
Satu minggu kemudian....
Hari ini Kia berencana membawakan makan siang untuk suaminya, karena sudah beberapa hari belakangan ini, Kavi amat sibuk di kantor.
"Bi, makanan yang kita masak tadi, tolong dimasukkan pada kotak makan ya, aku mau ke kantor mas Kavi, buat antar makan siang." Seru Kia kepada salah satu Art dirumahnya.
"Baik non." Sahut Art tersebut kemudian mengerjakan perintah dari nonanya itu.
Tiga puluh menit kemudian, Kia selesai bersiap-siap, saat menuruni tangga ia berpapasan dengan Diva bundanya yang sepertinya akan menuju ke atas.
"Sayang, kamu mau kemana ? Kok rapi begini ?" Tanya Diba meneliti penampilan putrinya itu.
"Aku mau ke kantornya Mas Kavi Bun, aku mau bawa makan siang untuknya, sekalian aku juga mau makan siang bareng." Jelas Kia.
"Kamu di antar sopir kan ?" Tanya Diva memastikan.
"Aku baw.....
"Enggak...enggak... Kamu lagi hamil, kamu gak boleh bawa kendaraan sendiri, kamu harus di antar sopir pokoknya.
"Tapi Bun...
"Gak ada tapi-tapian, atau bunda gak ngizinin kamu pergi !" Tegas Diva.
"Baiklah." Pasrah Kia.
"Ya udah Bun, kalau gitu aku pergi dulu." Pamit Kia sambil mencium tangan ibunya itu.
"Iya hati-hati, ingat kamu lagi hamil muda sayang." Ujar Diva.
"Iya." Jawab Kia kemudian melanjutkan langkahnya menuruni tangga, sebelum keluar Kia terlebih dahulu mengambil makanan yang sudah di siapkan Artnya sesuai permintaannya tadi.
...----------------...
Kia menuruni mobil yang sudah berhenti tepat di depan lobi perusahaan milik Kavi suaminya.
"Selamat siang nyonya." Seorang security menyambutnya langsung membukakan pintu, sedikit membukakan badannya tanda hormat kepada istri pemilik perusahaan tersebut.
"Siang juga pak, terimakasih." Balas Kia tidak lupa dengan senyuman ramahnya.
"Maaf mau ketemu siapa dek ?" Tanya seorang resepsionis menghentikan langkah Kia saat akan melewati meja resepsionis.
"Ini, saya mau mengantarkan makan siang buat tuan Kavi, apa dia ada diruangannya ?" Jawab Kia kemudian bertanya.
Resepsionis tersebut melihat penampilan Kia dari atas hingga bawah kemudian tersenyum remeh.
"Mbak, apa tuan Kavi ada ?" Kia mengulangi pertanyaannya saat melihat resepsionis tersebut malah menatapnya dengan tatapan tak suka kepadanya.
"Gak ada, lebih baik kamu pulang." Ketus resepsionis tersebut.
"Tapi, Saya mau mengantarkan makan siang ini mbak, ini sudah hampir jam makan siangnya." Ujar Kia mulai kesal namun sebisa mungkin ia tahan, ia tidak ingin membuat keributan di kantor suaminya.
"Heh, dek kamu tidak usah sok mau membawakan makan siang buat bos kami, dia tidak mungkin juga mau menerimanya, apalagi dari orang seperti kamu."
"Hay mbak, jaga omongan mbak ! Apa kamu tidak mengenalku ?" Kia mulai meninggikan suaranya.
"Apa ? Apa kamu mau mengaku kalau kamu kekasih atau istrinya, maaf tapi saya tidak percaya." Tantang resepsionis tersebut.
"Ada apa ini ribut-ribut ?" Seseorang datang tiba-tiba dari arah lift.
"Ini tuan, adek ini kekeh ingin menemui Anda, katanya ia mau mengantarkan makan siang untuk anda, tapi tuan tidak perlu khawatir saya sudah mengusirnya, pasti dia alasan saja, pasti dia menggoda tuan." Resepsionis ini mengoceh panjang lebar, apalagi tatapannya sesekali menatap sinis dan remeh pada Kia, membuat Kavi mengepalkan tangannya menahan marah mendengar ucapan pegawainya itu yang berani-beraninya menghina istrinya.
"Sayang, buat apa kamu kesini, kamu harusnya tidak usah repot-repot, apalagi kamu sedang hamil." Ucap Kavi merangkul pinggang Kia.
"Aku kesini mau antar ini buat makan siang, aku pengen makan siang bareng sama mas." Ucap Kia manja, dengan sengaja ia merangkul lengan suaminya itu, seolah memperlihatkan kepada resepsionis tadi.
"Ya sudah kalau begitu, kita ke ruangan mas." Ujar Kavi lembut.
Kavi beralih menatap resepsionis tersebut dengan tatapan tajamnya.
Sementara Resepsionis yang tadinya terlihat angkuh dan sombong, tiba-tiba raut wajahnya menjadi pucat mendengar ucapan Kavi kepada wanita yang sudah ia remehkan.
"Saya menunggu surat pengunduran diri kamu setelah saya dan istri saya makan siang !" Tegas Kavi kemudian pergi dari tempat tersebut.
"Tuan....Tuan.... Maafkan saya, saya tidak tahu kalau ternyata dia istri tuan, mohon maafkan saya tuan." Resepsionis tadi mengejar langkah Kavi sambil memohon saat sampai di depan lift.
"Mas sudahlah, kamu tidak perlu melakukan itu, kasihan, mungkin dia sangat membutuhkan pekerjaannya." Sahut Kia mengusap lengan Kavi.
"Tidak sayang ! Saya tidak ingin karyawan di perusahaan saya memiliki sifat sombong seperti dia, apalagi di bagian resepsionis, harusnya dia bisa bersikap lebih ramah kepada siapapun, bukannya hanya kepada atasannya ataupun kamu." Ucap Kavi kekeh pada keputusannya.
"Tuan mohon maafkan saya tuan, saya janji tidak akan seperti itu lagi." Mohon resepsionis itu lagi.
"Berhenti memohon ! Dan... Kavi menjeda ucapannya.
"Dan jika kamu sangat membutuhkan pekerjaan, kamu tidak lagi di posisi kamu sekarang, kamu saya pindahkan kamu ke bagian office Girl." Tegas Kavi.
"Tapi taun..
...----------------...
"Kamu kenapa sayang ?" Tanya Kavi bingung karena sejak sampai di ruangannya hingga selesai makan sinag Kia lebih banyak diam.
"Gak ada apa-apa." Jawab Kia jutek.
"Gak ada apa-apa tapi kok mukanya jutek gitu." Ujar Kavi tersenyum melihat istri kecilnya.
"B aja tuh." Sahut Kia.
Kavi menarik lengan Kia agar lebih dekat, kemudian membawa istrinya itu naik ke pangkuannya.
"Mas, ini di kantor, kalau ada yang masuk bagaimana ?" Ujar Kia.
"Gak akan ada yang masuk, pintu sudah aku kunci." Sahut Kavi.
"Ada apa ?" Kavi kemudian mengulangi pertanyaannya tadi.
"Kamu gak sayang sama aku mas, kamu udah gak cinta sama aku." Ucap Kia dengan mata berkaca-kaca.
Kavi mengerutkan keningnya mendengar ucapan istrinya.
"Siapa yang bilang, suamimu ini selalu sayang dan cinta kamu, istriku."
"Bohong."
Gak bohong sayang, sumpah demi apapun."
"Tapi kok di ruangan kamu gak ada pigura foto aku, gak seperti di ruang kerja ayah sama Bangkhay, di atas meja kerja mereka juga ada foto bunda sama kak Enzy, bahkan Bangkhay menaruh pigura besar di pada dinding belakang meja kerjanya, kamu malah gak ada sama sekali mas." Ucap Kia panjang lebar, entah kenapa ia baru mempermasalah hal ini, dulu-dulu Kia tidak pernah membahasnya, lagian Kavi bukannya tidak mau menaruh foto istrinya, tapi karena kesibukannya membuatnya sedikit lupa.
"Maaf sayang, bukannya aku tidak ingin menaruh foto kamu disini, tapi, akhir-akhir ini aku sangat sibuk, sampai aku lupa." Sepertinya ucapan Kavi barusan membuatnya semakin dalam masalah besar.
"Tuh kan kamu lupa sama aku mas, apa susahnya tinggal taro aja foto aku di atas meja kamu, harga bingkai ukuran 10R berapa sih mas, tidak mungkin juga membuatmu bangkrut, dan jika kamu tidak ingin membeli, kamu tinggal ambil aja salah satu foto aku dirumah, kan banyak." Kia semakin kesal mendengar suaminku mengatakan kalau ia lupa.
"Ma...maaf sayang, aku gak bermaksud melup....
"Sudahlah mas, aku mau pulang, aku capek, kamu juga udah gak sayang dan cinta sama aku." Sela Kia lalu bangkit dari pangkuan Kavi.
"Sayang, ya sudah sekarang aku suru sekertaris aku menyimpan foto kamu disini, kalau perlu semua sudut ruangan ini penuh sama foto kamu." Kavi menahan lengan Kia, kemudian kembali mendudukkan istri kecilnya itu di sampingnya.
"Gak usah ! Aku tahu mas kamu terpaksakan melakukannya, bilang aja kalau kamu masih ingin dikatakan belum menikah." Ujar Kia menarik paksa lengannya yang sedang di pegang suaminya itu lalu sedikit menjauh.
"Astagafirullah sayang, kok jadi merembet kesana sih, aku cuma...
"Cuma apa ? Cuma lupa, iya ? Aku tahu mas, sebenarnya aku memang gak pernah ada di pikiran kamu, apalagi sekarang aku hamil gak ada lagi cantik-cantiknya, aku juga gendut gak enak di pandang."
Kavi mengusap wajahnya prustasi, tapi sebisa mungkin ia mencoba untuk sabar, ia tahu kalau istrinya ini sedang sensitif, pengaruh kehamilannya.
"Ya sudah, aku minta maaf ya sayang aku salah, karena tidak memasang foto kamu di ruangan aku, maaf." Ucap Kavi lembut berusaha memegang tangan Kia namun Kia menepisnya.
"Sudah aku mau pulang." Ucap Kia beranjak dari duduknya.
"Aku anter ya." Ujar Kavi juga beranjak dari duduknya.
"Gak usah, aku bisa pulang sendiri, kamu disini aja, kali aja nanti ada rekan kerja wanita kamu datang, dan kalian tidak bisa bertemu." Ketus Kia.
"Sayang, maksud kamu apa, ngomong seperti itu ?" Kavi mulai tersulut emosi, nada bicaranya mulai dingin.
"Gak ada maksud apa-apa." Jawab Kia berjalan meninggalkan tempat tersebut, namun saat ia akan membuka pintu pintu nya terkunci.
"Buka !" Seru Kia Berbalik menatap tajam Kavi.
Kavi berjalan mendekati Enzy.
"Kita pulang bareng, atau kita menginap disini." Ucap Kavi datar merangkul pinggang Kia lalu menekan remot kecil yang ada ditangannya, dan pintu otomatis terbuka.
Sedangkan Kia sudah tidak bisa lagi menolak karena Kavi merangkul pingganya dengan erat.
"Sudah jangan cemberut, malu dilihat orang !" Seru Kavi tanpa melihat ke arah istri kecilnya.
"Ya Allah berikanlah hamba kesabaran ekstra menghadapi bumil sensitif satu ini." Monolog Kavi dalam hati.
Bersambung....
Readers author balik lagi nih, maaf udah lama baru bisa up, Alhamdulillah sekarang ke adaan author sudah lebih baik, dan sudah bisa up bersamaan dengan Dambaan , sekali lagi maaf sebanyak-banyaknya, 🙏🙏🙏🙏🙏, Author juga ingin mengucapkan banyak-banyak terimakasih karena readers masih setia menunggu update an author.....
Jangan lupa untuk tetap memberikan LIKE
KOMENTAR, dan VOTE, untuk tetap mendukung author.
...TERIMAKASIH...
...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...