
Seketika lampu di ruangan itu menyala, Khay segera turun menghampiri Enzy yang masih diam terpaku di tempatnya, ia masih tak habis pikir dengan apa yang dilakukan suaminya itu, benar-benar romantis pikirnya.
Mata Enzy sudah mulai berkaca-kaca, saat Khay memeluknya, dan membisikkan kata-kata cinta untuknya.
"Aku mencintaimu, aku akan melakukan hal apapun untuk membuktikan kalau aku benar-benar ingin hidup bersamamu, dan hati ini hanya untuk kamu, aku akan melakukan 1000 atau puluhan ribu cara untuk membuktikannya dan kamu bisa menerimaku sepenuhnya, memberikan hatimu seperti aku memberikannya kepadamu, istriku." Ujar Khay.
Enzy hanya diam terpaku mendengar ungkapan hati pria yang kini menjadi suaminya. Khay melepaskan pelukannya lalu beralih menatap istrinya itu, perlahan Khay semakin mendekatkan wajahnya hingga bibir keduanya saling bertautan, karena terbawa suasana Enzy pun membalas ciuman Khay, melingkarkan lengannya di leher suaminya itu, sedangkan Khay menarik pinggang istrinya agar tubuh keduanya saling berdekatan. Cukup lama mereka hanyut dalam ciuman mereka, perlahan-lahan Khay melepaskannya, kemudian mengusap bibir milik istrinya itu dengan lembut, menghilangkan bekas ciumannya.
"Kamu adalah istriku, aku ingin melakukan apapun bersamamu, mulai dari membahagiakanmu, menjagamu, hingga semua yang kulakukan hanya untukmu, demi kebahagiaan dan keutuhan rumah tangga kita kelak." Ucap Khay.
"Aku, juga akan melakukan semuanya bersamamu." Sahut Enzy.
Khay kembali memeluk istrinya itu dengan sangat erat, begitupun Enzy yang membalasnya tak kalah eratnya.
Kemudian Khay menuntun Enzy untuk duduk kembali, dan mulai memakan hidangan yang sudah di siapkan pelayan untuk mereka.
"Kalau boleh tahu, apa kamu melakukan ini hanya karena dinner biasa, atau ada hal yang spesial ?" Tanya Enzy memasukkan potongan daging ke mulutnya menggunakan garpu.
"Sebenarnya ini makan malam untuk merayakan keberhasilan aku memenangkan tender cukup besar untuk perusahaan yang di percayakan ayah kepadaku." Jelas Khay meminum jusnya, lalu menyeka mulutnya menggunakan serbet yang telah di siapkan.
"Wahh, kalau begitu selamat ya, aku turut bahagia dan bangga atas keberhasilan yang kamu capai." Seru Enzy tersenyum senang.
"Apa kamu tidak ingin ikut mengelola perusahaan peninggalan papa Rafa ?" Tanya Khay hati-hati.
"Aku enggak tertarik soal seperti itu, biarkan saja dulu ayah yang menanganinya, di bantu paman David ( Asisiten alm.Rafa.)
"Ayah sudah membicarakan soal ini kepada pengacara juga paman David, mereka menyerahkan tanggung jawab ini padaku." Ucap Khay menatap istrinya itu.
"Kalau itu sudah keputusan mereka, kenapa kamu enggak menjalankan saja, aku percaya sama kamu, kalau kamu bisa, manjaga dan meneruskan peninggalan papa mama." Ujar Enzy.
"Maaf sebelumnya, tapi bukannya aku menolak, tapi untuk saat ini aku masih belum bisa, karena kita harus menetap di kiota Z, sedangkan kuliah kita saja belum selesai, kalaupun harus bolak-balik sana seminggu sekali aku rasa itu bakal kerepotan, karena disini juga aku lagi mengembangkan bisnis olahraga aku." Jelas Khay.
"Enggak apa-apa, Aku juga akan mengikuti keputusan kamu, apapun itu." Ucap Enzy.
"Terimakasih karena sudah mengerti ku."
Emmm..." Sahut Enzy
Keduanya pun melanjutkan makan malam mereka, tak lama mereka memutuskan untuk pulang kerumah, karena malam sudah larut.
Saat keluar dari restoran tiba-tiba seorang pria menabrak bahu Enzy sehingga membuat Enzy hampir terjatuh, untung saja Khay dengan sigap menahan pinggang istrinya itu dari samping.
"Kalau jalan pakai mata, istri gue hampir aja celaka." Ujar Khay menarik kerah baju laki-laki itu, setelah melepaskan istrinya.
"Maaf, maaf gue enggak sengaja tadi aku buru-buru." Ucap laki-laki itu.
"Mbak, maa...." Ucapan laki-laki itu terhenti saat melihat Enzy.
"Enzy.....
"Baim......
Seru Enzy dan laki-laki itu yang ternyata bernama Baim, hampir bersamaan dan saling menunjuk.
"Sayang, kamu kenal dia ?" Tanya Khay langsung merangkul pinggang istrinya prosesif, seolah mengatakan pada pria dihadapannya kalau Enzy adalah miliknya.
"Di....
"Kenalin, gue Baim, teman SMA Enzy, sekaligus mantan pacarnya." Jelas Baim mengulurkan tangannya kepada Khay.
Khay menoleh menatap tajam istrinya itu, meminta penjelasan soal apa yang dikatakan Baim.
"Im, kenalin dia Khay, suami aku, kamu menikah belum satu bulan ini." Enzy memperkenalkan Khay sebagai suaminya, membuat Khay sedikit tersenyum mendengar Enzy memperkenalkannya sebagai suaminya.
"Khay, suami Enzy." Ucap Khay menerima uluran tangan Baim yang sejak tadi ia ulurkan ke Khay.
"Baim, salam kenal." Sahut Baim memperkenalkan dirinya, yang hanya di angguki Khay.
"Nzy, apa kabar sudah lama kita enggak ketemu, sejak kita lulus kamu enggak pernah lagi ngabarin aku, bahkan kamu pergi begitu saja tanpa memberiku keputusan yang jelas." Ujar Baim, membuat darah Khay semakin mendidih akibat dibakar api cemburu.
"Sorry Im, semuanya udah lewat, kalau gitu aku duluan ya, udah larut juga." Ujar Enzy kemudian pamit ingin segera pulang, apalagi melihat sikap suaminya yang tiba-tiba berubah, lebih banyak diam, berbeda saat di restoran saja pria itu terlihat sangat cerewet.
Dalam perjalanan pulang, Khay terus saja diam, hanya ada suara musik klasik yang terdengar dari MP3 mobil menemani perjalanan mereka.
"Ayo keluar !!" Seru Khay tetap membukakan pintu mobil untuk istrinya, walaupun ia sangat kesal.
"Terimakasih." Ucap Enzy lalu keluar dari mobil.
Pasangan suami istri pun berjalan masuk ke lift, yang akan membawa mereka ke unitnya.
"Kamu kenapa ?" Tanya Enzy.
"Tidak apa-apa." Sahut Khay memasukkan kedua tangannya di saku celananya.
Setibanya di unit mereka, Khay langsung berjalan ke kamar di ikuti Enzy di belakangnya, tanpa banyak bicara Khay mengambil pakaiannya sendiri di lemari, lalu masuk ke kamar mandi, setelah beberapa saat Khay keluar dan langsung naik ke tempat tidur, ia langsung tertidur menutupi tubuhnya menggunakan selimut, dengan posisi membelakangi sisi tempat Enzy, Sedangkan Enzy hanya geleng-geleng kepala melihat sifat kekanak-kanakan suaminya itu.
Enzy menghela nafas beratnya, lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya, tak butuh waktu lama Enzy di kamar mandi, Enzy langsung merebahkan tubuhnya di dekat suaminya dan memeluknya dari belakang.
"Khay..."
"Khay..." Enzy memanggil-manggil Khay, namun Khay sama sekali tak memperdulikannya, ia terus berputar-putar tidur, ia masih merasa kesal dengan pertemuan Enzy dan mantan kekasihnya, Baim.
"Khay, aku tahu kamu tidak tidur." Ucap Enzy menyandarkan kepalanya di punggung pria itu.
"Khay, aku ingin tidur di peluk kamu." Ucap Enzy lagi saat Khay masih saja menghiraukannya.
Khay yang mendengar Enzy ingin dipeluk, langsung membuka matanya, tak bisa ia pungkiri kalau ia merasa senang akan permintaan istrinya itu, dan ini kali pertamanya Enzy meminta hal tersebut.
Khay membalikkan badannya, tapi ia masih memejamkan matanya, berpura-pura kalau dirinya masih tidur, lalu memeluk tubuh Enzy dengan erat.
Namun Khay tak hanya memeluknya tapi ia juga mencium bibir mungil istrinya itu, membuat Enzy mengerutkan keningnya.
"Hey.." Enzy mendorong tubuh suaminya itu.
"Kamu bilang ingin di peluk ?" Tanya Khay tanpa membuka matanya.
"Tapi aku enggak bilang seperti ini." Sahut Enzy sedikit menjauhkan badannya, bahkan ia melepaskan tangan Khay yang melingkar di pinggangnya.
"Kenapa ? Sini katanya mau di peluk, biar sekalian aku angetin juga !" Seru Khay menarik kembali Enzy masuk kedalam pelukannya, lalu menaikkan kakinya di atas paha Enzy.
"Berhenti bermain-main !" Seru Enzy berusaha menurunkan kaki Khay dari pahanya.
"Aku tidak sedang bermain-main, sayang, tadi kamu sendiri yang bilang ingin di peluk." Sahut Khay membuka matanya menatapnya dengan tatapan menggodanya.
"Tapi pelukannya enggak seperti ini juga, aku juga tidak ingin lebih dari itu, aku capek." Jelas Enzy jengah.
"Lebih bagaimana maksud kamu sayang ? Emang apa yang sedang kamu pikirkan Hem ?" Goda Khay.
"Jangan pura-pura tidak tahu, aku tahu yang ada dipikiran kamu sekarang." Seru Enzy menggigit lengan suaminya itu.
"Sayang, kok aku di gigit, sakit tahu ?" Ucap Khay mengusap-usap lengannya.
"Kamu sih, sana tidur enggak usah meluk-meluk, nyesel aku tuh minta dipeluk kamu tadi." Seru Enzy membelakangi suaminya.
"Ya sudah, aku enggak akan main-main lagi, sini madep sini lagi, aku peluk, atau sekalian mau aku nyanyikan lagu pengantar tidur, Hem ?" Ujar Khay menarik lengan Enzy agar menghadapnya kembali.
"Enggak usah nyanyi, yang ada aku enggak akan bisa tidur, dengar suara kamu !" Ucap Enzy kembali menghadap suaminya, menyandarkan kepalanya di dada bidang milik suaminya, menjadikan lengan kiri pria itu sebagai bantalnya, tak lupa ia melingkarkan lengannya di pinggang suaminya.
"Kalau nyanyian aku pas di restoran tadi, suka enggak ?" Tanya Khay memeluk istrinya erat.
"Emmm...." Enzy hanya berdehem, karena sudah merasa sangat lelah dan mengantuk akibat seharian beraktivitas di luar.
"Mimpi indah istriku, aku mencintaimu." Ucap Khay mencium pucuk kepala Enzy, tak lama iapun ikut terlelap sambil memeluk tubuh istrinya.
Bersambung.........
Jangan lupa LIKE, KOMENTAR, VOTE....
Maaf jika Upnya lambat, soalnya ada kesibukan di tempat kerja author, lagi sibuk-sibuknya banget....
"Terimakasih 🙏🙏🙏🙏
Love You All ❤️❤️❤️❤️🤗🤗🤗🤗😘😘😘😘