
Siang ini kediaman Kenan sangatlah ramai dengan kedatangan seluruh sahabat Diva dan Kenan tanpa terkecuali, begitupun dengan para Oma dan Opa.
Semuanya tampak menikmati makan siang mereka di meja makan yang memanjang, yang ada di bagian samping rumah Kenan, ruangan khusus jika Kenan melakukan perjamuan atau pertemuan seperti ini.
"Dek, bagaimana malam pertamanya ?" Tanya Raydan di sela-sela makan mereka.
"Malam pertama apaansih bang, lebih baik Abang makan yang bener !" Sahut Kia malu dengan pertanyaan kakak sepupunya itu.
"Ya elah, cerita dikit napa sih dek, pelit amat ! Buat referensi Abang nanti, kalau Abang juga udah nikah." Ujar Raydan.
"Emang kamu udah ada calon bang ?" Tanya Vara kepada putranya itu.
"Mami tunggu aja sih, mami tinggal bilang mau menantunya kayak apa !" Jawab Raydan songong.
"Mami jangan dengerin, aku yakin kalau bang Aidan hanya membual, mana ada pria dingin bentukan kek begitu punya cewek." Sahut Khay tersenyum meremehkan ke arah kakak sepupunya.
"Sombong kamu Khay, aku emang gak punya banyak cewek, karena aku bukan pria brensek yang suka mainin perempuan, gak kaya kamu." Ucap Raydan kesal dengan ucapan Khay yang mengatainya juga seolah meremehkannya.
"Aku heran kenapa Enzy masih mau sama pria sama kamu, mending sama aku." Lanjutnya.
"Bang...." Kesal Khay.
"Apa ?" Tantang Raydan.
"Sudah-sudah ini kita lagi makan, kenapa kalian jadi berdebat seperti ini !" Sahut opa Fikram.
Seketika semuanya diam melihat tatapan tajam opa Fikram menatap kedua cucu laki-lakinya itu.
"Oh iya, Kav, Kia, kalian rencananya mau bulan madu kemana ?" Tanya Jova.
"Kami belum menentukan mau kemana, tapi kata Kia dia mau ke Korea." Jawab Kavi.
"Korea ?" Beo Jova.
"Iya aunty, soalnya dari dulu aku suka banget suasana disana, apalagi sekarang lagi musim semi, dan aku berharap ketemu sama oppa Park Seon Joon." Jelas Kia kemudian menatap keatas membayangkan ia bertemu dengan pria yang sudah menjadi idolanya itu sejak dia duduk di bangku SMA.
"Oppa, kamu mau ketemu sama kakek-kakek ?" Tanya Kavi menoleh menatap istrinya dengan menaikkan kedua alisnya.
"Siapa bilang dia kakek-kakek, orang dia ganteng banget, mas Kavi mah lewat, kagak ada apa-apanya." Ujar Kia masih saja membayangkan idolanya itu.
"Aku jadi penasaran, kakek mana yang sudah membuatmu gila seperti itu." Ujar Kavi.
"Enak aja kakek-kakek, yang ada mas yang aki-aki." Cibir Kia sementara yang lain hanya memperhatikan perdebatan pengantin baru itu.
"Enzy sayang, apa kamu belum isi kembali, udah beberapa bulan loh pasca kejadian itu ?" Kini Lani beralih pada Enzy.
"Belum aunty." Jawab Enzy seketika raut wajah Enzy berubah sendu.
Khay yang menyadari raut wajah istrinya itu, langsung menggenggam tangan istrinya yang berada di atas meja.
"Baru juga beberapa bulan aunty, mungkin sebentar lagi kami kembali di percayakan, kami serahkan semuanya pada Allah." Ujar Khay.
"Pokoknya kalian jangan berhenti berdoa, dan berusaha, kalau perlu kalian harus ikut program." Ucap Jova.
"Insyaallah doakan kami ya." Sahut Khay.
"Kami pasti do'akan, jangan sampai keduluan sama pengantin baru kita." Timpal Lani.
"Permisi semuanya, aku mau ke toilet." Pamit Enzy kemudian pergi dari sana tanpa menunggu persetujuan dari mereka.
Khay tau apa yang dirasakan istrinya ikut pamit mengejar Enzy yang sudah tak terlihat.
"Kalian apa-apaan sih, udah tua masih saja masih bersikap seperti itu, apa kalian tidak melihat raut wajah Enzy, kalian ini benar-benar." Imel Kiki yang mengerti kalau Enzy sedang bersedia dengan pembicaraan para auntynya.
"Benar yang dikatakan Kiki, aku mohon jangan pernah menyinggung soal anak di depan Enzy, dia sangat sensitif akan hal itu." Timpal Diva yang sejak tadi diam.
"Maaf kami tidak mengerti soal itu." Sahut Jova dan Lani.
...----------------...
Bukannya ke kamar mandi, tapi Enzy ke kamarnya.
"Sayang." Panggil Khay saat masuk kedalam kamar dan mendapati istrinya itu duduk di pinggir tempat tidur membelakangi arah pintu.
"Sayang." Khay kembali berucap lalu berjalan mendekati Enzy kemudian ikut mendudukkan dirinya disana.
Enzy yang sejak tadi melamun sedikit terlonjat karena keberadaan Khay disampingnya.
"Sudah ya, jangan dipikirkan lagi !" Seru Khay menghapus air mata Enzy yang tiba-tiba keluar, kemudian menarik tubuh istrinya itu masuk kedalam pelukannya.
"Sudah, jangan nangis lagi, Hem ?" Ucap Khay mengusap punggung istrinya itu yang terus terisak di dalam dekapannya membuat kemeja yang Khay kenakan sedikit basah.
"Yank, bagaimana jika aku tidak bisa mengandung lagi ? Aku takut." Ucap Enzy.
"Kamu jangan takut ya, kita serahkan semuanya sama Allah." Lanjutnya.
"Tapi ini sudah beberapa bulan Pasca aku keguguran, bahkan sudah hampir setahun, tapi kenapa aku belum juga hamil." Eluh Enzy.
"Yank...." Panggil Enzy mendongak menatap suaminya begitupun Khay langsing menatap istrinya begitu ia di panggil.
"Ada apa sayang ?" Tanya Khay mencium kening istrinya lalu beralih mengusap air mata wanitanya itu menggunakan ibu jarinya.
"Bagaimana kalau kamu menikah lagi ? Aku ikhlas kok." Ucap Enzy.
Khay yang mendengar omongan istrinya itu langsung berubah kesal sambil melepaskan pelukannya.
"Kamu dapat pikiran seperti itu dari mana, hah ?" Ucap Khay sedikit membentak langsung berdiri di tepat dihadapan Enzy.
"Aku sudah memikirkannya sejak lama Khay, aku takut tidak bisa memberimu keturunan, ak....
"STOP ENZY !!" Sela Khay sedikit berteriak lalu pergi begitu saja meninggalkan kamar tersebut, sambil membanting pintu kamarnya menimbulkan suara yang begitu keras.
"Hikss....Hikss...Hikss..." Enzy terisak begitu pilu, menjatuhkan dirinya di tempat tidur, lalu meringkuk.
"Aku hanya ingin kamu bahagia Khay, aku tahu kamu sudah sangat menginginkan anak, aku tahu kamu diam-diam menangis sambil menatap foto terakhir USG anak kita yang belum sempat dilahirkan." Ucap Enzy sambil terisak.
"Bang, ada apa ? Kamu mau kemana ? Istri kamu mana ?" Diva saat ingin menyusul putra dan menantunya itu berpapasan dengan Khay yang baru saja menuruni anak tangga terakhir dengan raut wajah marah, sambil memegang kunci mobil dan dompetnya.
"Aku mau keluar Bun." Jawab Khay seadanya lalu pergi meninggalkan bundanya begitu saja dengan keadaan kebingungan.
Diva langsung menaiki anak tangga menuju kamar Khay juga Enzy, ia khawatir telah terjadi sesuatu diantara pasangan tersebut.
"Sayang." Pekik Diva saat ia membuka pintu dan mendapati menantunya itu sedang menangis sambil meringkuk di atas tempat tidur.
Diva langsung menghampiri Enzy, dan membantunya untuk bangun lalu memeluknya dengan sangat erat.
"Sayang, cerita sama bunda ! Apa yang terjadi, Hem ? Apa Khay menyakitimu ?" Ujar Diva lembut.
"Bunda..." Lirih Enzy mengeratkan pelukannya pada mertuanya itu.
"Iya sayang, ada apa, cerita sama bunda !" Sahut Diva lembut.
"Bunda Khay marah Bun." Ujar Enzy.
"Iya bunda tahu, bunda tadi ketemu sama dia dibawah, apa kalian bertengkar sampai dia sangat marah seperti itu ?"
"Dia marah Bun, aku menyuruhnya menikah lagi, apa aku salah ? Aku hanya ingin dia bahagia, aku tahu dia sudah sangat ingin memilki anak, sedangkan aku tidak bisa memberinya." Jelas Enzy sambil terisak dalam pelukan sang bunda.
Diva yang mendengar penuturan menantunya itu ikut terkejut, bahkan Diva sempat melonggarkan pelukannya, kemudian kembali memeluk menantunya itu dengan erat.
"Sayang, dengar kata bunda ! Khay tentu saja marah sayang, karena dia sangat mencintaimu juga menyayangimu, dia tidak mungkin menikahi wanita lain hanya demi keturunan, aku tahu suami mana yang tidak menginginkan keturunan, tapi jika Allah belum memberikan kalian, kalian harus bersabar, jangan mengambil keputusan yang akan merugikan kalian berdua, bunda yakin Allah telah menyiapkan sesuatu yang baik buat kalian, jadi bunda mohon jangan lagi kamu melontarkan kata seperti itu, karena itu juga bisa melukai perasaan suamimu sayang." Ucap Diva panjang lebar.
"Ya sudah ya, sekarang kamu istirahat, tenangkan pikiran kamu, dan jangan pernah lagi berpikiran bodoh seperti itu walau sedikitpun, mengerti sayang." Ucap Diva lembut lalu melepaskan pelukannya, mencium kening menantunya itu, kemudian membantunya untuk berbaring.
"Bunda keluar dulu ya sayang, nanti bunda yang suru ayah kamu bicara sama Khay." Ucapnya lalu menyelimuti Enzy.
"Bagaimana kalau Khay tidak pulang Bun ?" Khawatir Enzy.
"Dia pasti pulang sayang, kalau perlu biar ayah yang turun tangan." Jawab Diva mengelus pucuk kepala Enzy.
"Baik Bun, aku minta maaf karena telah mengatakan seperti itu, aku kalut." Ucap Enzy lagi-lagi air matanya keluar.
"Minta maaflah sama suamimu sayang, dia pasti sangat sedih karena itu." Sahut Diva.
"Iya Bun.
"Ya sudah jangan dipikirkan lagi, istirahatlah !" Seru Diva kemudian keluar dari kamar tersebut.
Khay
Enzy
Bersambung........
Jadi ikut baperr dengan perasaan Enzy, aku pernah ada di posisi seperti itu, nyesekkkk emang....😢😢😢
Jangan lupa terus berikan LIKE, jika layak diberikan LIKE menurut kalian, dan juga KOMENTAR, jika ada saran ataupun masukkan dari kalian, dan juga menurut perasaan readers mengenai episode ini, Dan satu lagi VOTE jangan lupa jika memang pantas bisa untuk diberikan VOTE....
Mampir juga ke cerita author berjudul DENDAM MEMBAWAH CINTA....
...TERIMAKASIH...
...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...