
Bunda Vivian yang melihat putranya masuk ke rumah dengan wajah ditekuk, merasa bingung, Bunda Vivian menggoyangkan lengan suaminya yang sedang sibuk menonton dengan saluran berita yang disiarkan di televisi.
"Ada apa Bun, Pengen di nina boboin?" Sahut Ayah Salman menggoda istrinya sambil menaikkan kedua alisnya.
"Aish ... Bukan itu, Tuh liat anak kamu kenapa" Bunda Vivian jengah mendengar ucapan suaminya itu, dan menunjuk Kenan dengan dagunya.
Ayah Salman langsung menoleh melihat Kenan yang menaiki anak tangga dengan lesu.
"Tumben tuh anak tidak nyapa kita Bun." Ujar bingung, pasalnya Kenan tidak pernah bertingkah seperti itu, jika dia ada masalah di Office pasti dia bicara kepada ayahnya.
"Kenan ... Panggil ayah Salman saat Kenan sudah berada di tengah-tengah tangga.
"Ayah ... Sejak kapan ayah disitu ?" Tanya Kenan terlihat kaget, pasalnya Kenan tidak memperhatikan kedua orangtuanya, Kenan sibuk memikirkan Diva.
"Astagfirullah anak kamu Bun" Sahut ayah Salman geleng-geleng kepala
" Kami dari tadi disini, dari kamu masuk rumah, kamu aja yang tidak merhatiin." Lanjut ayah Salman tampak jengah.
Ayah Salman kembali melanjutkan acara nonton TVnya.
Kenan kembali menuruni anak tangga menghampiri kedua orangtuanya, langsung menyalami Mencium punggung tangan mereka, kemudian ikut duduk disofa samping ayah Salman.
"Maaf Yah, Bun, tadi Kenan tidak liat kalian." Ucap Kenan saat sudah duduk sambil menyandarkan punggungnya.
"Kamu kira kita jin, sampai tidak kelihatan." Sahut ayah Salman tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar datar didepannya.
"Sudah .... Sudah .... Kenan kalau kamu ada masalah cerita sama kami." Ucap Bunda Vivian melerai ayah dan anak itu.
"Tidak ada masalah apa-apa Bun." Jawab Kenan segera berdiri berlalu menuju kamarnya.
"Nan, makan dulu." Teriak Bunda Vivian saat sudah menaiki anak tangga.
"Sekalian nanti malam saja bun, saya sudah makan waktu di office." Jawab Kenan kembali melanjutkan langkahnya.
Saat sampai kamar Kenan langsung masuk ke walk in closed menyimpan tasnya, lalu masuk kekamar mandi.
Lima belas menit kemudian Kenan keluar dari walk in closed, dengan pakaian rumahnya, dengan handuk kecil ia selampir dipundaknya, untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
Kenan mendudukkan dirinya disofa menggosok rambutnya sambil memeriksa Ponselnya.
Kenan tersenyum saat Diva mengirim fotonya dengan capstion
Maaf 🤗🤗❤️❤️
Kenan senyum-senyum sendiri melihat foto yang dikirim istrinya itu.
" Jadi tambah kangen yank." Gumam Kenan terus memperhatikan foto Diva.
Tapi Kenan tidak berniat untuk membalas pesan istrinya itu, ia ingin memberi sedikit pelajaran buat istrinya yang bar-bar itu, yang telah berani dekat-dekat dengan pria lain, selain dirinya, walaupun Kenan tau kalau Rafa dan Diva bersahabat bahkan seperti saudara.
Tiba-tiba ponsel Kenan berdering tanda panggilan masuk dari nomor yang tidak ia kenal, Kenan mengernyitkan keningnya pasalnya ini nomor pribadinya, tidak banyak yang tau.
📞 "Assalamualaikum, dengan siapa ya?" Tanya Kenan saat ia menjawab panggilan tersebut.
📞 "Maaf telah mengganggu jam istirahat Anda, ini aku Disti." Jawab Disti.
Kenan mengernyitkan keningnya, pasalnya ia tidak pernah memberikan nomor ponsel pribadinya kepada klaiyen. Ini pasti ulah sekertarisnya pikir Kenan.
📞 "Begini pak, besok saya akan mengantarkan produk saya, apa langsung diantar ke outletnya langsung, atau ke office terlebih dahulu." Sahut Disti.
📞 "Saya kira kita sudah bicarakan sebelumnya, kalau semua produk yang masuk, harus ke Office terlebih dulu, nanti dari pihak kami yang mengantar produk ke outlet-outlet yang mana cocok untuk pemasaran produk." Terang Kenan penuh penekanan setiap kata-katanya.
📞 "Baiklah pak, saya benar-benar meminta maaf, karena telah mengganggu waktu istirahat Anda."
📞 "Tidak apa-apa, lain kali jika Anda ada kepentingan, langsung berurusan dengan sekertaris saya langsung, nanti dia yang akan menyampaikan kesaya, dan saya minta maaf ini nomor pribadi saya, saya tidak mau pekerjaan saya disangkut pautkan dengan urusan pribadi saya. saya harap ini tidak akan lagi terulang, karena saya sangat tidak bisa mentolerir suatu kesalahan." Terang Kenan penuh penekanan dan sengaja menyindir Disti, Kenan merasa kalau ini hanya akal-akalan Disti saja.
Kenan langsung membaringkan tubuhnya di sofa mengistirahatkan dirinya sejenak.
Di Kota Z
Pukul 7 malam Keluarga Fikram sedang makan malam, terlihat Diva makan sangat lahap, seperti orang baru makan selama berhari-hari.
Bunda Hani yang melihat putrinya makan seperti itu hanya geleng-geleng kepala, pasalnya Diva kalau makan tidak ada angun-anggunnya.
"Makannya pelan-pelan aja dek, makanan banyak, jangan kek orang susah Anda." Sahut Arka.
"Punya suami kalem, tapi istrinya gini amat yah, Gue kasian sama jadi sama nasib Kenan punya istri bentukannya gitu amat." Arka kembali berujar karena Diva mengacuhkan ucapannya tadi.
"Eeuukkk (Anggap ini suara sendawa Diva)
Diva bersendawa dengan keras saat menyelesaikan makannya.
"Merdeka nih, cacing-cacing gue, sudah gue kasih makan banyak." Sahut Diva tanpa ada rasa bersalah sama sekali mengatakan hal jorok, padahal orangtuanya dan kakaknya masih makan.
Sedangkan Ayah Fikram dan Arka susah payah menahan supaya ia tidak memuntahkan makanannya.
Bunda Hani, hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya saat melihat muka merah suami dan putranya karena menahan rasa eneg di tenggorokanya karena ucapan jorok Diva.
"Yah, kak, kenapa muka kalian ?" Tanya Diva polos.
"Elu itu kalau mau ngomong, lihat-lihat situasi dulu dek." Sahut Arka di angguki Ayah Fikram, lalu kembali memasukkan makanan kedalam mulutnya begitupun dengan Ayah.
"Oh ... Masalah cacing-cacing itu, gue sih ngomong sesuai fakta, kalau gue kenyang pasti cacing-cacing didalam perut pada menggeliat, karena seneng dapat makan banyak, jadi mereka tidak cacingan karena nutrisinya terpenuhi."
Seketika Ayah Fikram dan Arka berhambur kebelakang memuntahkan makanannya.
Diva yang melihat mereka langsung tertawa puas, karena berhasil menjahili ayak dan kakaknya itu, Diva tau kalau mereka tidak bisa mendengar hal jorok jika mereka sedang makan, makanya Diva sengaja melakukan itu.
"DIVA ..... Panggil Ayah Fikram dan Arka menggelar di depan wastafel dan toilet, mereka sangat kesal dengan kelakuan jahil Diva itu.
Diva yang mendengar itu langsung ngacir menuju kamarnya.
***Maaf yah para readers yang Budiman, kalau alurnya sedikit ngeblank, soalnya aku juga sedikit ngeblank dengan pekerjaan aku di dunia nyata.
jangan lupa selalu dukung Author dengan
Like
Coment
Vote
🤗🤗🤗🙏🙏🙏***