
Keesokan harinya, keluarga Fikram dan Salman nampak menyusuri koridor rumah sakit Ray juga ikut bersama mereka, menuju keruangan Diva dimana ia dirawat.
Setelah mereka sampai depan ruangan, mereka segera masuk, Kenan nampak membantu Diva menyisir rambut istrinya itu yang sedikit berantakan, dengan duduk di belakang Diva.
" Pagi-pagi udah mesra-mesraan aja lu. " Sahut Ray saat masuk dan melihat Kenan menyisir rambut Diva.
" Iri bilang bos. " Ucap Kenan dan menyimpan sisir dilaci nakas samping brankar Diva.
Kenan yang melihat orang tuanya dan mertuanya segera menghampiri dan mencium punggung tangan mereka begitupun dengan kakak iparnya.
" Lu kagak nyium tangan gue juga, Nan. " Sahut Ray mengulurkan tangannya.
" Najis Gue. " Ucap Kenan menepis uluran tangan sahabatnya itu.
Bunda Hani dan Vivian segera mendekat kearah dimana Diva berada, sedangkan para suami duduk di sofa, di ikuti Arka dan Ray.
Ray terus saja membuat lelucon hal itu membuat ayah Salman dan Fikram tertawa sehingga membuat ruangan itu menjadi ribut, untung ruangan perawatan Diva pasilitas VVIP, jadi hal itu tidak membuat pasien lain terganggu.
" Kalau diperhatikan Ray, mirip seseorang bahkan sikap dan sifatnya sama. " sahut ayah Fikram mengingat dan terus memandangi Ray, yang terus mengganggu Kenan yang tengah serius dengan ponselnya, karena memeriksa beberapa e-mail dari office nya.
" Mirip Regan maksudmu Fik ?" Tanya ayah Salman.
" Iya, aku ingat sekarang dia mirip sama si Regan. " Jawab ayah Fikram langsung menoleh kearah besannya itu.
Ray yang mendengar para ayah menyebut nyebut nama papanya langsung menoleh kearah mereka.
" Om Fikram juga kenal dengan papa saya ?" Tanya Ray.
" Iya, dia teman kuliah kami dulu, sekalian partner bisnis om juga, Kamu beneran anaknya Regan ?" Jawab ayah Fikram kemudian bertanya kembali.
" Iya Om, beliau papa saya, tapi gue lebih keren dari dia. " Jawab Ray membanggakan dirinya.
" Dunia ini emang sempit bagai daun talas. " sahut Ray kembali menggelengkan kepala.
" Daun talas bukannya lebar ya Ray, daun kelor baru bener. " sahut Arka meralat ucapan Ray.
" Dari pada daun pisang lebih lebar, panjang lagi. " Jawab Ray.
" kalau daun kelor udah banyak yang pakai, gue mau inovasi sendiri. " Sahut Ray kembali dan menaikturunkan alisnya kearah Arka.
" Kalau tau gini, Regan punya anak laki seperti mu, bakalan kamu yang aku jodohkan dengan Diva. " Ucap ayah Fikram berniat untuk menggoda menantunya, karena ia liat dari tadi Kenan hanya diam dengan muka datar, serius dengan pekerjaannya sendiri.
Sedangkan Kenan yang mendengar perkataan mertuanya langsung mengalihkan pandangannya kearah mertuanya, Dengan tatapan dingin.
" Ayah kok ngomong nya gitu ?" Tanya Kenan tanpa ekspresi.
"Ayah lebih suka menantu yang hangat, tidak seperti menantu yang sekarang dingin dan datar. " Jawab ayah Fikram santai.
Karena ayah Fikram selalu memperhatikan Kenan, dengan muka datarnya, biasa juga kelihatan dingin jika dia bersama orang lain, bahkan dengan dalam keluarganya sendiri Kenan lebih memilih untuk bekerja daripada dia membahas soal yang tidak penting menurutnya.
" saya hanya malas aja yah, nanggepin hal yang tidak penting, lebih baik saya selesaikan pekerjaan saya, dari pada harus mengurusi hal-hal yang tidak penting menurut saya. " Jawab Kenan membela dirinya.
" Kamu sama saja dengan ayah kamu, nanti isi kepala kalian dipenuhi dengan berkas-berkas, harusnya kau nikmati saja masa muda kamu, tidak usah terlalu mementingkan pekerjaan. " Ucap ayah Salman sambil sesekali melirik besannya.
" Dan lagian ayah kamu masih sanggup memenuhi kebutuhan kamu. " Sambung ayah Fikram.
" Bukannya itu yah, sekarang Kenan punya tanggungjawab, dan saya tidak mau menggantungkan keluarga saya dengan orang tua, walaupun itu akan menjadi hak saya, tapi saat ini saya mau mengembangkan usaha aku yah. " Sahut Kenan.
Ray yang jengah melihat perdebatan antara mertua dan menantu itu ikut angkat bicara.
" Om, lebih baik nikahin saja aku sekarang sama Diva, lagian menantu es om itu udah nyakitin putri om. " Sahut Ray tersenyum mengejek kearah Kenan.
Kenan yang mendengar ucapan sahabatnya itu, Langsung melemparnya menggunakan botol air minum yang ada didepannya.
" Tuh kan Om, menantu om itu memang tidak ada akhlak, masa orang ganteng gini dilempar botol minum. " Ucap Ray terus mengerjai Kenan.
" Aku setuju yah, lagian aku lebih suka Ray, dari pada Kenan, datar gitu. " sahut Arka menimpali ikut menggoda adik iparnya itu.
" Aku bahkan tidak bisa membahagiakan nya, aku hanya bisa menyakitinya. " Ucap Kenan lirih, berusaha menahan air matanya.
Diva yang sedari tadi melihat dan mendengar obrolan mereka, ia merasa sangat terharu dengan semua ucapan Suaminya, ia ikut meneteskan air matanya, namun cepat ia menyekanya, ia sadar bahwa suaminya itu sangat mencintainya.
Ray merangkul bahu sahabatnya itu, yang masih tertunduk, ia tahu kalau Kenan saat ini berusaha menahan air matanya.
" Kenapa elu jadi baperan gini sih Nan, orang kami hanya bercanda doang. " Sahut Ray.
" Bercandaan kalian tidak lucu tau nggak. " Ucap Kenan segera beranjak dan berlalu keluar dari ruangan Diva, tanpa ia pedulikan orangtua dan mertuanya yang masih berada di sana.
Ayah Salman dan Fikram yang melihat, hanya menggelengkan kepalanya.
" Baperan banget, anak siapa sih tu ?" Sahut ayah Salman.
" Anak kamu, kalian sama saja. " Jawab bunda Vivian.
Kenan terus berjalan menyusuri koridor rumah sakit, dengan perasaan campur aduk ia merasa sedih, marah, kesal dengan dirinya sendiri, ia berjalan menuju taman rumah sakit dan duduk di bangku taman, menyandarkan tubuhnya, menengadah keatas sambil menutup matanya, tak terasa air matanya mengalir begitu saja.
" Aku memang bukan suami yang baik, bahkan gara-gara aku sendiri, nyawa istriku hampir tiada. " gumam Kenan menyekah air matanya.
" Gue percaya kalau kau bisa jadi suami yang baik dan bertanggungjawab buat adik gue. " Sahut Arka yang tiba-tiba sudah duduk disamping Kenan.
Kenan yang mendengar ucapan Arka langsung membuka matanya dan membenarkan posisi duduknya.
ia mengikuti arah pandang Arka yang menatap lurus kedepan.
(Anggap saja ini mereka lagi duduk di taman ya readers, soal mikrofonnya diabaikan saja, pokoknya posisinya kurang lebih seperti ini)
" Gue minta maaf atas sikap gue kemarin terhadapmu. " Ucap Arka tanpa menoleh kearah Kenan.
Kenan mendengar permintaan maaf Arka sedikit menoleh melihat kakak iparnya, dan kembali menghadap depan.
"Kak Arka tidak perlu minta maaf, bahkan aku akan melakukan lebih dari apa yang kakak lakukan kepadaku, jika orang yang aku sayangi disakiti orang lain. " Jawab Kenan.
" Apa itu masih sakit ?" Tanya Arka melihat wajah Kenan yang masih lebam bahkan bagian sudut bibirnya masih kelihatan sobek.
" Ini tidak ada apa-apanya di bandingkan saat Diva pergi meninggalkan ku, aku tidak tau harus bagaimana lagi jika saat itu ia tidak Kembali. " Jawab Kenan mengingat kondisi Diva kemarin, hal itu membuat air mata Kenan kembali keluar, namun Buru-buru ia menyekanya.
Arka yang melihat itu, menepuk punggung adik iparnya itu, dan segera berdiri.
" Sekarang kamu masuk, Diva pasti khawatir memikirkan mu, tadi ia nampak sedih saat kau keluar begitu saja. " Ucap Arka kemudian berlalu meninggalkan Kenan.
Kenan segera beranjak dari duduknya dan mengikuti langkah Arka menuju ruangan Diva.
Setelah sampai diruangan Diva Kenan langsung menghampiri istrinya yang sedang disuapi buah dengan bunda Vivian.
" Kamu dari mana ?" Tanya Diva menatap suaminya.
" Aku habis dari luar yank, cari angin. " Jawab Kenan tersenyum, dan mengusap pelan kepala istrinya yang masih dibalut perban.
" Kalau begitu kamu lanjutkan menyuapi istri kamu, Bunda sama ayah pulang dulu, karena besok kami harus pulang ke kota xx. " Ucap bunda Vivian menyodorkan piring buah ketangan Kenan.
" Iya Bun, kalian hati-hati. " Ucap Kenan menerima piring tersebut.
" Sayang Buda pulang, kamu harus banyak istirahat, dan banyak gerak dulu, kamu cepat sembuh sayang. " Ucap Bunda Vivian kemudian mencium kening menantunya itu.
" Iya Bun. " jawab Diva tersenyum.
" Ayah pamit ya sayang, Fik, Han saya duluan." pamit ayah Salman kepada menantu dan besannya.
*Bersambung.....
🤗🤗🤗🙏🙏🙏🙏*