
Dengan perlahan Kenan membuka matanya, dan sedikit merasa pusing saat ia mencoba untuk bangun lalu bersandar di kepala tempat tidur. Setelah merasa posisinya sudah baik dan rasa pusing di kepalanya sedikit berkurang, Kenan menelisik semua ruangan yang ia tempati sekarang, dan ia yakin kalau sekarang dirinya berada dirumah sakit. Kenan mengingat terakhir dia pingsan di kamarnya saat ingin mengambil obat pereda nyeri.
"Lu sudah ada sadar ?" Tanya Ray yang baru saja masuk. Sepertinya Ray baru saja menembus obat, terlihat dari kantong obat yang berada di tangannya.
"Siapa yang bawa gue kesini?" Kenan balik bertanya, saat Ray sudah berada di samping brangkarnya.
"Gue, tadi gue nemuin elu di kamar pingsan di lantai, saat gue mau manggil elu buat makan siang." Terang Ray sambil meletakkan kantongan obat yang baru saja ia tebus.
Di tengah-tengah obrolan mereka dokter paru baya, kira-kira masih seumuran dengan ayah Salman, bersama seorang suster masuk dan langsung menanyakan ke adaan Kenan.
"Sudah berapa lama kamu sering merasakan sakit seperti ini ?" Tanya dokter tersebut yang bernamrtag Dokter Bayu.
"Sebulan terakhir ini dok." Jawab Kenan.
"Apa akhir-akhir ini nafsu makan kamu berkurang, dan mengalami penurunan berat badan, atau bahkan sering luka pada bagian mulut, atau lebih tepatnya di bagian gusi ?" Dokter Bayu kembali bertanya dengan rentetan pertanyaan.
"Iya Dok, semua yang dokter tanyakan semua benar, tapi kalau soal luka di bagian mulut baru sekali sih." Terang Kenan.
"Baiklah, tadi saya sudah mengambil sampel darah kamu, dan akan di periksa di laboratorium, besok kamu bisa kembali lagi kesini untuk mengambil hasil tesnya." Ujar Dokter Bayu.
"Apa ada masalah yang serius Dok ?" Kali ini bukan Kenan yang bertanya tapi melainkan Ray.
"Kita liat hasil tesnya besok, saya tidak bisa menyimpulkan sebelum melihat hasil tesnya terlebih dahulu." Jawab Dokter Bayu.
"Baiklah dok, tapi mungkin kita kembali kesini agak siangan dok, soalnya besok kami ujian." Sahut Kenan.
"Apa saya sudah bisa pulang Dok ?" Lanjut Kenan bertanya.
"Iya, dan saya sarankan supaya banyak-banyak istirahat, obatnya juga harus di minum rutin." Jelas Dokter Bayu.
"Baiklah Dok, Terimah kasih." Ucap Kenan.
"Iya, itu sudah menjadi kewajiban saya, kalau begitu saya permisi." Ucap Dokter Bayu tersenyum kemudian meninggalkan ruangan tersebut.
Setelah kepargian Dokter Bayu, suster yang tadi ikut bersama dokter Bayu, melepaskan selang infus yang terpasang di punggung tangan Kenan.
"Terimakasih Sus." Ucap Kenan saat infusnya sudah terlepas.
"Iya sama-sama, kalau begitu saya permisi." Jawab suster tersebut lalu berjalan keluar meninggalkan ruangan tersebut.
Setelah kepergian suster tersebut Kenan maupun Ray juga ikut keluar, berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju dimana mobil mereka terparkir.
Saat perjalanan pulang Kenan hanya diam sambil menyandarkan kepalanya di sandaran jok mobil, sambil menatap keluar jendela memikirkan sesuatu.
Uuhhfffftttt.....
Kenan mengela nafas panjang lalu menengadah keatas memejamkan matanya. Ray yang melihat itu mengerutkan keningnya, lalu kembali fokus mengemudi.
"Apa ada masalah ?" Tanya Ray.
"Tidak ada apa-apa, Gue hanya khawatir jika yang gue khawatirkan benar adanya." Jawab Kenan membuka matanya, namun masih posisi menyandar.
"Memangnya apa yang sedang lu pikirkan ?" Tanya Kenan menoleh kearah Kenan menaikkan kedua alisnya, kemudian kembali fokus kedepan.
"Gue takut, takut kalau gue benar-benar memiliki penyakit parah, dan gue khawatir dengan Diva dan juga kedua orangtua gue." Terang Kenan.
"Berdoa saja, mudah-mudahan hasil tesnya besok menyatakan lu baik-baik saja." Ujar Ray.
"Tapi gue sudah cari tau tentang semua gejala yang gue rasakan selama sebulan terakhir ini, dan itu mengarah kepenyakit yang serius." Jelas Kenan lalu menegakkan duduknya kemudian menatap nanar kedepan.
"Apa ?" Ray kaget langsung beralih menatap Kenan sejenak mendengar penuturan Sahabatnya itu.
"Ray..." Teriak Kenan saat Ray hampir saja menabrak trotoar karena tidak fokus kedepan.
Ray langsung mengerem mendadak dan membuat keduanya terhuyung kedepan. Untung saja tadi jalanan sedang sepi.
"Sorry ... Sorry ... Gue kaget aja dengar ucapan lu tadi." Ucap Ray lalu kembali menjalankan mobilnya.
Setelah sampai rumah Kenan langsung masuk dan menuju ke kamarnya, sedangkan Ray langsung menuju kedapur meminta by'Ati menyiapkan makan siang buat mereka, sebenarnya sudah tidak bisa lagi di bilang siang sih, karena sudah menunjukkan jam 3 Sore. Ray juga sudah mengabari kedua orangtuanya, bahwa dia akan menginap di rumah sahabatnya itu.
Di kamar Kenan menyandarkan dirinya di kepala tempat tidur, Kenan terus memikirkan hasil tes kesehatannya besok, Kenan benar-benar takut akan jika yang ia khawatirkan terjadi, dia tidak tega melihat orang-orang yang ia sayangi bersedih, terutama kepada istrinya.
"Bagaimana jika itu semua benar." Gumam Kenan lalu memejamkan matanya, mencoba untuk tidur, tak lama Kenan benar-benar tertidur.
Di Kota Z.
Di kamar Diva, Diva terlihat sedang mencemaskan sesuatu, sejak ia sampai siang tadi, hingga menunjukkan jam 3 Sore, Kenan belum bisa ia hubungi, panggilannya maupun pesannya tidak ada yang Kenan jawab. Diva terlihat sangat khawatir memikirkan Kenan, entah kenapa perasaannya mengatakan kalau suaminya itu sedang tidak dalam keadaan baik. Diva merebahkan tubuhnya di tempat tidur memejamkan matanya, tanpa ia sadari Diva pun tertidur mungkin karena kelelahan, karena telah melakukan perjalanan yang cukup memakan waktu.
Tepat jam 5 sore Diva terbangun kerena suara deringan ponselnya tanda panggilan masuk, Diva meraba sisi tempat tidurnya mencari dimana ponselnya yang ia letakkan begitu saja. Saat menemukan ponselnya dengab cepat Diva menggeser simbol berwarna hijau ketika melihat kalau suaminya lah yang menelponnya.
📞 "Assalamualaikum by', kamu dari mana saja, kenapa panggilan dan pesan aku tidak yang kamu balas, terus bagaimana keadaan kamu, dari tadi perasaan aku tidak enak memikirkan mu by' ?" Diva langsung memberondong pertanyaan kepada Kenan dengan nada yang sangat khawatir.
📞 "Walaikumsalam, Yank Kangen..." Kenan tidak menjawab semua pertanyaan yang Diva lontarkan kepadanya.
📞 "Bukan kata itu yang mau aku dengar by', aku butuh penjelasan kamu." Ucap Diva menekankan setiap perkataannya.
📞 "Tadi aku main PS bersama Ray yank, dan ponsel aku tertinggal di mobil, tadi di bandara aku ketemu Ray yang baru saja pulang dari Kota Z." Ujar Kenan sedikit berbohong.
📞 "Tapi kamu baik-baik sajakan by', sejak tadi perasaan aku tidak baik, terus memikirkan kamu."
📞 "Perasaan kamu saja Yank, mungkin kamu kangen aja yank, atau mungkin juga kamu pengen BAB hehehe." Jawab Kenan dengan lelehan.
📞 "Aku nggak lagi bercanda by' !" Ucap Diva nada serius.
📞 "Hehehe, aku nggak apa sayang, suamimu ini sehat walafiat." Ujar Kenan.
📞 "By', jangan terlalu sibuk ngurusin kerjaan, kamu juga jaga kesehatan !" Ujar Diva.
📞 "Ishh... iya sayang ku, cintaku." Sahut Kenan namun terdengar meringis seperti menahan sakit.
📞 "By', kamu kenapa, kenapa terdengar seperti menahan sakit gitu?" Tanya Diva khawatir.
📞 "Ah... Ini tank, nggak sengaja tangan aku kebentur nakas saat aku mau bangun." Jawab kenan bohong.
📞 "Kamu nggak lagi bohong kan by' ?" Entah kenapa, Diva merasa kalau Kenan tidak jujur dengannya.
📞 "Nggaklah yank, mana pernah aku bohongin kamu. Yank sudah dulu ya, aku mau mandi bentar lagi magrib, malam nanti aku telpon lagi." Ujar Kenan.
📞 "Ya sudah, ingat kamu jaga kesehatan, Jangan lupa makan.!" Ucap Diva
📞 "Iya sayang, I love you. Assalamualaikum.
📞 "I love You to By', Walaikumsalam."
Setelah panggilan mereka terputus Diva menghela nafas, Entah kenapa Diva merasa kalau ada yang sedang di sembunyikan suaminya itu.
Diva segera beranjak masuk ke kamar mandi.
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan kalian.
Like
Coment
Vote
🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️