
Matahari sudah mulai semakin turun di upuk barat, tapi Ray masih saja berkeliling mencari buah Cermai yang sangat di inginkan istrinya, hingga kini Ray berada di perkampungan, ia mencoba berkeliling dengan berjalan kaki.
Ray menghampiri kumpulan ibu-ibu yang tampak asik mengobrol di depan sebuah warung kelontong.
"Permisi Bu ..." Sapa Ray dengan sopan.
"Iya ada apa dek ?" Tanya salah seorang dari kumpulan ibu-ibu tersebut.
"Maaf Bu, apa di daerah sini ada pohon Cermai yang sedang berbuah ?" Tanya Ray.
"Emangnya ada apa Dek, kenapa nggak cari di pasar atau tempat-tempat yang menjual jenis buah-buahan ?"
"Iya Dek, soalnya buah Cermai sekarang sudah sangat langkah, dan setau saya di daerah sini tidak ada." Sahut dari salah satu ibu yang berdiri di belakang lemari jualannya.
"Saya sudah berkeliling dari pasar sampai supermarket tapi nggak dapat-dapat Bu, istri saya sedang mengidam buah Cermai soalnya." Terang Ray.
"Wahhhh masih mudah begini sudah punya istri rupanya, kirain masih bujangan, tadi saya ingin mengenalkan kamu dengan anak gadis saya loh." Ucap ibu-ibu dasteran ungu.
"Sepertinya ibu terlambat mengenal saya, hehehe." Ray menimpali ucapan ibu-ibu rumpi tadi.
"Kalau begitu saya permisi ya Bu." Pamit Ray.
Saat ingin berbalik meninggalkan kumpulan ibu rumpi, tiba-tiba seorang ibu-ibu datang ke warung untuk membeli sesuatu.
"Bu, gulanya sekilo !" Ucap ibu dasteran merah yang baru datang.
"Ehhh Dek, sepertinya ibu Marwah punya pohon Cermai di depan rumahnya." Sahut ibu dasteran hijau.
"Ada apa Bu ?" Tanya Ibu Marwah yang baru saja datang.
"Ini Bu, adek ini sedang mencari buah Cermai untuk istrinya yang sedang mengidam." Terangnya.
"Oh... Mari ikut saya dek, kebetulan pohon Cermai depan rumah saya sedang berbuah !" Ajak ibu Marwah.
"Iya Bu terimakasih !" Ray menghela nafas leganya, akhirnya ia dapat juga buah Cermainya.
"Tunggu sebentar ya dek, aku belanja dulu !" Ucap ibu Marwah.
"Iya Bu."
"Bu, utang yang kemarin belum di bayar ?" Tanya ibu warung memasukkan gula belanjaan ibu Marwah ke kantong kresek.
"Iya Bu, saya belum dapat gaji dari majikan saya, maaf ya Bu ?"Sahut ibu Marwah tak enak pada ibu warung.
Ray yang mendengar percakapan ibu Marwah dengan ibu warung, ia langsung menghampiri keduanya.
"Maaf Bu kalau boleh tau utang ibu Marwah berapa ya ?" Tanya Ray.
"178 ribu dek." Jawab ibu warung.
"Biar saya yang lunasi Bu !" Ray segera mengeluarkan dompetnya.
"Tidak perlu dek, sebentar lagi saya juga dapat gaji dari majikan." Tolak ibu Marwah.
"Tidak apa-apa bu, saya ikhlas membantu ibu." Ray mengeluarkan yang pecahan 50ribu sebanyak lima lembar dan memberikan kepada ibu warung.
"Sekalian belanjaan yang tadi ya Bu !" Ucap Ray.
"Uangnya kebanyakan dek !"
"Nggak apa-apa bu, kembaliannya di simpan aja !"
"Ayo Bu." Ajak Ray kepada ibu Marwah.
"Terimakasih banyak dek !" Ucap ibu Marwah.
"Sama-sama Bu, kalau begitu saya ambil mobil dulu !"
"Tidak perlu den, rumah saya dekat dari sini, lagian rumah saya di gang sempit tidak mungkin muat untuk mobil masuk !" Terang ibu Marwah.
Ray pun mengikuti jalan ibu Marwah, dan benar saja Ray di bawah masuk ke sebuah gang sempit, yang sepertinya hanya bisa di lewati motor.
"Kita sudah sampai Den !" Ayo kita masuk !" Ajak ibu Marwah.
Ray menelisik sekitaran rumah yang tampak sangat sederhana dan bisa di katakan kurang layak untuk di tinggali, saat sampai di teras Ray melihat seorang bapak-bapak duduk di kursi roda.
"Maaf rumah ibu seperti ini, pohon Cermainya ada di samping rumah, mari ibu temani den !" Tunjuk ibu Marwah ke arah samping rumahnya.
Ray pun mengikuti Ibu Marwah ke samping rumahnya, dan benar saja pohon Cermai sedang berbuah namun tidak banyak.
"Itu pohonnya Den, sebaiknya ambil yang kekuningan saja, soalnya yang keijoan masih muda.!
Kemudian Ray memetik Cermai hanya dengan menarik dahannya, karena kebetulan pohonnya masih pendek, Ray memasukkan buah kedalam kresek yang di berikan ibu Marwah.
"Sudah Bu, sepertinya ini sudah cukup, sekali lagi saya terimakasih." Ucap Ray kemudian mereka berjalan menuju depan rumah.
"Maaf Bu, kalau boleh tau bapak yang duduk di kursi roda apanya ibu ?" Tanya Ray saat sudah sampai di teras.
"Apa tidak dirawat di rumah sakit Bu ?" Tanya Ray hati-hati takut menyinggung perasaan ibu Marwah.
"Di rawatnya hanya pada saat waktu kecelakaan, kata dokter dia harus menjalani beberapa terapi, dan perawatan intensif, tapi karena kami tidak mampu, ya terpaksa saya seperti ini." Terang Ibu Marwah.
"Mulai besok, ibu bawah bapaknya ke rumah sakit, soal biaya ibu tidak usah khawatir biar saya yang menanggung semua, sampai benar-benar sembuh !" Ucap Ray memberikan kartu namanya.
"Bapak besok ke rumah sakit ya !" Seru Ray beralih kepada bapak Santos suami ibu Marwah.
"Terimakasih den, terimakasih sebanyak-banyaknya, semoga rezekinya makin di limpahkan, dan segala urusan di permudah, oleh Allah SWT.
"Amiinnn Pak, terimakasih doanya.
"Bapak juga tidak perlu berterimakasih, sudah seharusnya kami sebagai umat saling tolong menolong bagi orang membutuhkan, anggap saja rezekinya saya juga termasuk rezekinya bapak dan ibu lewat jalan seperti ini." Ucap Ray.
"Saya tidak tau harus bagaimana cara membalas bantuan yang Aden berikan kepada kami." Ucap ibu Marwah.
"Cukup doakan saja kelancaran istri saya selama mengandung, hingga ia melahirkan itu sudah cukup.
"Besok pagi ibu siap-siap, ada sopir yang akan menjemput kalian !"
"Kalau begitu saya permisi, istri saya sudah menunggu dari tadi menanyakan buah Cermainya." Pamit Ray.
"Hati-hati den, dan salam juga sama istrinya." Ucap ibu Marwah.
"Iya Bu, Mari !" Ray pun meninggalkan rumah ibu Marwah.
🍀🍀🍀
Gedung ERLANGGA GROUP
Kenan berjalan memasuki lift khusus Presdir menuju lantai 17 dimana ruangan ayahnya berada, seperti biasa Kenan menampakkan wajah dingin namun terkesan tak kalah wibawanya dari Pak Salman.
Tok .... Tok .... Kenan mengetuk pintu ruangan ayahnya saat sudah sampai di depannya, setelah mendapat sahutan dari dalam yang mempersilahkan nya masuk, Kenan langsung masuk.
"Assalamualaikum Yah." Ucap Kenan.
"Walaikumsalam, duduk !" Balas Pak Salman masih berkutat dengan laptopnya.
"Yah, ada yang ingin aku sampaikan !" Sahut Kenan setelah duduk di kursi depan meja kerja pak Salman.
"Apa ?" Pak Salman menghentikan aktivitasnya saat mendengar Kenan terdengar serius.
"Ini mengenai putri dari Pak Arfan." Sahut Kenan.
"Pak Arfan penanam saham baru di perusahaan kita ? Tanya Pak Salman menaikkan kedua alisnya.
"Iya yah, dan ternyata putrinya juga klaiyen aku di office, kami bekerjasama untuk pemasok pakain dari brandnya." Terang Kenan.
"Jadi masalahnya apa ?"
Kenan pun mulai menceritakan pertemuannya dengan Calista di Cafe tadi pagi, pengancaman Calista untuk menghancurkan Kenan.
"Sepertinya kita harus hati-hati menghadapinya !"
"Tapi apa rencana ayah ?" Kenan sudah bingung mengurus masalah ini, di tambah ia juga takut dengan keselamatan istri dan anaknya, jangan sampai hal itu membahayakan keduanya.
"Apa dia sudah mengetahui kalau kamu sudah menikah ?" Tanya Pak Salman.
"Sudah Yah, tadi semuanya saya beritahu." Sahut Kenan memijit pelipisnya dengan telunjuknya.
"Yang aku takutkan jangan sampai masalah ini berdampak kepada Diva dan juga baby Khay yah." Kenan terlihat sangat khawatir.
"Kamu tenang saja, dan untuk saat ini jangan biarkan Diva keluar dari apartemen, apalagi membawa baby Khay !" Ucap Pak Salman.
"Untuk perusahaan dan Office bagaimana ?"
"Itu sudah ayah pikirkan, untuk sekarang sekedar jaga-jaga, mengenai rencana penggabungan antara perusahaan dan Office kita tunda dulu sampai masalah ini selesai, karena jika memang ia menarik sahamnya kembali sebelum penggabungan, pasti hanya berdampak ke perusahaan saja, otomatis Office masih aman, dan untuk kerjasama kalian ayah rasa tidak akan berdampak besar dan masih bisa beroperasi dengan baik, tanpa suplaiyer dari mereka." Pak Salman menjelaskan panjang lebar, serta mereka merencanakan bagaimana cara menghadapi orang seperti Calista itu, sampai mereka tidak menyadari kalau hari sudah semakin sore.
"Kalau begitu saya kembali ke office yah,masih ada hal yang harus aku kerjakan." Pamit Kenan.
"Kamu lembur ?" Tanya pak Salman.
"Iya yah, tadi sebelum berangkat aku sudah bilang sama Diva.
"Ok Baiklah, biar ayah sama bunda menemani mereka di unit kalian sampai kamu pulang!" Ucap Pak Salman.
"Terimakasih Yah, Assalamualaikum." Kenan pun pergi meninggalkan ruangan ayahnya.
Bersambung.....
Jangan lupa LIKE, COMENT, DAN VOTE, setelah membaca setiap episodenya.
Terimakasih 🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️