Enzy kesal mengambil bajunya yang kiranya bisa menutupi bekasnya.
Saat Enzy mencobanya namun bekas itu masih terlihat jelas.
"Kamu pakai ini !" Ujar Khay memberikan kemejanya.
"Kamu udah gila ya, ini tuh kegedean Khay." Ujar Enzy menerima kemeja itu.
"Iya tapi setidaknya ini bisa nutupin bekasnya, walaupun sebenarnya aku sih seneng kalau ada yang liat, itu berarti kamu udah milik orang, dan orang itu aku." Ujar Khay membuat Enzy membulatkan matanya mendengar apa yang dikatakan suaminya itu.
"Bener-bener gila." Seru Enzy langsung masuk ke kamar mandi, membawa kemeja milik Khay.
Tak butuh waktu lama Enzy keluar sudah menggunakan kemejanya, di padukan dengan jens, Enzy menutup kancingnya hingga bagian paling atas, dan benar saja itu bisa menutupi bekasnya.
"Ngapain masih disitu ?" Tanya Enzy masih kesal melihat suaminya duduk di sofa sambil menyandar memainkan ponselnya.
"Nungguin kanjeng mami keluar, biar barengan ke bawahnya." Sahut Khay tanpa beralih dari ponselnya.
Enzy tak lagi banyak bicara, ia memoleskan kream di wajahnya, lalu menggunakan liptin ke bibirnya, Enzy sehari-hari memang tak pernah menggunakan make up, cukup ia memakai cream dan sedikit pewarna bibir yang tipis, namun biar pun tanpa meke up tebal ia tetap terlihat sangat cantik.
"Ayo !" Ajak Enzy berdiri tepat dihadapan Khay, setelah selesai bersiap-siap.
"Udah siap ?" Tanya Khay kemudian memasukkan ponselnya di saku jaketnya.
"Mmmm, ayo buruan nanti telat, aku ada kuliah pagi soalnya." Ujar Enzy kemudian berjalan mendahului suaminya itu.
Di meja makan, seperti pagi biasanya Enzy melayani suaminya, dengan mengambilkan makanan ke piringnya, kemudian mereka makan bersama.
"Masih pagi udah gombal." Sahut Enzy.
"Aku enggak gombal sayang, tapi...uhuk...uhuk..." Khay tiba-tiba keselek Enzy lansung memberinya air minum.
"Makanya jangan suka ngegombal apalagi saat makan begini, kualat kan !" Ucap Enzy.
"Sudah aku bilang aku enggak gombal." Bantah Khay setelah dirasa cukup baik.
"Sudah lanjut lagi makannya, enggak usah banyak ngomong !" Ucap Enzy dan di angguki Khay.
Setelah makan mereka langsung berangkat ke kampus, mereka meninggalkan begitu saja bekas sarapan mereka karena sudah hampir terlambat, lagian bibi yang biasa membersihkan apartemen mereka juga akan datang sebentar lagi.
"Kenapa kau terus melihatku seperti itu, kamu lebih baik fokus nyetirnya, nanti kalau nabrak kan repot !" Ucap Enzy saat Khay selalu saja menoleh kepadanya.
Hari ini mereka berangkat bersama, karena Khay memaksa, namun dengan syarat Enzy akan turun tak jauh dari kampus mereka.
"Emangnya kenapa, apa salah jika aku melihat istriku, apalagi jika secantik kamu." Sahut Khay tersenyum menggoda.
"Dan kenapa kamu tersenyum seperti itu ?"
"Ummm....karena aku senang.
"Senang ?"
"Emmm, karena kamu mau berangkat bersamaku, walaupun tak sampai parkiran."
"Apa hanya karena hal sekecil ini, membuatmu begitu senang ?"
"Iya, karena apapun itu, mau hal sekecil apapun jika itu menyangkut dirimu, aku pasti merasa sangat senang." Sahut Khay kembali menoleh menatap Enzy, sementara Enzy terdiam mendengar ucapan suaminya itu, Enzy memalingkan wajahnya menatap luar jendela, sambil berusaha menahan senyumnya, entah kenapa ia merasa senang jika Khay selalu berkata manis seperti itu.
Tak berapa lama mobil sport milik Khay tiba di tempat yang cukup sepi yang jarang di lewati mahasiswa-mahasisiwi.
"Enzy...." Panggil Khay saat Enzy akan keluar dari mobil.
Enzy yang dipanggil tiba-tiba seperti itu, langsung menoleh.
"Bisakah nanti malam kita keluar makan malam ?" Tanya Khay.
Enzy tampak terdiam, memikirkan ajakan suaminya itu, bukannya ia tidak mau, tapi ia merasa malas aja, bukan itu saja ia juga merasa was-was jika bepergian bersama Khay, takut ada teman kampusnya yang melihat mereka berdua.
"Ya sudah jika kamu tidak mau, tidak apa-apa." Ucap Khay setelah cukup lama Enzy terdiam tanpa menjawab ajakannya.
Khay mengehela nafas kasar, ia kecewa karena Enzy tak menerima ajakannya.
Enzy yang melihat itu, mengerti kalau suaminya itu merasa kecewa.
"Emmm...aku akan pergi bersamamu nanti." Sahut Enzy membuat Khay seketika menoleh dan menatap istrinya itu, seolah tak percaya apa yang ia dengar barusan.
"Apa coba kamu ulangi !" Seru Khay.
"Aku tidak akan mengulanginya, aku pergi dulu !" Ujar Enzy lalu keluar begitu saja meninggalkan Khay tersenyum-senyum sendiri saking senangnya.
Sementara Enzy berbalik dan melihat Khay tersenyum-senyum sendiri seperti itu, karena Khay belum juga menjalankan mobilnya, dan kacanya ia turunkan.
"Dasar gila." Gumam Enzy tersenyum terus melanjutkan langkahnya.
Bersambung.....
Jangan lupa LIKE, Komen, dan Vote....
Terimakasih 🙏🙏🙏🙏
Love You All ❤️❤️❤️❤️🤗🤗🤗🤗😘😘😘😘