
"By' ... Cepetan nanti kita telat !" Teriak Diva dari sofa memanggil Kenan yang masih bersiap-siap di ruang ganti.
"Iya Yank... ini aku sudah selesai, ayo kita berangkat." Sahut Kenan keluar dari ruangan ganti dengan stelan formal.
Kenan dan Diva akan pergi ke acara pertunangan Ray dan Lani yang di adakan di sebuah hotel berbintang di Kota Z. Tadi orangtua mereka juga Arka beserta Vara berangkat duluan ikut rombongan keluarga Ray. Sedangkan Kenan dan Diva belakangan karena tadi Kenan terlebih dulu pergi mengecek lokasi di mana ia akan membuka Outlet distronya di kota Z.
Kenan dan Diva memasuki bolroom di mana para tamu undangan sudah berdatangan, baik dari kolega bisnis Pak Regan dari Kota Xx maupun dari luar kota lainnya. Tidak lupa juga kolega bisnis Papanya Lani. Jangan lupakan sahabat-sahabat Lani pastinya tidak akan ketinggalan.
Ray dan Lani berjalan memasuki ruangan tersebut dengan jalan berdampingan, Lani yang merangkul lengan Ray, sedangkan Ray memeluk pinggang Lani dari samping.
"Omaigaaattt" Pekik Jova saat melihat penampilan Lani malam ini.
"Gila, Cantik banget, sumpah..." Hera ikut tercengang melihat sahabatnya itu.
"Ternyata Lani, yang biasanya berpenampilan urakan, sekarang terlihat sangat Cantik dan anggun." Ujar Kiki.
Bagaimana tidak para sahabatnya sampai pangling begitu melihatnya, Saat ini Lani menggunakan Gaun sampai bawah lutut, dengan model rok mengembang, sedangkan bagian pinggangnya pas bodi, dengan lengan panjang berenda, di padukan kain batik berwarna hitam gold, membawa kesan yang sangat elegan, tak lupa rambutnya ia biarkan terurai.
Ray yang memakai stelan jas hitam terus menggandeng Lani sampai ke sebuah panggung untuk acara pertukaran cincin.
Pasangan itu terlihat sangat serasi.
• Lani
• Ray
"Calon mantu Bu'Ratna cantik banget." Puji Bunda Vivian melihat Lani berjalan bersama Ray. Sedangkan ibu Ratna hanya tersenyum menanggapi pujian Bunda Vivian untuk Lani.
"Iya, saya juga sampai pangling melihatnya." Ujar Bunda Hani.
"Saya tidak menyangka ternyata, orang yang tidak pernah berdandan, akan terlihat lebih cantik jika sudah di dandani." Tambah Bunda Hani.
"Makanya Han, saya sampai suka banget sama anak kamu, selain baik, dia juga sangat peduli kepada orangtua." Ucap Bunda Vivian.
"Tidak seperti wanita yang terlihat cantik dan anggun, tapi ternyata dalamnya busuk." Tambah Bunda Vivian sarkas.
Ibu Ratna yang mendengar obrolan besanan itu, membuat dia sadar kalau selama ini dia benar-benar salah menilai Lani, yang hanya melihat dari penampilannya saja.
Tidak bisa juga ia pungkiri kalau malam ini Lani benar-benar terlihat sangat cantik dan anggun, jujur ibu Ratna sangat mengagumi calon menantunya itu.
Kini tiba saatnya Ray dan Lani bertukar cincin, tapi sebelum itu Pak Regan akan menyampaikan sepata kata untuk para tamu undangan.
Pak Regan menyampaikan ucapan terimakasihnya kepada seluruh tamu undangan, sedangkan Ray tak pernah berpaling, terus saja ia menatap kekasih hatinya, yang saat ini berada di sampingnya.
Lani yang dari tadi merasa risih terus di pandangi Ray, dari saat mereka bertemu hingga saat ini.
"Kenapa terus memandangi ku seperti itu, apa ada yang salah ?" Tanya Lani berbisik kemudian memeriksa penampilannya dari atas hingga kakinya.
"Kamu Cantik !" Jawab Ray berbisik di dekat telinga Lani, dan hal itu membuat Lani seketika berhenti memperhatikan penampilannya dan beralih menatap Ray.
"Kamu sangat cantik malam ini, dan membuat aku semakin jatuh cinta kepada mu." Ray kembali berbiik dan seketika Lani menundukkan kepalanya, karena saat ini wajah Lani sudah seperti tomat merah karena malu mendengar pujian dari pria yang sebentar lagi akan menjadi tunangannya.
Ucapan MC membuat Lani kembali menghadap kedepan, karena sudah tiba saatnya mereka bertukar cincin.
Ray mengambil cincin bermatakan berlian di kotak dari tangan mamanya.
meraih Ray berlutut di depan Lani dan meraih tangan kirinya.
"Lani Triatmaja, maukah kamu hidup berdampingan denganku, saling melengkapi kekurangan dan kelebihan kita, mungkin ini terlalu cepat, tapi aku yakin kaulah wanita yang akan menemaniku dalam perjalanan hidup ini, kaulah wanita yang akan menjadi pelengkap rusukku..." Ucap Ray kemudian menjedah ucapannya.
Uhhhh hmmmm....
" Lani Triatmaja, Will You be mine ?" Tanya Ray menggenggam tangan Lani mendongak melihatnya.
" I Want to be yours." Jawab Lani mengaguk dengan mata berkaca-kaca karena terharu mendengar semua pernyataan Ray.
Ray menyematkan cincin yang dari tadi ia pegang, di jari manis Lani, kemudian berdiri, begitupun Lani menyematkan cincin di jari manis Ray lalu mereka berpelukan. Hal itu seketika ruangan tersebut riuh dengan tepuk tangan dari para tamu undangan tak terkecuali sahabat-sahabat Lani.
Kemudian ibu Ratna memeluk calon menantunya dan langsung Lani membalasnya, setelah Ray melepaskan pelukannya.
"Selamat ya sayang, dan maafkan mama atas sikap saya yang dulu, karena sudah bersikap tidak baik terhadapmu." Ucap Ibu Ratna.
"Terimakasih Tante, karena Tante sudah mau menerimaku, yang memiliki banyak kekurangan, untuk menjadi menantu Tante." Ucap Lani dengan suara serak seperti menahan tangis sambil mengeratkan pelukannya.
"Tante juga tidak perlu minta maaf, karena tidak ada yang harus di maafkan, saya mengerti perasaan Tante, karena tidak ada seorang ibu yang ingin melihat anaknya mendapatkan pendamping yang tidak tepat." Sambung Lani dengan air mata yang tidak bisa lagi ia bendung.
"Iya sayang, dan mulai sekarang kamu jangan panggil Tante, sekarang saya juga mama kamu !" Ujar Bu Ratna melepaskan pelukannya, kemudian menghapus air mata Lani dengan tangannya.
Ray yang melihat mamanya yang sudah menerima Lani merasa sangat bahagia, kedua wanita yang sangat ia cintai itu akhirnya bisa ia satukan.
Acara pun berlanjut sampai jam 22 malam.
Semua tamu undangan sudah pulang, begitupun Kenan dan Diva pulang duluan bersama Arka dan juga Vara, sedangkan para orangtua masih tinggal untuk berbincang-bincang, dengan beberapa rekan kerja dari berbagai luar kota yang akan menginap di hotel tersebut.
Setelah sampai kamar Diva langsung membaringkan dirinya di tempat tidur tanpa mengganti gaunnya terlebih dahulu, sedangkan Kenan melepas jas dan kemeja lapisannya, dan hanya menyisakan celana bahannya di depan Diva.
Diva mengernyitkan keningnya saat melihat beberapa luka lebam di bahu bahkan beberapa juga di lengannya.
Diva langsung bangun mendekati Kenan memeriksa bahu dan lengan suaminya itu.
"By', bahu sama lengan kamu kenapa" Tanya Diva mengusap bahu dan lengan Kenan.
Kenan langsung menarik Diva kepelukannya, mencium bibirnya sekilas, saat Diva sibuk memeriksa bahu dan lengannya.
"Kenapa *****-grepein yank, bilang aja kalau mau di enakkin." Kenan mengacungkan pertanyaan Diva, dia malah menggoda istrinya terlihat sedang khawatir.
"Aku serius by', kenapa kamu punya luka lebam seperti itu." Ucap Diva mendongak menatap suaminya.
"Sekhawatir itu kah kamu Yank, baru juga luka lebam, bagaimana jika aku sakit parah dan akan mening .... "
Diva buru-buru menaruh telunjuknya di bibir suaminya itu, dia tidak mau mendengar kalau Kenan akan meninggalkannya, dia sangat takut akan hal itu, di tambah lagi akhir-akhir ini sering mengalami mimpi buruk jika suaminya itu pergi untuk selamanya.
"Ini tidak apa Yank, tadi pas aku cek beberapa barang di lokasi pembukaan Outlet kita, aku kejatuhan beberapa kardus berisikan barang-barang keperluan renovasi gedungnya." Jelas Kenan berbohong. Luka lebam itu timbul karena di sebabkan dari penyakitnya, dan hal itu tidak mungkin ia ceritakan kepada istrinya. Ia tidak mau Diva merasa khawatir, melihat lebam saja di tubuhnya membuat Diva sekhawatir itu, bagaimana jika Diva tau punya penyakit leukimia."
"Yah sudah kalau begitu aku mandi dulu yank, kamu tidak usah mandi cukup kamu bersih-bersih saja, takut kamu sakit ini sudah larut malam tidak baik untuk kesehatan !" Ujar Kenan kemudian masuk ke kamar mandi.
Diva hanya memutar matanya malas, dia tak mengerti dengan suaminya itu, dia melarang Diva untuk mandi, tapi dia sendiri mandi, jelas-jelas dia mengatakan tidak baik untuk kesehatan karena sudah larut malam.
Setelah berbaring cukup lama Diva segera bangun ia lupa belum menyiapkan pakaian untuk kenan dan segera bergegas masuk ke kamar ganti. Saat Diva ingin mengambil baju Kenan yang tersusun rapi di lari tanpa sengaja ia menjatuhkan sebuah amplop putih, dari lipatan baju suaminya itu.
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan kalian,
Like
Coment
Vote
Jika ada saran mohon di berikan di kolom komentar.
Salam sayang dan terimakasih dari Author
🤗🤗🤗🙏🙏🙏🙏❤️❤️❤️