
Priska masuk ke rumah, langsung berlalu ke kamar Khay, setelah ia di beritahu oleh BI Lilis kalau Khay sedang berada di kamar, karena Priska sudah cukup dekat dengan keluarga Khay, dan juga sudah sangat di kenal oleh para pekerja di rumah tersebut, maka dari itu Priska di biarkan saja masuk untuk menemui Khay.
"Khay..." Pekik Priska melihat keadaan Khay begitu menyedihkan, Khay duduk dilantai sambil bersandar di tempat tidur, dengan menopang kepalanya di atas lututnya.
"Khay, sekarang kamu tenang dulu !" Seru Priska ikut duduk di samping Khay, lalu mengusap punggung pria itu.
"Tinggalkan gue sendiri Pris, gue mau sendiri dulu, gue gak mau diganggu !" Ucao Khay masih tetap pada posisinya.
Priska terlihah mengehembuskan nafasnya.
"Baiklah Khay, gue akan pergi, jika kau butuh seseorang hubungi gue !" Ucap Priska lalu beranjak.
Khay tak lagi bersuara menanggapi perkataan wanita itu, karena tak ada tanggapan Priska keluar dari kamar tersebut.
...----------------...
Jam 1 dini hari di kota Z.
Kenan dan Diva terlelap, mungkin karena kelelahan karena acara lamaran Zia pagi hingga sore tadi.
"By', bangun by', sepertinya ada seseorang yang menekan bell diluar." Diva yang mendengar seseorang terus membunyikan bell membangunkan suaminya yang terlelap sambil memeluknya.
"Emm...apa sih Yank, gak usah dihiraukan, mungkin saja itu orang iseng." Sahut Kenan masih memejamkan matanya, lalu semakin mengeratkan pelukannya.
Diva mengikuti perkataan suaminya, kemudian kembali memejamkan matanya, namun baru saja memejamkan matanya kembali suara bel kembali berbunyi.
"By', buruan gih buka pintunya, siapa tau aja itu penting." Ucap Diva kembali m membangunkan Kenan melepaskan pelukan pria itu dari atas perutnya.
Kenan membuka matanya, lalu beranjak sambil menggerutu kesal.
"Siapa sih yang datang bertamu di saat tengah malam begini." Gerutunya keluar dari kamar di ikuti Diva dari belakang.
...----------------...
Saat membuka pintu Kenan dan Diva dikejutkan dengan kedatangan Khay yang terlihat begitu hancur, mata yang sembab karena menangis, bahkan baju serta rambut yang acak-acakan.
"Khay, ada apa denganmu ? Apa yang terjadi ?" Tanya Kenan masih berdiri diambang pintu.
"Bang, apa yang terjadi ? Lalu Enzy dimana ?" Diva pun mulai panik dan khawatir, sambil melihat ke arah luar, berharap disana ada menantunya.
Tanpa menjawab pertanyaan dari kedua orangtuanya, Khay menjatuhkan dirinya begitu saja, karena Khay juga sudah merasa sangat kelelahan sejak tadi ia terus berkeliling kota Xx mencari keberadaan istrinya namun gagal ia dapatkan, bahkan Rendra dan Nendra tidak mengetahui keberadaan Enzy, begitupun di kediaman mendiang orangtua Enzy di kota Z, istrinya juga tak ada disana.
Jika saja Kenan tak sigap menahan tubuh putranya Khay sudah terjatuh dilantai, Kenan kemudian membawa Khay duduk di sofa yang ada diruang tamu, sedangkan Diva berjalan ke dapur untuk mengambilkan air minum untuk putranya.
"Khay, Hay bang, apa masalahnya ? Apa yang telah terjadi ?" Kenan membalas pelukan Khay yang memeluknya sangat erat sambil membenamkan wajahnya di dada ayahnya itu.
"Sakit yah, hati aku sungguh sakit, Enzy pergi, dia ninggalin aku sendirian yah." Ucap Khay sambil menangis.
"Sekarang kamu tenang ya !" Ucap Kenan mengusap punggung Khay, ia merasa kasihan melihat putranya menangis seperti itu.
"Yah, aku telah dijebak, sampai Enzy salah paham dan pergi meninggalkan aku yah, dia pergi bersama calon anakku yah." Adu Khay masih terus terisak.
"Siapa yang berani berbuat seperti itu, ceritakan semuanya pada ayah !"
Khay pun menceritakan semua kejadian siang tadi, sampai Enzy meninggalkannya.
"Tidak apa-apa bang, kamu tidak salah, sekarang tenangkan dirimu, ayah tidak ingin melihatmu menjadi pria cengeng dan lemah seperti ini, besok kita akan kembali ke kota Xx, kita urus semuanya ok, kamu tidak perlu khawatir !" Ujar Kenan sambil mengepalkan tangannya.
"Yah, aku sangat mencintainya, kenapa dia pergi yah, padahal Enzy tahu sendiri kalau aku ini dijebak."
"Sudah ya bang, sekarang kamu tenang dulu, besok ayah akan membantumu untuk mencari istrimu, bunda yakin, Enzy tidak akan melakukan hal-hal seperti itu, hanya saja dia sedang mengandung, emosinya sulit ia kontrol, jadi sekarang kamu istrirahat dulu ya sayang." Ucap Diva ikut duduk disamping putranya itu sambil mengusap punggungnya.
"Tapi Bun, aku tidak bisa jauh darinya, aku merindukannya Bun, bagaimana jika dia benar-benar meninggalkanku ?" Khay beralih menatap bundanya setelah melepaskan pelukan ayahnya.
"Tidak sayang, percaya sama bunda Enzy tidak akan meninggalkanmu." Sahut Diva meraih putranya itu lalu memeluknya, Khay benar-benar hancur.
Tak lama opa Salman dan Oma Vivian keluar di ikuti Kia dibelakang mereka karena mendengar keributan dibawah.
"Khay ?
"Bang ?
Ucap opa Salman, Oma Vivian juga Kia hampir bersamaan.
"Aoa yang terjadi, kenapa kamu terlihat seperti ini ?" Tanya opa Salman berjalan ke arah sofa di depan Kenan, Khay dan Diva sedang duduk.
"Lalu, Enzy dimana sekarang ?" Tanya opa Salman.
"Tidak tahu opa, aku sudah mencarinya kemana-mana, tapi aku tidak menemukannya." Jawab Khay.
"Yah, Bun, dek, besok ayah harus kembali ke kota Xx, untuk mengurus masalah ini." Ucap Kenan pada kedua orangtuanya juga pada putrinya.
"Iya yah." Sahut Kia.
"Baiklah, dan Khay opa harap kamu jangan cengeng dan terlihah lemah seperti ini, opa rasa kamu sudah cukup dewasa untuk bersikap tegas, apapun masalahmu cobalah selesaikan dengan kepala dan pikiran yang dingin, jangan hanya menangis seperti ini !!" Seru opa Salman pada cucu laki-lakinya itu.
"Iya Opa." Sahut Khay masih memeluk bundanya.
"Sikap kamu itu bukanlah sikap laki-laki sejati bang, opa harap kamu bisa merubahnya." Ucap opa Salman jengah melihat cucunya itu masih saja bergelayut pada kedua orangtuanya.
"Dan kamu Nan, jangan biasakan sikap manja putramu, dan berhentilah memanjakannya juga !" Tambah opa Salman beralih pada Kenan.
Opa Salman memang tak pernah menyetujui dan menyukai sikap manja Khay yang berlebihan pada orangtuanya, sehingga anak itu terbiasa tergantung pada orangtuanya terutama pada ayahnya.
...----------------...
Semenjak tiba di kota Xx, Khay masih saja murung memikirkan keberadaan Enzy yang masih saja belum ia temukan, membuat Khay kesal karena sikap Khay itu.
Khay duduk di pinggiran kolam renang sambil menurunkan kakinya kedalam kolam. saat asik sedang melamun menatap lurus kedepan, tiba-tiba lamunannya buyar karena deringan ponselnya yang ia letakkan disampingnya, tertera nama Priska disana. Khay mengambil ponselnya, Khay menghembuskan nafas lelahnya melihat nama yang tertera disana, lagi-lagi nama yang diharapkan tak kunjung menghubunginya.
Khay kembali meletakkan ponselnya menghiraukan panggilan dari sahabatnya itu, sampai deringan yang ketiga kalinya ponselnya tak lagi berbunyi.
Khay meraih ponselnya, memeriksa semua pesan yang dikirimkan untuk istrinya tak kunjung mendapat balasan.
Khay kembali mengirimkan pesan untuk Enzy, terlihat Enzy sudah melihat pesan yang ia kirim, namun tak beberapa lama Khay mendapat pemberitahuan bahwa Enzy telah memblokir nomernya.
Khay tertawa remeh, melihat itu.
"Apa segitu marahnya kamu kepadaku, sampai kamu tidak ingin berkomunikasi lagi denganku ?" Ucap Khay sambil terus memperhatikan layar ponselnya.
"Aku akan membiarkanmu melakukan apa yang kamu mau, aku akan membiarkanmu menghinaku, mangataiku, bahkan jika kamu ingin memukulku, maka lakukanlah, tapi tolong kamu kembalilah padaku." Ucap Khay kembali mengeluarkan air matanya.
Kemudian Khay melemparkan ponselnya masuk kedalam kolam.
"Dasar bodoh, dasar lemah kau, Khay !" Seru Khay, kemudian menundukkan wajahnya melihat kearah bawah kolam, bahunya bergetar karena menangis, namun tak mengeluarkan suaranya.
"Bang...." Panggil Kenan kemudian ikut duduk di samping putranya, ikut menurunkan kakinya kedalam kolam, sebelumnya Kenan menggulung celana bahannya sampai ke lututnya agar tak basa, Kenan masih terlihat mengenakan kemeja kerjanya dengan dasi yang masih melekat di lehernya.
"Ayah...." Khay menoleh kepada ayahnya, dengan mata kembali berkaca-kaca.
Kenan menarik kepala Khay lalu menyandarkan kepala putranya itu pada bahunya.
"Tidak apa-apa bang, tidak masalah." Ucap Kenan mengusap punggung Khay.
"Jika kau ingin menangis, maka menangis lah ! Ayah akan selalu ada buat kamu !" Seru Kenan.
Khay kemudian memeluk erat tubuh ayahnya, sambil terisak, begitupun dengan Kenan masih berusaha menenangkan putranya itu, Kenan benar-benar merasa sangat prihatin dengan keadaan putranya, ia pernah ada di posisi itu, dimana saat Diva meninggalkannya, namun bedanya itu semua karena kesalahannya sendiri.
"Yah, aku pria yang cengeng juga lemah yah, aku tidak bisa menjaga istriku sendiri, sampai dia pergi meninggalkanku, aku benar-benar bukan pria sejati." Ucap Khay frustasi.
"Tidak bang, kamu pria hebat hanya saja kamu belum terlalu berpikiran jauh kedepan saat ada masalah, tapi ayah yakin dan percaya kamu bisa mengatasinya." Ucap Kenan menyemangati.
"Jika sudah lebih baik, sekarang istrirahat lah !" Seru Kenan kemudian.
"Tidak yah, aku masih ingat disini." Sahut Khay.
"Tapi bang....
"Yah, please, aku ingin disini dulu, saya ingin menenangkan pikiranku." Sela Khay.
"Ya sudah, kalau begitu ayah ke depan dulu ya, jangan lama-lama tinggal disini." Ujar Kenan kemudian beranjak.
Bersambung...........
Jangan lupa terus berikan LIKE, jika layak diberikan LIKE menurut kalian, dan juga KOMENTAR, jika ada saran ataupun masukkan dari kalian, dan juga menurut perasaan readers mengenai episode ini, Dan satu lagi VOTE jangan lupa jika memang pantas bisa untuk diberikan VOTE....
...TERIMAKASIH...
...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...