
Jam tujuh malam, Alex baru saja tiba di rumahnya, karena setelah pulang kampus tadi ia ada kegiatan di luar bersama teman-temannya.
Alex berjalan memasuki rumahnya yang selalu tampak sepi, ia mendudukkan dirinya di sofa ruang tengah.
Saat memejamkan matanya, tiba-tiba ia kembali teringat dengan semua perkataan Khay pagi tadi, Alex kembali membuka matanya lalu beranjak menuju kamar adiknya, Sita.
Saat tiba di depan pintu kamar bercat putih tersebut, dengan perlahan ia membukanya, dan di dalam sana terlihat Sita sedang belajar di meja belajarnya, yang posisinya membelakangi pintu, sehingga Sita tak menyadari keberadaan Alex.
Alex menatap punggung adiknya itu dengan tatapan sedih bercampur kekhawatiran, ia tak menyangka adiknya itu belum bisa melupakan hubungannya bersama dengan Khay, pria yang pernah bersahabat dengannya.
"Dek, aku ingin kamu melupakan semuanya, aku ingin kamu kembali seperti dulu, sebelum kamu mengenal pria ba**"ngan itu, aku ingin kamu selalu bahagia, dek." Gumam Alex kemudian kembali menutup pintu itu dengan perlahan, ia tak ingin mengganggu adiknya itu yang tampaknya sedang belajar, setelah pintunya tertutup Alex menuju kamarnya untuk membersihkan badannya, sebelum itu, ia sudah memesan makanan untuk makan malam mereka.
...----------------...
Sementara di tempat Khay
Khay dan Enzy terlihah sedang bersantai di sofa kamar mereka, Enzy bersandar di sofa sambil menaikkan kedua kakinya, tak lupa toples cemilan pangkuannya, lalu menonton drama korea kegemarannya, sedangkan Khay, pria itu tampak sibuk sendiri dengan laptopnya, mengerjakan beberapa pekerjaan kantor.
Drrtt.. Drrtt....
Keduanya langsung teralihkan dari kegiatan masing-masing, karena deringan ponsel Khay yang berada di atas meja.
"Sayang, aku angkat panggilan dari Leo dulu." Ucap Khay yang hanya di angguki Enzy.
Khay berjalan ke arah balkon, sesampainya disana, ia langsung menjawab panggilan tersebut, sementara Enzy terus memperhatikan Khay dengan tatapan datar.
π "Iya baiklah." Ucap Khay pada seseorang diseberang sana.
π ".........
π "Emm, sekarang gue kesana." Khay sesekali menoleh kebelakang melihat Enzy, takut istrinya itu mendengar dengan siapa ia berbicara.
π ".......
Setelah panggilan mereka berakhir, Khay kembali menghampiri Enzy, dan mendudukkan dirinya kembali disamping istrinya itu, yang kini menatapnya, seolah ia bertanya ada apa ?
"Sayang, aku mau ke Cafe Leo, yang baru ia buka itu." Ijin Khay menumpuhkan dagunya di bahu Enzy.
"Buat apa ? Ini sudah malam." Tanya Enzy datar, lalu kembali fokus pada tontonannya.
"Doni, juga Leo sudah menungguku disana, katanya mereka ada hal penting yang harus dibahas." Jelas Khay.
"Dimalam yang seperti ini, apa tidak bisa besok saja ?" Seru Enzy.
"Iya sayang, ini penting, kami akan membahas soal club bola kampus yang akan tanding besok sedikit ada kendala." Jawab Khay mencoba meyakinkan istrinya itu.
"Jika kamu belum mengantuk, kamu bisa menungguku hingga jam 10, aku akan pulang tepat waktu." Lanjut Khay.
"Terserah kamu saja, aku tidak akan menunggumu sampai selarut itu, kamu tahu sendiri sekarang-sekarang ini aku tidak bisa terjaga melawati jam 9 malam." Ujar Enzy sedikit kesal.
Khay mencium rahang milik istrinya itu, membuat Enzy menatapnya tajam.
"Siapa yang menginjinkanmu untuk menciumiku ?" Kesal Enzy.
"Sayang jangan marah dong ! Setelah urusanku selesai, aku janji akan segera pulang tepat waktu." Ujar Khay menarik pinggang istrinya itu lalu memeluknya dari samping, sedangkan Enzy tak mengatakan apa-apa, ia hanya memutar bola matanya malas, sambil memajukan bibir bawahnya.
Cupp....
Khay langsung mencium bibir itu sekilas, dan langsung mendapat delikan tajam dari wanitanya itu.
"Dikit doang, masa gak boleh sih." Ucap Khay menampilkan cengirannya.
"Ya sudah, aku pergi dulu ya sayang, jadilah istri yang baik, tunggulah suamimu ini pulang. !" Seru lalu kembali memberikan kecupan singkat pada bibir Enzy.
"Dah, sayang." Ucap Khay lalu keluar dari kamar.
Sedangkan Enzy, dia hanya membiarkan suaminya itu pergi, tanpa melarangnya, sambil memperhatikan punggung Khay sampai tak terlihat.
Kamu pikir, aku benar akan menunggumu seperti orang bodoh sendirian disini, hah ? Bermimpilah !" Ujar Enzy tersenyum miring, kemudian meletakkan toples cemilannya, lalu mematikan televisi dengan menekan remot secara kasar.
...----------------...
Setibanya di Cafe, Khay langsung memarkirkan mobilnya, lalu bergegas masuk ke dalam, saat tiba di dalam, Khay menghentikan langkahnya tepat di depan pintu masuk, ia mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang telah menelfonnya tadi.
"Hay, bro..." Sapa Leo juga kaget melihat kedatangan sahabatnya tiba-tiba, biasanya jika Khay ataupun yang lainnya jika mau berkunjung mereka mengabarinya terlebih dahulu.
"Emmm...Hay." Sahut Khay namun masih sibuk mencari seseorang yang ia cari, Leo ikut mengikuti arah pandang sahabatnya itu.
"Khay sebenarnya kamu mencari siapa sih ? Terus ada masalah apa, kenapa tiba-tiba seperti ini ?" Tanya Leo bingung.
"Gue mau menemui seseorang ada hal yang mesti gue selesain." Jawab Khay.
"Apa kau kesini sendirian, dimana Enzy, apa dia ikut bersama mu ?" Tanya Leo melihat ke arah luar, siapa tahu aja wanita itu masih berada diluar.
"Tidak Le, gue kesini sendirian, sebenarnya gue kesini gue mau menemui Alex, juga Sita." Jelas Khay.
"Apa Enzy tahu ?" Tanya Leo.
"Tidak, gue rasa dia tidak perlu tahu soal ini, lagian gue kesini, gue mau selesaikan semuanya, sebelum ia mengetahui semuanya, gue gak mau dia stres jika ia mengetahui soal ini.
"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusanmu, gue harap Enzy selamanya tak akan mengetahui masalah ini, sebelum kau menyelesaikan semuanya, karena gue khawatir kalian akan bertengkar, jika dia mengetahui sebelum selesai, dan akan membuatmu menyesal." Ujar Leo menepuk-nepuk punggung Khay.
"Gue rasa dia belum tahu Le, soalnya gue perhatiin selama ini dia baik-baik aja, dan tak pernah menyinggung soal ini." Terang Khay yakin.
"Baguslah jika seperti itu, kalau begitu good luck bro, kalau begitu buruan masuk, gue rasa mereka sudah menunggumu di dalam, sorry gue gak bisa nemenin kamu, gue harus ngecek pembukuan untuk minggu ini." Seru Leo lalu pergi dari sana.
Setelah kepergian Leo, Khay masuk lebih dalam lagi, dan benar saja, Khay melihat Alex dan Sita sudah berada di salah satu meja, tepat berada di dekat jendela.
"Lex, Sita..." Sapa Khay setelah berdiri di depan meja yang Sita dan Alex tempati.
"Kak Khay." Ujar Sita berdiri dengan cepat ingin menarik Khay agar duduk di sampingnya.
"Kak, biarkan aku bicara dengannya !" Pinta Sita.
Alex terdiam lalu beranjak dari duduknya, lalu pergi meninggalkan tempat tersebut, kemudian pindah kesalah satu meja yang cukup berjarak dari keduanya, karena hanya meja itu yang kosong disekitar situ.
Khay duduk berhadapan dengan Sita, lalu menatap Sita dengan tatapan dingin dan datar.
"Sita ..." Seru Khay dingin.
"Iya kak."...
"Kamu tahu sendirikan kenapa saya menemuimu ?"
Sita menundukkan wajahnya lalu menunduk lalu mengangguk, Sita tak berani menatap Khay yang terlihat sangat dingin padanya.
"Lalu, apa maksudmu selalu mengirimiku pesan, kalau saya dan istri saya akan segera berpisah ?
"Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan ?" Lanjut Khay dengan sedikit membentak, membuat Sita semakin tak berani melihat kearahnya, dan gadis itu hanya diam tak menjawab satupun pertanyaannya.
"Meskipun kita pernah bersama, tapi saya tidak pernah suka dengan apa yang kau lakukan itu, saya datang kemari untuk menemuimu, untuk memperjelas semuanya, jangan pernah berpikir kalau saya datang menemuimu, karena aku datang untuk memenuhi permintaan konyolmu, tapi sudah saya katakan sebelumnya kalau saya datang ke sini untuk mendengarkan penjelasan kamu perihal hubungan saya dan istri saya, dan perlu saya tekankan sekali lagi, jangan pernah berpikiran untuk melakukan hal-hal yang akan menyakiti istri saya !" Khay mengatakan semua itu dengan penekanan pada semua ucapanya.
"Maafkan aku, aku sungguh minta maaf kak." Sita mengakat wajahnya menatap Khay sejenak lalu kembali merunduk sambil menangis.
"Ini kali terakhir saya menemuimu, jika ada yang ingin kau katakan, katakan sekarang juga !" Seru Khay.
"Tapi aku benar-benar tidak bisa mengatakannya." Sahut Sita langsung mengangkat wajahnya menatap Khay.
Khay yang mendengar itu, merasa tak ada gunanya lagi ia berada disana, percuma ! Khay beranjak ingin segera meninggalkan tempat tersebut namun tangannya langsung ditarik oleh Sita.
Kak Khay, tolong percaya padaku untuk kali ini saja !" Seru Sita memohon.
Khay menoleh menatap kesal gadis tak tahu malu itu.
"Apa yang kamu harapkan jika saya percaya padamu ?" Tanya Khay dingin.
"Kak Khay, aku mencintaimu bahkan lebih dari istrimu mencintaimu, aku tulus, aku tidak bisa melupakan semua kenangan tentang kita."Jawab Sita tak sesuai dengan pertanyaan yang di ajukan Khay, membuat Khay jengah.
Khay menghembuskan nafas kasar, lalu kembali duduk dihadapan gadis itu.
"Tapi Sita, kamu tahu sendirikan, dan sudah berapa kali saya tegaskan kalau saya sudah tak lagi mencintaimu, bahkan rasa cintaku kepada istriku lebih besar saat saya mencintaimu dulu, dan soal cinta istri saya, kamu jangan sok tahu !" Tegas Khay.
Sita tersenyum dalam tangisnya, ia merasa hancur mendengar perkataan Khay barusan, Khay yang melihat itu sedikit merasa iba, karena dia Sita sampai seperti itu, Khay mencoba menenangkan dirinya, lalu mengangkat tangan kanannya untuk meraih wajah gadis dihadapannya itu, Sita yang mendapat perlakuan seperti itu merasa senang, ia langsung memegang tangan kiri Khay yang berada diatas meja. Hal itu tak luput dari pandangan Alex, Alex sangat geram melihat Khay menyentuh adiknya, sementara di sisi lain, Enzy melihat dengan sangat jelas, kalau suaminya sedang menyentuh wanita lain, walaupun hanya seperti itu, tapi ia tetap merasa sakit melihatnya, apalagi Khay sudah membohonginya.
Karena suara life musik di cafe tersebut, Enzy tak dapat mendengar apa yang suaminya itu bicarakan, tapi Enzy sudah bisa menebaknya kalau wanita yang saat ini bersama suaminya, adalah orang yang selama ini menghubungi dan mengirimkan pesan untuk Khay, bahkan disaat tengah malam, gadis itu masih sering menghubungi Khay, tanpa Khay sadari.
"Nzy..." Tiba-tiba Leo berdiri dibelakang Enzy.
"Kak Leo siapa dia ?" Tanya Enzy dengan mata berkaca-kaca.
"Nzy, gue rasa kamu harus tenang ! Itu mungkin tidak terlihat seperti apa yang kamu pikirkan."
"Tapi, dia siapa ? Apa dia adalah orang yang selama ini selalu menghubungi Khay diam-diam ?" Enzy sudah tak bisa lagi menahan tangisnya.
"Gadis itu, adik dari teman lama kami yang bernama Alex, gadis itu pernah menjadi kekasih Khay." Jawab Leo.
"Jadi dia yang bernama Sita ?" Tanya Enzy, pandangannya masih tertuju pada objek di depannya, yang memperlihatkan suaminya bersama dengan mantan kekasihnya.
"Darimana kau tahu ?" Kaget Leo.
"Itu tidak penting darimana aku tahu !" Jawab Enzy kemudian mengusap air matanya kasar.
"Nzy, kau jangan terlalu memikirkan ini, kau hanya salah paham, lagian kamu harus ingat, kalau kau sedang hamil, jangan sampai kau stres gara-gara ini !" Leo mencoba untuk menenangkan Enzy.
"Aku pergi kak, dan tolong jangan beritahu Khay kalau aku datang kesini dan melihat semuanya, aku akan bicara padanya saat dia pulang nanti." Ujar Enzy.
"Emm... Tenanglah Ok !" Ucap Leo meninggalkan Enzy yang masih berdiri diam melihat suami dan seorang wanita lain, yang notabennya adalah mantan kekasih, yang ia tahu wanita yang pernah suaminya cintai, dan wanita yang membuat suaminya berubah menjadi sangat playboy dibandingkan sebelum mengenal Sita. Hati Enzy sangat sakit seperti tertusuk puluhan belati, bahkan dadanya serasa sesak bagai dihimpit oleh bongkahan batu besar.
Enzy kemudian pergi meninggalkan cafe tersebut, sebelum Enzy masuk kedalam mobil, Enzy menghubungi Priska.
π "Hallo, Priska, aku ingin kamu menceritakan semuanya perihal hubungan Khay dan Sita dulu, aku ingin semuanya tanpa terlewatkan sedikitpun !" Seru Enzy pada Priska diseberang telfon sana.
Setelah itu, Enzy masuk kedalam mobil.
"Jalan pak, kita langsung pulang kerumah !" Seru Enzy pada sopir yang mengantarkannya.
Sementara di dalam Cafe
"Berhentilah menangis ok !" Seru Khay lalu menarik tangannya dari wajah Sita, juga tangan kirinya yang sejak tadi Sita genggam.
"Karena semuanya sudah jelas, ini kali terakhir saya menemuimu, begitupun dengan kau yang tak lagi menemuiku !" Ujar Khay.
"Tap ...
"Jika, kau sungguh mencintaiku, hargai keputusanku, saya tidak ingin kedepannya, ada masalah dengan istriku, apalagi saat ini, dia sedang mengandung buah hati kami, saya tidak ingin keduanya kenapa-napa." Khay menjelaskan dengan tegas menyela ucapan Sita.
"Aku harap kalian langgeng dan terus berbahagia." Ucao Sita pada akhirnya, sambil menangis terisak.
"Terimakasih atas pengertian dan doa yang kau berikan, kalau begitu saya harus pulang, istriku sudah menungguku, berbahagialah, walau tak bersama denganku !" Ucap Khay lalu pergi dari sana, meninggalkan Sita yang masih saja menangis.
Bersambung......
Jangan lupa selalu budayakan Like, Koment dan Vote....
Jangan lupa juga mampir ke karya aku yang baru berjudul DENDAM MEMBAWAH CINTA.... Cerita aku ini sudah sampai chapter 15....
Di tunggu ya βΊοΈβΊοΈβΊοΈβΊοΈ
...TERIMAKASIH...
...ππππππππππ...