Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
Episode 76


Kenan yang baru keluar dari kamar mandi langsung menuju ruang ganti. Kenan yang baru sampai di depan pintu ruangan melihat Diva menemukan hasil tes kesehatannya, dan akan membukanya, Dengan segera kenan mengambil amplop tersebut dari tangan Diva dan menariknya kepelukannya.


"Baju aku mana Yank." Ujar Kenan mengalihkan perhatian Diva.


Sedangkan Diva kaget mendapati Kenan yang tiba-tiba memeluknya.


" Kamu ngagetin aja by'." Diva sedikit memukul lengan Kenan yang melingkar di perutnya.


"Sekarang lepasin dulu, dan ini baju kamu by', aku mau bersih-bersih dulu." Lanjut Diva.


Kenan melepaskan pelukannya, dan menerima bajunya yang di berikan Diva.


Diva kembali membuka lemari pakaiannya untuk mengambil piamanya, dan segera berjalan keluar dari ruangan tersebut menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, Diva tidak menanyakan soal apa yang ia temukan tadi, mungkin itu hanya amplop biasa yang tak sengaja terselip di pakaian suaminya, dan tidak penting juga pikir Diva. karena keadaan amplop tersebut terlihat kusut bekas remasan.


Uuhhfffftttt .....


Kenan menghela nafas leganya, hampir saja Diva mengetahui semuanya. Kenan segera menyembunyikan kembali amplop tersebut, kemudian memakai pakaiannya.


Sekitar lima menit Diva keluar dari kamar mandi sudah terlihat segar dengan piamanya, dan melihat Kenan masih saja memangku laptopnya sambil menyandarkan dirinya di kepala tempat tidur, Diva yakin suaminya pasti bekerja lagi.


Diva berjalan menghampiri Kenan dan mengambil laptop suaminya itu, dan meletakkannya di dalam nakas.


"Kenapa di ambil sih Yank ?" Ucap Kenan melihat Diva memasukkan laptopnya di dalam nakas, kemudian ikut naik ketempat tidur, membaringkan badannya membelakanginya.


"Sekarang waktunya tidur, bukan waktunya bekerja." sahut Diva tanpa mengubah posisinya.


Kenan yakin jika istrinya itu sedang kesal, dengan segera Kenan ikut berbaring memeluk Diva dari belakang, dan menindih paha istrinya itu dengan kakinya.


"Yank .... Panggil Kenan di celuruk leher Diva.


Namun Diva tidak menghiraukannya.


"Yank, sudah dong ngambeknya, tadi itu aku hanya cek beberapa kerjaan doang." Terang Kenan. namun lagi-lagi Diva tetap diam. Bukannya apa, Diva hanya tidak ingin Kenan hanya terus fokus dengan pekerjaannya sampai kesehatannya terganggu.


Kenan yang melihat istrinya itu masih mengabaikannya Kenan tak kehabisan akal, Kenan bangun dan menindih tubuh Diva, terus menciumi wajah istrinya itu, yang masih memejamkan matanya. Diva yang mendapat serangan seperti itu, membuka matanya, menatap Kenan dengan tatapan kesal, sedangkan Kenan malah tersenyum manis terhadapnya.


"Yank, udah dong ngambeknya, kamu malah tambah cantik tau kalau lagi ngambek gitu, kalau kamu tambah cantik, nanti para pria diluaran sana banyak yang tergila-gila sama kamu yank." Ucap Kenan menarik gemas hidung Diva.


Diva yang mendengar itu sedikit tersenyum, tapi buru-buru ia kembali menampilkan wajah datarnya.


"Kamu minggir dari situ, aku capek, ngantuk pengen tidur. !" Ujar Diva mendorong Kenan supaya pindah dari atasnya.


"Yank, bagaimana kalau kita buatkan bunda cucu." Kenan tidak menghiraukan dorongan Diva, Kenan malah menginginkan sesuatu yang lebih, dan semakin mempererat pelukannya.


"Nggak, Bunda sudah akan memiliki cucu dari kak Arka sama kak Vara." Sahut Diva jengah.


"Tapi bunda Vivian belum yank." Ujar Kenan.


"Aku akan mau memberikan bunda Vivian cucu jika anaknya itu berhenti terlalu memporsir kerjaannya, dan juga memikirkan kesehatannya." Ucap Diva menatap Kenan.


"Ok, nanti aku tanyakan kepada anaknya bunda Vivian, supaya tidak terlalu memporsir kerjaannya, dan sekarang kita akan buatkan dulu cucu buat bunda Vivian." Ucap Kenan langsung mebelikkan badan Diva menjadi terlentang, kemudian mencium seluruh wajahnya terakhir pada bibir ranum istrinya. Tak lama keduanya larut dalam misi membuatkan bunda Vivian seorang cucu.


πŸ€πŸ€πŸ€


Tiga minggupun berlalu begitu cepat, dan hari ini tepat acara perpisahan sekolah Diva dan sahabat-sahabatnya. Kenan masih berada di kota Z untuk mengurus ourlet yang akan segera buka di kota itu, sekalian menunggu acara perpisahan sekolah Diva, sedangkan Ray baru kembali dari kota Xx tiga hari yang lalu juga ingin mendampingi tunangannya di acara perpisahan tersebut, siapa lagi kalau bukan Lani.


Sedangkan acara perpisahan sekolah Kenan dan Ray sudah di adakan Seminggu yang lalu setelah hasil pengumumannya keluar.


Kenan tidak menghadiri pesta perpisahan sekolahnya, karena sebenarnya Kenan tidak pernah tertarik dengan pesta seperti itu, namun untuk kali ini mau tak mau ia harus menemani istrinya, karena jika tidak sudah pasti dia akan tidur di luar selama seminggu, di tambah lagi Kenan tidak mau jika istrinya itu bersama pria lain.


Lima hari yang lalu


Hari ini Diva kesekolah untuk mengambil hasil pengumumannya, Diva lulus dengan nilai yang lumayan baik. Setelah mendapat hasil ujiannya Diva dan sahabat-sahabatnya berencana untuk nongkrong di Cafe dekat sekolahan. Diva segera menghubungi Kenan untuk menyusulnya ke cafe tersebut.


"Lima hari lagi kan kita acara perpisahan nih, kalian hadir nggak ?" Tanya Jova saat mereka sudah berada di cafe.


"Pasti hadir dong, apa lagi gue di dampingi suami." Jawab Diva antusias.


"Kalau elu Lan, tunangan elu dampingi ngggak ?" Tanya Hera melihat kearah Lani.


"Ya harus, nanti gue hubungi dia, suruh dia datang." Jawab Lani.


"Kalau elu Raf ?" Hera kembali bertanya kepada Rafa.


"Nggak tau." Sahut Rafa.


Rafa yang tidak tega melihat Diva memelas seperti itu akhirnya mengangguk setuju. Rafa juga berpikir apa yang dikatakan Diva itu ada benarnya juga.


Tak lama Kenan datang dan langsung menghampiri Diva mencium pucuk kepala istrinya.


"By', nanti kamu temani aku di acara perpisahan sekolah lima hari lagi !" Ucap Diva saat Kenan sudah duduk di sampingnya.


"Tapi yank, aku sibuk buat pembukaan outlet kita." Tolak Kenan secara halus.


"Bilang aja kamu malas." Ucap Diva kesal.


"Kalau kamu tidak mau nemanin aku, juga tidak masalah buat aku, ada Rafa yang bisa, oh... atau nggak sama Daffa juga kayaknya dia mau-mau aja kalau aku ajak, Dan satu lagi kamu tidur di luar selama seminggu !" Jelas Diva.


Kenan yang mendengar penuturan Diva, mau tak mau harus menyetujui ajakan istrinya itu.


"Baiklah sayang, aku akan nemenin kamu." Ucap Kenan pasrah.


πŸ€πŸ€πŸ€


Kini Kenan maupun Diva sudah memasuki Aula sekolah tempat acara perpisahan tersebut, Banyak siswa-siswi melihat kagum kepada pasangan suami istri muda tersebut.


Tak berselang lama Lani juga masuk di dampingi Ray sambil bergandengan tangan. Tak beda jauh dengan pasangan pasutri muda tadi, mereka juga mendapat tatapan kekaguman, terutama kepada Lani, karena selama ini teman sekolah Lani, tau bahwa Lani selalu berpenampilan urakan, tapi hari ini lagi-lagi dia tampil cantik dengan dres berwarna pink.


Ray dan Lani menghampiri sahabat-sahabatnya. Mereka semua terlihat sangat menikmati acara tersebut, dengan penampilan adik-adik kelasnya di atas panggung. Tapi berbeda dengan Rafa, Rafa terlihat hanya menatap kedepan dengan tatapan hampa, dengan mata yang berkaca-kaca, Rafa kembali teringat dengan Almarhumah kekasihnya Sisi. Jika saja kecelakaan itu terjadi, saat ini Sisi pasti menemaninya di acara ini.


Tanpa terasa air mata Rafa terjatuh, dan buru-buru ia mengusapnya, sebelum yang lain melihatnya. Tapi percuma saja Diva dan yang lainnya sudah melihatnya.


"Rafa, kamu kenapa ?" Tanya Diva hati-hati, Diva tau, Rafa pasti teringat dengan Sisi.


Sedangkan Rafa hanya menggelengkan kepalanya, tanpa menjawab pertanyaan sahabat kecilnya itu. Rafa segera beranjak meninggalkan ruangan tersebut, dan melajukan mobilnya menuju ke pemakaman dimana Sisi dimakamkan.


Rafa menjatuhkan dirinya di samping makam kekasihnya, air matanya sudah tak bisa lagi ia bendung, Rafa memeluk gundukan tanah yang sudah ditumbuhi rumput dengan tapi terlihat sangat rapi.


"Sayang, hari ini hari perpisahan di sekolah, kamu bagaimana di sana, kamu baik-baik kan, jika saja aku tidak mengendarai motor dengan cepat waktu itu, pasti sekarang kamu menemaniku dalam acara hari ini, dan kita akan segera menikah, sesuai janjiku dulu." Ucap Rafa dengan nada serak karena menangis.


"Sayang, tolong bantu aku, supaya aku bisa mengikhlas kepergian mu, maaf jika kamu tidak bisa merasa tenang karena aku belum bisa benar-benar mengikhlas kan kamu, aku sangat mencintaimu." Rafa kembali terisak pilu sambil mengusap nisan bernamakan kekasihnya.


"Dan satu lagi sayang, aku pamit, aku akan pergi meninggalkan kota ini, mencoba untuk menerima dan mengikhlaskan kepergian kamu." Ujar Rafa.


Setelah merasa puas dan lama beranda di makam tersebut, Rafa beranjak, sebelum itu Rafa mencium nisan kekasihnya kemudian benar-benar pergi meninggalkan makam tersebut.


Bersambung......


β€’Kenan



β€’ Diva



β€’Ray



β€’Lani



β€’Rafa



Visual hanya semata-mata untuk gambaran karakter dalam cerita tersebut, tidak berniat hal apapun...


Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan kalian


Like


Coment


Vote


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ€—πŸ€—πŸ€—