
Dalam perjalanan pulang Diva kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, ia tidak lagi menangis ia akan bersikap seolah ia tak mengetahui foto-foto yang di perlihatkan Calista tadi, dan Diva bertekad untuk tidak mengurusi urusan Kenan ia akan mengacuhkan semua sikap Kenan akhir-akhir ini, dan tetap menjaga jarak dengan suaminya itu.
Saat tiba di rumah Diva langsung memarkirkan mobilnya di garasi tempat mobil itu semula, saat ia turun dari mobil terlihat Kenan duduk di kursi teras sambil memainkan ponselnya, Diva berlalu begitu saja, Diva tak lagi mencium tangan suaminya setiap habis ia keluar seperti biasa bahkan menyapapun tidak. Kenan yang melihat Diva begitu saja melaluinya ia segera menyusul masuk, baru saja Diva akan menaiki anak tangga Kenan sudah menahan lengannya. Diva hanya berhenti tanpa menoleh ke arah suaminya itu.
"Dari mana ?" Tanya Kenan mencoba untuk tidak emosi.
"Supermarket." Sahut Diva masih belum menoleh kearah Kenan.
"Tadi aku lihat kamu bawa mobilnya kebut-kebutan." Ujar Kenan.
"Apa pedulimu ?
"Peduli, aku peduli padamu yank, aku sayang sama kamu, aku tidak mau terjadi apa-apa kepadamu." Ujar Kenan membalikkan badan istrinya itu agar menghadapnya.
"Peduli, sayang katamu, sayang dengan kamu mengabaikan kami, hah.?" Tanya Diva tersenyum miring sambil menaikkan kedua alisnya.
"Aku tahu kamu berniat baik dengan Sarla, tapi tidak sampai mengabaikan kami juga, bahkan kamu bersikap acuh kepadaku, Ok jika dia bekerja sebagai sekertis kamu aku tidak mempermasalahkan itu, tapi bersikaplah layaknya antara sekertaris dan juga atasan, sama halnya kamu dengan mbak Luci dulu, kamu benar-benar berubah setelah bertemu dengannya kembali." Ucap Diva meninggikan nada bicaranya dengan linangan air matanya.
"Tapi aku benar-benar murni hanya membantunya Div, tidak lebih." Ucap Kenan.
"Ya sudah percuma aku bicara denganmu, jika kau masih ingin melihatku dan Abang di rumah ini kamu harus jaga jarak dengannya, bekerjalah dengan cara profesional, mana Kenan dulu yang selalu mengedepankan profesionalitas kerjanya." Setelah mengatakan itu Diva berlari naik ke atas menuju kamar, bukan kamarnya yang biasa ia tempati dengan Kenan tapi kamar putranya.
πππ
Malam harinya Kenan keluar dari kamar dan langsung menuju ruang makan, di saat ia tiba di sana ia melihat beberapa jenis makanan yang sudah tersaji di atas meja makan, namun ia tak melihat Diva yang biasanya selalu menyiapkan semuanya di bantu oleh bi Ratih.
"Bi apa Diva sudah makan" Tanya Kenan berdiri di dekat meja makan.
"Belum tuan, dari tadi sore nona belum keluar kamar sama sekali." Jelas Bi Ratih.
"Bi kalau begitu tolong siapkan makanan di nampan biar aku yang bawakan di kamar !" Seru Kenan dan langsung di angguki bi Ratih.
Sambil menunggu bi Ratih menyiapkan semuanya, Kenan duduk di salah satu kursi meja makan.
Setelah semuanya sudah di siapkan bi Ratih, Kenan membawa nampan tersebut ke kamar baby Khay di mana saaat ini Diva berada.
Saat tiba di depan kamar Kenan langsung memutar knop pintu namun sayangnya ia tidak bisa membukanya karena Diva menguncinya dari dalam.
Tok.....Tok....Tok...
"Yank...Yank....Div...." Kenan terus mengetuk pintu kamar tersebut sambil memanggil istrinya itu dengan panggilan sayangnya, bergantian dengan nama istrinya. Karena tak juga dapat sahutan dari dalam, Kenan meletakkan nampan yang ia bawa ke atas nakas yang berada tak jauh dari kamar, Kenan membuka laci nakas tersebut lalu mencari kunci duplikatnya, setelah ia dapatkan Kenan langsung membuka kamar tersebut tak lupa ia membawa nampanya.
Saat masuk ke dalam kamar Kenan mendapati Diva berbaring dengan posisi membelakangi pintu, Kenan tau kalau Diva sedang menyusui baby Khay, karena piama yang di kenakan Diva sedikit terangkat.
"Lebih baik kamu keluar sekarang !!" Seru Diva tiba-tiba tanpa menoleh ke arah pintu.
"Tapi kamu harus makan yank, kata bibi kamu sama sekali belum makan apa-apa !!" Ujar Kenan.
"Ini aku bawakan kamu makanan." Lanjutnya.
"Aku sudah makan di luar tadi, tadi aku tidak sengaja bertemu dengan Calista, kami mampir ke restoran, lebih baik kamu keluar !!" Lagi-lagi Diva mengusir Kenan tentu saja dengan nada dinginnya.
Diva melepaskan baby Khay dari sumber ASInya, lalu merapikan pakaiannya.
"Buat apa kamu ketemu dengan wanita itu, aku sudah katakan kalau dia punya niat jahat kepadamu." Ujar Kenan mendekat ke tempat tidur setelah meletakkan nampan di atas meja kecil yang ada di kamar putranya itu.
"Terserah apa katamu, tapi aku tidak akan keluar dari sini, aku mau bersama Abang." Kenan mendekat kearah putranya.
"Ya sudah jika kamu ingin di sini biar aku yang akan keluar." Diva segera beranjak dari tempat tidur kemudian berlalu keluar kamar tersebut, baru saja Diva tiba di depan pintu Kenan sudah menarik lengannya agar Diva tak pergi dari situ.
"Sampai kapan kamu akan terus memberi jarak di antara kita?" Tanya Kenan.
Diva melepaskan tangan Kenan dari lengannya. Diva menatap sinis suaminya itu.
"Bukannya kamu sendiri yang menjaga jarak di antara kita ? Ya sudah aku mau kebawah, lebih baik sekarang kamu lihat anak kamu, jangan sampai dia juga merasakan di abaikan oleh ayahnya sendiri !!" Seru Diva kemudian pergi meninggalkan Kenan.
Kenan mendesah lalu mengusap wajahnya kasar, kemudian kembali masuk ke kamar.
πππ
Seperti pagi biasanya Diva selalu sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan, tapi kali ini ia hanya menyiapkan sarapan untuk putranya, sedangkan sarapan untuk Kenan di siapkan bi Ratih.
Setelah selesai menyiapkan sarapan untuk putranya, Diva kembali ke kamar putranya untuk melihat apakah baby Khay sudah terbangun, saat masuk kamar Diva mendapati Kenan sudah ada di sana mengajak putranya bermain.
"Anak bunda sudah bangun ? Ayo kita sarapan, sarapannya sudah siap sayang !" Diva merentangkan tangannya kepada putranya.
Baby Khay langsung segera merangkak menghampiri Bundanya Diva langsung menggendong putranya itu dan membawanya keluar dari kamar tanpa menghiraukan keberadaan Kenan.
Saat Diva sibuk menyuapi baby Khay sarapan tak lama Kenan turun dengan setelah kerjanya, penampilan Kenan tidak serapi hari-hari biasanya, terlihat dari posisi dasinya yang terlihat miring, tapi Diva tak berniat untuk merapikannya, Diva masih dengan santainya mengajak putranya itu bercanda sesekali menyuapinya dengan bubur, bergantian dengan Diva memakan sarapannya.
Kenan tampak mengambil makanannya sendiri, bahkan Diva tak lagi mengambilkan sarapan untuk suaminya itu, bi Ratih dan Bi Siti yang melihat keadaan keluarga majikannya itu juga merasa sedikit canggung, karena biasanya mereka selalu melihat keharmonisan keduanya, tak seperti saat ini seperti ada benteng besar yang menghalangi di antara keduanya, bahkan posisi duduk mereka saat ini saling berjauhan, Diva dan baby Khay duduk di ujung kanan, sedangkan Kenan duduk di tempat biasanya, di ujung kiri.
Di tengah-tengah sarapan mereka, tiba-tiba bel rumah mereka berbunyi, salah satu Art mereka dengan segera membuka pintunya, tak lama Sarla datang dan langsung ikut bergabung di ruang makan.
"Selamat pagi maaf pagi-pagi aku menganggu kalian." Sapa Sarla.
"Tidak apa-apa, silahkan duduk kamu ikut aja sarapan dengan kami, bi tolong ambilkan piring buat Sarla !!" Seru Kenan kemudian beralih kepada bi Ratih.
"Tidak perlu Nan, tadi aku sudah sarapan di apartemen, aku kesini karena ada e-mail masuk, dan mengharuskan kamu berangkat ke kota S, katanya proyek di sana ada masalah." Jelas Sarla kemudian duduk di dekat Kenan lalu memperlihatkan Tabnya kepada Kenan, Sarla lebih mendekatkan dirinya kepada Kenan. Lalu Sarla menatap Diva dengan tatapan smirknya.
Diva hanya tersenyum masam melihat keduanya, ia berusaha menahan emosinya ia tak mau terlihat lemah di hadapan Kenan ataupun Sarla.
Diva dengan santainya kembali memakan sarapannya juga menyuapi baby Khay.
"Yank, ini proyek yang kamu tangani dengan Calista, kamu juga harus ikut !!' Seru Kenan kepada Diva setelah membaca beberapa laporan yang ada di tab yang di perlihatkan Sarla.
"Aku sudah tidak mau mengurusi proyek itu, kamu saja yang mengurusnya, atau suru orang lain saja, atau kalau ada orang di luaran sana yang butuh pekerjaan kamu berikan saja proyek itu padanya, bukannya kamu suka membantu orang lain !!" Seru Diva kemudian membawa putranya meninggalkan ruangan tersebut.
"Apa maksud kamu bicara seperti itu ?" Kenan sedikit berteriak.
"Aku tidak ada maksud apa-apa, tapi jika kamu merasa tersinggung itu terserah kamu." Diva juga sedikit berteriak.
Bersambung.......
ποΈποΈποΈLagi-lagi Author meminta dukungan kalian para reader tercinta yang sudah setia dan berkenan mampir ke ceritaku, mohon dukungan like, Komen dan vote dari kalian. Mohon maaf jika ceritanya masih banyak memiliki kekurangan, karena maklum saja author masih sangat amatiran ππππ
Terimakasih salam sayang dari Author Isriana. ππππ€π€π€β€οΈβ€οΈβ€οΈ