Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 27 Season 3 ( Next Generatoin )


Sepulang dari kampus Rendra ikut bersama Enzy pulang ke apartemen, sebentar Rendra khawatir jika Enzy sendirian di apartemen, karena ia tahu kalau Khay ada kegiatan kampus yang tak bisa ia tinggalkan.


Saat ini Rendra dan Enzy berada di ruang tengah, Rendra terus memandangi laptop yang ia taruh di atas meja, sedangkan dirinya duduk sambil menopang dagunya di lantai, ia sejak tadi mengikuti perkembangan masalah Enzy yang semakin tak terkendalikan. Banyak mahasiswa ataupun mahasiswi yang berkomentar miring soal Enzy di media kampus.


Sedangkan Enzy terlihat begitu santai berbaring di sofa sambil memainkan ponselnya, seolah ia tak punya masalah sebesar ini, membuat Rendra jengah melihat sikap santai sahabatnya itu.


Rendra tak tahu saja, di balik sikap santainya Enzy itu sebenarnya wanita itu sangat terpukul dan tertekan dengan pemberitaannya itu, namun ia tetap berusaha agar terlihat biasa-biasa saja, dan tetap tenang, memikirkan bagaimana caranya ia keluar dari masalah ini, tanpa melibatkan orang-orang disekitarnya.


"Enzy...!!" Seru Rendra jengah.


Enzy yang tadinya sibuk pada ponselnya menoleh sejenak, lalu kembali fokus pada pada aktivitasnya semula.


"Lihat apa yang sebenarnya terjadi !" Seru Rendra.


"Apaan ?" Sahut Enzy malas bangun kemudian duduk bersandar sambil memangku bantalan sofa melihat apa yang di tunjukkan oleh sahabatnya itu.


"Lihat ini baik-baik !" Seru Rendra menunjukkan pemberitaan dan komentar-komentar mengenai Enzy di media kampus.


"Lalu kenapa ?" Tanya Enzy acuh.


"Enzy biarkan gue membantumu keluar dari masalah ini." Ujar Rendra berbalik menatap wanita di belakangnya itu.


"Sudah ku katakan Rend, kamu tidak perlu ikut campur dengan masalah ini ! Biarkan saja mereka menilai ku sesukanya, seperti apa aku ini, toh apa yang mereka ketahui tentangku bukanlah yang sebenarnya, jadi buat apa aku memusingkan masalah ini." Ujar Enzy masih saja santai.


"Enzy, gue melakukan ini karena gue, mengkhawatirkan mu, jangan sampai mereka berbuat yang lebih lagi dari ini, bisa-bisa kamu terus dibully oleh mereka." Rendra mulai terlihat kesal dengan sikap keras kepala sahabatnya satu ini.


" Jadi biarkan gue dan Nendra membantumu, karena saat ini Nendra masih terus memantau dibagian pemberitaan di kampus agar berita ini tak keluar dari lingkungan kampus, bahkan ke lingkungan sekolahpun beritanya belum sampai kesana, tapi cepat atau lambat jika masalah ini tidak segera diserahkan pasti akan merembet keluar juga kan ? Dan sudah dapat di pastikan om Kenan dan Tante Diva akan mengetahui semuanya." Tambah Rendra lagi mencoba untuk memberi Enzy pengertian agar wanita itu setuju ia membantunya.


Enzy terlihat diam, ia memikirkan kata-kata yang di sampaikan sahabatnya itu.


"Kalau perlu kamu katakan saja yang sebenarnya soal hubungan mu dengan Khay kalau kalian sudah menikah." Ucap Rendra lagi.


"Aku tidak akan melakukan hal itu, dan sudah ku katakan kamu tidak perlu ikut campur." Sahut Enzy.


"En...


"Rend, aku mau istirahat, aku rasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, lebih baik sekarang kamu pulang, aku mau istirahat, aku capek." Ujar Enzy menyela ucapan Rendra lalu beranjak dan melangkahkan kakinya menuju kamarnya, meninggalkan Rendra yang terperangah mendengar ucapan Enzy.


"Baiklah, gue tidak akan lagi mencampuri urusanmu, kamu benar-benar keras kepala, Nzy, ! Ternyata benar yang dikatakan Khay kamu adalah wanita keras kepala dan angkuh, percuma saja kami ini selalu peduli dan mengkhawatirkan mu, kalau kamu sendiri sama sekali tak memikirkan kami." Seru Rendra kemudian pergi dari sana dengan perasaan begitu kesal.


Enzy yang mendengarkan kata-kata Rendra menghentikan langkahnya sejenak, hatinya merasa sesak, pikirannya mulai kacau, matanya memerah menahan tangisannya, kemudian ia berlari masuk ke kamarnya, Enzy menjatuhkan dirinya bersandar di belakang pintu kamarnya, Enzy tak lagi menahan semua yang telah ia lewati, ia menangis menggigit bibir bawahnya agar tangisannya tak pecah.


"Apa ini jalan hidup yang kau takdirkan untukku ya Allah, apa kau belum puas setelah mengambil kedua orangtuaku, dan seluruh keluargaku, aku benar-benar sudah tak sanggup, kenapa begitu berat cobaan yang selalu kau berikan padaku, apa kau begitu membenciku ya Allah..." Ucap Enzy terdengar begitu putus asa. Enzy beranjak dari tempatnya lalu berjalan menuju tempat tidur, ia begitu lelah menghadapi semuanya, ia naik ke tempat tidur lalu berbaring sambil meringkuk, air matanya tak juga mengering, di pikirannya terbayang bagaimana cara saat mengalami hal buruk di masa lalu, bagaimana kecelakaan itu terjadi sehingga membuat semua keluarganya pergi meninggalkannya, bagaimana kehidupan hubungannya dengan Khay, dan terakhir bagaimana ia di hujat oleh seluruh teman-teman kampus.


"Papa...mama.... Enzy ingin pergi bersama kalian." Enzy teriak histeris lalu perlahan-lahan suaranya pun melemah, seakan tenaganya sudah habis karena semua memikirkan apa yang telah terjadi, ia terus-menerus menangis dan tanpa ia sadari ia tertidur mungkin karena kelelahan menagis.


...----------------...


Khay mencoba mendekati tempat tidur, dilihatnya mata sembab istrinya itu, hatinya ikut merasakan kesedihan saat melihat keadaan Enzy. Khay memperbaiki posisi tidur Enzy lalu menyelimutinya, tiba-tiba saja Enzy terbangun dan melihat Khay yang berada cukup dengannya, Enzy bangun kemudian menyandarkan tubuhnya di kepala tempat tidur, mengalihkan pandangannya ke arah jendela.


"Apa kamu baik-baik saja ?" Tanya Khay khawatir.


"Kamu pasti sudah tahu ?" Enzy malah balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Khay.


"Hari ini aku jadi sorotan di kampus, seketika aku menjadi terkenal." Ucap Enzy tertawa konyol.


"Semua mata tertuju padaku, dimanapun aku pergi, semuanya melihatku seolah aku ini sebuah sampah yang begitu menjijikkan, aku rasa ini semua tidak adil bagiku, apa ini yang harus kuterima sebagai seorang yatim, seseorang yang tak memiliki papa yang selalu membela putrinya jika ada yang menyakitinya." Enzy lagi-lagi tak bisa membendung tangisannya, dadanya begitu sesak.


Khay yang melihat itu tak tahan mendengar isakan istrinya yang begitu terdengar memilukan, Khay menarik tubuh istrinya itu masuk kedalam pelukannya, memeluknya begitu erat, seolah mengatakan jangan khawatir aku akan menjagamu.


"Apa aku salah jika salah jika aku tinggal dengan seorang pria ? Apa aku salah karena telah memukulinya karena membela diriku ? Apa anak yatim seperti ku emang sepantasnya untuk dihina ?" Enzy kembali terus bertanya-tanya seperti itu tanpa membalas pelukan Khay.


"Kamu enggak salah, kamu sudah sangat benar melakukan pembelaan, kamu tidak salah Nzy, kamu tidak salah." Sahut Khay semakin mengeratkan pelukannya.


Dengan perlahan Enzy membalas pelukan suaminya itu, ia masih terus menangis sehingga di kaos yang digunakan Khay basa dibagikan dadanya akibat air mata Enzy.


Setelah dirasa Enzy cukup lebih tenang, dengan perlahan Khay melepaskan pelukannya.


"Apa yang harus aku lakukan untukmu ?" Tanya Khay.


"Apakah kamu bisa mengatakan kepada ayah dan bunda kalau kita akan berpisah, aku rasa kita benar-benar tidak cocok, aku ingin hidup dengan damai, jika aku terus bersamamu, maka mereka tak akan pernah berhenti mengangguku, karena aku tahu mereka melakukan ini karena dia sakit hati denganmu, karena kamu telah memutuskan mereka begitu saja, apalagi saat mereka tahu kalau kamu dan aku tinggal di tempat yang sama, aku tidak ingin terus-menerus jadi bahan bullian mereka karena aku bersamamu." Ucap Enzy membuat Khay tersentak, ia tak pernah menyangka kalau Enzy akan benar-benar akan pergi meninggalkannya.


"Aku tidak akan mengatakan ini pada bunda ataupun ayah, karena aku tidak ingin berpisah darimu, dan jika perlu, aku akan mengatakan kalau kita tinggal bersama karena kita sudah menikah." Sahut Khay mulai emosi.


"Tapi Khay aku tidak ingin membuat masalah ini menjadi rumit, aku akan kembali ke kota Z, aku akan memulai kehidupan ku lagi disana." Ucap Enzy.


Khay memegang lengan Enzy sedikit kasar, sehingga Enzy meringis kesakitan.


"Khay lepaskan ini sakit !" Seru Enzy berusaha melepaskan cengkraman tangan Khay pada lengannya, tapi Khay sama sekali tak menghiraukan permintaan Enzy, bahkan ia semakin mengeratkan cengkraman nya.


"Dengarkan ini baik-baik, sampai kapanpun aku tidak akan melakukan apa yang kau minta." Ucap Khay menekankan kata-katanya, lalu melepaskan cengkeramannya dengan kasar, kemudian masuk ke kamar mandi sambil membanting pintu dengan keras.


Bersambung.......


Jangan lupa like, Koment, dan Vote....


Maaf jika ceritanya membosankan, tapi tetap ikuti ceritanya, yang mungkin membuat kalian bagaikan naik roller Koster.


Terimakasih 🙏🙏🙏🙏


Love you all ❤️❤️❤️❤️🤗🤗🤗🤗😘😘😘😘