Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 77 Season 3 ( Next Generasi )


Setelah selesai acara seminar, Kavi mengajak secara pribadi kepala sekolah untuk berbicara di ruangan kepsek.


Setelah hampir satu jam Kavi dan kepsek berbicara, akhirnya Kavi keluar dari ruangan tersebut dengan wajah yang sumringah.


"Kamu ada keperluan apa sama kepala sekolah ?" Tanya Rio yang sejak tadi menunggunya diluar, karena kebetulan Rio juga menjadi salah satu peserta seminar.


"Tidak ada apa-apa, mulai besok kamu urus urusan kantor selama beberapa bulan kedepan !" Seru Kavi berjalan mendahului Rio yang masih belum mencerna betul ucapan atasan sekaligus sahabatnya itu.


Setelah terdiam beberapa detik akhirnya Rio sadar, dan mengejar langkah Kavi yang sudah sedikit menjauh.


"Apa maksud kamu, menyuruhku mengurus perusahaan selama beberapa bulan, apa kamu mau cuti ?" Tanya Rio setelah berhasil mengejar Kavi.


"Pokoknya kamu harus mengurus dengan baik, dan gaji kamu akan saya naikkan 20%, begitupun dengan bonus kamu." Ujar Kavi tetap santai.


"Bukan masalah kebaikan gaji atau bonus Kav, tapi kamu tahu sendirikan sekarang aku jarang banget ada waktu buat keluarga gue, apalagi kalau gue mengurus perusahaan sendirian, bisa-bisa bini gue nalak gue Kav." Keluh Rio.


Kavi menghentikan langkahnya, kemudian berbalik menatap Rio lalu menepuk bahu pria dihadapannya itu.


"Pokoknya kamu harus mengurusnya, demi masa depan sahabat kamu ini, ok ! Jadilah sahabat yang baik !" Seru Kavi, membuat Rio bingung dengan sikap sahabatnya itu.


"Masa depan apasih maksud kamu Kav, atau jangan-jangan kamu mau nikah ?" Tanya Rio.


"Iya, tapi gue harus memperjuangkan dulu, sampai gadis yang aku cintai ini mau menerimaku, begitupun dengan ayahnya." Jelas Kavi kembali melanjutkan langkahnya.


"Maksud kamu gadis kecil itu, gadis yang tadi putri dari tuan Kenan ?" Tanya Rio beruntun, kembali menyelaraskan langkahnya dengan Kavi.


"Nah, tuh kamu pintar, maka dari itu kamu harus membantuku mengurus perusahaan, jika kamu kewalahan kamu bisa mengangkat satu asisten satu lagi untuk membantumu." Seru Kavi.


"Gue enggak yakin gadis kecil itu mau sama kamu yang sudah tua, kamu tidak pantas menjadi suaminya bro, tapi lebih tepatnya pantas buat jadi bokapnya." Ucap Rio.


"Jangan remehkan pesona sahabat mu ini, gue yakin dia akan menerima gue." Ucap Kavi membanggakan dirinya.


"Tua-tua begini tapi masih tak kalah jauh dari anak-anak ABG diluaran sana." Tambahnya.


"Tapi gue gak yakin tuan Kenan mau menerimamu jadi menantunya." Sahut Rio meremehkan.


"Gue akan ngelakuin apa aja sampai dia mau menerima gue, dan gue akan pastikan kalau gue pantas menjadi menantunya." Ucap Kavi yakin.


"Bagus nih dibuat judul novel, Sahabatku menjadi mertuaku." Ucap Rio berkelekar, membuat siswa/siswi yang lewat di koridor yang sama melihatnya.


"Itu bakal akan terjadi, dan bisa kamu ajukan ke produser pembuatan film, buat ide cerita seperti itu." Ujar Kavi menimpali gurauan sahabatnya itu.


...----------------...


Di kediaman utama milik keluarga Al Fariziq, Khay dan Enzy baru saja pulang dari kampus, di sore itu. Keduanya langsung menuju kamar mereka karena Diva belum pulang, dari acaranya dengan Lani.


"Sayang, mandi dulu, jangan langsung tiduran dulu !" Ujar Khay saat melihat Enzy langsung membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


"Aku capek banget Yank " Ujar Enzy lemas.


"Tapi habis dari luar sayang, ayo sini aku bantuin !" Ujar Khay menarik lengan istrinya itu agar bangun.


"Aku aja, kamu pasti mau modusin akukan, bukannya bantuin aku mandi, malah buat yang aneh-aneh." Sahut Enzy kemudian turun dari tempat tidur.


"Kan sekalian sayang, mungkin babynya juga udah kangen sama daddynya." Ucap Khay mengikuti langkah Enzy yang hendak menuju walk in closed.


"Gak usah macam-macam dulu yank, kamu gak ingat apa kata dokter, kita gak boleh loh sering lakuin itu dulu." Terang Enzy membuka salah satu pintu lemarinya.


"Tapi aku udah kangen banget, sayang, mumpung bunda sama yang lainnya gak ada dirumah." Bujuk Khay memeluk Enzy dari belakang.


"Tapi yank, bag.....


Belum juga Enzy meneruskan perkataannya, tiba-tiba Khay membalikkan badannya lalu menyumpal mulut istrinya itu dengan mulutnya, menikmati ciuman yang semakin mendalam, bahkan tangan Khay sudah tak bisa lagi diam, membuat Enzy tak bisa lagi menolaknya karena, biar bagaimanapun Enzy juga sudah sangat merindukan sentuhan-sentuhan lembut pria itu yang selalu membuatnya nyaman.


"Yank, jangan disini !" Ucap Enzy dengan suara berat saat Khay akan memulai ke permainan yang lebih intim.


Tanpa berucap, Khay langsung menggendong tubuh polos istrinya itu, menuju sofa yang ada di ruangan ganti tersebut. yang entah sejak kapan keduanya sudah sama-sama polos.


"Yank, di sini ?" Tanya Enzy menatap mata milik suaminya yang sudah diliputi gairah, sambil mengalungkan lengan kirinya ke leher Khay, sedangkan tangan kirinya ia gunakan menahan dada bidang milik suaminya itu.


"Iya." Sahut Khay ingin melanjutkan kembali aktivitasnya, namun lagi-lagi Enzy berucap.


"Pelan-pelan aja ya, yank, ingat ada baby didalam !" Enzy mengingatkan suaminya itu, dan hanya di jawab dengan anggukan kepala dari Khay.


Keduanya pun melakukan, aktivitas mereka sampai beberapa kali pelepasan.


...----------------...


"Yank...." Panggil Enzy tanpa menoleh dari ponselnya.


"Apa ? Mau sesuatu ?" Tanya balik Khay sedikit menunduk melihat ke arah Enzy.


"Yank, aku mau yang ini." Ujar Enzy memperlihatkan gambar buket bunga matahari yang ada di ponselnya.


"Bunga matahari ?" Tanya Khay diangguki Enzy.


"Tapi saat ini bukan musimnya, sayang, dan mungkin akan sulit di dapatkan." Ucap Khay.


Enzy langsung menarik dirinya, kemudian cemberut. Khay yang melihat itu kembali menarik istrinya itu masuk dalam pelukannya.


"Ya sudah, jangan ngambek lagi, nanti aku berusaha cariin ya, sayang ya ?" Ujar Khay, sebenarnya ingin sekali merutuki permintaan aneh istrinya itu, kenapa juga harus bunga matahari, Khay tahu betul, bunda seperti itu sangat sulit di dapatkan di negara ini, apalagi sekarang bukanlah musimnya.


"Janji ya ?" Ucap Enzy mendongak.


"Iya janji sayang, tapi aku gak janji bakal cepat ya, soalnya kalau gak dapat di kota ini, garis di cari diluar kota, atau diluar negeri sayang." Ujar Khay selembut mungkin.


"Iya gak apa-apa, tapi aku maunya modelnya harus seperti ini ya, yank, entah kenapa aku suka banget liatnya." Ucap Enzy kembali bersemangat.


"Iya sayang, apasih yang enggak buat kamu." Ucap Khay lalu mencium pucuk kepala istrinya itu.


...----------------...


Setelah sholat Maghrib, semua keluarga Al Fariziq berkumpul di meja makan untuk makan malam, terlihat Kia kurang bersemangat, tak seperti biasanya, membuat yang lainnya heran.


"Dek, apa yang sedang kamu pikirkan, apa ada masalah ?" Tanya Kenan menyelidik menatap putri bungsunya itu.


"Ti...tidak yah, hanya saja aku sedikit ada masalah di sekolah, tadi ada orang yang gangguin aku disekolah." Jelas Kia.


"Siapa, apa dia melukaimu ?" Seketika Kenan memperlihatkan ekspresi menyeramkannya, mendengar ada yang berani mengganggu putrinya.


"Dia tidak akan berani melukai aku Yah, dia pasti bakalan takut, apalagi dia tahu kalau aku ini anaknya ayah, lagian aku juga udah beri dia pelajaran, supaya dia gak gangguin aku lagi " Ujar Kia panjang lebar, menutupi siapa orang ia maksud.


"Ok baiklah, tapi jika dia berani melukai atau menganggumu lagi, katakan sama ayah, biar ayah yang selesaikan." Ucap Kenan. Membuat Diva memutar bola matanya malas, melihat sikap otoriter suaminya pada anak-anaknya, Kenan selalu saja bersikap berlebihan jika menyangkut ketidak nyamanan anak-anaknya.


"Iya yah, lagian masalahnya udah beres kok yah, hanya saja aku masih kesal." Ucap Kia.


"Sudah-sudah, kita ini mau makan malam sekarang, kalau masih mau ngobrol setelah ini saja, ok !" Sela Diva.


Semuanya pun mulai acara makan malam mereka dengan tenang, hanya ada terdengar suara dentingan sendok yang beradu dengan piring.


Setelah semuanya makan, mereka berkumpul diruang tengah.


"Yah, ayah tau gak penjualan bunga terlengkap di kota ini ?" Tanya Khay.


"Emang ada apa bang, menanyakan soal itu ?" Tanya Kenan balik.


"Aku mau beli bunga, tapi saat ini bunga itu bukan musimnya." Terang Khay.


"Bunga apa Emangnya bang ?" Timpal Diva.


"Sunflower Bun." Jawab Khay.


"Buat apa, bunga itu sangat langkah sekarang loh Bangkhay, apa lagi di negara kita ini." Kia juga ikut menimpali.


"Ada deh...Ayah, Bun, kalian tau gak tempat jual bunga terlengkap ?"


"Coba ke daerah M deh bang, disana ayah punya langganan, disana cukup lengkap, dan banyak juga bunga impor disana." Usul Khay.


"Ok deh Yah."


Sedangkan Enzy hanya terdiam sejak tadi, sambil membuka buku-buku tentang kehamilan persalinan, sampai cara merawat anak, ditemani oleh Diva mertuanya.


Bersambung.........


Buket yang diinginkan Enzy



Terus budayakan Like Komen dan Vote, setelah membaca setiap episodenya.


Terimakasih 🙏🙏🙏🙏