
"Terus apa hubungannya dengan saya om, jika om hanya ingin menunjukkan ini, saya rasa ini sudah cukup dan saya sudah sangat mengerti sampai disini, sekarang saya ingin pulang, bunda saya sudah pasti sangat mengkhawatirkan saya om." Ucap Kia ingin segera beranjak dari tempat tidur tersebut namun batu saja Kia ingin turun dari tempat tidur tiba-tiba Khay menariknya dan memeluknya sangat erat.
"Om, apa yang om lakukan, saya mengerti dengan Om ketika om melihat saya, om pasti teringat dengan almarhumah istri Om, tapi om harus sadar kalau saya dan istri Om adalah orang yang berbeda." Ucap Kia ingin melepaskan pelukan om Kavi, namu Kavi semakin mengeratkan pelukannya.
"Please jangan tinggalkan aku lagi Ki, om sadar kalau om tidak pantas dengan kamu yang masih sangat muda jauh dibawah om, tapi perlu kamu ketahui kalau om mulai mencintaimu, om sangat mencintaimu Ki." Ucap om Kavi dengan suara serak menahan tangisnya.
"Om, apa om sadar apa yang om katakan barusan, please om, lepaskan saya, saya berterimakasih karena om merasa mencintai saya, tapi menurut saa ini bukan cinta, ini hanya obsesi om, karena saya sangat mirip dengan almarhumah istri Om." Ucap Kia sudah tak memberontak lagi agar dilepaskan, namun Kia juga tak membalas pelukan dari om Kavi.
"Tidak Ki, awalnya om rasa ini hanya obsesi om, seprti yang kamu katakan barusan, tapi setelah berjalannya waktu om sadar kalau kamu bukanlah almarhumah istri Om, kamu adalah Kia dan akan tetap menjadi Kia yang aku kenal anak dari sahabat aku sendiri, dan aku benar-benar sudah yakin kalau aku benar-benar mencintaimu setelah kamu tidak lagi bekerja di tempat om." Jelas Kavi melepaskan pelukannya lalu beralih menangkup wajah mungil milik Kia.
"Maaf Om, tapi saya tidak bisa membalas perasaan om, karena saya tidak memiliki perasaan apapun terhadap om, selama ini saya hanya menganggap dan menghargai om sebagai paman saya, sekaligus sahabat dari ayah saya." Ucap Kia menurunkan tangan om Kavi dari wajahnya.
"Sekarang semuanya sudah jelas om, saya rasa tidak ada lagi yang harus di jelaskan, jadi saya mohon biarkan saya pulang, saya takut bunda dan ayah saya mengkhawatirkan ku." Ucap Enzy lagi setelah om Kavi hanya terdiam menunduk mendengar ucapan demi ucapan yang Kia sampaikan, hatinya benar dirasa sakit dan hancur untuk kedua kalinya, dengan wanita yang memiliki wajah yang sama, namun beda generasi.
"Baiklah, saya akan mengantarkan kamu pulang." Sahut om Kavi setelah cukup lama terdiam.
"Tidak perlu om, saya bisa bawah mobil sendiri." Tolak Kia.
"Pleaseee Ki, biarkan om mengantarmu pulang, om tidak ingin disangka oleh keluargamu sebagai pria yang tidak bertanggungjawab." Ucap om Kavi sedikit memaksa.
"Baiklah om." Sahut Kia.
Kavi mengeluarkan kunci kamar yang sejak tadi ia kantongi, lalu membuka pintu kamar, setelah pintu kamar terbuka keduanya pun keluar dan mulai menuruni anak tangga satu persatu tanpa ada lagi pembicaraan, Kia maupun Kavi sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Bi, tolong semua barang-barang yang ada dikamar itu, dibuang saja !" Seru Kavi datar lalu berjalan begitu saja melangkah keluar mengikuti Kia yang sudah jalan duluan, meninggalkan bi Sulfi kaget mendengar perintah majikannya itu. Sedangkan Kia merasa cuek saja mendengar perintah Kavi, ia tidak mau masuk dalam urusan om Kavi lagi.
...----------------...
Dalam perjalanan pulang menuju rumah kediaman keluarga Kia, hanya ada keheningan dalam mobil.
Setelah sekitar satu jam lebih akhirnya mobil yang dikendarai Kavi tiba dihalaman kediaman keluarga Kenan.
Baru saja Kavi akan turun dari mobil, mobil kenan juga memasuki halaman kediamannya, rahang Kenan mengeras saat melihat Kavi keluar dari mobil yang digunakan mang Diman untuk menjemput Kia.
Kenan dengan penuh emosi langsung turun dari mobilnya, dan tanpa aba-aba langsung menghajar wajah pria itu, membuat Kia yang melihat memekik keras, langsung berlari memeluk ayahnya, agar tidak lagi memukul Kavi.
"Yah, ayah hentikan yah, jaga emosi ayah, aku tidak ingin ayah mendapatkan masalah hanya karena masalah ini." Ucap Kia menangis memeluk erat ayahnya itu.
Kenan menarik nafasnya kasar menatap tajam pria di depannya, lalu membalas pelukan putrinya yang sudah ketakutan.
"Baiklah karena Anda sudah membawa putri saya kembali, lebih baik Anda pergi dari rumah kami." Ucap Kenan formal.
"Dan satu lagi, ini terakhir kalinya saya peringatkan buat Anda, jangan lagi-lagi coba-coba untuk mendekati putri saya, Anda tau sendiri apa akibatnya." Ancam Kenan penuh penekanan.
"Baiklah tuan, kalau begitu saya akan pergi, selamat tinggal." Ucap Kavi pergi meninggalkan kediaman Kenan, dengan jalan kaki keluar dari halaman tersebut, sambil menghubungi salah satu supirnya untuk menjemputnya.
"Sayang kamu tidak apa-apa kan ?" Tanya Kenan memeriksa tubuh putrinya itu.
"Saya tidak apa-apa kok Yah, kalau begitu aku pamit dulu ke kamar, aku udah capek banget." Pamit Kia langsung masuk mendahului kedua orangtuanya.
"Sudahlah Yah, kamu yang tenang, jaga emosional kamu." Ucap Diva mengusap dada suaminya itu lalu menuntunnya masuk kedalam rumah.
sedangkan Kenan hanya menganggukkan kepalanya.
...----------------...
Sementara Kavi memutuskan untuk kembali ke apartemennya, ia benar-benar merasa hancur kembali untuk yang kedua kalinya. Dalam perjalanan Kavi hanya terus memejamkan matanya mengingat apa yang telah terjadi hari ini, keadaannya terlihat sangat berantakan dengan sisa darah disudut bibirnya, bekas pukulan Kenan tadi.
"Tuan apa perlu kita mampir kerumah sakit dulu ?" Tanya sopirnya.
"Tidak perlu, langsung ke apartemen saja." Sahut Kavi tanpa membuka matanya.
Tanpa terasa air matanya tiba-tiba keluar begitu saja, saat mengingat kata-kata Enzy tadi.
"Maaf Om, saya tidak bisa membalas perasaan om, terimakasih karena sudah mencintai saya, tapi saya sungguh, selama ini saya hanya menggap dan menghargai om sebagai paman saya, dan sebagai sahabat ayah saya." Ucapan Kia terus terngiang di pikirannya, yang membuatnya sakit dan hancur.
Setelah sampai di apartemen, dengan langkah gontai Kavi langsung memasuki kamarnya, setibanya dikamar ia langsung merebahkan tubuhnya dengan tangan ia letakkan di atas kepalanya sambil memejamkan matanya.
Kavi bukan hanya memikirkan perasaannya, tapi ia juga memikirkan persahabatannya dengan Kenan yang sudah ia hancurkan karena telah salah mencintai dan menyukai seseorang.
"Maaf saya Nan, karena telah membuatmu kecewa, tapi saya tidak bisa menahan perasaanku terhadap putrimu, dan saya bertekad kuat membuktikan kalau saya pantas untuk putrimu." Ucap Kavi kemudian bangkit dari pembaringannya memikirkan cara agar Kia mau membalas perasaannya.
Bersambung.....
Terus pantengin ya readers, bagaimana kelanjutan ceritanya...
Terimakasih 🙏🙏🙏🙏