Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 10 Season 2


Setelah keluar dari kamar mandi, dan sudah terlihat segar dengan pakaian yang sudah ia ganti dengan pakaian tidur, mengingat hari sudah malam, Lani masih saja tak menghiraukan Ray yang sedari tadi duduk di sofa kamarnya yang terus memperhatikan dirinya.


"Sayang..." Ray melangkahkan kakinya menghampiri istrinya yang sedang duduk di depan meja riasnya.


Lani masih ingin mendiami suaminya itu, ia masih merasa kesal karena keinginannya tadi siang tidak di penuhi.


"Sayang, masih mau iga bakar, kita keluar yuk !" Ajak Ray memeluk Lani dari belakang, menumpuhkan dagunya di atas kepala Lani.


"Nggak..."Tolak Lani mentah-mentah dengan nada dingin plus wajah datar.


"Katanya tadi ingin makan itu?" Ray masih membujuk istrinya yang tengah merajuk.


"Sudah tidak lagi." Masih dengan dinginnya Lani menjawab.


Lani melepaskan lengan Ray melingkar di bahunya, kemudian beranjak dari duduknya tanpa menghiraukan Ray, ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar.


Ray yang melihat istrinya sedang merajuk, ia mengusap wajahnya kasar, kemudian mengikuti langkah sang istri.


"Butuh bujuk rayu ektra lagi nih, buat meluluhkan hati bumil satu itu, untung sayang." Gumam Ray.


Saat sampai di ruang makan, Ray melihat Lani yang sudah makan duluan tanpa menunggunya, suapan demi suapan Lani memakan menu makan malamnya dengan lahapnya. Lani hanya melirik sekilas pada suaminya yang baru duduk di sampingnya.


"Sayang, mau itu dong...!" Ray menunjuk kari ayam di depan Lani, mencoba tetap bersikap manis seperti biasanya.


Lani langsung mengangkat wadah kari ayam tersebut kedepan Ray tanpa mau melihat kearah suaminya.


"Ambilin." Sahut Ray manja.


"Jangan manja !" Ujar Lani.


"Manja sama istri sendiri nggak apa-apa sayang, daripada aku minta di manjain sama orang lain."


"Kamu berani ?" Lani menoleh kearah suaminya memperlihatkan tatapan membunuhnya.


"Nggak Yank, becanda doang, mana berani aku seperti itu, lagian istri aku ini udah paling the best lah" Ray segera menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya berbentuk huruf V.


"Mana berani aku macam-macam di luar bisa di gorok hidup-hidup aku, sama Mak lampir satu ini." Batin Ray sambil menyendok kari ayam kepiringnya.


"Sayang..." Panggil Ray setelah ia sudah ikut makan bersama dengan istrinya, sambil memegang lengan Lani.


"Jangan pegang-pegang, dan cobalah makan dengan tenang !!" Lani menghempaskan tangan Ray yang berada di lengannya.


"Berarti boleh nyolek dong." Ucap Ray masih terus mengganggu sambil menyolek dagu istrinya itu.


"Aku nggak punya suami yang nggak bisa jadi suami siaga, baru minta sesuatu sudah nggak bisa nurutin, apalagi kalau aku mau lahiran, mungkin aku akan melahirkan tanpa ia lihat, bahkan mungkin dia lebih mementingkan meetingnya." Ucap Lani dengan kesalnya.


"Dan jangan salahkan aku, jika nanti anakmu ileran." Tambah Lani.


"Maaf... Ya sudah yuk, sebagai permintaan maaf aku, aku bakalan belikan apapun yang kamu mau." Bujuk Ray.


"Dan satu lagi Yank, jangan bilang gitu dong, kalau beneran anak kita ileran bagaimana?" Tambah Ray.


" Yang bikin ileran kamu sendiri yang tidak mau menuruti kemauannya, dan kamu tidak perlu repot-repot, mau membelikan apa-apa untuk aku, aku juga nggak menginginkan sesuatu !" Ucap Lani kemudian menyuapkan suapan terakhirnya.


"Nggak repot kok, mana ada aku kerepotan, kalau menyangkut istri aku yang paling cantik ini, dan untuk yang tadi aku minta maaf, mudah-mudahan saja anak kita ngerti sayang, dan tidak akan ileran nantinya, Apalagi mamanya yang aku sayangi ini sangat cantik nggak mungkin dong anaknya ileran." Gombal Ray.


"Nggak usah ngegombal ! Nggak mempan." Lani segera minum air putih di dekatnya, kemudian beranjak dari duduknya, meninggalkan Ray.


"Ya Allah, bantu aku buat istri aku ini berenti ngambeknya, soalnya kalau sudah ngambek seperti itu, sudah pasti aku nggak dapat jatah sampai seminggu, tolong hambamu ini Ya Allah." Kenan mengangkat tangannya berdoa, sambil menengadah keatas."


Sedangkan Lani merasa berhasil memberi pelajaran untuk suaminya, dengan santai ia berjalan menaiki gundukan tangga satu persatu.


🍀🍀🍀


Di sebuah restoran Kenan menunggu kedatangan seseorang klaiyen yang akan membahas soal kerjasama untuk memasok beberapa produk pakaian, dan aksesoris yang memiliki brand cukup terkenal di negaranya.


"Maaf membuat Anda menunggu lama." Ucap seorang wanita yang cukup modis dan seksi berdiri di depannya.


"Nona Calista ?" Kenan mengernyitkan keningnya.


"Iya Pak Kenan, saya lah yang menjadi klaiyen bapak pada malam hari ini, aku juga tak menyangka kita bisa bertemu di sini, dan mudah-mudahan kita bisa menjalin kerjasama yang baik." Ucap Calista tersenyum.


"Oh... Silahkan duduk nona." Kenan segera mempersilahkan Calista duduk, ia tak menyangka yang akan menjadi klaiyennya adalah Calista putri dari seseorang yang akan bergabung di perusahaan ayahnya.


"Mau pesan apa ?" Ucap Kenan menawarkan.


"Jus wortel aja." Sahut Calista terus memperhatikan Kenan yang memanggil pelayan restoran.


"Makannya?" Tanya Kenan.


"Nggak usah pak, terimakasih." Ucap Calista tersenyum.


"Pak Kenan Anda tidak memesan makanan juga ?" Tanya Calista saat melihat Kenan memesan Jus untuknya dan satu capuccino untuk Kenan sendiri.


"Tidak nona, kebetulan saya masih merasa kenyang, dan lebih suka makan malam bersama keluarga saya." Terang Kenan.


Calista hanya mengangguk mendengar perkataan Kenan.


"Ternyata dia penyayang keluarga banget." Batin Calista.


Setelah memesankan minuman untuk Calista dan juga dirinya, Kenan langsung memulai pembicaraan yang akan membahas soal kerjasama mereka.


Kenan menjelaskan semua dengan sangat serius, dan mendetail. Sedangkan Calista tidak terlalu memperhatikan apa yang Kenan jelaskan sedari tadi, ia hanya sibuk memperhatikan Kenan yang tampak sangat cool saat serius seperti itu.


"Bagaimana Nona ? Setelah saya menjelaskan sampai di sini, apa ada yang ingin di tanyakan ?" Tanya Kenan, namun Calista hanya terdiam terus melihat kearah Kenan tanpa berkedip.


"Nona ... Nona ... Apa anda baik-baik saja ?" Kenan sedikit meninggikan nada bicaranya sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Calista.


"Ah... Maaf Pak, saya kurang fokus." Ucap Calista sedikit salah tingkah karena kedapatan terus memperhatikan Kenan.


"Tidak mengapa, apa Anda mendengar apa yang saya jelaskan sedari tadi, soalnya saya perhatikan Anda terus saja melamun." Ucap Kenan mencoba untuk tetap profesional, walaupun ia risih dengan pandangan wanita itu terhadapnya.


"Saya sudah mengerti Pak, dan kita bisa menandatangani surat kerjasama kita." Ucap Calista.


"Terimakasih Nona." Kenan segera memberikan dokumen berisikan perjanjian kerjasama antara office dan juga perusahaan Calista.


Calista ingin segera menandatangani dokumen tersebut tanpa ia mau membacanya terlebih dahulu, tapi buru-buru Kenan mencegahnya.


"Ada baiknya jika dokumenya nona baca terlebih dahulu sebelum menandatangani.!" Ujar Kenan.


"Saya percaya dengan bapak." Ucap Calista ingin segera membubuhi tanda tangannya di kertas bermaterai tersebut, tapi lagi-lagi Kenan menjegahnya.


"Lebih baik nona baca terlebih dahulu, saya tidak ingin kedepannya ada komplain soal kerjasama kita, dan jika ada yang ingin Anda tambahkan poin yang menurut Anda penting dalam kerjasama ini bisa saya perifikasi ulang." Terang Kenan.


"Baiklah..." Pasrah Calista, ia pun segera membaca isi dokumen perjanjian tersebut, dengan seksama, walaupun ia tak mengerti sepenuhnya kerana sedari tadi hanya sibuk memperhatikan Kenan, tapi ia ingin sekali menjalin kerjasama dengan Kenan.


Setelah kurang lebih 10 menit ia membaca dan sedikit sok-sok mempelajari isi dokumen tersebut, ia segera menandatangani dokumen tersebut.


Kemudian ia serahkan kepada Kenan, kemudian Kenan ikut menandatanganinya, pertanda bahwa mereka secara sah menjalin kerjasama.


"Baiklah nona Calista, saya harus segera pamit terlebih dahulu, mungkin keluarga saya sudah menunggu kedatangan saya di rumah." Pamit Kenan setelah sedikit meminum capuccino pesanannya.


"Silahkan Pak, salam dengan keluarga bapak." Ucap Calista.


"Semoga kita bisa menjalin kerjasama yang baik dengan profesional, karena jujur saya tidak suka mencampuri urusan pekerjaan dengan hal di luar pekerjaan saya." Ucap Kenan sedikit menyindir karena ia menangkap tatapan berbeda dari Calista untuk dirinya.


Kenan mengulurkan tangannya kepada Calista, sebagai tanda profesional kerja, dengan cepat Calista pun membalas uluran tangan Kenan tak lupa ia kembali menampilkan senyum mengembangnya.


Bersambung....


Readers yang sudah lama mengikuti cerita aku maupun yang baru, cus terus dukung Author dengan memberikan LIKE, COMENT, dan VOTENYA, agar Author tetap semangat buat nulisnya, soalnya akhir-akhir ini saya liat Like, Coment, dan Votenya berkurang 😢😢😢


Terimakasih 🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️