
Setelah hampir satu jam perjalanan dari bandara akhirnya mereka sampai juga di apartemen. Sopir yang di pekerjakan Ayah Salman langsung memarkirkan di basemen. Keempatnya langsung menuju lift menuju di mana unitnya berada.
Saat masuk Diva kagum dengan interior apartemen berlantai dua tersebut dengan model minimalis klasik. Di lengkapi ruang tamu, dapur yang menyatu dengan ruang makan, dan satu kamar di lantai bawah, sedangkan di lantai 2 terdapat dua kamar dan sebuah ruang keluarga.
"Ya sudah kalian istirahat saja dulu, kalian pasti capek, dan kamar kalian ada di lantai bawah !" Ujar Ayah Salman.
"Baik Yah, Bun, Kami pamit istirahat dulu." Pamit Kenan di ikuti Diva.
Ayah Salman sengaja menyiapkan kamar mereka di bawah karena tidak ingin anak dan menantunya kelelahan karena naik turun tangga, dengan keadaan Kenan yang sekarang, di tambah Diva yang sedang hamil.
Saat sampai kamar Diva kembali kagum dengan desain kamarnya.
Diva dan Kenan segera membersihkan badan mereka dan setelah itu mereka langsung istirahat.
🍀🍀🍀
Sudah satu minggu mereka berada di Singapore, Kenan sudah memulai beberapa serangkaian pengobatan secara bertahap selama 4 hari terakhir ini, yang di tangani oleh seorang dokter terkemuka di spesialis kanker, yang bernama Dokter Chen, yang di kenalkan oleh Dokter Bayu lima hari yang lalu. Dokter Bayu menjelaskan riwayat kesehatan Kenan, dan menyerahkan beberapa berkas hasil pengamatan penyakit Kenan Sebelum ia kembali ke Tanah Air tiga hari yang lalu. Selama 4 hari ini juga Kenan di rawat di rumah sakit karena ada beberapa obat yang harus rutin di berikan melalui cairan infus, Diva dan Bunda Vivian dengan setia menemani Kenan di rumah sakit, Sedangkan Ayah Salman kembali ke Tanah air di hari yang bersamaan dengan Dokter Bayu, karena ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa di wakilkan oleh asistennya, bukan itu saja pekerjaan di kantornya juga menumpuk, karena asistennya juga sibuk mengurus Office Kenan.
Hari ini Ayah Fikram dan Bunda Hani akan mengunjungi mereka di Singapore, karena seperti janjinya kepada anak dan menantunya, setelah Vara keluar dari rumah sakit mereka akan segera menyusul.
Dengan telaten Diva menyuapi Kenan makanan, yang bersandar di brangkar yang sudah di lipat sedikit naik di bagian atasnya agar memudahkan Kenan bersandar.
"Sudah Yank, sekarang kamu juga harus makan !" Ujar Kenan mengambil mangkuk yang berada di tangan Diva, dan meletakkannya di nakas.
"Kamu baru makan dikit loh by', makanannya aja belum sampai setengah kamu makan." Ucap Diva menyodorkan air mineral kedepan mulut Kenan.
"Aku bisa minum sendiri Yank ! Bahkan kamu memperlakukan aku seperti orang yang lagi sekarat tau nggak yank." Sahut Kenan setelah menerima minum yang di berikan Diva.
"Ckk ... Udah istirahat sana !" Decak Diva meletakkan botol air minum tersebut di atas nakas.
"Sekarang giliran kamu yang makan Yank, nanti Baby-nya lapar, dan gantian biar aku yang suapin !" Ujar Kenan
"Tunggu sebentar aku ambil dulu !" Diva segera beranjak dari duduknya, untuk berjalan ke lemari tempat penyimpanan makanan.
Tak tanggung-tanggung Ayah Salman menempatkan Kenan diruang perawatan dengan fasilitas VVIP. Kamar tersebut di lengkapi satu set sofa ruang makan dan tempat tidur untuk orang yang menjaga pasien, benar-benar seperti bukan ruang perawatan tapi bisa di katakan dengan apartemen.
Ayah Salman melakukan bulan semata-mata demi kenyamanan putranya, tapi juga demi kenyamanan menantunya yang sedang hamil.
"Yank ... " Panggil Kenan manja.
"Apa butuh sesuatu ?" Tanya Diva duduk di ruang makan untuk makan siang.
"Kamu makannya di sini saja, biar aku yang suapin !" Ujar Kenan.
Diva kembali beranjak dari duduknya mendengar perkataan suaminya itu kemudian berjalan menghampirinya. Kenan langsung mengambil alih piring Diva, saat Diva sudah duduk di sampingnya.
"A' Yank !" Pinta Kenan menyodorkan sendok berisi makanan di depan mulut istrinya. Diva tersenyum lalu menurut membuka mulutnya.
Dengan telaten Kenan menyuapi istrinya, sesekali ia menyeka sisa makanan yang menempel di bibir Diva. Kenan tetap berusaha untuk memanjakan istrinya, walau hanya sekedar menyuapinya makan, karena saat ini hanya hal itu yang bisa ia lakukan. Kenan tau selama kehamilan Diva, Diva berubah sedikit manja, karena pengaruh hormon, tapi Diva tidak lagi menampakkan kemanjaan nya itu semenjak penyakitnya terkuak.
"Yank, Bunda kemana ?" Tanya Kenan di suapan terakhir Diva.
"Bunda pulang dulu ke apartemen, soalnya Ayah Fikram dan Bunda akan segera datang, tadi bunda tidak sempat pamit, karena Bunda pergi saat kamu kemo." Terang Diva setelah makanan di mulutnya sudah ia telan.
"Emangnya Kak Vara sudah keluar dari rumah sakit ?" Tanya kenan.
"Tiga hari yang lalu dia keluar, kan lahirannya normal, jadi pulihnya cepat, tapi Bunda sama Ayah baru bisa kesini karena Ayah ada pekerjaan yang harus ia selesaikan dulu." Ucap Diva menjelaskan.
Kenan hanya mengangguk, sambil melihat Diva sedang minum.
"Kamu kenapa liatin nya gitu amat by' ?" Tanya Diva saat selesai minum, karena ia lihat suaminya itu dari tadi menatapnya.
Diva tidak mengucapkan apa-apa untuk menanggapi ucapan Kenan, Diva malah mengambil piring bekas makannya dari tangan Kenan, kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ruang makan untuk mencuci piringnya, meninggalkan Kenan yang masih setia menatap punggungnya.
"Yank ... " Lirih Kenan saat melihat istrinya itu kembali dari ruangan makan.
"Lebih baik kamu istirahat by', dari tadi kamu belum istirahat !" Ujar Diva mendudukkan dirinya di sofa sambil memainkan ponselnya tanpa menoleh kearah Kenan.
"Yank, kamu marah ?" Tanya Kenan.
Diva segera menoleh kearah suaminya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"By', Berhenti selalu berbicara seperti itu, aku selalu menepati janjiku untuk tidak bersedih, tapi kamu sendiri yang selalu membuat aku tidak bisa untuk tidak bersedih." Diva menjedah ucapannya menghapus air matanya kasar yang tidak bisa lagi ia bendung.
"Apa kamu tahu by', dengan kamu berbicaralah seperti itu, aku merasa sangat sakit, merasa sangat takut jika kamu benar-benar akan meninggalkan kami." Ujar Diva terisak.
"Maaf ... Hanya kata maaf yang bisa Kenan ucapkan, Kenan juga merasa sangat sesak di dadanya melihat istrinya terisak seperti itu karena dirinya.
"Aku tidak butuh maaf kamu by', aku hanya butuh semangat kamu, apa gunanya aku selalu mendoakan kamu di setiap aku bersujud kepadanya (Allah) Jika kamu saja tidak punya sangat untuk berjuang, berjuang untuk sembuh, demi aku, calon anak kita dan juga orangtua kamu." Diva kembali berujar tapi kali ini ia tidak melihat kearah Kenan, malaikan keluar kearah jendela.
Kenan segera turun sambil membawa tiang infusnya, menghampiri Diva yang duduk terdiam dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Kenan duduk di depan kursi yang Diva duduki, kemudian meraih tangan istrinya itu mengenggamnya erat.
"Maaf, aku janji tidak akan membuat kamu bersedih, dan aku akan semangat untuk kesembuhan aku Yank, aku mohon jangan pernah lagi menangis seperti ini." Kenan ikut menangis menundukkan kepalanya di paha sang istri sambil mencium tangannya yang berada di pangkuan Diva.
Diva hanya mengangguk, kemudian mengusap kepala suaminya itu yang berada di pangkuannya.
"Lebih baik sekarang kamu kembali ke tempat tidur kamu by', kamu istirahat !" Ujar Diva lembut.
"Temanin !" Pinta kenan manja.
"Ayo..." Sahut Diva kemudian membantu Kenan untuk berdiri.
Mereka jalan beriringan menuju brankar Kenan, dengan Diva memegang tiang infus suaminya.
Mereka sudah berbaring saling memeluk, meluapkan kerinduan keduanya, memang setiap hari bertemu tapi tidak setiap hari mereka bisa seperti ini.
"Babynya nggak rewel lagi Yank, sepertinya akhir-akhir ini dia nggak pernah lagi minta yang aneh-aneh, dan susunya juga tidak harus aku yang buat ?" Tanya Kenan sambil mengusap perut buncit Diva.
"Sepertinya babynya ngerti kalau Ayahnya butuh banyak istirahat, dan butuh pengobatan intensif untuk kesembuhannya, babynya juga ingin Ayahnya segera sembuh, untuk menyambut kelahirannya nanti." Ucap Diva.
"Yank, aku minta maaf, jika ada keinginan kamu tapi aku tidak bisa memenuhinya." Sahut Kenan lalu mencium pucuk kepala Diva yang saat ini berbaring berbantalkan lengannya.
"Lagian aku juga tidak menginginkan apa-apa, yang saat ini aku inginkan adalah kesembuhan kamu by'. " Ujar Diva mendongak menatap wajah suaminya yang terlihat semakin kurus.
"Dan satu lagi, dengan kamu berada di samping aku, aku sudah merasa sangat bahagia." Lanjut Diva.
Kenan hanya tersenyum menanggapi penuturan Diva, kemudian mencium keningnya sekilas.
"Sebenarnya Ayah dan Bunda lah yang selalu memenuhi setiap keinginan akan kita by'." Batin Diva.
Selamat di Singapore Bunda Vivian selalu memasak berbagai macam masakan Indonesia, karena Diva selalu ingin memakan masakan itu, Bunda Vivian juga melihat YouTube untuk membuat makanan yang diinginkan Diva yang sama sekali tidak pernah ia masak sebelumnya. Dan Ayah Salman yang selalu menuruti permintaan aneh-aneh Diva, seperti Sebelum ayah Salman kembali ke Indonesia Diva tiba-tiba menginginkan burger yang di jual dekat dari apartemen mereka. Dan Ayah Salman terpaksa kembali ke sana untuk membelikan itu untuk menantunya, padahal waktu itu ayah Salman sudah berada dirumah sakit dan sedang buru-buru akan kebandara karena keberangkatannya sebentar lagi.
"Aku tahu Yank, Pasti banyak hal yang kamu inginkan, tapi terpaksa kamu pendam karena keadaan aku." Batin Kenan mendekap istrinya. Tak lama mereka pun terlelap.
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan kalian Like
Coment
Vote
Sarangheo ❤️❤️❤️
🙏🙏🙏🤗🤗🤗🤗