Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 62 Season 2


Diva terlihat sedang mengemasi beberapa pakaiannya dan juga beberapa perlengkapan milik putranya, Diva memasukkan pakaian-pakaiannya di dalam sebuah koper besar, air matanya terus membanjiri wajah mulusnya pikirannya terus tertuju pada saat ia melihat kedekatan Kenan dan Sarla di kantor tadi.


Sebelumnya Diva sudah menghubungi Calista untuk mengabari kalau janjian mereka ia batalkan karena ada hal yang harus ia selesaikan.


Sebenarnya Diva ingin berpikir positif terhadap suaminya, kalau suaminya itu benar-benar murni hanya membantu Sarla karena rasa bersalahnya, tapi rasanya sangat sulit untuk mempercayai hal itu, apalagi jika ia mengingat perkataan Sarla di parkiran tadi, sebelum Sarla benar-benar kembali masuk ke kantor.


Diva menutup koper miliknya juga memejamkan matanya untuk memantapkan keyakinannya meninggalkan rumah tersebut, Diva kemudian membuka kembali matanya setelah di rasa yakin, Diva mengedarkan pandangannya di kamar tersebut seketika ia mengingat kenangan-kenangan manisnya saat ia bersama Kenan di kamar tersebut, saat mata Diva tertuju pada foto pengantin mereka yang berukuran besar yang terpajang di atas kepala tempat tidur Diva kembali teringat saat Kenan mengucapkan ijab qobul nya dan berjanji di hadapan Ayahnya atas izin Allah Kenan mempersuntingnya, hingga ia kembali teringat kejadian di ruangan Kenan tadi. Lagi-lagi air mata Diva keluar begitu saja, di kala ia mengingat semuanya, dadanya kembali merasakan sesak bagaikan terhimpit batu besar. Diva tak mau berlama-lama lagi berada di kamar tersebut, hal itu membuatnya bertambah sakit, Diva pun mengeret kopernya keluar kamar dan menuju ke kamar putranya, di mana baby Khay sedang di gantikan pakaiannya oleh bi Siti.


"Apa sudah selesai bi ?" Tanya Diva dengan nada seraknya setelah ia baru masuk ke kamar tersebut.


"Non, bibi juga akan pulang ke kampung, bibi tidak akan lagi mau bekerja disini jika nona juga sudah tak disini." Ujar bi Ratih yang juga berada di sana, dan sepertinya ia juga sudah mengemasi barang-barangnya.


Sedangkan bi Siti tetap akan ikut bersama Diva untuk membantunya mengurus baby Khay walaupun sebenarnya Diva sudah memintanya agar tak mengikutinya, karena Diva akan pergi jauh dari kota Xx dan tidak akan kembali di kota asalnya juga yaitu kota Z, tapi Diva sudah berencana pergi ke suatu kota yang terpencil.


"Tidak bi, bibi harus tetap bekerja disini, saya tidak mau hanya karena gara-gara saya, bibi tidak lagi memiliki pekerjaan, bagaimana nasib keluarga bibi jika bibi tak bekerja." Ujar Diva memegang tangan bi Ratih yang sudah ia anggap sebagai ibunya selama ia jauh dengan kedua orangtuanya dan juga mertuanya.


"Tidak non, kalau perlu bibi akan ikut dimana non akan pergi." kekeh bi Ratih.


"Terimakasih bi, tapi jika bibi akan ikut dengan saya, saya tidak yakin bisa terus-terusan menggaji ibu, saya tidak memiliki pekerjaan bi, saya hanya bermodalkan tabungan saja, dan saya akan pergi ke kota yang terpencil." Jelas Diva. Namun sepertinya bi Ratih tak mempermasalahkan itu, karena anak-anaknya pun sudah memiliki pekerjaan masing-masing, dan ia sudah tak perlu lagi bekerja keras untuk menghidupi mereka, ia hanya ingin terus bersama majikannya itu, karena ia juga sudah menganggap Diva putrinya.


"Baiklah jika itu mau bibi, kalau begitu mari kita keluar sekarang, sepertinya taksi yang saya pesan sudah menunggu kita di depan." Ujar Diva kemudian menggendong putranya sambil mengeret kopernya, di ikuti bi Siti dan Bi Ratih juga membawa tas-tas mereka masing-masing, dan juga beberapa tas lainnya.


Saat tiba di teras depan saat itu juga mobil Kenan memasuki pekarangan rumahnya, Diva kaget melihat kedatangan Kenan ia tak menyangka hari ini Kenan akan pulang secepat ini, karena ini masih siang, tak biasanya Kenan pulang secepat ini, karena Kenan pulang paling cepat jam empat sore.


Sedangkan Kenan mengernyitkan keningnya, saat ia melihat istri dan anaknya keluar rumah sambil membawa koper yang berukuran besar di ikuti bi Siti dan Bi Ratih di belakangnya juga membawa beberapa tas. Kenan dengan cepat keluar dari mobilnya sampai-sampai mobilnya belum terparkir dengan baik, bahkan pintu mobilnya saja belum tertutup dengan baik.


"Kamu mau kemana ?" Tanya Kenan Setelah berada di hadapan Diva.


"Aku mau pergi, karena aku rasa itu lebih baik." Sahut Diva tanpa melihat Kenan, ia takut tidak bisa menahan tangisnya jika melihat kearah suaminya itu.


"Kamu tega meninggalkan aku Yank ?" Tanya Kenan menahan lengan Diva yang ingin segera berjalan.


"Bukan aku yang tega, tapi kamu ! Aku sudah memberimu kesempatan saat itu, tapi kamu lagi-lagi mengabaikanku, bahkan kamu membuat aku kecewa juga menorehkan luka yang mendalam, dan aku pikir kamu akan lebih bahagia jika kamu bersamanya, jadi lebih baik sekarang aku pergi, aku sudah tak sanggup lagi Nan menanggung luka ini sendirian, aku tak mau menambah luka ini jika aku terus-terusan berada di sini." Jelas Diva memandang lurus kedepan sambil menggigit bibir bawah bagian dalamnya berusaha menahan tangisnya agar tak pecah.


"Apa kamu akan tetap pada keputusan kamu ini ?" Kenan menatap Diva yang sedari tadi tak berani memandangnya.


Diva hanya menganggukkan kepalanya, ia tak sanggup lagi mengeluarkan sepatah katapun, karena sedikit saja berkata mungkin saat itu juga pertahanannya akan runtuh dan menangis, ia tak mau terlihat lemah dihadapan suaminya itu.


"Lihat aku Yank ! Jika kamu yakin dengan keputusan kamu itu." Seru Kenan.


Diva terdiam, berusaha mengambil nafas dalam-dalam mencoba untuk menetralkan emosinya, cukup lama Diva terdiam lalu ia memberanikan diri menatap manik mata pria yang sangat ia cintai itu.


"Iya aku yakin dengan keputusan yang aku buat, dan aku benar-benar akan pergi dari rumah ini, puas ?" Ucap Diva meninggikan suaranya, sehingga membuat baby Khay kaget dan menangis dalam gendongannya.


Kenan melepaskan tangannya yang sedari tadi menahan lengan Diva, kemudian mengambil alih putranya membawanya langsung kembali ke dalam rumah tak lupa ia juga mengeret koper milik Diva ikut masuk.


"Apa kamu akan tetap pergi, silahkan jika itu mau kamu tapi jangan harap kamu membawa putraku." Seru Kenan meninggikan suaranya lalu melanjutkan langkahnya menaiki tangga.


Diva mengejar langkah Kenan, hingga mereka tiba di kamar. Kenan langsung mengunci pintu kamarnya.


Kenan menenangkan putranya yang menangis, sedangkan Diva berdiri di dekat jendela kamarnya sambil melihat kearah luar.


Setelah Kenan berhasil mendiamkan putranya itu, dan sudah lebih tenang, Diva memulai pembicaraannya.


"Sebenarnya apa mau kamu, apa kamu belum menyadari jika kamu sudah menorehkan luka yang mendalam di hatiku ?" Ujar Diva masih terus memandangi arah luar jendela.


Kenan yang duduk di sofa sambil memangku putranya, ia masih terdiam mengikuti arah pandang Diva.


"Saat ini aku benar-benar tidak mengerti lagi denganmu Nan, kamu bukanlah Kenan suami yang sangat menyayangi keluarganya, aku ingin sekali berpikir positif kepadamu, tapi aku rasa itu sangat sulit, jujur aku ingin sekali mempertahankan keluarga kita, aku ingin memperjuangkannya tapi aku rasa itu percuma jika hal itu hanya aku yang menginginkannya." Diva kembali melanjutkan perkataannya.


"Maaf, sekali lagi aku minta maaf Div karena aku sudah menorehkan luka kepadamu, dan terimakasih selama ini kamu selalu berada di sisiku menemaniku saat aku dalam kesulitan, tapi jujur Div, saat ini perasaanku seolah telah terbagi, dan aku minta waktu dan kesempatan sekali lagi agar aku bisa kembali memberikan hatiku kepadamu dengan utuh seperti dulu, tapi aku mohon kamu jangan tinggalkan rumah ini Div !!" Seru Kenan.


"Dan tolong pikirkan juga Khay, di umurnya saat ini ia masih sangat membutuhkan kasih sayang kedua orangtuanya." Tambah Kenan.


"Apakah itu artinya suatu saat bisa saja kamu memilih pemilik separuh hati kamu itu dan itu bukan kami, hingga kamu akan meninggalkan kami ?" Tanya Diva dengan suara seraknya menahan tangisnya.


Kenan hanya bisa terdiam, membuat Diva semakin merasakan sesak di dadanya.


"Baiklah Nan, aku akan mencoba bertahan demi Khay, tapi aku tidak janji itu sampai kapan Nan, aku bukan wanita yang kuat seperti yang kamu lihat, aku juga wanita yang memiliki sisi kerapuhan, jika memang setengah hati kamu memiliki pemilik lain, tolong jangan tunjukkan dihadapan ku !! Diva pun tak bisa lagi menahan bendungan air matanya, ia memilih meninggalkan kamar tersebut dengan deraian air mata serta rasa sesak yang teramat.


Sedangkan Kenan hanya bisa terdiam terpaku menatap lurus ke depan dengan tatapan datarnya, kemudian Kenan memejamkan matanya menghembuskan nafas kasar.


"Maafkan aku Div...." Gumam Kenan.


Bersambung.....


Bonus Visual


Diva



Kenan



Tetap terus pantengin terus ceritanya dan mohon dukungan LIKE, KOMEN, VOTE dari readers. Terimakasih 🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️