
Khay berjalan menghampiri Enzy yang berdiri sendiri sambil memegang segelas minuman.
Ahhh....
Khay bernafas lega karena baru saja ia dari toilet yang sejak tadi menahan hasratnya untuk buang air kecil, karena banyak kolega ayahnya juga kolega bisnisnya mengajaknya mengobrol.
"Apa sudah lebih enakan ?" Tanya Enzy tersenyum.
Khay hanya menaikkan kedua alisnya sembari mengangguk, kemudian merangkul pinggang Enzy lalu melihat kearah, dimana Kia dan Kavi sedang mengobrol dengan beberapa kolega bisnis.
"Kia, cantik banget ya yank?" Ujar Enzy menatap intens Kia.
"Cantikan kamu kemana-mana, sayang." Sahut Khay.
"Aku seriusan, ih..." Ucap Enzy menatap jengah suaminya yang juga menatap Kia dan Kavi.
"Iya, sekarang dia cantik, gak kerasa adik yang dulunya selalu bersikap kekanak-kanakan, bahkan di umurnya masih belasan udah menikah." Ucap Khay, raut wajahnya berubah serius.
"Walaupun dia kekanak-kanakan tapi dia gak manja seperti Abangnya." Goda Enzy.
"Sayang, aku seriusan loh ini." Tegur Khay.
"Aku tahu, sekarang Kia terlihat lebih dewasa dan anggun, tak lagi terlihat Kia yang petakilan, juga bar-bar." Ujar Enzy.
"Semoga Om Kavi bisa terus membahagiakan juga menjaganya layaknya kami menjaganya."
"Percaya sama om Kavi, sepertinya dia laki-laki yang baik, juga mencintai Kia."
"Dari mana kamu tahu kalau on Kavi begitu mencintai Kia ?"
"Lihatlah cara om Kavi memandang Kia, cara om Kavi memperlakukan Kia, om Kavi selalu terlihat lembut." Ujar Enzy.
"Sama seperti aku ya sayang ?"
"Gak tahu." Sahut Enzy menaikkan kedua bahunya.
Khay menarik kedua bahu Enzy agar berhadapan dengannya, lalu mengelus rambut panjang istrinya itu dengan lembut.
"Aku jadi merindukan masa pernikahan kita, saat pernikahan kita, gak semewah dan semegah ini." Ucap Khay.
Enzy tersenyum mendengar perkataan suaminya.
"Walaupun pernikahan kita gak semeriah dan semegah ini, tapi percayalah kita akan tetap selalu bersama, dan itu momen yang tak pernah aku lupakan dalam hidup aku." Ucap Enzy mengelus bahu lebar suaminya.
"Bagaimana acara anniversary kita nanti kita buat seperti ini ?" Usul Khay yang rencananya beberapa bulan lagi mereka akan merayakan anniversary kedua mereka.
"Emmm..." Enzy tampak berpikir sejenak.
"Gak perlu lah yank, aku tidak mau terlalu mewah, cukup berkesan aja buat kita, dan....
"Dan apa, Hem ? Mau kado apa, berlian, mobil, rumah, atau jalan-jalan ke luar negeri ?" Tanya Khay menyebutkan beberapa pilihan.
" Aku gak mau hadiah seperti itu, aku cuma berharap di anniversary kita nanti, Allah kembali mempercayakanku untuk mengandung buah hati kita lagi, itu akan menjadi hadiah terbaik untukku juga kamu." Ucap Enzy matanya kembali berkaca-kaca, karena Enzy sudah sangat menginginkan ia kembali hamil.
"Sayang, Hay.... Jangan sedih Ok !" Khay menarik Enzy masuk kedalam pelukannya, lalu mengusap punggung wanita yang sangat ia cintai itu.
"Insyaallah selama kita tetap terus berdoa dan berusaha, Allah akan mengabulkannya, kata ayah, Allah tidak akan pernah mengabaikan hambanya yang selalu taat kepadanya, hanya saja kita harus menjadi hamba yang selalu bersabar dan berserah diri kepada Allah." Lanjut Khay masih di posisi memeluk Enzy.
Enzy hanya mengangguk menanggapi ucapan suaminya.
"Ya sudah kita pulang aja yuk, ini sudah larut juga." Ajak Khay
Lagi-lagi Enzy hanya mengangguk, Khay melepaskan pelukannya kemudian membantu istrinya itu menyekah air matanya.
"Jangan nangis lagi ok ! Kamu dilihatin orang-orang sayang." Ucap Khay.
"Iya, tadi aku cuma kebawah pembicaraan saja, juga suasana." Sahut Enzy.
...----------------...
"Astaga sayang kamu kenapa ?" Panik Diva saat melihat mata menatunya sembab.
"Gak apa-apa kok Bun, kalau begitu kami pamit duluan ya." Jawab Enzy tersenyum lalu berpamitan.
"Bang, mantu bunda kamu apakan lagi sampai matanya sembab gitu ?" Diva beralih pada Khay sambil melototkan matanya.
"Gak di apa-apain kok Bun, tadi Enzy lagi ngeluh seperti biasanya." Jawab Khay yang sebenarnya karena Diva tahu kalau menantunya itu selalu mengelu kapan ia akan kembali hamil.
Diva beralih menatap menantunya itu, lalu memeluknya.
"Sayang, sudah berapa kali bunda bilang, kamu berhenti seperti itu, insyaallah jika sudah tiba waktunya kamu akan segera diberikan." Ucap Diva lembut.
"Iya Bun, maaf..." Sahut Enzy.
" Ya sudah pulangnya hati-hati, ayah sama bunda, dan juga yang lainnya sebentar lagi pulang." Ujar Diva melepaskan pelukannya.
"Yah, aku pulang dulu ya, maaf karena pulang tanpa menunggu kalian." Ujar Enzy sedikit merasa tak enak.
"Gak apa-apa nak, ingat kata bunda ya, nggak usah banyak berpikir, jangan sampai stres karena itu juga bisa mempengaruhi terhambatnya ke inginan kamu." Ucap Kenan mengusap lembut rambut menantu perempuannya yang sudah ia anggap seperti anak kandung sendiri.
"Iya yah." Sahut Enzy.
Kemudian Enzy berpamitan kepada aunty, uncle, juga om dan tantenya, tak lupa juga dengan sahabat-sahabatnya (Anak dari sahabat Diva dan Kenan)
...----------------...
Jam sudah menunjukkan pukul satu malam, karena saking banyaknya tamu undangan acara baru selesai, Diva Cs, dan Kenan Cs menginap di hotel beserta anak-anak mereka.
Kia yang sudah mengganti pakaiannya dengan piama tidur merasa gugup, ia tak tahu apa yang akan terjadi malam ini, ia selalu teringat dengan godaan-godaan saudara-saudaranya mengingat tentang malam pertama, apa yang dilakukan dan bagaimana rasanya, terutama Khay yang mengatakan secara gamblang.
"Apa yang kamu pikirkan, kenapa terlihah gelisah ?" Tanya Kavi tiba-tiba yang baru saja keluar dari kamar mandi, hanya menggunakan jubah handuk, yang sedikit terbuka di bagian dadanya, sampai disana terlihah jelas sisa air mandi Kavi masih ada disana, ditambah lagi pemandangan yang sangat seksi dengan bentuk dada bidang Kavi yang begitu seksi apalagi masih basah seperti itu.
Kia yang duduk bersandar di kepala tempat tidur sedikit kaget.
"Ak...ak..aku gak pa..pa." Jawab Kia terbata-bata saking gugupnya.
"Tapi kenapa wajah kamu memerah seperti itu, kamu sakit ?" Tanya Kavi khawatir lalu berjalan lebih dekat lagi.
"Aku gak apa-apa, beneran !" Jawab Kia menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya, Kia tak berani melihat kearah pria yang kini sudah sah menjadi suaminya, karena rasa malu dan gugupnya.
Kavi yang sebenarnya tahu apa yang dipikirkan istrinya itu semakin gencar untuk menggodanya.
Kavi kemudian naik ke atas tempat tidur, tanpa mengganti jubah handuknya, lalu membaringkan tubuhnya, berbantalkan paha Kia.
"Kenapa belum pakai baju sih om." Ucap Kia tersentak saat Kavi berbaring di pahanya.
"Gak, lagian nanti dibuka juga kan ?" Sahut Kavi.
"Maksud Om ?" Tanya Kia kebingungan tak mengerti maksud dari suaminya.
"Kok masih om sih sayang, kamu sudah janjielih, tidak lagi memanggilku om." Seru Kavi terus menatap Kia dari bawah.
"Mmmaaass." Ucap gagap.
"Yang benar dong sayang, kenapa mesti gagap gitu sih."
"Mas." Ucap Kia cepat lalu melihat kearah lain.
Kavi tersenyum gemas melihat sikap istrinya yang malu-malu kepadanya.
"Sayang." Ujar Kavi lalu tidur menyamping sambil memeluk pinggang Kia erat, tak lupa menenggelamkan wajahnya di perut Kia, membuat Kia semakin gugup, bahkan Kia merasakan sensasi yang berbeda saat Kavi dengan sengaja mendusel-dusel wajahnya di permukaan perutnya.
"Mas, jangan seperti ini !" Seru Kia berusaha menjauhkan kepala Kavi dari perutnya.
Namun Kavi tak menghiraukan seruannya, Kavi malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Sayang...." Ujar Kavi tak terdengar jelas karena masih pada posisinya.
"Iya mas ?" Tanya Kia berusaha menahan rasa aneh yang baru pertama kali ini ia rasakan, rasa yang bergejolak didalam dirinya, namun gadis polos yang kini berstatus istri seorang Kavi tak mengerti sama sekali rasa apa itu.
"Sayang, aku mencintaimu." Ujar Kavi masih pada posisinya.
"Aku tahu." Sahut Kia.
"Kamu capek gak ?" Tanyanya tapi kali ini Kavi menatapnya.
"Capek, capek banget malah." Jawab Kia sejujurnya, ia tak mengerti maksud dari suaminya itu, yang sebenarnya Kavi menginginkan sesuatu.
"Capek banget ya ?" Tanya Kavi memastikan.
"Iya."
Kavi terlihah mengehela nafas beratnya kemudian mengubah posisi tidurnya menjadi di sebelah Kia, kemudian menarik Kia agar ikut berbaring di sampingnya, Kavi memasukkan lengannya dibawah kepala Kia, menjadi sebagai bantalnya.
"Ya sudah bobok yuk !" Ujar Kavi memiringkan tubuhnya menjadi berhadapan dengan Kia
Kia hanya menaggukkan kepalanya, jantungnya berdegup lebih cepat, karena perlakuan manis Kavi kepadanya.
"Peluk seperti ini sayang !" Ucap Kavi menarik tangan Kia agar balas memeluknya, karena Kia hanya diam tak bergeming sejak tadi.
"Apa harus seperti ini ?" Tanya Kia polos saat keduanya sudah saling berpelukan, apalagi saat kepala Kia bersandar pada dada bidang Kavi.
"Iya, mulai saat ini, kita harus tidur seperti ini seterusnya." Sahut Kavi menarik selimut menutupi tubuh mereka.
"Ribet amat sih mas, apa gak pengap aku, apalagi di bekap seperti ini." Ujar Kia polos saat Kavi semakin mengeratkan pelukannya dan wajah Kia hampir tenggelam di dadanya, membuat Kia sedikit sulit untuk bernafas.
"Biasakan sayang !" Sahut Kavi santai sudah memejamkan matanya.
"Kalau aku mati karena kehabisan nafas bagaimana dong ?" Kia masih saja berucap, tapi kini Kia mendongakkan sedikit kepalanya.
"Gak akan, semua pasangan juga seperti ini kalau tidur." Sahut Kavi.
"Apa mas juga seperti ini juga dengan mendiang istrinya mas ?" Tanya Kia menatap Kavi yang sudah memejamkan matanya.
Kavi yang mendengar pertanyaan Kia, perlahan-lahan melonggarkan pelukannya, lalu membuka matanya, menatap Kia dengan tatapan yang sulit untuk diartikan membuat Kia mengeryitkan keningnya bingung. Apa aku salah bicara ? Pikirnya.
Bersambung......
Jangan lupa terus berikan LIKE, jika layak diberikan LIKE menurut kalian, dan juga KOMENTAR, jika ada saran ataupun masukkan dari kalian, dan juga menurut perasaan readers mengenai episode ini, Dan satu lagi VOTE jangan lupa jika memang pantas bisa untuk diberikan VOTE....
Mampir juga ke cerita author berjudul DENDAM MEMBAWAH CINTA....
...TERIMAKASIH...
...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...