
Sajak masuk kelas hingga materi yang disampaikannya dosen Enzy terlihat begitu murung, dan kurang bersemangat membuat Rendra bingung melihat sahabatnya itu, dan kini mereka duduk di taman kampus yang tak jauh dari parkiran, Enzy masih saja diam tanpa banyak bicara menikmati snak yang dibawah Nendra.
"Rend, Kenapa lagi dia ?" Bisik Nendra pada saudara kembarnya.
Sedangkan Rendra hanya menaikkan kedua bahunya.
Rendra mencoba untuk bertanya karena sudah jengah melihat Enzy yang sejak tadi seperti itu.
"Ada apa, ada masalah lagi" Tanya Rendra membuat Enzy menoleh menatapnya.
"Enggak usah ikut campur ! Sahut Enzy kesal moodnya benar-benar hancur hari ini, kemudian Enzy kembali melihat kedepan.
"Ngomong-ngomong kamu terlihat lebih menakutkan dari biasanya ?" Nendra ikut menimpali.
"Maksud kamu apa hah, kamu pikir aku ini hantu hah ?" Ucap Enzy menatap tajam pada Nendra, sambil menaikkan buku yang ada ditangannya, ingin memukul pria di samping kanannya itu.
"Ah...Tidak ! aku tidak ada maksud apa-apa, lagian yang ngatain kamu hantu siapa ? Ujar Nendra cepat sambil menurunkan tangan wanita di dekatnya itu, sebelum buku tebal itu mendarat di kepala atau bagian tubuh lainnya.
"O iya Nzy, gue mau menanyakan soal pembicaraan kita yang kemarin, membahas tentang rencana kamu yang ingin mempublish hubungan kamu dan Khay di media kampus." Ujar Rendra mulai serius.
"Tidak perlu bahas itu, dan lupakan soal rencana ku itu !" Sahut Enzy malas.
Kemudian sejenak ia terdiam lalu menoleh ke arah Rendra.
"Apa kamu sudah memasukkan berita itu ke deadline media kampus ?" Tanya Enzy khawatir kalau Rendra sudah melakukannya, karena kalau sudah seperti itu, beritanya akan membuat muncul.
"Belum, karena gue menunggu informasi dari kamu." Jelas Rendra.
"Mmm, baguslah, kamu jangan dulu memasukkan berita itu ! Imbuh Enzy.
"Ok, Ratu ! Seru Rendra memberikan tanda hormat kepeda Enzy.
"Tapi kamu dan Khay sudah menikah, dan sudah saling menerima dan mencintai satu sama lain, sampai kapan kamu mau merahasiakan ini ?" Timpal Nendra terdengar serius.
"Entahlah..." Sahut Enzy sendu.
"Tapi, tidakkah kamu memikirkan perasaan Khay ?" Timpal Rendra.
"Sebenarnya bunda sama ayah sudah mengusulkan ini untuk publish, tapi saat itu aku menolaknya, membuat Khay sangat kesal, dan setelah aku pikir-pikir aku akan mempublish, tapi karena dia membuat ku kesal, aku mengurungkan niatku." Jelas Enzy.
"Tapi apa yang membuatmu kesal, harusnya kamu bahagia karena kemarin adalah hari ulang tahun suamimu, pastinya kalian melakukan hal-hal romantis bukan ?" Ujar Rendra.
"Romantis apanya, malahan sekarang aku ingin sekali memukulinya." Ujar Enzy kesal.
"Ada masalah apa lagi kali ini ?" Tanya Nendra.
"Jangan bilang kalau soal Clarie ?" Tebak Nendra.
"Emmm..." Enzy hanya berdehem mengiyakan tebakan Nendra.
"Ada masalah, apa gadis cerewet itu menggoda Khay ?" Tebak Rendra karena tahu kelakuan gadis tersebut.
"Tidak hanya itu, dia juga pernah menyatakan perasaannya pada Khay, bahkan dia juga memberikan hadiah mahal, hadiah aku tidak ada apa-apa dibandingkan hafia yang dia berikan." Oceh Enzy kesal mengingat kejadian semalam.
"Pasti Khay terpaksa menerimanya." Tebak Nendra.
"Iya Nzy, setiap tahun juga Clarie memberikan hadiah pada Khay, tapi Khay tidak pernah menyimpannya, dia selalu memberikan ke kami, atau ke yang lainnya." Jelas Rendra.
"Tapi, aku tidak suka karena sepertinya Clarie sangat menyukai Khay, dan terus mencari perhatiannya." Ucap Enzy.
"Tapi kamu tahu sendirikan kalau Khay tak menyukainya, Khay hanya menyukai dan mencintaimu." Sahut Nendra di angguki setuju oleh Rendra.
Sedangkan Enzy hanya diam tanpa berucap sepatah katapun lagi.
"Kalau begitu aku ada ide ! Seru Rendra menjentikkan jarinya.
"Apa ? Tanya Enzy malas.
"Ayo kita rayakan ulang tahunnya Khay, kita makan-makan di restoran yang tak jauh dari kampus." Usul Rendra.
"Setuju, biar gue yang menghubunginya sekarang." Seru Nendra bersemangat lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.
📞 "Oy bro, posisi dimana sekarang ?" Tanya Nendra setelah sambungan telponnya dijawab Khay.
📞 "Gue baru keluar dari kelas, ada apa emangnya, tumben lu nelpon gue ?" Sahut Khay dari seberang sana.
📞 "Kamu masih ada kelas kagak ?" Tanya Nendra.
📞 "Udah gak ada, ini gue lagi otw parkiran, kebetulan gue markirnya di parkiran fakultas hukum." Jelas Khay.
📞 "Emang kenapa" Tanya Khay kemudian.
📞 "Kebetulan kalau gitu, gue, Rendra juga bini kamu tercinta, sedang berada di taman dekat parkiran, kita mau ngajak kamu makan-makan di restoran dekat kampus, untuk merayakan ulangtahun kamu." Jelas Nendra, yang langsung mendapatkan pukulan di lengannya.
"Ada masalah apa sih Nzy, pake mukul gue segala." Seru Nendra.
"Kalian berdua aja ya mau ngajakin dia makan bareng, aku mah kagak ya." Ujar Enzy kesal. membuat Khay terkekeh dari seberang telpon, mendengar ucapan istrinya.
📞 "Ok, kalian tunggu gue disana, salam sama istri gue tercinta, bilang kalau gue kangen." Ucap Khay.
📞 "Ok...ok...Sahut Nendra lalu beralih menatap Enzy.
"Nzy suami kamu nitip salam, katanya dia kangen." Ucap Nendra, dan seketika buku tebal Enzy mendarat cantik di bahunya, membuat Nendra meringis.
Sedangkan Khay terdengar tertawa terbahak-bahak mendengar Nendra mendapatkan siksaan dari istri galaknya.
📞 "Woi Khay buruan kesini, tenengin nih macan kamu, dia lagi ngamuk-ngamuk gue." Imbuh Nendra kemudian memutuskan sambungan teleponnya.
"Kenapa harus memanggilnya, dan melakukan ini" Protes Enzy sebenarnya ia masih malas bertemu dengan suaminya itu.
"Ayolah, hanya makan siang siang kok, lagian dia ulangtahun, sudah lama juga gue gak bertemu dengan Khay." Ujar Rendra.
"Tapi ulangtahunnya kemarin." Seru Enzy.
"Iya tahu, di samping itu, kalian bisa berbaikan, itu nilai tambahnya, dan tujuan kita mengadakan acara makan siang ini." Timpal Nendra.
"Kalian berangkat duluan aja entar gue nyusul, gue mau ketemu dosen dulu sebentar." Imbuh Nendra kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.
Sekitar dua puluh menit kemudian Khay datang menghampiri mereka, Enzy yang melihat kedatangan Khay menjadi semakin kesal melihat siapa yang ikut bersama dengan suaminya itu, entah bagaimana bisa Clarie bisa bersama dengan Khay, tidak mungkin juga kan Clarie mau kuliah disini, sedangkan Clarie saja masih duduk di bangku SMA, pikir Enzy menatap sinis keduanya.
"Wah, Clarie juga datang bersama Khay, bagaimana bisa ?" Seru Rendra melihat Clarie.
"Hay, Rend." Sapa Clarie.
"Hay Cla, apa kabar ?" Tanya Rendra langsung merangkul punggung gadis kecil tersebut.
"Kabar aku baik, oh iya Nendra mana ?" Jawab Clarie, lalu menanyakan Nendra karena tak melihat keberadaan saudara kembar Rendra.
"Dia ada pertemuan sebentar dengan dosennya." Jawab Rendra.
Sedangkan Enzy sejak tadi hanya terdiam dengan ekspresi wajah yang tidak enak dilihat, bahkan tidak mau melihat wajah suaminya itu.
"Hay Nzy." Clarie kemudian menyapa Enzy sedangkan Enzy hanya menanggapi dengan senyum tak sukanya.
"Ngomong-ngomong kapan kamu datang di kota ini ?" Tanya Rendra.
"Beberapa hari yang lalu, maaf aku belum sempat mengunjungi aunty dan uncle Ray." Ucap Clarie.
"Enggak apa-apa, lagian mammi sama pappi kayaknya juga gak tau kalau kamu datang."
"Mereka udah tau kok, bunda Diva udah memberi kabar sama aunti soal aku." Terang Clarie.
"Emang kamu gak sekolah ?" Tanya Rendra.
"Kebetulan sekolah aku di liburkan, dan beberapa hari sebelum kesini aku di kota Z, mengunjungi kakek Ama nenek aku disana." Jelasnya.
"Aku juga sengaja mampir ke kota Xx, karena aku tahu Khay akan ulangtahun." Tambahnya lalu bergelayut manja di lengan Khay membuat Enzy mengeratkan giginya, sambil mengepalkan tangannya.
Khay yang sejak tadi memperhatikan istrinya itu mengerti.
"Clarie cukup ! Bentak Khay membuat Rendra dan Clarie kaget dengan bentakan Khay itu, sedangkan Enzy masih diam dengan ekspresi datar.
"Aku sudah sering memperhatikan kamu, agar kamu jaga batasanmu, selama ini aku selalu memperhatikan mu, karena aku masih menganggapmu sebagai adikku, tapi jika kamu tetap seperti ini, jangan harap aku bisa bersikap seperti dulu lagi ke kamu !" Tambah Khay melepaskan paksa tangan Clarie yang masih merangkul lengannya.
"Maaf jika, aku terlalu berlebihan, aku kesini hanya untuk mengajak kalian untuk makan siang bareng, karena besok sore aku harus kembali ke Singapore. Ujar Clarie.
"Kebetulan kami akan makan siang bareng untuk ulangtahun Khay, sekalian aja kamu gabung dengan kami." Sahut Rendra.
Sedangkan Enzy yang mendengar itu menjadi semakin kesal ingin sekali rasanya untuk tidak ikut makan siang, tapi ia juga tak ingin meninggalkan Khay tetap bersama gadis centil itu.
"Kalau begitu ayo pergi sekarang, gue sudah sangat lapar." Imbuh Rendra merangkul bahu Clarie membawanya pergi dari sana.
"Bagaimana dengan Nendra ?" Tanya Clarie.
"Dia akan menyusul kesana nanti, sekarang kamu ikutvdi mobil aku !" Seru Rendra.
Sekarang tinggallah Enzy dan Khay disana.
"Apa kamu baik-baik saja ?" Tanya Khay.
"Aku sangat-sangat baik." Sahut Enzy dengan tampang kesal, kemudian pergi begitu saja.
Khay mengejar istrinya itu, agar ikut bersamanya dalam satu mobil, pasalnya pagi tadi Enzy berangkat ke kampus menggunakan mobilnya sendiri, karena ia masih sangat kesal.
"Sayang, kamu ikut bareng aku ya, aku mau jelasin semuanya." Ujar Khay setelah berhasil mengejar Enzy, lalu memegang tangannya, banyak pasang mata yang melihat kejadian itu, membuat Enzy merasa risih.
"Ok, buruan banyak orang yang melihat kita." Seru Enzy melepaskan tangan Khay.
Khay membuka kunci mobilnya, sebelum Khay membukakan pintu untuknya, Enzy sudah lebih dulu masuk.
Bersambung...........
Jangan lupa like, Komen, dan vote.... Terimakasih 🙏🙏🙏