Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 53 Season 3 ( Next Generatoin )


Jam menunjukkan pukul 10 pagi, sebenarnya ini sudah tak lagi bisa dikatakan pagi tapi menjelang siang, namun pasangan suami istri muda itu masih terlihat tertidur dengan lelapnya, sambil memeluk satu sama lain.


"Tok...Tok...Tok..." Ketukan pintu di depan kamar mereka membuat Khay merasa terganggu, dengan perlahan ia membuka matanya, saat membukanya ia melihat istrinya itu masih tertidur pulas sambil memeluk pinggangnya. Khay menurunkan lengan istrinya dengan pelan, karena takut mengganggu tidur lelap istrinya itu, yang ketara kalau wanita dihadapannya itu sangat kelelahan. Setelah Khay memperbaiki posisi istrinya ia mulai turun dari tempat tidur lalu mengutip boxernya yang ada di lantai, kemudian memakainya, setelah itu ia buru-buru membuka pintu karena seseorang terus mengetuknya dari luar, takut mengganggu istrinya yang masih terlelap.


"Gang..." Khay membuka pintunya kasar dan betapa kagetnya saat melihat siapa yang ada dihadapannya sekarang.


"Bunda." Ucap Khay.


"Kamu kenapa kesal gitu bang ? Kamu enggak suka liat bunda disini, hah ?" Tanya Diva menatap putranya itu menyelidik.


"Ya enggak lah Bun, aku heran aja, tumben bunda kesini pagi-pagi, makanya aku kaget." Jelas Khay menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali.


"Pagi katamu, ini bahkan sudah jam sepuluh bang, jam sepuluh loh ini." Ucap Diva menujuk jam yang melingkar dipergelangan tangan kirinya.


"Apa Bun, jam sepuluh ?" Kaget Khay mendengar kalau ini bukanlah pagi tapi sudah menjelang siang.


Diva hanya geleng-geleng kepala, lalu ingin menerobos masuk ke dalam, namun dengan cepat Khay menghalangi bundanya itu, dan berdiri di depan pintu masuk.


Pasalnya didalam kamar keadaannya begitu berantakan, pakaian mereka berserakan dimana-mana, apalagi kondisi Enzy yang tak menggunakan sehelai benangpun hanya selimut yang menutupinya hingga dada.


"Mantu bunda mana ? Bunda mau liat, minggir kamu bang !!" Seru Diva mendorong tubuh putranya itu agar menyingkir, dan langsung masuk kedalam, saat masuk Diva dibuat shok melihat keadaan kamar yang begitu berantakan apalagi melihat kondisi menantunya yang hanya menggunakan selimut yang masih terlelap, wajahnya terlihat begitu jelas kalau wanita itu benar-benar kelelahan.


"Lebih baik bunda tunggu dibawah." Ucap Diva buru-buru meninggalkan kamar putra dan menantunya itu. Diva merasa malu sendiri melihatnya, apalagi melihat penampilan Khay yang berantakan rambut acak-acakan dan hanya menggunakan boxer, ditambah bekas kismark dibeberapa bagian.


...----------------...


"Kamu kenapa Bun, seperti di kejar hantu aja kamu ?" Tanya Kenan melihat istrinya itu tiba-tiba duduk disampingnya sambil mengatur nafasnya yang memburuh.


"Iya Bun, bunda kenapa sih ?" Timpal Kia menatap bingung bundanya.


"Kebetulan hari ini adalah hati weekend, maka dari itu Diva mengajak suami dan putrinya mengunjungi apartemen putra dan menantunya, selain itu ia juga ingin memastikan keadaan keduanya.


"Yah, ini bukan masalah bunda lagi dikejar hantu atau apapun itu namanya, tapi bunda rasa ini lebih dari dikejar hantu lagi." Sahut Diva tak jelas sambil memegang lengan suaminya itu.


"Apaan sih Bun, yang jelas kalau ngomong !" Seru Kenan jengah karena tak mengerti apa yang dibicarakan istrinya itu.


"Bunda yang jelas dong kalau bicara ! Terus bangkhay sama kak Enzy mana ?" Timpal Kia lalu menanyakan keberadaan kakak dan kakak iparnya.


"Itu dia, bunda habis...." Diva menghentikan ucapannya, karena disana ada Kia, menurutnya tidak mungkin Diva mengatakan hal seperti yang ia lihat didepan putrinya itu, lalu Diva berbisik didekat telinga suaminya.


"Yang bener Bun ?" Tanya Kenan sedikit terkejut.


"Emmm" Jawab Diva sambil menganggukkan kepalanya pasti, Kia yang melihat itu penasaran.


"Apaan sih Bun ?" Tanya Kia.


"Kamu diam aja, ini urusan orang dewasa !" Sahut Diva ketus membuat Kia memberenggut kesal karena tak diberitahu, padahal ia sangat penasaran.


"Kayaknya cucu kita lagi OTW nih Yah ?" Ucap Diva senyum-senyum sendiri membayangkan ia segera menimang cucu apalagi diusia yang masih 38 tahun-an.


Sedangkan Kenan hanya geleng-geleng kepala melihat istrinya itu sudah seperti orang gak waras, karena terus tersenyum. Kenan kembali fokus pada Tabnya melihat beberapa e mail yang masuk, mengenai laporan perusahaannya.


...----------------...


Di kamar


Setelah selesai mandi dan sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahannya, namun Enzy masih saja terlelap, kemudian Khay berjalan menuju tempat tidur, dan dusuk di samping istrinya itu, lalu ia membangunkannya dengan cara yang tak biasa, Khay terus mengecup bibir wanitanya itu, sampai Enzy merasa terganggu, perlahan iapun membuka matanya, Enzy langsung tersenyum melihat wajah Khay begitu dekat darinya.


"Selamat siang sayang." Ucap Khay tersenyum, kembali mengecup sekilas bibir Enzy.


"Kok siang, emang sekarang jam berapa ?" Tanya Enzy dengan suara khas bangun tidur.


"Sudah jam 11:30, buruan bangun, terus mandi, bunda udah nungguin kita dibawah." Ucap Khay lalu berdiri disamping tempat tidur lalu merentangkan tangannya berniat ingin membantu istrinya itu bangun.


"Apa bunda ?" Kaget Enzy langsung bangun tanpa menerima uluran tangan suaminya itu.


"Iya..." Sahut Khay.


"Duh...Aku jadi enggak enak." Ucap Enzy menatap suaminya itu.


"Makanya buruan, mandi ! Abis itu kita turun nemuin bunda." Seru Khay memberikan jubah mandi milik istrinya.


"Kamu duluan aja, entar aku nyusul, enggak enak juga buat bunda nunggu sendirian dibawah." Imbuh Enzy memakai jubah yang diberikan Khay.


"Enggak apa-apa, aku turun duluan ?" Tanya Khay memastikan, dan langsung di angguki Enzy.


"Enggak apa-apa." Jawab Enzy lalu segera turun dari tempat tidur langsung menuju kamar mandi.


Setelah Enzy masuk kamar mandi, Khay baru keluar kamar dan langsung menuju kebawah untuk menemui bundanya, namun saat tiba di ruang tengah, ia terkejut melihat keberadaan ayah dan adiknya juga ada disana, pasalnya bundanya itu tak mengatakan kalau ia datang bersama dengan mereka.


"Yah, Ki, kalian disini juga ?" Tanya Khay langsung duduk ditengah-tengah ayah dan bundanya, dan langsung bergelayut manja di lengan Kenan lalu mencium kedua pipi ayahnya secara bergantian, membuat Diva sedikit menggeser duduknya karena ulah putra manjanya itu, dan memurar bola matanya malas.


"Kalau sama ayah mah Abang gitu ya dek, giliran sama bunda boro-boro cium pipi kira kanan, cium tangan aja kagak, tuh." Ucap Diva pura-pura merajuk melihat sikap Khay pada Kenan.


"Sorry bun, sini aku cium juga." Sahut Kenan berbalik lalu mencium pipi bundanya sekilas lalu balik lagi bergelayut manja pada ayahnya.


"Siapa yang kamu maksud mau punya anak ?" Tanya Khay penasaran.


"Ya kamulah bangkhay, tadi kata bunda cucunya lagi OTW." Jelas Kia santai tanpa beralih dari permainan gamenya di ponsel.


"Bunda." Khay beralih kepada bundanya meminta penjelasan, sedangkan Diva hanya bersikap biasa saja tanpa berniat menjelaskan apapun, dia malah terlihat menyebalkan karena terus tersenyum sambil menaik turunkan alisnya menggoda putranya itu.


"Menyebalkan." Ujar Khay lalu berbalik pada ayahnya.


"Yah, bunda cerita apa sama kalian ?" Tanya Khay penasaran.


"Bunda hanya cerita apa yang dia lihat dikamar kamu barusan." Jawab Khay datar seperti biasanya.


"Bunda benar-benar ya, mulutnya kagak pernah di filter kalau mau ngomong, bocor banget dah, bukan lagi bocor lebih tepatnya berlubang-lubang parah." Ucap Khay kesal menatap bundanya itu.


"Sudah berani ya kamu bang, mentang-mentang udah nikah, udah ada yang ngurusin, mau bunda kutuk kamu jadi batu, hah ?" Ucap Diva menatap tajam putranya itu.


"Jangan batu Bun, kagak ada harganya, kutuk aja jadi bongkahan berlian, lumayan tuh kalau dijual." Timpal Kia sambil menjulurkan lidahnya kearah kakaknya itu.


"Nyahut aja Luh, biji nangka." Sahut Khay kesal melempari adiknya itu menggunakan bantalan sofa, dan langsung dibalas Kia.


"Yah, liat tuh putrinya bunda." Aduh Khay kepada ayahnya.


"Dih ngadu, kagak malu tuh sama otot, otot aja digedein, tapi masih ngadu sama ayah." Cibir Kia.


"Sirik aja lu." Sahut Khay.


Sementara Kenan dan Diva hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua anak mereka yang jarang sekali akur.


...----------------...


Lima belas kemudian Enzy keluar dari kamar dan langsung turun menuju ruang tengah, Enzy terlihat sudah segar dengan rambut yang masih basah, karena ia tak sempat mengeringkan rambutnya karena buru-buru ingin menemui ibu mertuanya, saat tiba disana, Enzy kaget karena bukan hanya ada ibu mertuanya tapi ayah mertua juga adik iparnya ada disana.


"Yah, Bun, Ki, maaf buat kalian sudah menunggu." Ucap Enzy menyalami tangan ayah mertuanya bergantian dengan ibu mertuanya itu.


"Enggak apa-apa sayang kami ngerti kok." Sahut Diva tersenyum lalu mencium kening mantunya.


"Ki apa kabar ?" Tanya Enzy setelah duduk di samping adik iparnya itu.


"Baik kak." Sahut Kia langsung merangkul bahu kakak iparnya itu.


"Bunda sama ayah bagaimana kabarnya ?" Enzy beralih pada kedua mertuanya.


"Kami baik-baik aja sayang, kamu sendiri bagaimana ?" Sahut Diva kemudian balik bertanya setelah menjawab pertanyaan menantunya.


"Aku juga baik kok Bun, maaf aku kesiangan. sampai membuat kalian menunggu." Ucap Enzy merasa tak enak hati.


"Enggak apa-apa sayang, kami ngerti kok, kamu pasti sangat capek." Sahut Diva tersenyum.


"Iya Bun, aku capek banget, sampai badan aku remuk semua rasanya." Ucap Enzy polos, membuat kedua mertuanya tak bisa lagi menahan tawanya, membuat Enzy kebingungan melihatnya, apalagi Khay juga ikut-ikutan tersenyum, saat berbalik melihat Kia, ia juga melihat gadis itu berusaha menahan senyumnya, walaupun dia masih SMA tapi Kia bukanlah wanita yang polos-polos amat, ia juga sudah mengerti apa maksud orangtuanya itu.


Khay beranjak dari duduknya lalu pindah kesamping Enzy.


Ada apa dengan mertuanya itu, kenapa mereka tertawa setelah berucap seprti itu, emang dia kecapean karena abis mengendarai mobil dari kota Z menuju kota Xx, yang menempuh perjalanan yang cukup jauh. Pikir Enzy.


"Khay ada apasih ? Apa ada yang salah atau bagaimana, kenapa ayah sama bunda tiba-tiba tertawa seperti itu ?" Tanya Enzy berbisik.


"Ayah sama bunda tertawa, karena mengira kamu capek karena permainan kita semalam." Jelas Khay juga berbisik.


Enzy yang mendengar penjelasan Khay, seketika wajahnya memerah karena malu, ia langsung menyembunyikan wajahnya di belakang bahu suaminya itu.


"Kamu enggak usah malu-malu gitu, kami ngerti kok, apalagi kalian masih sangat muda, jadi wajar seperti itu." Ucap Kenan menghentikan tawanya karena melihat sikap malu menantunya.


"Tapi yah, ayah sama bunda salah paham, aku capek karena habis nyetir dari kota Z sampai sini." Jelas Enzy yang ada benarnya juga.


"Iya...Iya...." Sahut Kenan mengiyakan.


"Yasudah kalian makan aja dulu, kalian pasti lapar kan !" Imbuh Diva.


"Kalian makan itu aja, tadi bunda bawa beberapa menu sarapan, nanti untuk makan siang kita, kita pesan aja." Tambah Diva menujuk tas makanan yang ia letakkan diatas meja makan.


"Iya bunda, kalau gitu kita makan dulu, ayo sayang." Sahut Khay lalu mengajak istrinya.


"Yah, Bun, Ki, sebaiknya sekalian ikut makan juga !" Ajak Enzy sebelum melangkah ke meja makan.


"Enggak Nak, kami masih kenyang, kamu makan dulu aja !" Sahut Kenan.


Bersambung......


Jangan lupa terus berikan like, Komen dan Votenya.


Terimakasih 🙏🙏🙏🙏


Love You All ❤️❤️❤️❤️🤗🤗🤗🤗😘😘😘😘