
Setelah makan malam, Khay membersihkan sisa makanan mereka, setelah itu Khay pamit untuk masuk ke kamar mandi terlebih dahulu.
Sekitar 10 menit Khay kembali dari kamar mandi, Khay mendapati istrinya sedang duduk termenung sambil menangis tanpa bersuara terus menatap ke arah jendela.
Khay menghembuskan nafasnya pelan, lalu berjalan mendekati istrinya.
"Sayang." Panggil Khay.
Enzy dengan cepat menyekah air matanya lalu menoleh sambil tersenyum kepada suaminya yang juga tersenyum melihatnya.
Khay ikut naik di atas brangkar, mendudukkan dirinya di samping Enzy.
"Kamu kenapa, Hem ? Apa ada yang sakit ?" Tanya Khay lembut sambil menyeka sisa air mata Enzy kemudian beralih merapikan anak rambut Enzy yang menutupi sebagian keningnya.
Enzy hanya menggeleng menanggapi pertanyaan Khay, Khay tau kalau istrinya itu sedang memikirkan apa yang telah terjadi, tapi Khay akan berusaha terlihah tetap tenang dan baik-baik saja di depan istrinya itu.
"Khay.." Panggil Enzy menatap manik mata Khay.
"Ada apa, sayang ? Butuh sesuatu, atau kamu mau ke kamar mandi, Hem ?" Sahut Khay.
"Saat aku sering pergi, jalan bareng dengan Priska aku sudah mulai curiga apalagi saat dia membahas soal Sita, dan saat aku mengatakan kalau aku dan kamu saling mencintai, kami sangat bahagia dengan pernikahan kami, raut wajahnya tiba-tiba berubah, seolah ia menyembunyikan sesuatu." Jelas Enzy tiba-tiba membahas permasalan soal Priska.
Khay hanya terdiam mendengar ucapan istrinya itu, tak lupa dengan tatapan datar dikala ia menatap Enzy, membuat Enzy takut-takut jika suaminya itu marah padanya.
"Maafkan aku, maaf..." Ucap Enzy.
"Kamu, kamu tidak akan meninggalkan ku lagikan ? Kata pisah itu tidak akan lagi kamu lontarkan kan ?" Tanya Khay.
Enzy menundukkan wajahnya, kemudian ia meraih tangan Khay, kemudian kembali menatapnya.
"Tidak, aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi, dan kata itu tidak akan lagi terlontar dari mulutku, sudah cukup aku mengatakan itu." Jawab Enzy yakin.
"Kau bukan satu-satunya yang sedih, tapi aku juga, bahkan aku tidak bisa tidur tanpa ada kamu, setiap aku menutup mata hanya ada kamu, hariku seolah hampa tanpa dirimu." Ucap Enzy lalu membawa tangan Khay di depan dadanya.
"Aku bahkan hampir gila, saat aku jauh darimu, tidak ada Khay yang usil, tidak ada Khay yang nyebelin, tidak ada Khay yang selalu menggodaku, bahkan tidak ada Khay yang manja." Lanjutnya air matanya mulai keluar membasahi wajah chubby nya.
Khay masih diam, menatap sedih istrinya itu, matanya juga mulai berkaca-kaca, namun masih tetap pada kebungkamannya.
"Aku juga terluka...." Ucap Enzy lagi.
"Maafkan aku... untuk selalu melakukan apapun yang kuinginkan, maafkan atas keras kepalaku selama ini, maaf karena aku juga egois, tidak pernah memikirkan mu, memikirkan perasaan mu, maaf karena harus menyakitimu juga." Ucap Enzy dengan tatapan penuh ketulusan.
"Maaf...ma..af juga, karena aku gegabah melakukan semuanya, sampai anak...anak kita." Enzy tidak sanggup meneruskan perkataannya, tangisannya pecah, sambil sesegukan.
Enzy menurunkan tangan Khay yang sejak tadi ia tuntun di dadanya, kemudian kembali berucap.
"Aku terpaksa melakukan ini semua, karena aku ingin membuka matamu agar bisa melihat apa yang telah Priska perbuat selama ini, aku juga ingin membantu Sita untuk mengungkapkan semuanya, karena selama ini, ia hanya di peralat oleh Priska." Jelas Enzy.
"Dan satu lagi, aku tidak ingin, dia terus-terusan membodohimu juga sahabat-sahabatnya yang lain, sudah cukup Alex dan kamu dibuat saling membenci karena kesalahpahaman yang dia perbuat.
"Dan aku tidak ingin, dia juga mengganggu atau sampai menghancurkan kita." Lanjutnya lagi masih menangis menusukkan wajahnya, Enzy tak sanggup melihat suaminya, ia merasa sangat bersalah.
"Jadi, apa karena itu kamu harus meninggalkan ku dulu, apa tidak ada cara lain ?" Sahut Khay.
"Maaf..." Cicit Enzy.
"Kamu menyakitiku." Ujar Khay.
"Maaf..." Lagi-lagi Enzy hanya bisa meminta maaf, masih menunduk.
"Kau membuatku gila."
"Maaf...
"Apa kamu tahu, aku mencarimu kemana-mana malam itu, sampai ke kota Z dengan keadaan yang kacau, ayah, bunda dan yang lainnya sangat khawatir." Ucap Khay.
"Maaf.... Jadi, kamu maunya aku bagaimana ?" Tanya Enzy memberanikan menatap Khay.
"Aku berlutut dan memohon padamu, tapi apa yang aku dapatkan, kamu tetap meninggalkan ku." Ucap Khay lagi.
"Aku tidak pernah masuk ke kampus selama berhari-hari, bahkan aku terus mengurung diri dikamar, sampai beberapa pekerjaan ku terbengkalai." Tambah Khay.
"Maaf...." Hanya kata maaf yang mampu Enzy ucapakan, karena dia sadar, kalau dia memang salah.
"Jika saja ayah tidak memberitahuku, aku tidak mengerti sampai sekarang." Ucap Khay setelah seperkian detik terdiam.
Enzy tampak terkejut mendengar, kalau ayah mertuanya telah menceritakan yang sebenarnya pada Khay.
"Ayah ? Tapi ayah sudah janji, untuk tidak memberitahu mu, sebelum masalahnya selesai." Sahut Enzy.
"Kamu sudah berani menyembunyikan masalah besar seperti itu, maka dari itu, kamu harus di hukum." Ujar Khay datar juga dingin membuat Enzy bergidik, baru kali ini Enzy melihat Khay Seperti itu, di tambah lagi dengan tatapan yang entah apa maksud dari tatapan itu.
"Ba... baiklah, kalau begitu apa yang harus aku lakukan ? Apa perlu aku berlutut juga memohon agar kamu mau memaafkanku ?" Tanya Enzy harap-harap cemas, ia takut Khay akan meninggalkannya, sebagai hukuman untuknya.
Khay menghembuskan nafas kasar, lalu mendekatkan wajahnya lebih dekat pada wajah Enzy, membuat Enzy sedikit gugup.
"Kamu harus kembali lagi padaku, dan tetaplah berada di sisiku selamanya, apapun yang terjadi." Ujar Khay.
Enzy membulatkan matanya, sambil membeo mendengar hukuman yang diberikan suaminya itu. Enzy dapat tersenyum legah, karena sempat berpikir kalau ia akan di tinggalkan, apalagi gara-gara kecerobohannya mereka kehilangan calon buah hati mereka.
Dengan perlahan Enzy mengulurkan tangannya, mengusap lembut wajah suaminya itu, kemudian menarik tengkuk Khay lalu ia cium kening pria yang dicintainya.
"Kita akan bersama." Enzy lagi-lagi menitikkan air matanya, namun kali ini air mata haru.
"Kita akan bersama, selama sisa hidup kita." Lanjutnya.
Khay mengangguk pelan sambil tersenyum mendengar ucapan Enzy.
"Saat aku bilang, aku lelah menjalani semuanya, itu bukan berarti aku ingin pisah darimu, tapi aku takut, cintaku padamu membuatku lemah, dan tak bisa melanjutkan rencana yang sudah aku susun sebelumya." Ujar Enzy masih melingkarkan kedua lengannya di leher suaminya itu.
"Apa katamu ? Tanya Khay.
Dan pertanyaan itu membuat Enzy kebingungan, sampai ia menarik kedua tangannya dari leher Khay, lalu sedikit menjauh.
"Kenapa kamu malah bertanya ?" Bingung Enzy.
"Tadi kamu bilang, kamu mencintaiku." Jawab Khay tersenyum senang, pasalnya selama mereka bersama, yang Khay ingat Enzy belum pernah mengutarakan perasaannya secara langsung.
"Aku tidak pernah bilang aku mencintaimu." Elak Enzy, sedikit salah tingkah.
"Emmm....kamu tidak pernah mengatakannya." Khay memutar tubuhnya menyamping, sambil mengerucutkan bibirnya pertanda kalau pria itu sedang merajuk.
"Dasar ! Emmm...Aku mencintaimu suamiku, Khayran Delvin." Ujar Enzy menekankan ucapannya.
Khay langsung kembali pada posisinya semula berhadapan dengan Enzy, tak lupa menampilkan senyum bahagianya.
"Coba katakan sekali lagi !" Serunya.
"Tidak ada pengulangan." Sahut Enzy melihat ke arah lain.
"Sayang, jangan curang dong, aku sudah sering mengucapkan aku mencintaimu, tapi kamu tidak pernah." Rengek Khay.
"Siapa bilang aku tidak pernah mengatakan itu, lagian menurut aku, itu tidak perlu di utarakan, yang terpenting kita menampakkan dalam perbuatan kita, sikap kita pada orang yang cintai." Ujar Enzy.
"Ayolah sayang, aku hanya ingin mendengarnya kamu mengatakannya." Khay masih merengek.
"Baiklah, dengarkan baik-baik, karena aku tidak akan mengulanginya lagi !" Ucap Enzy.
"Baiklah."
"Aku mencintaimu." Ucap Enzy dengan cepat.
"Hem ? Aku tidak mendengarnya dengan jelas, pelan-pelan dong, sayang !" Ujar Khay.
"Aku sudah bilang, tidak ada pengulangan." Sahut Enzy acuh, lalu merapikan selimutnya bersiap untuk istirahat.
"Ya..." Sesal Khay, ia merasa belum puas.
"Aku mau istirahat Khay." Ucap Enzy.
"Emmm, istrirahat lah !" Ucap Khay tak bersemangat, kemudian turun dari brangkar istrinya itu.
"Kok turun ?" Tanya Enzy menahan lengan suaminya.
"Kan kamu mau istrirahat sayang, aku takut menganggumu." Jawab Khay.
"Kamu bobonya disini juga, aku ingin di temani kamu !" Seru Enzy manja.
Khay tersenyum melihat sikap istrinya itu, namu ia merasa sangat senang, ia segera membantu istrinya itu berbaring terlebih dahulu, setelah itu, ia ikut naik berbaring di sebelah istrinya. Enzy tertidur dengan berbantalkan lengan Khay.
"Good night sayang." Ucap Khay kemudian mengecup kening istrinya itu.
"Night to yank." Balas Enzy memeluk erat tubuh prianya.
Keduanya mulai menutup matanya untuk tidur, namun beberapa menit kemudian Enzy masih belum bisa tertidur, Enzy mendongak menatap wajah Khay, lalu ia belainya wajah tampan suaminya itu, mulai dari alisnya, turun ke mata, hidung, dan terakhir bibir pria itu, benar-benar postur wajah yang sempurna. Enzy mengusap rahang suaminya, kemudian mulai berucap.
"Aku mencintaimu, suamiku, pelindungku, penyelamatan ku, terimakasih karena telah mencintai ku juga." Ucapnya.
"Sekali lagi aku minta maaf, karena aku telah ceroboh sampai-sampai kita kehilangan calon buah hati kita, aku tahu sebenarnya kamu merasa sangat sedih kan ? Tapi kamu berusaha terlihah baik-baik saja di depanku, karena kamu tidak ingin membuatku bersedih kan ? Yank, kenapa kamu harus melakukan itu ?" Ucap Enzy lagi.
Khay yang sebenarnya belum tertidur, mulai menangis, kemudian mengeratkan pelukannya.
"Khay...
"Biarkan seperti ini dulu !" Sahutnya.
Enzy membiarkan suaminya itu menangis meluapkan perasaannya yang sejak tadi ia tahan.
"Cengeng." Ucap Enzy setelah cukup lama mereka saling berpelukan sambil menagis meluapkan kesedihan mereka karena kehilangan buah hatinya.
"Mulai saat ini aku tidak akan membiarkan seseorang menghancurkan hubungan kita, dan mulai saat ini kita akan mencoba menerima semua yang telah terjadi." Ucap Khay melepaskan pelukannya lalu menyekah air mata Enzy, juga air matanya bergantian.
"Emmm,,,, insyaallah aku akan mencobanya, perlahan-lahan." Sahut Enzy sembari mengangguk.
Khay kembali mengecup kening istrinya itu, lalu kembali menariknya masuk kedalam pelukannya.
Bersambung.........
Jangan lupa terus berikan LIKE, jika layak diberikan LIKE menurut kalian, dan juga KOMENTAR, jika ada saran ataupun masukkan dari kalian, dan juga menurut perasaan readers mengenai episode ini, Dan satu lagi VOTE jangan lupa jika memang pantas bisa untuk diberikan VOTE....
Mampir juga ke cerita author berjudul DENDAM MEMBAWAH CINTA....
...TERIMAKASIH...
...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...