
Kini Kenan sudah di pindahkan ke ruangan perawatan VVIP, Bunda Hani terus menangis melihat keadaan putranya yang tak ada bedanya saat koma dulu waktu ia sakit. Sedangkan Pak Salman hanya bisa duduk terdiam memikirkan bagaimana caranya menemukan menantu dan cucunya sedari tadi ia mencoba menghubungi besannya itu namun sama sekali tak ada jawaban, bahkan Pak Anton sudah melacak keberadaannya namun tetap juga tidak bisa di lacak.
"Yah, bagaimana ini ? Sepertinya Kenan sangat menginginkan keberadaan Diva dan Khay." Ujar bunda Vivian sendu berjalan mendekati suaminya yang duduk di sofa.
"Entahlah bun, sampai sekarang kami masih berusaha mencari keberadaan mereka, bahkan kami sudah melacaknya namun lagi-lagi tidak bisa." Sahut Pak Salman prustasi. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan putranya, juga memikirkan keluarga besannya, ia tidak mau keluarga pak Fikram terus-terusan berada dalam kesalahpahaman ini.
🍀🍀🍀
Tak terasa sudah satu bulan Kenan koma di rumah sakit, Kenan masih saja seperti sebelumnya sama sekali tak ada perubahan, Kenan di Katakan sudah meninggal namun detak jantungnya masih berjalan normal, bahkan alat pengontrol jantungnya sudah di lepas, hanya saja cairan infus dan beberapa alat yang di pasang sebagai pengganti makannya.
Perusahaan kembali dibawah pimpinan pak Salman, Sedangkan perkebunannya yang berada di kota Z ia percayakan pada asisitenya yang dikota Z, pak Salman masih berusaha mencari keberadaan keluarga besannya, bahkan perusahaan pak Fikram sudah dipercayakan oleh Asisiten Arka.
Pagi ini terlihat pak Salman dan Bunda Vivian berada di ruangan Kenan, di ruangan dengan fasilitas sangat lengkap, jadi pak Salman dan Bunda Vivian juga tinggal di sana.
"Selamat pagi tuan, Nyonya." Sapa dokter yang akan melakukan visit pagi.
"Pagi dok." Balas Pak Salman yang sedang duduk di sofa sambil menikmati sarapannya.
"Bagaimana dengannya tuan, apa sudah menunjukkan reaksi apapun ?" Tanya dokter memeriksa detak jantung Kenan, kemudian menyuntikkan sesuatu kedalam cairan infus Kenan yang terpasang.
"Belum ada dok, masih sama seperti sebelumnya." Sahut pak Salman menghampiri dokter yang berada di samping brangkar Kenan.
"Teruslah ajak dia berbicara dan ceritakan cerita yang dapat memotivasinya !" Seru dokter dan diangguki Pak Salman.
"Baiklah tuan kalau begitu saya pamit keluar, nanti siang saya akan kembali lagi untuk melihat keadaannya." Pamit dokter sopan.
"Dok apa kita bisa bicara sebentar ?" Tanya Pak Salman mencegah dokter untuk keluar dulu.
"Ada apa ya Tuan, sepertinya sangat penting ?"
"Begini dok, bagaimana kalau saya meminta agar putra saya di rawat dirumah saja, karena mungkin dengan suasana rumahnya ia bisa merasakan kenangannya bersama dengan istri dan anaknya, siapa tau saja hal itu bisa membuatnya lebih cepat sadar." Pinta pak Salman.
"Tapi tuan Anda juga harus membawa alat-alat yang terpasang di tubuhnya, karena walaupun detak jantungnya normal ia masih membutuhkan asupan untuk menunjang staminanya walaupun ia dalam keadaan koma, dan tentunya tuan juga harus mengikutkan perawat dan dokter pribadi untuk selalu mengecek keadaannya minimal 3 kali sehari." Jelas dokter.
"Baiklah dok, jika hal itu bisa dilakukan maka saya butuh bantuan dokter untuk menghendel semuanya, soal biaya berapapun biayanya akan saya tanggung semuanya." Seru pak Salman.
"Baiklah pak saya akan bantu untuk menyiapkan semuanya, tapi untuk dokternya mungkin bukan saya, karena jadwal saya sudah cukup padat, tapi tuan tenang saja saya akan memilihkan salah satu dokter terbaik untuk tuan Kenan." Ujar dokter.
"Terimakasih dokter, kapan kiranya putra saya bisa di pindahkan ?" Tanya pak Salman.
"Paling lambat sebentar sore tuan, setelah saya visit saya akan mengurus semuanya."
"Kalau begitu saya pamit Tuan." Pamit dokter dan langsung di angguki pak Salman kemudian dokter itupun keluar dari ruangan tersebut.
🍀🍀🍀
Jam dua siang pak Salman dan Bunda Vivian sudah memindahkan Kenan kerumahnya, Kenan di bawah menggunakan ambulans, di ikuti seorang perawat dan juga seorang dokter.
setibanya di rumah Kenan langsung di bawah masuk ke kamar, namun bukan di kamarnya dulu karena agak susah jika harus berada di kamar atas, Kenan menempati salah satu kamar yang berada di bawah yang sebelumnya sudah disiapkan bi Ratih.
"Sayang bangunlah, kamu sudah kembali kerumah kalian, apa kamu tidak ingin segera mencari keberadaan istri dan anakmu, Hem ?" Ucap bunda Vivian setelah Kenan di baringkan di tempat tidur dan merapikan alat-alat yang terpasang di tubuhnya.
"Sayang ku mohon bangunlah, apa kamu ingin istri dan anakmu semakin menjauh darimu jika kamu tak bangun membantu ayah mencari mereka, bunda mohon bangunlah, bawa kembali menantu dan cucu bunda !" Ucap bunda Vivian menangis sambil mengusap rambut Kenan yang sudah sedikit memanjang.
Bunda Vivian menatap lekat-lekat putra semata wayangnya itu, air matanya lagi-lagi tak bisa ia tahan.
"Assalamualaikum Bun." Ucap Ray dan Lani bersamaan saat masuk ke kamar di tempati Kenan selama ia koma dan langsung mencium punggung tangan bunda Vivian secara bergantian.
"Walaikumsalam Nak, si twins mana ?" Sahut bunda Vivian lalu menanyakan keberadaan anak kembar Ray dan Lani karena mereka tak melihat keberadaan bayi kembar menggemaskan itu.
"Mereka tidak ikut Bun, mereka kami tinggal di rumah mama." Terang Lani lalu duduk di kursi samping bunda Vivian di dekat tempat tidur.
"Maaf ya Bun, kami baru bisa sempat mengunjungi bunda lagi." Sahut Ray.
"Bagaimana dengan Kenan ?"Lanjut Ray menanyakan keadaan Kenan setelah duduk di samping Kenan berbaring.
"Iya tidak apa-apa Nak, Masih belum ada perubahan Ray." Ucap Bunda Vivian sendu.
Selama Kenan koma Ray dan Lani hampir setiap hari berkunjung ke rumah sakit, namun karena kesibukan Ray seminggu terakhir ini di perusahaan dan juga membantu pak Salman mencari keberadaan Diva dan keluarganya membuatnya sangat sibuk hingga tak sempat berkunjung.
"Yang sabar ya Bun ! Semoga saja Diva dan keluarganya bisa secepatnya di temukan keberadaannya." Ucap Lani memegang tangan bunda Vivian.
"Terimakasih ya sayang, kamu selalu ingin mengunjungi bunda." Ucap bunda Vivian mata yang sudah berkaca-kaca.
"Sama-sama bunda, itu sudah menjadi kewajiban kami, aku juga sudah menganggap bunda sebagai orangtuaku sendiri.
Bunda Vivian hanya tersenyum menanggapi ucapan Lani barusan, ia bersyukur anaknya memiliki sahabat yang tulus seperti mereka.
"Oh iya, Ayah kemana Bun ?" Tanya Ray tak melihat keberadaan pak Salman dari tadi.
"Dia ada diruangan nya nak." Jawab bunda Vivian.
"Kalau begitu aku susul ayah dulu ya Bun, ada yang ingin saya bahas." Pamit Ray lalu segera beranjak dari duduknya.
🍀🍀🍀
Di ruangan pak Salman
"Bagaimana Ray apa kamu sudah menemukan titik terangnya ?" Tanya Pak Salman setelah Ray duduk di kursi depan meja kerja pak Salman.
"Anak buah saya pernah melihat kak Arka di bandara yah berasama dengan anak dan istrinya.
"Bandara ?" Tanya pak Salman dan langsung di angguki Ray.
"Mereka akan keluar negeri, lebih tepatnya di Tiongkok Yah." Jelas Ray.
"Baiklah kalau begitu saya akan menyuruh pak Anton untuk mengarahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Arka di Tiongkok." Ucap Pak Salman langsung menghubungi pak Anton.
"Kapan anak buah kamu melihatnya ?" Tanya Pak Salman sambil menunggu jawaban dari pak Anton.
"Sekitar dua hari yang lalu yah." Sahut Ray di angguki pak Salman, karena sambungan telponnya sudah di jawab pak Anton, Pak Salman langsung memberitahukan asistennya itu untuk segera mencari keberadaan Arka di Tiongkok.
Bersambung.....
Jangan pada tegangan ya readers, author sengaja buat alurnya sedikit berliku-liku, karena kehidupan tidak semuanya lurus-lurus saja kayak jalan tol.
Jangan lupa like, Komen,dan vote sebanyak-banyaknya ya gaessss...
TERIMAKASIH 🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️