Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
Episode 30


" Tangan Diva bergerak. " seruh Rafa


Seketika semua orang langsung menoleh dimana Diva tengah berbaring.


Kenan segera melangkah mendekati istrinya.


" Sayang... yank...kamu dengar akukan, buka mata kamu Yank. " sahut Kenan memegang tangan Diva dan menciumi wajahnya.


" Cepat panggil Dokter " Ujar Ayah Salman.


Ray dengan cepat keluar mencari dokter, kebetulan Ray melihat dokter Rian dengan seorang perawat tidak jauh dari ruangan ICU.


Ray segera menghampiri dokter Rian, dengan sedikit ngos-ngosan, karena tadi ia sedikit berlari.


" Dokter cepat ikut saya Diva menggerakkan tangannya. " Sahut Ray setelah di depan dokter Rian.


Tanpa menunggu persetujuan dokter Rian, Ray langsung menarik tangan dokter itu menuju ruangan dimana Diva berada.


setelah sampai dokter Rian langsung memeriksa denyut nadi dan denyut jantungnya.


" Subhanallah, ini sebuah keajaiban Pak, ia telah kembali. " Ujar dokter Rian saat memeriksa denyut jantung Diva.


" Suster tolong pasang alat bantu pernafasannya, nafasnya masih terlalu lemah." Ucap Dokter Rian kepada perawat yang bersamanya.


" Tolong kalian keluar dulu, kami akan memeriksanya lebih lanjut. " Ucap sang perawat.


" Tidak aku mau tetap disini. " Sahut Kenan tanpa melepaskan genggaman tangannya kepada istrinya.


" Nan, kamu harus keluar dulu, biarkan dokter memeriksanya. " Ucap Arka melepaskan genggaman tangan Kenan.


" Tapi kak.."


" Kamu mau kan Diva segera sembuh ?" Tanya Arka menyela ucapan adik iparnya itu.


Kenan hanya menganggukkan kepala, Arka segera memapah Kenan untuk segera keluar.


" Lakukan yang terbaik buat adik Saya. " Ucap Kenan kepada Dokter Rian sebelum ia benar-benar keluar.


" Baik pak. " Jawab dokter Rian, mengalihkan pandangannya kearah Arka dan tersenyum.


Kenan tiba-tiba ambruk dan pingsan saat baru sampai depan ruangan ICU.


" Kenan. " Pekik Bunda Vivian saat melihat putranya itu jatuh.


Kenan langsung dibawah ke IGD untuk melakukan perawatan, Kenan dehidrasi, dan juga kelelahan, karena dari kemarin malam ia belum pernah makan, sampai sekarang menunjukkan jam 11 malam.


Semua masih berada disana kecuali sisi sudah pulang sedari tadi sore saat Rafa keluar membeli pakaian untuk Kenan, sekalian mengantar sisi pulang.


" Bee, kamu istirahat saja dulu, sepertinya di ruangan Kenan, ada tempat tidur kosong, kamu kesana saja, atau saya antar kamu pulang. " Ucap Arka kepada Vara.


" Tidak perlu bee, aku mau disini nemenin kamu, lagian aku juga sudah kabarin orang rumah. " Jawab Vara tersenyum kearah kekasihnya itu.


" Terimakasih ya. " Ucap Kenan menarik kepala Vara supaya bersandar di bahunya.


" Iya bee. " Jawab Vara mengusap lengan Arka.


40 Menit kemudian dokter Rian keluar dari ruang ICU.


" Bagaimana keadaan menantu saya dok ?" Tanya ayah Salman sedikit khawatir.


" Dia sudah sadarkan diri, dan dia sudah bisa dipindahkan diruang perawatan, segeralah urus kepindahannya Pak.


" Tapi apa semuanya baik-baik saja, apa tak ada luka serius ?" Tanya ayah Salman kembali.


" Tidak ada yang perlu dikhawatirkan pak, Hanya saja butuh perawatan untuk beberapa Hari kedepan, karena luka di kepalanya cukup dalam. " Jawab dokter Rian menjelaskan.


" Alhamdulillah, terimakasih kasih Dokter. " Ucap Ayah Salman menjabat tangan dokter Rian.


" Sama-sama pak itu sudah menjadi tugas kami, kalau begitu saya permisi dulu pak. " Jawab dokter Rian, dan pamit untuk pergi.


Diva di pindahkan keruang perawatan dengan pasilitas VVIP, tanpa sepengetahuan Kenan.


Arka berniat mengerjai adik iparnya, jadi mereka sepakat untuk tidak memberitahu Kenan dengan keadaan Diva yang sudah sadar.


Pagi hari, Kenan baru tersadar karena pengaruh obat yang diberikan dokter kemarin, dengan perlahan ia membuka matanya melihat sekelilingnya, ia tidak melihat siapapun kecuali seorang suster yang bertugas di ruangan itu.


" Suster saya dimana ?" Tanya Kenan.


" Lalu istri saya dimana sus ?" Tanya Kenan kembali menanyakan keberadaan istrinya.


suster itu mengenyitkan keningnya, lalu memperhatikan Kenan dari atas sampai bawah, karena ia melihat Kenan masih sangat muda dan terlihat Masi seperti seorang pelajar.


Kenan yang tidak mendapatkan jawaban dari suster itu, Kenan langsung melepaskan jarum infus yang masih terpasang dipunggung tangannya, Kenan segera keluar dan langsung menuju ruang ICU, dimana istrinya dirawat.


Kenan langsung membuka pintu ruangan tersebut, ketika ia sampai, Kenan mengenyitkan keningnya, karena tidak mendapati keluarga dan juga istrinya.


Kenan kembali keluar dan bertanya kepada seorang perawat yang kebetulan lewat.


" Maaf sus, kalau boleh tau pasien yang diruangan ini kemana ya ?" Tanya Kenan menunjuk kearah ruang ICU.


" Saya kurang paham dek, karena saya juga baru masuk, mungkin sudah dipindahkan. " Jawab perawat itu, karena ia memang tidak mengetahui karena ia masuk sift pagi.


" Boleh saya pinjam ponselnya sus, karena saya ingin menghubungi keluarga Saya." Ujar Kenan sopan, karena ia juga tidak tau sekarang ponselnya dimana.


perawat itu, mengeluarkan ponselnya dan memberikan kepada Kenan, Kenan langsung menerimanya.


tapi Kenan nampak diam sambil melihat ponsel itu, karena ia bingung mau menghubungi siapa, ia tidak menghafal no ponsel orangtuanya dan juga Arka.


Kenan langsung menghubungi no Ray, kebetulan ia menghafal nomor sahabatnya itu.


📞 " Halo, lu dimana, dimana Diva, kenapa tidak ada diruangannya ?" Tanya Kenan beruntun saat Ray menjawab teleponnya.


Arka yang mendengar kalau kenanlah yang menelfon Ray, ia segera mengambil ponsel Ray dari tangannya dan menjawab pertanyaan Kenan.


📞" Kami sekarang dirumah, kami sudah membawanya pulang. " Jawab Arka dengan nada suara dibuat sesedih mungkin.


📞 " Apa, tidak mungkin, kemarin Diva sudah sadar, kenapa dia malah meninggalkanku lagi." Ucap Kenan lirih, dan langsung luruh kelantai, tanpa memutuskan sambungan teleponnya.


Kenan segera mematikan panggilan teleponnya, dan mengembalikan kepada perawat tadi.


perawat itu menerima Ponselnya dan terlihat bingung melihat Kenan tiba-tiba luruh kelantai dengan air mata membanjiri wajahnya.


" Terimakasih. " Ucap Kenan kepada perawat itu lirih bahkan hampir tak terdengar.


Arka melihat panggilannya terputus, menyuruh Ray untuk menyusul Kenan yang ia yakini Kenan masih berada diruang ICU, yang tidak jauh dari ruang perawatan Diva.


Kenan Berjongkok di lantai, dengan melipat kedua tangannya diatas lutut, menundukkan kepalanya, sambil menatap kosong kedepan.



Ray sudah sampai didepan ruang ICU, melihat keadaan Kenan seperti orang G**a, Ray menggelengkan kepalanya sambil mendekati sahabatnya itu.


" Benar-benar Bucin nih anak. " Gumam Ray saat berada didepan Kenan.


Ray langsung menarik tangan Kenan, untuk berdiri, dan mengikutinya berjalan menuju kesuatu ruangan, Kenan tanpak bingung saat mereka sampai di depan sebuah ruangan, Ia menatap sahabatnya itu seolah ia bertanya buat apa dia kesini.


" Masuk. " Ujar Ray saat melihat Kenan kebingungan.


Kenan segera membuka pintu ruangan tersebut, saat ia sudah membuka pintu betapa terkejutnya Kenan saat melihat Diva duduk bersandar sambil melihat kearahnya.


Dengan mata berkaca-kaca Kenan langsung menuju kearah Diva dan memeluknya sangat Erat seolah ia tidak akan melepaskannya.


" Yank, aku sangat takut kamu meninggalkanku, kamu jangan pernah lagi seperti ini, aku benar-benar tidak bisa hidup tanpamu sayang. " Ucap Kenan dengan tubuh bergetar karena menangis.


Diva Hanya terdiam tanpa membalas pelukan Kenan, Kenan yang menyadari kalau Diva tidak menghiraukannya sama sekali, ia segera melepaskan pelukannya, menangkup wajah istrinya itu, menatap manik mata Diva, Diva membalas tatapan mata Kenan datar.


" Lu siapa ?" Tanya Diva tiba-tiba.


*Bersambung.......


jangan lupa


like


coment


vote


mohon dukungan kalian


🤗🤗🤗🤗🙏🙏🙏🙏*