
Setibanya di rumah Opa Salman dan Opa Fikram yang sedang duduk bersantai di halaman depan rumah sambil menikmati secangkir kopi, kaget melihat kedatangan Raydan dan Kia yang katanya akan joging di taman kota yang cukup jauh dari kompleks perumahan mereka.
"Ehhh bang, dek kok udah pulang, cepat amat ?" Tanya opa Fikram kepada Raydan dan Kia yang ikut bergabung dengan mereka.
"Terus tuh bunga dari mana ?" Timpal opa Salman melihat buket bunga yang dibawah Kia.
"Iya opa kita gak jadi jongin, tiba-tiba tadi temen aku nelpon, katanya mereka akan datang kerumah, lagian sepertinya kita juga udah kesiangan."Jawab Raydan beralasan.
"Terus itu bunga, gak tahu tadi pak satpam didepan memberikan itu, katanya untuk Kia." Lanjut Raydan dan kali ini ia berkata jujur.
"Emmm, Emang dari siapa ?" Tanya opa Salman menyelidik.
"Gak tahu juga opa, gak ada nama pengirimnya." Sahut Kia masih berdiri di dekat opa Fikram.
"Lain kali kalau gak ada nama pengirimnya, gak usah diterima !" Seru opa Salman lagi.
"Iya opa, ini juga mau aku buang." Sahut Kia.
"Oh iya Opa, Oma Hani mana ?" Tanya Kia pada opa Fikram.
"Ada apa sayang, Oma disini." Tiba-tiba kedua omanya itu keluar membawa beberapa cemilan di tangan masing-masing.
"Aku kangen." Ucap Kia manja langsung menghampiri omanya itu sambil bergelayut manja di lengan Oma Hani.
"Oma juga kangen, lagian kamu gak pernah pergi kerumah Oma, lagian Deket kan, jalan kaki aja juga sudah bisa sampai." Ucap Oma Hani kemudian meletakkan nampan yang ia bawah, lalu mencium kening cucu perempuannya itu.
"Heheh, maaf Oma, lagian aku sibuk, banyak tugas disekolah, akukan siswa baru jadi harus mengejar nilai yang terlewat." Jawab Kia masih memeluk lengan omanya itu.
"Alasan, bilang aja kamu sibuk sama motor-motor kamu." Oma Hani pura-pura merajuk sambil mendudukkan dirinya di kursi sebelah suaminya, begitupun dengan Oma Vivian sudah duduk lebih dulu di sebelah suaminya juga. sedangkan Kia memeluk masih memeluk Oma Hani dari belakang sambil berdiri.
"Ya sudah Oma-Oma, Opa-opa Raydan pamit dulu, aku mau pulang kerumah papi mami, sebentar lagi teman-teman aku mungkin sampai disana." Pamit Raydan mencium punggung tangan kedua opa dan omanya, kemudian beralih mengacak rambut Kia membuat Kia memekik kesal.
Setelah kepergian Raydan mereka pun melanjutkan obrolan mereka sambil bercanda.
...----------------...
Di sisi lain Kavi baru saja keluar dari hotel, setelah tadi pagi-pagi sekali menitipkan bunga di pos satpam rumah opa Salman untuk Kia, ia kembali ke hotel untuk mengganti pakaiannya juga sarapan.
Hari ini Kavi berencana untuk kembali menemui gadis pujaannya, ia gak peduli akan mendapatkan amukan dari keluarga Kia.
Sekitar dua puluh menit, mobil yang dikendarai Kavi tiba di depan gerbang hitam yang menjulang tinggi, hingga tak menampakkan rumah besar didalamnya.
"Maaf tuan, tuan ingin bertemu dengan siapa ?" Tanya pak satpam.
"Saya ingin bertemu dengan pemilik rumah ini pak, apakah saya bisa masuk ?" Jawab Kavi kemudian balik bertanya.
"Maksud tuan pak Salman ?" Tanya pak satpam tersebut dan langsung di angguki Kavi.
"Betul pak, saya ada hal yang ingin saya sampaikan." Alasan Kavi.
"Tunggu sebentar ya tuan, saya memberitahu tuan dulu !" Seru pak satpam itu kemudian kembali masuk ke posnya, menghubungi lewat telpon yang ada disana. Tak lama pak satpam tadi kembali.
"Silahkan masuk tuan !" Serunya kemudian membukakan pintu gerbang, agar mobil Kavi bisa masuk.
"Terimakasih pak." Ucap Kavi tersenyum ramah, sambil membunyikan klakson mobilnya saat melewati gerbang.
Kavi langsung turun dari mobilnya, menarik nafas dalam-dalam kemudian melangkahkan masuk ke depan pintu bercat hitam tersebut.
"Ting....Tong....
Kavi menekan bel rumah tersebut, tak lama seorang datang membuka pintu, yang diyakini Kavi adalah pekerja dirumah tersebut.
"Maaf tuan mencari siapa ?" Tanya bibi tersebut.
"Saya ingin menemui tuan Salman bi, saya sudah di ijinkan masuk oleh beliau tadi." Terang Kavi.
"Oh... Silahkan masuk tuan !" Ucap bibi tersebut mempersilahkan Kavi duduk.
"Terimakasih bi." Ucap Kavi kemudian masuk.
"Silahkan duduk dulu tuan ! Saya akan memanggilkan tuan Salman." Seru bibi mempersilakan Kavi untuk duduk di sofa yang ada diruang tamu tersebut.
Kavi mendudukkan dirinya disana, sambil menunggu kedatangan tuan rumah, walaupun sebenarnya yang ingin ia temui adalah cucu dari pemilik rumah tersebut, tapi alangkah tidak baiknya dan dinilai kurang sopan jika ia langsung menemui gadis pujaannya tanpa meminta persetujuan dari sang opa.
"Oh, ternyata kamu nak Kavi ?" Ucap pak Salman yang datang dari arah dalam rumah.
Kavi berdiri langsung menyalimi tangan pria paru baya tersebut.
"Iya Om, maaf jika kedatangan saya mengganggu waktu Om." Ujar Kavi sopan.
"Iya tidak apa-apa, silahkan duduk !" Sahut opa Salman kembali mempersilahkan Kavi untuk duduk.
Kavi kembali mendudukkan dirinya ditempat yang tadi, di ikuti opa Salman duduk di hadapannya.
"Apa kabar nak Kavi, sepertinya sudah lama ya kita gak bertemu ?" Tanya opa Salman mencoba berbasa-basi.
"Alhamdulillah saya baik-baik saja om, om sama tante sendiri bagaimana ?" Jawab Kavi kemudian balik bertanya.
"Seperti yang kamu liat, om dan tante baik." Sahut opa Salman.
"Nak Kavi." Ucap Oma Vivian kemudian mendudukkan dirinya disamping suaminya.
"Iya Tante, ini saya." Sahut Kavi kemudian menyalimi tangan wanita paruh baya itu.
"Ada apa nak, tumben kamu datang kesini ?" Tanya Oma Vivian tersenyum khas wanita itu.
"Emm....begini tante..." Kavi terlihah gugup dan ragu untuk menyampaikan maksud kedatangannya.
"Ada apa nak, apa kamu ingin menemui Kia ?" Tebak opa Salman membuat Kavi langsung melihat ke arah pria dihadapannya itu.
"Iy...iya om... Apakah saya bisa menemuinya ?" Tanya Kavi gugup.
"Bisa, Bun, tolong panggilkan Kia kesini !" Jawab opa Salman, kemudian beralih pada istrinya.
"Iya, tunggu sebentar ya nak Kavi !" Seru Oma Vivian kemudian beranjak dari duduknya lalu masuk kedalam.
Tak lama Oma Vivian kembali, namun tak ada Kia yang ikut bersamanya.
"Bun, dedek mana ?" Tanya pak Salman.
"Dia tak ada dikamarnya, sepertinya dia ada di garasinya." Jawab Oma Vivian mencoba untuk menebak keberadaan cucu perempuannya itu.
"Garasi ?" Tanya Kavi.
"Iya, Kia kalau lagi libur atau sepulang sekolah kalau gak istrirahat dikamar, ya pasti lagi di garasi, apa nak Kavi tak melihatnya di depa dekat pintu gerbang tadi ?" Jelas Oma Vivian.
"Tidak tante, saya tidak memperhatikannya." Jawab Kavi.
"Tunggu saja ! Saya sudah menyuruh bi Lastri kok untuk memanggilnya." Seru Oma Vivian.
Tak lama Kia pun masuk, dengan penampilan berantakan, ada beberapa bagian wajahnya juga lengannya menghitam akibat belas oli yang menempel. Kia tak memperhatikan siapa yang datang, sampai Omanya menyuruhnya untuk masuk.
"Ada apa Oma, aku lagi sibuk ?" Tanya Kia sedikit kesal.
"Astaga dek, kamu itu cewek loh, kenapa penampilan kamu seperti ini." Keluh Oma Vivian melihat penampilan cucunya itu.
"Ckk Oma, ini tuh udah biasa, lagian ada apasih, manggil aku, ada yang penting ?" Decak Kia Kemudian bertanya.
"Tuh ada orang yang ingin menemui mu !" Tunjuk Oma Vivian kepada pria dihadapannya.
Kia menoleh mengikuti arah tunjuk omanya, dan Kia langsung membelalakkan matanya melihat siapa orang yang saat ini berada di dekatnya sambil tersenyum manis kepadanya.
"O...Om...Kavi, ngapain om kesini ?" Tanya Kia masih dalam keterkejutannya.
"Aku ingin menemuimu." Jawab Kavi santai.
Kia beralih menatap opa dan omanya.
"Iya, Opa izinkan, opa bukan ayahmu yang terlalu bersikap berlebihan, sekarang kamu bersihkan badan kamu itu, kemudian kembali lagi kesini, sepertinya nak Kavi ada yang ingin dibicarakan denganmu !!" Ujar opa Salman.
"Tapi opa, ak...."
"Gak ada tapi-tapian dek, sekarang kamu bersihkan badan kamu, jangan selalu menghindar, selesaikan masalahmu dengan baik-baik, dan kami selalu mendukung apapun keputusan kamu kedepannya, apapun itu, kamu gak perlu memikirkan ayahmu !!" Opa Salman menyela perkataan cucunya itu.
"Maksud opa apaansih, lagian menurut aku tidak ada lagi yang perlu dibicarakan." Ucap Kia ingin segera kembali ke garasinya, namun dengan cepat opa Salman berucap.
"Kia, apa ini yang di ajarkan kepada ayahmu, hah ?" Ucap opa Salman terdengar dingin dengan menaikkan suaranya sedikit lebih tinggi, bahkan terlihat jelas diwajahnya kalau ia sedang serius dan tak ingin dibantah.
Kia yang mendengar itu mengentikan langkahnya, baru kali ini ia mendengar nada bicara opanya seperti itu.
"Baik opa." Ucap Kia menundukkan wajahnya kemudian pergi ke kamarnya.
"Ayah terlalu berlebihan." Ucap Oma Vivian kepada suaminya.
"Sesekali kita harus tegas, dan sampai kapan ia terus lari seperti ini, aku gak habis dengan jalan pikiran Kenan, seperti dia gak pernahuda saja." Ucap opa Salman kesal.
"Mungkin dia ada alasannya bersikap seperti itu yah, lebih baik ayah tenang, jangan marah-marah seperti ini, nanti darah tinggi kamu naik." Ucap Oma Vivian menenangkan.
"Belain aja terus anak kamu itu, sepertinya Kenan tidak lagi menggunakan otaknya, dia selalu bertindak seenaknya, tidak memikirkan kedepannya, apa dia bertanya pada putrinya bagaimana perasaannya, apa yang dirasakannya." Ucap opa Salman masih kesal, sedangkan Kavi hanya diam, sedikit merasa tak enak karena kedatangannya membuat ketenangan di keluarga ini sedikit terganggu.
Oma Vivian pun akhirnya juga diam, memikirkan perkataan suaminya, yang memang benar.
Bersambung.......
Jangan lupa LIKE, KOMEN dan VOTE.....
Mampir juga yuk ke cerita baru aku yang akan rilis awal Mey tepatnya tanggal 1 Mey berjudul DENDAM MEMBAWAH CINTA.....
cuvernya sudah aku ganti ya, bukan lagi yang pernah saya up di episode sebelumnya, kini covernya berubah seperti ini....
...TERIMAKASIH...
...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...