Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
Om-Om Itu suamiku Part 06 (PYTK Next Generasi)


Assalamualaikum para readers setiaku, sebelum melanjutkan ceritaku terlebih dahulu aku ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya, karena baru bisa up lagi, karena suatu dan lain hal, salah satunya aku sempat ingin melanjutkan di flaterom lain, tapi setelah aku pertimbangkan, ada baiknya aku tetap melanjutkannya di lapak ini, maaf jika aku terkesan sangat plin plan, tapi begitulah, maaf aku tidak bisa memberikan alasan lebih jelasnya, dan satu lagi aku sempat fakum juga buat nulisnya beberapa bulan terakhir ini, karena alasan kesehatan, Alhamdulillah tahun ini aku kembali di beri kepercayaan kepada Allah untuk memiliki momongan lagi, karena itu aku fakum menulis, dikarenakan mungkin efek kehamilan kesehatan aku sedikit terganggu dan butuh istirahat yang cukup dan tidak boleh banyak berpikir apalagi sampai stres.....


Aku sebagai author yang masih amatiran ini mohon sangat pengertiannya, dan juga dengan lancangnya meminta doa dari Kalian, agar aku dan calon anak aku tetap diberi kesehatan hingga persalinan nanti 🙏🙏🙏🙏


Happy Reading......


Mobil yang dikendarai Kavi memasuki pelataran rumah milik keluarga mertuanya, dimana saat ini ia tinggal.


"Sayang....Hay kita sudah sampai." Kavi mengelus pipi chubby milik Kia, berharap wanita itu terbangun dari tidurnya.


Kavi tersenyum sambil menggeleng melihat betapa nyenyaknya tidur istrinya itu, mungkin dia kelelahan, pikir Kavi.


kemudian Kavi keluar dari mobil terlebih dahulu, ia tidak tega membangunkan istrinya itu, terlebih dahulu Kavi melepaskan seat belt milik Kia, lalu menggendong tubuh itu dengan sangat hati-hati takut mengganggu atau membangunkannya.


Kavi membawa tubuh istri kecilnya itu masuk ke dalam rumah ala bridal style.


"Eh... Kav, itu Kia kenapa ?" Kaget Diva melihat keadaan Kia yang berada dalam gendongan Kavi.


"Gak apa-apa Bun, mungkin hanya kecapean saja, sampai ketiduran di mobil." Jelas Kavi menjelaskan karena melihat raut kekhawatiran di wajah mertuanya itu.


"Astagafirullah anak ini, masih saja seperti itu, jika sudah tidur tidak tahu tempat, apalagi sangat susah di bangunin." Ucap Diva.


"Ya sudah, lebih baik bawah ke kamar aja langsung, apalagi dengan hamil seperti itu, pasti berat." Lanjut Diva yang di angguki Kavi kemudian.


"Kalau begitu aku ke kamar dulu Bun." Pamit Kavi langsung membawa Kia ke kamarnya, karena ia juga sudah merasa pegal karena membawa tubuh istrinya yang berat badannya sudah naik drastis karena kehamilannya.


...****************...


Setelah makan malam Kenan, Diva beserta anak dan menantunya berkumpul di ruang tengah seperti biasa, hanya kurang khay dan Enzy anak pertama dan menantu perempuannya yang tidak ada.


"Kav, dengar-dengar di mall tadi kamu buat keributan ?" Tanya Kenan, sepertinya pria itu sudah mendengar berita soal kejadian di pusat perbelanjaan tadi mengenai putrinya, dan tindakan yang di lakukan Kavi menantunya itu.


"Benar Yah, aku melakukan itu karena tidak ingin mendengar ada yang menghina atau berkata yang tidak-tidak mengenai istriku." Jawab Kavi.


"Emmmm..... Sayang kamu gak apa-apa ?" Kenan beralih menatap Kia putrinya, ia khawatir putrinya itu kenapa-kenapa dengan perkataan orang-orang.


"Aku gak apa-apa yah, toh mas Kavi sudah meluruskan semuanya." Jawab Kia tersenyum kearah ayahnya.


"Benar ?"


"Benar Yah, lagian setelah mas Kavi mengumumkan siapa aku sebenarnya, aku jadi merasa tambah aman, apalagi tadi mas Kavi sangat memperjelas siapa saya sebenernya." Jelas Kia meyakinkan.


"Dan ayah tahu gak ? Setelah mas Kavi mengumumkan siapa aku, orang-orang yang tadi menjelekkan aku, mereka langsung pucat gitu yah." Lanjut Kia menjelaskan.


"Jelaslah pucat ketakutan, dengar nama ayah saja mereka pasti akan ketakutan." Ujar Kenan membanggakan namanya.


"Cihh,,,, sombong." Sahut Diva mencibir sambil memutar bola matanya malas mendengar kesombongan suaminya itu.


"Sepertinya kepedean tua bangka ini makin ngelunjak."


"APA TUA BANGKA ?" pekik Kenan mendengar perkataan Diva.


"Gak usah teriak, entar darah tinggi kamu naik, kalau sudah tua itu gak usah banyak tingkah !"


"Apa Tua ? Enak aja tua, biarpun kata kamu aku udah tua tapi aku masih bisa bikin kamu keenakan dibawah aku, buat adik lagi buat Kia." Ucap Kenan prontal tidak terima perkataan tua dari istrinya.


Sedangkan Kavi dan Kia hanya bisa menonton perdebatan orangtua di depannya itu.


"Dek, mau gak kamu punya adik lagi ?" Tanya Kenan beralih pada Kia.


"Ayah gak usah ngadi-ngadi, udah mau punya cucu juga, pokoknya Kia gak mau lagi punya adik, TITIK, cukup aku punya Abang gak ada akhlak seperti bangKhay." Tegas Kia.


"Dengerin tuh apa kata anak." Sahut Diva kemudian bertos ria kepada sang putri.


"Kav, kamu gak ada niatan belain nih ?" Kenan menatap Kavi berharap menantunya itu berada dipihaknya.


"Kalau menurut aku nih, walaupun kita sudah tua, tapi bukan berarti jiwa kita sudah tidak....


"Tidak apa hah ?" Kia menyela ucapan Kavi suaminya yang akan berpihak kepada ayahnya.


"Nggak ada apa-apa sayang, tadi aku hanya ing....


"Ingin apa hah ? Kalau kamu berpihak ke ayah, siap-siap kamu tidur di luar." Ancam Kia kembali menyela.


"Maaf yah, aku berpihak kepada wanita-wanita cantik ini, dari pada saya tidur di luar." Ucap Kavi.


"Ayo sayang kamu butuh banyak istirahat, gak baik tidur kemalaman." Dengan cepat Kavi mengajak Kia segera ke kamar, karena sudah melihat tatapan tidak mengenakan Dimata mertuanya.


"Maaf yah, Bun, saya duluan." Pamit Kavi lalu dengan cepat menarik tangan Kia agar segera pergi dari tempat yang sudah mulai tidak aman baginya itu.


"DASAR MENANTU GAK ADA AKHLAK, SAYA SUMPAHIN KAMU KENA ENCOK SAAT ENAK-ENAK..." Teriak Kenan dan langsung dihadiahi cubitan ganas dari Diva sang istri tercinta.


"GAK AKAN YAH, AKU GAK SETUA ITU...." Balas Kavi berteriak kemudian ia tertawa melihat nasib ayah mertuanya mendapatkan hadia dari ibu mertuanya, yaitu cubitan ganas.


"Ngapain diketawain sih mas, kasihan ayah tau." Ujar Kia.


"Sekali-kali sayang, kapan lagi bisa menertawakan ayah, lagian mana berani aku jika menertawakan ayah di dekatnya." Sahut Kavi di balas gelengan dari Kia.


"Dosa kamu sama mertua."


"Gak akan sayang, orang ayah juga sering nistain aku, jadi kita imbang."....


TO BE CONTINUE......