
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam lewat, tapi Kenan belum juga pulang dari kantor. Pak Salman dan Bunda Vivian masih setia menemani Diva, walau Diva sudah mempersilahkan mereka istirahat, karena Diva tau kalau ayah mertuanya juga butuh istirahat, karena sejak pulang dari kantor Pak Salman langsung ke unit apartemen Kenan dan Diva di situlah juga mereka makan malam.
"Div, sekarang kamu lebih baik istirahat !" Seru Bunda.
"Aku masih ingin menunggu Kenan Bun, lagian aku juga masih belum mengantuk, Lebih baik, Bunda sama ayah saja yang istirahat, Ayah pasti capek ! Sejakak pulang dari kantor belum istirahat kan ?" Ujar Diva.
"Apa tidak apa-apa kami tinggal ?" Tanya Bunda Vivian.
"Tidak apa-apa Bun." Sahut Diva tersenyum.
"Ya sudah, kalau begitu kami balik, jika ada apa-apa segera hubungi kami ! Soalnya ayah harus istirahat, takut besok ayah tidak bisa menghadiri rapat dengan klaiyen." Ujar Pak Salman, karena sebenarnya ia sudah sangat lelah tapi tidak tega juga membiarkan menantunya tinggal sendirian, apalagi jika baby Khay tiba-tiba rewel.
"Iya Yah, maaf jika sudah merepotkan kalian." Sesal Diva.
"Kamu tidak perlu sungkan begitu, besok-besok jika Kenan seperti ini lagi kamu lapor sama ayah, biar saya yang beri dia pelajaran !" Sebenarnya Pak Salman sudah merasa kesal sedari tadi dengan putranya itu, bisa-bisanya Kenan bekerja sampai selarut ini.
"Dia benar-benar keterlaluan, bisa-bisanya tak ingat waktu seperti ini ! Apa dia tidak memikirkan istri dan anaknya di rumah, bahkan dia tidak mempedulikan kesehatannya, baru juga di nyatakan sembuh, apa dia tidak mengingat kalau dirinya sedang sakit ?" Omel Pak Salman dengan tampang kesal.
"Sudah Yah, jangan ngomel-ngomel seperti itu nanti darah tinggi ayah kumat !" Ujar Bunda lembut sambil mengusap punggung suaminya.
"Bagaimana tidak ngomel-ngomel, anak kamu itu tidak pernah mau berubah, kalau sudah bekerja pasti lupa waktu dan segalanya ! Kerja boleh, tapi tidak seperti ini juga !" Pak Salman kembali meluapkan kekesalannya.
"Iya yah, Kenan memang salah, nanti biar aku yang bilangin !" Sahut Bunda.
"Tidak usah ! Biar aku saja, kalau kamu dia tidak akan mendengarkan." Ujar pak Salman.
Bunda Vivian hanya mengangguk tak mau lagi menanggapi kekesalan suaminya itu, karena tidak ada gunanya juga.
"Kayak dia tidak saja, dulu juga kamu seperti itu." Gumam bunda.
"Sayang lebih baik kamu masuk kamar ! Bunda sama Ayah balik ya, kalau ada apa-apa hubungi kami !" Ucap Bunda beranjak dari duduknya di ikuti Pak Salman masih dengan wajah kesalnya.
"Iya Bun, terimakasih sudah nemenin Diva disini." Ucap Diva.
"Tidak usah berterimakasih, itu sudah kewajiban kami juga ! ya sudah masuk gih." Ucap Bunda mencium kening Diva sebelum Diva masuk.
Setelah Diva masuk ke kamar, kedua orangtua tersebut keluar dari apartemen.
Saat baru akan masuk ke unit apartemen mereka, Pak Salman melihat Kenan baru keluar dari lift dengan penampilan berantakan, dengan dua kancing kemeja atasnya sudah terlepas, di tambah dasinya sudah miring tidak pada tempatnya lagi, kancing jasnya sudah ia lepas.
Dengan tampang lelah Kenan menghampiri kedua orangtuanya.
"Ayah, Bunda..." Sapa Kenan kemudian menyalami tangan kedua orangtuanya.
"Baru pulang kamu ?" Tanya Pak Salman sinis saat Kenan mencium punggung tangannya.
"Iya Yah, soalnya banyak kerjaan." Jawab Kenan.
"Apa tidak bisa di kerjakan besok saja?" Pak Salman berujar kembali dengan raut wajah sinisnya.
"Bisa sih yah, tapi tadi keburu nanggung, karena terlalu sibuk sampai lupa waktu." Terang Kenan.
"Sampai lupa dengan istri anak kamu juga ? sebenarnya keluarga kamu pekerjaan apa Diva dan baby Khay sih ?"
"Jangan minta maaf sama ayah, minta maaf sama istri kamu, seharian dia nunggu kamu, sampai selarut ini, ayah tau dia kelelahan nungguin kamu, apa kamu tidak kasihan hah..?" Bentak Pak Salman di akhir kalimatnya.
"Baik Yah, kalau begitu saya masuk." Pamit Kenan kemudian masuk kedalam unit apartemennya setelah mendapat anggukan dari Ayahnya.
Setelah masuk, Kenan terlebih dahulu kedapur untuk minum, karena sedari tadi merasa haus, setelah mengembalikan gelas pada gantungannya Kenan berjalan masuk ke kamarnya.
Saat masuk kamar Kenan mendapati Diva sedang duduk bersandar di kepala tempat tidur dengan kaki selonjoran tertutup selimut sampai paha sambil memainkan ponselnya. Tapi Diva tak menghiraukan Kenan, Kenan yakin jika istrinya itu sedang marah.
"Yankk...." Ucap Kenan menghampiri istrinya kemudian mengecup keningnya.
"Kamu langsung bersihkan badan kamu, baju kamu sudah aku siapkan di sofa !" Ujar Diva dingin, lalu merebahkan badannya membelakangi Kenan menutup dirinya dengan selimut hingga leher.
"Maaf..." Ucap Kenan duduk di pinggiran tempat tidur sambil memegang bahu istrinya.
"Hmmmm....
"Yank, jangan marah dong !" Kenan menundukkan kepalanya di depan wajah Diva, sedikit menindih tubuh istrinya itu yang sedang membelakanginya.
"Sudah sana, aku ngantuk, capek mau tidur." Sahut Diva masih dingin sambil memejamkan matanya.
"Jangan tidur dulu yank, tunggu aku !"
"Aku sudah nunggu kamu dari tadi." Sinis Diva.
Kenan yang mendengar ucapan Diva tak bisa lagi berkata-kata, ia kembali ke posisi duduknya, Kenan terdiam sejenak merenungi kesalahannya, wajar saja istrinya ini marah.
Setelah cukup lama terdiam, Kenan beranjak lalu masuk kedalam kamar mandi, membersihkan badannya, saat masuk Kenan melihat bath up sudah terisi air dengan aromaterapi, tapi sayang airnya sudah tidak lagi hangat, sepertinya airnya sedari tadi Diva siapkan, melihat hal tersebut Kenan merasa sangat bersalah, tanpa ia sadari air matanya menetes.
"Maaf Yank..." Gumam Kenan.
Tak butuh waktu lama Kenan selesai membersihkan tubuhnya, kemudian keluar dan ikut membaringkan tubuhnya di samping Diva. Saat Diva merasakan suaminya berada di sampingnya, Diva merubah posisinya kembali membelakangi Kenan.
Kenan langsung memeluk Diva dari belakang membenamkan wajahnya di celuruk lehernya.
"Yank... Aku benar-benar minta maaf." Ucap Kenan.
Diva yang sebenarnya belum tidur merasa geli merasakan hembusan nafas Kenan dan juga bulu-bulu halus yang mulai tumbuh di sebagian wajah Kenan yang mengenai celetuk lehernya.
"Minggir, aku mau tidur, capek !" Diva mendorong Kenan dengan sikunya.
"Biasanya juga kamu tidak bisa tidur Yank, kalau aku nggak peluk." Ucap Kenan semakin mengeratkan pelukannya.
"Minggir nggak, kalau nggak biar aku tidur di luar !!" Seru Diva sedikit meninggikan suaranya.
"Jangan dong ! Ya sudah istirahat lah ! Good night sayang." Ucap Kenan kemudian mencium kepala bagian belakang Diva.
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan LIKE, COMENT, DAN VOTE setelah membacanya 👍👍👍
Terimakasih 🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️