Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
59


Ke Esokan harinya di kediaman keluarga Salman sedang sarapan.


"Pagi Yah, Bun." Sapa Kenan kepada kedua orangtuanya saat baru bergabung di meja makan. Kenan langsung duduk memakan roti isi yang sudah disediakan Bunda Vivian dipiring dan segelas susu.


"Yah, Bun, Kenan pamit kesekolah." Kenan pamit kepada kedua orangtuanya setelah menyelesaikan sarapannya, lalu berdiri menyalami kedua orangtuanya.


"Nan, Kamu duduk dulu, ada yang Ayah ingin sampaikan !" Ucap Ayah Salman saat Kenan ingin mencium punggung tangan ayahnya.


"Ada apa Yah ?" Tanya Kenan saat sudah duduk kembali.


"Ayah berencana mengajak kalian liburan keluar negeri, setelah kalian Ujian." Jawab Ayah Salman.


Kenan terdiam saat mendengar penuturan Ayahnya, Kenan tampak memikirkan sesuatu, namun setelah itu ia senyum-senyum sendiri.


"Kita berangkatnya kapan Yah?" Kenan kembali untuk memastikan kapannya mereka akan berangkat, karena ia sudah merencanakan sesuatu.


"Tiga bulan lagi, tepatnya seminggu setelah kamu dan Diva ujian." Jawab ayah Salman.


"Baiklah Yah, nanti saya bicarakan dengan Diva." Sahut Kenan.


"Kalau begitu aku pamit, nanti telat." Ujar Kenan kemudian melangkah keluar menuju garasi dimana motor kesayangan Diva berada. Kenan selalu mengendarai motor Diva saat akan bepergian seperti sekolah maupun ke Office.


Setelah sampai sekolah ia langsung memarkirkan motornya, bertepatan dengan itu mobil Ray baru saja masuk dan langsung memarkirkan mobilnya di dekat motor Kenan.


"Woi ... Ini parkiran motor.!" Sahut Kenan saat Ray keluar dari mobilnya.


"Terserah gue lah, lu lupa gue siapa di sekolah ini." Ujar Ray menaikkan kedua alisnya lalu merangkul bahu sahabatnya itu.


"Sepertinya elu lebih suka naik motor sekarang." Ucap Ray.


"Emmmm .... " Kenan hanya berdehem menanggapi ucapan Ray.


Mereka berjalan menyusuri koridor menuju kelasnya, dengan wajah datar plus dingin. Ray jika berada disekolah memanglah seperti itu, kalau Kenan jangan di tanya lagi, dimanapun ia berada wajahnya memang seperti itu, dengan keluarganya pun Kenan biasa bersikap datar, kecuali jika ia bersama dengan istrinya, ia berubah jadi hangat.


Kenan dan Ray tidak langsung masuk kedalam kelas, mereka lebih memilih duduk di bangku depan kelasnya, karena belum waktunya bell masuk, mereka malas mendengar keributan di kelasnya dengan obrolan-obrolan tidak penting mereka.


"Nan, bagaimana tuh si Disti?" Tanya Ray.


Ray sudah mengetahui perihal Disti, Kenan sudah menceritakan semuanya.


"Gue sudah urus dia, dia anak dari mantan desainer, dulu mamanya seorang pemilik salah satu butik terkenal, dan papanya seorang pengusaha ekspor impor, tapi sekarang kehidupan mereka sudah berbanding terbalik. Setelah butik mamanya kebakaran, dan di saat yang bersamaan perusahaan ayahnya menurun hingga mengalami kebangkrutan." Terang Kenan.


"Dan menurut orang kepercayaan gue, dia berusaha mendekati gue." Sambung Kenan.


"Dia belum tau kalau elu sudah nikah?" Tanya Ray memutar badannya menghadap sahabatnya itu.


"Sudah, kemarin gue ketemu dia di outlet, yang dekat dari office, dan sepertinya dia sudah tau.


Kenan pun menceritakan pertemuannya dengan Disti di outlet.


"Tapi kenapa dia masih mau dekati elu?" Ray kembali bertanya.


Kenan hanya mengangkat kedua bahunya, lalu beranjak dari duduknya langsung masuk ke kelas karena bell sudah berbunyi.


Di sebuah rumah sederhana berlantai dua, aset Keluarga mereka yang masih tersisa. Seorang gadis sedang menatap dirinya di cermin kemudian menambahkan sedikit liptin di bibirnya, setelah itu ia beranjak lalu mengambil tasnya diatas tempat tidur kemudian berjalan keluar kamarnya, menuju meja makan.


"Pagi Ma ...


"Disti, sayang sarapan dulu." Sahut mama Disti.


"Papa mana Ma?" Tanya Disti karena tidak melihat keberadaan papanya.


"Papa, pagi-pagi tadi ke kantor temannya, katanya ada pekerjaan." Jawab mama Disti sambil menyendok kan nasi goreng kepiring Disti.


"Kamu mau kemana sayang?" Tanya mama Disti karena sudah melihat anaknya sudah rapi.


"Aku mau kerumah teman dulu lalu Disti mau ke Office D & KA Ma, Disti mau memperhatikan rancangan baru aku." Jawab Disti sambil memakan sarapannya.


"Semoga kamu berhasil sayang, maafkan kami, karena kami belum bisa memenuhi semua kebutuhan kamu, hingga kamu harus bekerja keras seperti ini sayang." Ucap mama Disti sendu.


"Kalian sudah kasih Disti yang terbaik, aku dan papa akan berusaha supaya mama bisa berobat, dan mengembalikan kehidupan kita sebelumnya." Ucap Disti menggenggam tangan mamanya.


"Ya sudah Disti pamit ya Ma." Ucap Disti lalu mencium punggung tangan mamanya.


Di sekolah Kenan.


Saat ini Kenan bersama Ray sudah berada di kantin, karena sudah jam istirahat.


Kenan menghubungi Diva melalui video call


📱"Assalamualaikum Yank." Salam Kenan saat Diva menerima panggilannya.


📱"Walaikumsalam by', Kamu di mana"


📱"Ini aku sama Ray, lagi di kantin yank, kamu?"


📱"Aku juga lagi dikantin, sama teman-teman."


Tiba-tiba seseorang langsung duduk di samping Diva lalu merangkul pundak Diva. Hal itu membuat Diva langsung menoleh kearah orang tersebut.


"Daffa" Sahut Diva kaget.


"Div, kamu pulang bareng siapa, pulang bareng gue yuk." Ucap Daffa.


Daffa tidak menyadari kalau Diva sedang melakukan video call dengan Kenan.


📱"Ekhem .... " Kenan berdehem. Seketika Diva langsung menoleh kearah Ponselnya kembali.


📱"Eh ... by' Maaf." Ucap Diva


Diva tau kalau suaminya itu sekarang sedang dalam mode on cemburu.


Kenan tidak menanggapi Ucapan Diva, Kenan langsung mengakhiri panggilan videonya.


Kenan langsung meletakkan ponselnya di atas meja dengan sedikit kasar, Ray yang sedari tadi juga mendengar, hanya geleng-geleng kepala.


Tak lama notif pesan Kenan berbunyi.


📩 "By', Maaf aku juga tidak tau kalau dia tiba-tiba datang.đŸ™đŸ™â˜šī¸â˜šī¸


Kenan hanya melihat pesan yang dikirim Diva, ia tidak berniat untuk membalasnya.


Ponsel Kenan kembali berdering tanda panggilan masuk, sampai panggilan ke tiga Kenan baru menjawabnya.


📞 "Emmm ... Ada apa ?" Tanya Kenan ketus.


📞 "Kamu tidak percaya sama aku ?" Sahut Diva.


📞 "Percaya."


📞 "Terus kenapa seperti itu, kamu marah ?"


📞 "Tidak apa-apa, siapa yang marah."


📞 "By', kamu pikir aku mau sama laki-laki lain, kamu tau sendiri kan aku cintanya cuma sama kamu doang."


Kenan yang mendengar pengakuan Diva tersenyum-senyum sendiri. Sedangkan Ray jangan ditanya dia hanya menatap jengah melihat kecemburuan sahabatnya itu.


📞 "Kamu jangan pernah nanggepin dia, ingat kamu itu sudah punya suami, jangan genit-genit." Ucap Kenan.


📞 "Iya my hubby." Sahut Diva


📞 "Ya sudah aku tutup dulu telfonnya.


📞 "Tunggu dulu by'.


📞 "Ada apa Yank?"


📞 "Soulmate aku tidak apa-apa, tidak lecet-lecet kan by'?" Tanya Diva.


Kenan yang mendengar pertanyaan Diva merasa jengah


📞 "Giliran motor saja, ditanyakan kabarnya, giliran suami sendiri tidak tuh, kayaknya kamu lebih sayang motor kamu deh yank dari pada suami kamu sendiri." Sahut Kenan.


📞 "Astagfirullah, Suamiku ini, motor aja di cemburuin.


Ya sudah, kabar suamiku ini bagaimana, sehat-sehat kan, tidak genit-genit juga kan." Ujar Diva.


📞 "Telat kamu Yank, motor kamu mau aku jual, Assalamualaikum." Kenan langsung mutuskan sambungan teleponnya sepihak.


Kenan tau istrinya itu pasti panik saat mendengar kalau ia akan menjual motor kesayangannya.


Kenan segera mengajak Ray kembali ke kelas, banyak siswi, yang melihat Kenan bersikap manis saat menelepon, mereka yakin kalau itu dari istrinya.


Jam Tiga sore Kenan baru sampai di office dan langsung menuju ruangannya, Kenan belum mengganti seragamnya, hal itu membuat kagum para karyawan. Masih pake seragam saja sudah sesukses ini punya istri cantik lagi, pikir para karyawan.


Saat sudah sampai ruangannya Kenan kaget melihat Disti ada di sana, Kenan langsung berjalan kekursi kebesarannya tanpa menghiraukan sapaan Disti.


"Ada perlu apa Anda datang kemari?" Tanya Kenan to the poin saat sudah duduk di kursinya sambil menyalakan laptopnya.


"Saya ingin memperlihatkan rancangan baru saya." Jawab Disti.


"Harusnya Anda sudah tau jika Anda harusnya memperlihatkan itu langsung ke bagian pemasaran." Ujar Kenan datar.


"Sebenarnya saya juga ingin membicarakan sesuatu hal." Sahut Disti menatap Kenan.


"Sesuatu hal?" Tanya Kenan menaikkan kedua alisnya.


"Nan, Aku tau kamu sudah menikah, aku juga tahu kalau kamu tinggal terpisah dengannya, aku mau kok jadi kekasih diam-diam kamu, aku sangat menyukai bahkan sudah mencintaimu." Ujar Disti berusaha memegang tangan Kenan yang berada di atas meja, namun Kenan segera menepisnya.


"Anda benar-benar sudah gila, Jika itu maksud Anda kesini lebih baik sekarang keluar dari ruangan saya, dan tidak usah kembali lagi." Ujar Kenan geram dan menekankan setiap kata-katanya.


Bukannya Disti keluar, tapi dia justru menghampiri Kenan dan memeluknya, disaat bersamaan pintu ruangan Kenan terbuka. Kenan langsung mengalihkan pandangannya kearah pintu dan betapa terkejutnya Kenan melihat orang tersebut.


Bersambung......


jangan lupa mampir juga ke novel aku yang satunya KINARA OF JOURNEY.


mohon dukungan


like


coment


vote


dari para readers tersayang


🙏🙏🙏🤗🤗🤗