
Bunyi alarm membangunkan tidur lelap pasangan suami istri muda itu, yang masih asyik dengan hangatnya saling mendekap saling menghangatkan tubuh polos keduanya sisa permainan panas mereka semalaman.
Dengan perlahan Kenan meraih ponselnya yang sudah ia atur sebagai alarm.
Cuuuppp
Kenan mencium kening lalu turun ke bibir Diva yang masih malas-malasan untuk bangun, Diva masih setia memeluk tubuh suaminya itu.
"Morning Kiss yank." Ucap Kenan dengan senyum tampannya. Walaupun baru bangun tapi Kenan tetap terlihat tampan.
"Morning to by'." Balas Diva mengusap lembut rahang Kenan, lalu mencium sekilas bibir suaminya itu, baru saja Diva ingin menarik diri dari depan wajah Kenan, namun buru-buru Kenan menahan tengkuk Diva dan langsung membalikkan badannya menindih tubuh istrinya itu.
"Yank, sekali lagi yah, buat stok kangen kita !" Ucap Kenan meminta persetujuan Diva dan langsung di angguki tanda Diva setuju.
Tanpa menunggu lama lagi Kenan langsung melancarkan aksinya, mengulangi permainan panas mereka di pagi itu.
Setelah cukup lama akhirnya menyudahi permainannya setelah sama-sama mendapatkan kenikmatan dunia.
"Ayo cepetan bangun by', kita mandi." Ajak Diva segera turun dari tempat tidur, tidak lupa ia mengambil pakaian yang berada samping tempat tidur untuk ia pakai. Setelah itu ia bergegas masuk kamar mandi di ikuti Kenan.
Mereka mandi bersama untuk mempersingkat waktu, karena Diva harus segera berangkat kebandara.
Hari ini Diva akan kembali ke kota Z, Setelah satu minggu berada di kota Xx.
Setelah kira-kira 20 menit mereka sudah menyelesaikan acara mandinya, mereka hanya benar-benar sekedar mandi, karena Diva harus segera kebandara pesawatnya akan berangkat jam 10pagi, sedangkan sekarang sudah menunjukkan jam 8:30 pagi.
belum lagi perjalanan yang akan memakan waktu sekitar 45 lima menit.
Diva menyiapkan pakaian Kenan lalu mengemas barang yang penting yang akan dia bawa, Diva hanya membawa sepasang pakaian, dompet, camera dan juga paling penting ponselnya. Diva tidak hanya membawa tas ransel saja. karena setelah ujian atau pertunangan Ray dan Lani selesai, dia akan kembali ke kota Xx.
Diva berencana melanjutkan pendidikannya di kota Xx.
Sedangkan Kenan ia tidak berniat untuk melanjutkan pendidikannya, ia ingin fokus terlebih dahulu terhadap bisnisnya, toh tanpa dia melanjutkan pendidikannya dia bisa mengelola bisnisnya dengan baik. Buktinya saja dia masih berstatus pelajar saja dia sudah bisa mengelola bisnisnya dengan sangat baik dan terbilang sangat sukses.
"By', ayo kita berangkat !" Ajak Diva setelah dia sudah berpakaian.
"Ayo.." Sahut Kenan beranjak dari sofa karena ia dari tadi telah siap.
Keduanya pun langsung turun kebawah, rumah besar itu tampak sepi karena ayah Salman dan Bunda Vivian, sedang keluar negri melakukan perjalanan bisnis. Ayah Salman memang selalu mengajak istrinya jika melakukan perjalanan bisnis keluar negeri apalagi jika harus tinggal berhari-hari, dengan alasan tidak ada yang menyiapkan perlengkapan nya, dan juga tentu saja tidak bisa lama-lama berjauhan dengan istrinya.
Jadi jangan heran jika Kenan memiliki tingkat kebucinan yang tinggi, mungkin turunan dari sang Ayah.
Di dalam perjalanan Kenan terus menggenggam tangan kiri Diva, sedangkan Diva sibuk menyuapi Kenan bergantian dengan dirinya. Mereka tidak sempat untuk sarapan jadilah Diva meminta kepada by'Ati untuk menyiapkan kotak makanan untuk ia makan dimobil.
Kenan meminta pak Urip untuk mengantarkan mereka ke bandara, Kenan ingin menikmati kebersamaannya dengan sang istri lebih lama lagi, sebelum mereka terpisah untuk beberapa hari kedepan.
"Yank, setelah ujian nanti ayah mengajak kita keluar negeri untuk liburan keluarga. Ujar Kenan saat mereka selesai dengan makanannya.
"Emangnya kita mau ke mana by'?" Tanya Diva menoleh kearah sang suami.
"Kurang tau juga sih Yank, semua sudah di atur ayah." Jawab Kenan membersihkan sisa air minum di bibir Diva.
Setelah, 40 Menit mobil mereka tiba di bandara. Tentu saja Kenan mengantarkan Diva sampai terminal keberangkatan. Dan 15 menit lagi pesawat Diva akan berangkat.
"Yank kamu harus hati-hati, kabari aku setelah kamu sampai." Ujar Kenan menarik istrinya masuk kedalam pelukannya.
"Iya, kamu juga by', kamu juga jaga kesehatan, jangan terlalu sibuk bekerja, aku perhatikan kamu kurusan loh by' ." Diva mengingatkan suaminya itu, karena beberapa hari ini Kenan memang sibuk di office, dan terlihat sedang tidak sehat.
"Iya, Setelah ujian selesai aku akan segera menyusul." Ucap Kenan melepaskan pelukannya, lalu mencium kening istrinya.
Diva hanya mengangguk " Ingat by', jangan genit-genit !" Ucap Diva meraih tangan kanan Kenan lalu mencium punggung tangan suaminya itu.
"Mana bisa aku genit, kalau istri aku cantik gini yank." Sahut Kenan.
"Ya sudah aku masuk dulu by'..." Ucap Diva lalu berjalan masuk ke bagian keberangkatan menuju kota Z, sambil melambaikan tangannya, dan dibalas kiss bay oleh Kenan. Setelah Diva tak terlihat, Kenan segera keluar menuju parkiran dimana pak Urip menunggunya.
Baru saja sampai di loby, tiba-tiba seseorang menepuk punggungnya dari belakang.
Kenan langsung menoleh karena kaget, saat melihat siapa orang tersebut langsung menatapnya datar, kemudian kembali berbalik melanjutkan langkahnya.
"Woii Sahabat Laknat lu, main ninggalin aja." Teriak Ray, kemudian mengikuti langkah Kenan.
Orang yang menepuk Kenan dari belakang, ialah Ray, yang baru saja tiba dari kota Z.
Kenan hanya mengangguk kemudian balik bertanya.
"Baru sampai lu ?"
"Iya, soalnya di sana gue sibuk ngurusin acara pertunangan gue yang seminggu lagi." Jawab Ray.
"Nggak nanya." Ujar Kenan.
"Ka***t lu, gini amat gue punya sahabat." Geram Ray.
"Terus tadi itu apa kalau lu tidak nanya Bambang." Ucap Ray kesal sambil mengeratkan giginya.
"Gue hanya tanya baru Samapi ke elu, gue nggak nanya kesibukan elu di sana." Ujar Kenan datar terus berjalan, tanpa menoleh kepada sahabatnya yang tengah kesal.
"Untung gue takut di penjara seumur hidup, kalau kagak, udah gue mutilasi lu, terus gue masukan ke kardus lalu gue kirim ke akhirat." Ray sudah sangat kesal dan dia tak habis pikir kenapa juga dia ketemu sahabat seperti itu.
Kenan dan Ray langsung masuk ke mobil saat ia sampai di parkiran dimana pak Urip memarkirkan mobilnya yang jaraknya agak jauh dari loby.
"Langsung pulang den ?" Tanya pak Urip saat mereka sudah siap di tempat duduk masing-masing, Ray duduk di samping pak Urip, sedangkan Kenan duduk di jok belakang.
"Kita antar Ray dulu pak." Sahut Kenan duduk bersandar memejamkan matanya.
"Nggak usah Pak, saya ikut pulang kalian saja." Buru-buru Ray angkat bicara, ia melihat sahabatnya itu kurang sehat, dan ia tau kalau otangtua Kenan sedang tidak berada dirumah.
Kenan tidak lagi bersuara, ia lebih memilih untuk memejamkan mata.
Dalam perjalanan Ray sesekali berbalik kebelakang melihat keadaan Kenan, Ray merasa kalau sahabatnya itu kurang sehat, terlihat dari wajahnya yang pucat.
Saat lama perjalanan dari bandara akhirnya mobil yang dikendarai pak Urip tiba di kediaman mewah keluarga Salman.
Kenan dan Ray langsung turun, saat mobil berhenti di garasi, keduanya masuk lewat pintu garasi yang langsung tembus di dekat tangga menuju lantai dua.
"Gue masuk kamar dulu." Ujar Kenan kepada Ray dan diangguki Ray.
Baru saja Kenan menapaki tiga gundukan anak tangga, tiba-tiba saja Kenan terjatuh, untung saja Ray dengan sigap menahan tubuh Kenan, jadi Kenan tidak langsung terjatuh.
"Lu sakit ?" Tanya Ray khawatir.
"Kepala gue sedikit sakit, bentar juga sembuh." Jawab Kenan sambil berpegangan di sisi tangga.
"Gue antar ke kamar ." Ucap Ray langsung merangkulkan lengan dan Kenan ke lehernya, dan membantunya menaiki tangga menuju kamarnya.
"Gue antar elu kerumah sakit, muka elu pucat banget Nan." Ajak Ray setelah sampai dikamar Kenan, kemudian membantu Kenan bersandar di kepala tempat tidur, yang sebelumnya bantal ia tumpuk agar membuat Kenan lebih nyaman.
"Nggak perlu Ray, mungkin gue kecapekan doang, akhir-akhir ini pekerjaan gue banyak banget." Ucap Kenan memperbaiki kembali posisinya.
" Thanks ya bro." Ucap Kenan.
"Nggak usah terimah kasih, seperti sama orang lain saja lu, gue ini sahabat lu, kalau lu lupa, walaupun sering lu kagak ada akhlak sama gue, tapi lu tetap sahabat terbaik gue." Ucap Ray.
"Ya sudah, keluar sana gue mau istirahat." Usir Kenan.
"Iya...iya... Kalau ada apa-apa panggil gue." Ray langsung keluar dari kamar Kenan.
"Kenapa sebulan terakhir ini kepala gue sering sakit, tapi baru kali ini gue nggak bisa lagi menahannya." Gumam Kenan saat merasa sakit kepalanya kembali menyerang.
Kenan mencoba untuk berjalan ke arah laci yang berada tak jauh dari sofa, untuk mengambil obat penghilang rasa sakit, namun baru melangkah beberapa langkah, kesadaran Kenan menghilang dan jatuh kelantai tak sadarkan diri.
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan jejak
Like
Coment
Vote
🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️