Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 109 Season 3 (Next Generasi)


Sejak perjalanan pulang Alex bingung melihat sikap adiknya itu, terlihah banyak diam, Sita sepertinya kembali saat-saat gadis itu tengah depresi dulu.


"Dek, kamu kenapa ? Ada masalah apa, Hem ? Cerita sama kakak ! Apa kamu ada masalah atau ada yang mengganggumu disekolah ?" Tanya Alex pada adiknya itu saat keduanya masuk ke dalam rumah.


Alex dan Sita baru saja tiba sepulang dari sekolah dan kampus.


"Aku gak apa-apa kak." Jawab Sita singkat kemudian berjalan mendahului kakaknya itu.


"Ya sudah kamu langsung ganti baju aja sana, kakak akan menyiapkan makan siang kita !" Seru Alex sedikit berteriak karena Sita sudah mulai menaiki anak tangga menuju kamarnya, sedangkan Alex setelah berucap seperti itu, pria itupun meletakkan ranselnya di kursi meja makan kemudian berjalan menuju dapur.


Ya, sudah beberapa bulan ini Alex tak memiliki Asisten rumah tangga, karena asisten sebelumnya sudah berhenti karena sudah berumur, dan Alex belum pernah sempat untuk mencari penggantinya, toh Alex dan Sita selama ini juga gak merasa kerepotan jika harus mengerjakan pekerjaan rumah.


Setelah makan siang mereka sudah siap, Alex segera memanggil adiknya itu.


"Dek, makanannya udah siap, buruan turun, nanti makannya dingin !" Teriak Alex di depan tangga, berharap adiknya itu segera turun.


Karena tak ada sahutan dari kamar Sita yang langsung berhadapan dengan tangga, Alex mencoba untuk berteriak sekali lagi, namun lagi-lagi tak ada jawaban, dan tak ada pula tanda-tanda pintu kamar bercat putih itu akan terbuka.


Karena merasa khawatir, Alex segera naik, dan mengetuk pintu kamar Sita sambil memanggil-manggil adik kesayangannya itu.


"Dek...Dek.... Sita...Apa kamu baik-baik saja di dalam, makan siangnya sudah kakak siapkan !" Teriak Alex memutar knop pintu kamar tersebut yang terkunci dari dalam.


Tiba-tiba saja Alex teringat pada kejadian satu tahun lebih yang lalu, dengan cepat Alex mengabil kunci duplikat kamar Sita yang tersimpan di laci nakas tak jauh dari sana.


Saat mendapatkan kunci tersebut Alex segera membuka pintu tersebut, betapa terkejutnya Alex saat melihat kamar adiknya itu sudah sangat berantakan, barang-barang yang ada di atas meja belajar sudah tergelak di lantai, juga bantal dan sprey tempat tidur sudah tak berada lagi di tempatnya.


Alex mengedarkan pandangannya ke arah balkon berharap adiknya berada disana, namun nihil, Sita tak terlihat dikamar tersebut.


Tiba-tiba Alex mendengar suara gemercik air dari arah kamar mandi, dengan cepat Alex berlari dan langsung membuka pintu kamar mandi dengan kasar, untung saja Sita tak menguncinya.


"Dek, apa yang kau lakukan ?" Panik Alex saat melihat Sita meringkuk dibawah air shower, tanpa mengganti seragamnya terlebih dahulu, ditambah wajahnya yang pucat dan tubuh menggigil.


"Apa yang terjadi, ada masalah apa hah ?" Tanya Alex panik kemudian menutup air shower yang juga sudah membuatnya ikut basah.


"Sit...Sit...bangun dek !" Seru Alex menepuk-nepuk pipi adiknya itu yang sepertinya sudah kehilangan kesadarannya.


Alex kemudian mengangkat tubuh lemes Sita, lalu membaringkannya di atas tempat tidur kemudian menyelimutinya.


"Sit, bangun dek, apa kau mendengar kakak, Hay Sita bangun dek, buka mata kamu !" Seru Alex masih berusaha membangunkan gadis itu, karena tak kunjung sadar Alex berdiri, dan mengambil kotak obat yang tersedia di dalam nakas yang tak jauh dari tempat tidur, Alex mengambil aroma terapi yang ada dalam kotak obat tersebut lalu meletakkannya di depan hidung Sita, berharap adiknya segera sadar, dan benar saja cara itu berhasil, Sita tersadar, Sita langsung terbangun memeluk kakaknya itu sambil menagis tersedu, sehingga membuatnya sulit untuk bernafas.


"Sekarang kamu tenang ya, dan cerita sama kakak ! Ada apa sebenarnya ? Ujar Alex membalas pelukan Sita sambil mengusap punggung adiknya itu.


Sita tak menjawab atau berucap sepatah katapun, Sita masih sesenggukan di pelukan kakaknya, Alex yang merasa bersedih melihat adiknya seperti itu, ia ikut menangis.


"Kak, maafkan aku !" Ucap Sita.


"Maaf untuk apa, kamu gak salah !" Sahut Alex.


"Maaf, karena telah membuat kakak khawatir." Jawab Sita.


"Iya kakak maafin, tapi please kamu jangan seperti ini lagi, ok !" Sahut Alex.


"Kak."


"Hemm..."


"Apa aku jahat ?"


"Jahat ? Siapa yang mengatakan itu ? Bilang sama kakak ! Bagaimana mungkin adik manis aku ini jahat." Ucap Alex mengeratkan pelukannya disaat adiknya itu semakin menangis.


"Apa kamu tahu ? Di dunia ini kamu adalah orang yang paling penting dan berharga buat kakak, aku tak tahu bagaimana nanti aku hidup melihat adik kesayanganku, seperti ini, kakak tak ingin gadis ini hidup seperti setahun kamarin, aku tidak bisa melihatmu tersakiti atau apapun itu yang membuatmu bersedih." Lanjut Alex.


Sita melepaskan pelukannya menatap manik mata kakaknya itu, sosok yang selama ini selalu memberinya perhatian, kasih sayang, melebihi kedua orangtuanya, yang hanya sibuk dengan pekerjaan mereka.


"Tolong jangan lakukan ini lagi ! Jangan seperti ini, please." Tambah Alex mengusap air mata Sita dengan lembut.


Sita terharu mendengar perkataan-perkataan kakaknya yang sangat tulus menyayanginya.


"Maafkan aku kak, aku tidak akan seperti ini lagi, maafkan aku." Ucap Sita merasa bersalah kemudian kembali memeluk kakaknya itu.


...----------------...


Malam harinya di kediaman Kenan, terlihah Enzy berbaring di Sofa di sebuah ruangan tempat yang biasanya di jadikan Khay ataupun Kia, bersantai hanya sekedar menonton atau bermain game, sedangkan Kahy duduk di lantai bersandar pada Sofa yang di tiduri Enzy.


Untuk Kenan dan Diva, selepas magrib tadi, keduanya pamit untuk menghadiri sebuah jamuan makan malam bersama klaiyennya.


"Sayang... Aku lelah tapi pengen sesuatu yang bisa dimakan." Manja Enzy pada Khay yang serius menonton pertandingan sepak bola tim favoritnya.


Khay menoleh menatap istrinya itu, yang terbaring di sofa sambil memperlihatkan wajah imutnya.


"Emm... Okelah, aku akan mengambilkan mu beberapa makanan di dapur, kamu tunggu sini ya." Ucap Khay kemudian beranjak setelah mendapat anggukan dari Enzy.


Tak lama Khay kembali membawa beberapa cemilan.


"Ini, aku letakkan disini ya !" Ucap Khay meletakkan makanan tersebut di atas meja, kemudian melanjutkan kembali acara menontonnya.


"Sayang..." Enzy kembali memanggil suaminya itu manja, Khay langsung menoleh walaupun dalam hatinya merutuki wanita kesayangannya itu, namun sebisa mungkin ia menampakkan senyum, karena jika terlihah kesal, sudah dapat di pastikan bumil itu akan merajuk, dan berakhir mendiaminya.


"Ada apa sayang ?" Tanya Khay.


"Sekarang aku haus, tapi rasanya kaki aku terasa pegal juga capek, karena seharian aku berjalan-jalan di mall, itu membuatku malas untuk mengambil sendiri minumannya." Ucap Enzy lagi-lagi terdengar sangat manja.


"Kamu mau minum apa ? Biar aku ambilkan." Tanya Khay.


"Jus jeruk, juga susu, malam ini aku belum meminumnya, aku mau yang rasa stroberry." Jawab Enzy tersenyum sangat manis.


"Tunggu sebentar ! Aku akan segera mengambilkan mu." Seru Khay kemudian beranjak dari duduknya.


Setelah kepergian Khay Enzy melihat kearah televisi, menilai acara yang ada disana, sehingga membuat suaminya itu begitu serius sampai sejak tadi Khay tak banyak bicara. Saat memperhatikan layar datar di depannya tiba-tiba Enzy di kejutkan dengan deringan ponsel Khay yang terletak di atas meja, yang hanya bergetar. Enzy meraih ponsel itu dengan setengah terbangun, Enzy mengeryitkan keningnya saat melihat hanya ada nomor yang tertera disana, Enzy buru-buru merijet panggilan tersebut, kemudian berbaring dengan posisi semula karena Khay keburu datang, namun tak sempat melihat apa yang dilakukan Enzy barusan.


"Ini..." Ucap Khay meletakkan kedua minuman berbeda itu diatas meja kemudian kembali fokus pada layar datar di depannya.


"Sayang.... Aku....


"Apa ? Kamu mau bilang kalau kamu terlalu lelah, sehingga tak bisa makan dan minum sendiri, Hem ? Bilang aja kalau kamu mau disuapin !" Khay dengan cepat berbalik lalu menyela ucapan istri manjanya itu sejak kehamilannya.


Enzy tersenyum mendengar perkataan suaminya.


"Sepertinya suamiku ini sudah bisa membaca pikiranku, hehehe." Ucap Enzy menyengir.


"Tapi, sepertinya sekarang aku sudah tidak haus ataupun ingin memakan sesuatu lagi." Lanjut Enzy tersenyum tanpa dosa.


Khay menarik hidung istrinya itu gemas lalu kembali fokus acara sepak bola yang sepertinya sudah ketinggalan saat tim favoritnya mencetak angka.


Enzy membelai lembut rambut bagian belakang suaminya itu, Khay merasa gemes sendiri dengan perlakuan istrinya saat ini.


"Apa sekarang kamu ingin perhatian lebih dari suamimu ini, Hem ?" Khay berbalik kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Enzy sambil menaik turunkan alisnya menggoda.


"Tidak, siapa juga yang butuh perhatian lebih darimu ? Bahkan sedikitpun aku tidak ingin." Ucap Enzy tersenyum manis masih membelai rambut belakang suaminya itu.


"Lalu, kenapa tadi kamu ingin disuapin, bahkan selalu mencari-cari perhatian ku, Hem ?"


"Kamu terlalu banyak bicara ya, apa lebih baik jika aku menyumpal saja mulutmu itu ?"


"Sumpal pakai ini maksudnya kamu, sayang?" Tanya Khay menyentuh bibir Enzy menggunakan ibu jarinya.


"Hay, jangan berpikir terlalu jauh tuan !" Seru Enzy menepisnya.


Khay tersenyum lalu kembali pada layar datar di hadapannya, ia sudah banyak sekali ketinggalan, pertandingannya, bahkan acaranya akan segera habis.


"Sayang, kenapa rambut kamu begitu halus, berbeda dengan rambutku yang begitu kasar sekarang, padahal selamat aku hamil aku suka memakai shampo milik kamu, loh ?" Ujar Enzy masih membalai rambut Khay.


"Itu karena shampo aku gunakan khusus untuk pria sayang, jenis rambut pria sangat berbeda dengan rambut seorang wanita, aku rasa begitu sayang." Jawab Khay menjelaskan tanpa beralih dari Televisi karena sekarang lagi tegang, melihat tim favoritnya diserang


"Ahhhhhhhhh...." Kesal Khay karena gawang lawannya berhasil di bobol.


Khay berbalik kemudian memeluk Enzy, mendusel-dusel perut buncit Istrinya itu.


"Ada apa ?" Tanya Enzy melihat sikap Khay.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin merasakan baby kita, apa kamu menikmatinya ?" Jawab Khay kemudian balik bertanya lalu mengangkat kepalanya menatap Enzy sambil tersenyum.


"Emm... Kamu sendiri ? Apa kamu menikmatinya saat mendusel-dusel perutku seperti itu ?" Tanya balik Enzy mengusap surai rambut suaminya itu.


"Tidak hanya menikamnya, apa kamu tahu, kalau aku juga...." Khay sengaja menggantung ucapanya membuat Enzy menautkan kedua alisnya penasaran.


"Kalau aku juga benar-benar bahagia." Lanjut Khay.


"Sangat klise." Ucap Enzy tersenyum.


"Aku tahu." Sahut Khay.


"Sayang, apa kamu juga bahagia ?" Tanya Khay beralih meletakkan kepalanya di atas dada Enzy.


"Sangat bahagia, dan bersyukur mendapatkan suami sepertimu, hampir saja aku menyesal, karena dulu sempat membencimu, tapi sekarang aku benar-benar mencintaimu, aku harap kamu tidak akan pernah mengkhianati ku, begitupun aku yang akan selalu setia bersamamu." Ujar Enzy menatap manik mata suaminya itu.


"Aku janji tidak akan pernah mengkhianati mu, sayang." Sahut Khay memeluk erat tubuh istrinya, sambil menatap wajah wanitanya dari arah bawah.


Enzy membalas menatap suaminya juga tersenyum, sambil terus membelai rambut halus milik Khay, Khay layaknya seorang bocah yang sedang bermanja-manja pada ibunya.


...----------------...


Waktu menunjukkan pukul 11 malam, Khay dan Enzy sudah tertidur pulas dikamar mereka, namun Enzy terbangun saat mendengar ponsel Khay berdering, lagi-lagi hanya sebuah getaran, karena sudah larut jelas Enzy mendengar getaran itu sangat jelas.


Enzy yang berada dalam dekapan suaminya, dengan perlahan memindahkan tangan yang masih melingkar pada bahunya, setalah berhasil tanpa menggangu Khay, Enzy kembali memindahkan lengan kekar satunya lagi yang melingkar pada pinggangnya. Setelah berhasil, Enzy mengambil ponsel Khay yang terletak di samping bantal pria itu, Enzy kaget entah itu sebuah panggilan atau pesan masuk, Enzy segera memindahkan nomor yang sama, seperti yang menghubungi Khay tadi, setelah berhasil memindahkan nomor tersebut ke ponselnya, Enzy kembali meletakkan ponsel tersebut pada tempatnya.


Enzy kembali membaringkan pada posisinya tadi, yaitu menjadikan lengan Khay sebagai bantalnya lalu memeluk erat suaminya itu, seolah ia takut suatu saat nanti pria itu meninggalkannya.


Enzy mendongak menatap wajah lelap suaminya setelah puas memandanginya dengan pandangan kekhawatiran, Enzy mencoba untuk melanjutkan tidurnya.


Bersambung......


Maaf soal kemarin authornya gak bisa Up, dikarenakan Author habis berkunjung ke rumah sanak saudara untuk silahturahmi.


Terimakasih banyak karena masih setia menunggu kelanjutan ceritanya, jangan lupa Like, Komen, dan juga Vote...


Dan satu lagi 😁😁😁 Mampir juga ke cerita baru author yang berjudul DENDAM MEMBAWAH CINTA.....


...TERIMAKASIH...


...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...