
Dari kejauhan Noval sudah melihat seseorang yang duduk bersama teman-teman Jova yang lainnya, dan Noval yakin kalau Kiki dan Jova juga saling mengenal.
"Malam semua." Sapa Noval saat sudah bergabung di meja di mana teman-teman Jova berada.
"Malam juga..." Balas semau yang ada di meja tersebut kecuali Kiki yang hanya diam acuh tak acuh melihat kalau laki-laki yang bersama Jova itu benar-benar Noval.
"Maaf sedikit terlambat." Sesal Noval dan mendudukkan dirinya di samping Jova yang sudah duduk duluan.
"Santai aja, kita juga baru Dateng kok !" Sahut Ray.
Kini Kiki benar-benar tak nyaman berada di tengah-tengah mereka, raut wajah Kiki kini berubah tampak kesal dikalah ia melihat wajah pria itu, namun sahabat-sahabatnya tak ada yang menyadari akan hal itu.
"Oh iya Nov, kenalin dia sahabat kita juga ! namanya Kiki." Jova memperkenalkan Kiki kepada Noval.
Kiki langsung merubah raut wajahnya dan tersenyum yang di paksakan. Kiki mengulurkan tangannya kepada Noval memperkenalkan namanya, seolah-olah mereka baru pertama kalinya mereka bertemu.
"Kiki...
"Noval..." Noval memperkenalkan dirinya, menerima uluran tangan Kiki.
Setelah saling mengucapkan nama masing-masing, Kiki dengan cepat melepaskan tangannya yang saling bersalaman dengan Noval, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah pengantin tersebut.
"Apa segitunya dia juga membenciku..." Batin Noval sedikit melirik kearah Kiki.
Setelah cukup lama mengobrol, dengan bersamaan mereka naik ke pelaminan untuk memberi selamat dan doa yang terbaik untuk kedua mempelai, dan pastinya tak pernah lupa mengambil foto bersama, apalagi jarang-jarang mereka bisa berkumpul dengan pormasi lengkap seperti ini.
Kenan, Diva, Arka, dan Vara langsung berpamitan kepada kedua mempelai dan juga para orangtua Rafa dan Hera, karena sudah terlalu lama mereka meninggalkan anak mereka bersama bunda Hani dan Ayah Fikram, takutnya kedua baby tersebut rewel.
Tak lama kepergian Kedua Pasangan orangtua muda itu pulang, Ray dan juga Lani ikut pamit karena mengingat keadaan Lani yang sedang hamil, dan tentu tidak baik jika berlama-lama di luar saat malam begini.
Tinggallah Noval, Jova dan Kiki, Jova merasa bingung, karena bengkel yang mengerjakan ban mobilnya yang bocor belum juga mengantarkan mobilnya ke hotel. Noval yang ikut menunggu memutuskan untuk mengantar Jova dan juga Kiki untuk pulang karena jam sudah menunjukkan lewat dari jam sepuluh malam.
Dengan sanagat terpaksa Kiki harus ikut, karena Jova mengajaknya, Kiki tidak mau sahabatnya itu curiga kalau sebenarnya ia dan Noval saling mengenal.
"Nov, kamu menginap di mana ?" Tanya Jova yang setahunya Noval bukan asli orang kota Z.
"Aku pulang kerumah orangtua ku yang berada di sini." Jawab Noval melirik Jova sekilas yang duduk di sampingnya.
"Oh...Jadi orangtua kamu asli orang sini juga.
"Lebih tepatnya, kampung halaman suami mama aku." Ralat Noval.
"Maksudnya, Papa tiri kamu ?"
Noval tak menjawab pertanyaan Jova, Noval melirik Kiki dari spion mobilnya, yang sedari tadi Kiki hanya terdiam sambil membuang muka keluar jendela mobil dengan wajah kesalnya, saat Noval membahas soal keluarganya.
"Maaf ya Nov, kalau aku banyak tanya soal Keluarga kamu." Sasal Jova karena merasa terlalu ikut campur dengan urusan keluarga Noval.
Noval yang mendengar ucapan Jova, langsung berbalik melihatnya sambil tersenyum.
"Nggak apa-apa kok, kamu juga nantinya akan tau semuanya, dan itu hak kamu untuk tau semuanya." Noval mengusap lembut pucuk kepala Jova, kemudian kembali fokus mengemudi.
"Apa sih..." Jova malu sendiri dengan perkataan Noval, apalagi di mobil itu bukan hanya mereka berdua, di situ juga ada Kiki, dan sudah pasti Kiki melihat dan mendengar semua interaksi mereka.
Sedangkan Kiki yang melihat interaksi pasangan anak manusia di depannya, perasaan anatara bahagia dan juga kesal.
Karena di sisi lain Ia merasa bahagia kalau sahabatnya itu terlihat mencintai Noval, begitupun dengan Noval ke Jova, karena itu terlihat jelas dari tatapan keduanya, tapi di sisi lain, ia juga merasa kesal kenapa harus Noval yang menjadi pria yang di cintai sahabatnya itu,
🍀🍀🍀
Kediaman keluarga Fikram
Setelah sampai di rumah, Kenan,diva, dan Arka, Vara langsung masuk ke kamar masing-masing, karena itu perintah dari nyonya besar yaitu Bunda Hani, karena baby Raydan dan Baby Khay sudah tertidur di kamarnya, dan Bunda Hani melarang para ibu-ibu muda itu memindahkan anak mereka karena takut kedua cucunya itu terganggu dan rewel dan susah untuk tidur kembali.
"By', apa kerjaannya nggak bisa di kerjain besok aja ? Ini sudah sangat larut loh by'." Diva langsung mendudukkan dirinya di sofa samping Kenan yang sibuk mengerjakan beberapa dokumen yang dikirim sekertarisnya. Bahkan Kenan belum mengganti kemejanya yang ia gunakan kepesta tadi.
"Tidak bisa yank, besok pagi Lusi harus presentasikan ini di depan klaiyen penting." Sahut Kenan tanpa teralihkan dari laptopnya.
"Iya, tapi kenapa kamu yang harus kerjakan, ingat kesehatan kamu juga by' !" Ujar Diva sambil melihat angka-angka yang ada di layar laptop suaminya itu.
"Lusi ada kerjaan lain juga Yank. Sudah sana lebih baik kamu istirahat !" Ujar Kenan tanpa sedikitpun beralih melihat istrinya.
"Ya sudah kalau gitu, tapi kamu harus bersihkan badan kamu dulu !" Diva menarik lengan suaminya itu, agar segera berdiri untuk membersihkan badannya, dan mengganti pakaiannya.
"Iya sayang, iya..." Kenan Pasrah dan langsung menuju kamar mandi.
"By', mau kopi nggak ?" Teriak Diva di depan kamar mandi.
"Boleh deh Yank..." Sahut Kenan dari dalam kamar mandi.
Diva segera turun ke dapur setelah menyiapkan pakaian untuk suaminya. Saat di dapur Diva mendapati Bundanya sedang mengisi air minum kedalam botol.
"Kamu belum tidur ?" Tanya Bunda.
"Belum Bun, Aku mau buat kopi dulu buat Kenan, dia masih sibuk dengan kerjaannya." Sahut Diva mengambil gelas dari kitchen set.
"Apa ada masalah serius dengan perusahaanya ?"
"Kurang tau juga sih Bun, soalnya dia nggak pernah cerita, tapi sejak pulang dari Singapore dia dan juga ayah Salman selalu saja lembur di kantor, kalaupun tidak pasti di rumah masih begadang seperti saat ini untuk mengerjakan pekerjaannya." Terang Diva sambil menyeduh kopi lewat dispenser.
"Dia nggak ada cerita ke kamu ?"
"Nggak Bun, setiap aku tanya dia hanya jawab semua baik-baik saja.
"Ya sudah Bun, Diva ke kamar dulu ya, kalau baby Khay rewel panggil aku saja !" Diva pun berjalan menuju kamarnya, begitupun dengan Bunda Hani juga kembali ke kamarnya yang berada di lantai bawah.
Saat Diva membuka pintu kamarnya Diva mendapati suaminya marah-marah lewat telpon, masih menggunakan handuk yang terlilit di pinggangnya.
"Pokoknya kamu harus proses semuanya dengan cepat, saya tidak mau tahu dalam waktu dua minggu ini semuanya harus beres !" Setelah berbicara seperti itu Kenan langsung menghempaskan dirinya di sofa kamarnya, dan mengusap wajahnya kasar, dan tanpa ia sadari sedari tadi Diva memperhatikan dirinya marah-marah dengan seseorang yang di seberang telepon.
Bersambung.....
Jangan lupa terus dukung Author supaya semagat terus buat Up-nya. 🙏🙏🙏🙏
Like
Coment
Like
Terimakasih 🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️