
Hari ini Kenan sengaja mengunjungi kantor sahabatnya Kavi, ia ingin membicarakan sesuatu yang beberapa hari ini yang menggangu pikirannya, Kenan ingin memastikan kalau apa yang selama ini ia pikirkan salah, dan itu hanya perasaannya saja.
Kenan memasuki gedung kantor sahabatnya itu, tangannya kanannya ia masukkan ke saku celananya, ditambah lagi dengan kaca mata yang menunjang penampilannya, Walaupun Kenan selalu terlihat dingin dan minim ekspresi tapi hal itu tak pernah mengurangi dibawahnya dan juga ketampanannya, walaupun sekarang sudah berumur.
"Saya ingin bertemu dengan tuan Kavi." Ucap Kenan dingin kepada salah satu resepsionis disana.
"Tapi tuan sedang ada rapat tuan." Sahut resepsionis tersebut.
"Saya akan menunggunya." Kenan berbalik ingin menuju ke salah satu sofa yang ada disudut lobi, tempat yang biasanya digunakan sebagai ruang tunggu, namun resepsionis dengan cepat mencegahnya.
"Maaf tuan, tuan lebih baik menunggu diruangan kantor tuan Kavi, saja, rapatnya sebentar lagi akan selesai tuan." Ucap resepsionis dan langsung di angguki Kenan.
Kenan melangkahkan kakinya menuju lift khusus yang tak jauh dari meja resepsionis.
Sekitar tiga puluh menit Kenan menunggu diruangan sahabatnya itu, akhirnya Kavi masuk dengan sedikit terburu-buru karena saat keluar dari ruang rapat ia diberi tahu sekertarisnya kalau Kenan sudah sejak tadi menunggunya diruangannya.
"Maaf...Maaf, membuatmu menunggu." Ucap Kavi merasa tak enak hati, dan langsung duduk di sofa depan Kenan.
"Em enggak apa-apa." Sahut Kenan terlihat dingin berbeda dari biasanya.
"Ada hal apa yang membuatmu sampai disini, apa ada hal yang penting ?" Tanya Kavi penasaran, karena Kenan tak biasanya datang dikantornya jika tak ada yang penting, apalagi ia melihat ekspresi pria dihadapannya itu sangat datar dan dingin.
"Apa niat kamu sebenarnya, memperkejakan putri saya denganmu ?" Tanya Kenan masih dingin dan langsung to the poin.
"Saya rasa saya sudah menjelaskan semuanya, kenapa tiba-tiba kamu kembali menanyakan hal ini ?" Jawab Kavi lalu balik bertanya.
Kenan tersenyum miring mendengar ucapan pria dihadapannya itu
" Jangan pikir saya tidak tahu maksud kamu sebenarnya, beberapa hari ini saya sudah mulai curiga denganmu, tanpa kau ketahui saya diam-diam menyelidiki kehidupan kamu sebelumnya, dan kau ( Menunjuk Kavi ) mencoba mendekati putri saya, karena dia mirip dengan almarhum istri kamu, bukan ?" Ucap Khay lalu melemparkan beberapa lembar foto yang sangat mirip dengan putrinya, hanya saja wanita yang ada difoto itu lebih tua, dan mungkin seumuran dengan Kavi.
Kavi yang mendengar dan melihat ucapan Kenan dan foto yang ada dihadapannya kaget, dan hanya bisa terdiam, sambil menatap lekat-lekat foto tersebut yang ada diatas meja.
Sementara Kenan tersenyum miring, ia benar-benar kecewa dengan sahabatnya, sekaligus sudah ia anggap sebagai adiknya.
"Kenapa kau hanya diam, apa kau tidak bisa menjelaskannya, karena semuanya sudah jelas, bukan ?" Ujar Kenan.
"Saya benar-benar kecewa denganmu, saya tak pernah menyangka bahwa kau akan melakukan hal ini, bahkan memanfaatkan putri saya yang masih terbilang sangat muda itu, demi kesenangan mu semata." Lanjut Kenan mulai geram.
"Saya tidak pernah berniat memanfaatkannya, saya ben....
"Tidak memanfaatkan katamu ? Lalu apa, memerasnya ? Jangan pikir kalau saya tidak tahu semuanya, kamu memanfaatkan kepolosan putri saya, saat dia tak sengaja menabrak mobilmu, kan ? Sela Kenan tak memberi kesempatan untuk Kavi berbicara.
"Iya aku akui, awalnya saya memang memanfaatkannya, dan saya ingin dia selalu didekat saya, karena dia benar-benar mirip dengan almarhumah istri saya, tapi..." Kavi menghentikan ucapannya ia belum berani mengatakan hal ini pada Kenan, karena ia juga belum merasa terlalu yakin dengan perasaannya.
"Tapi apa ?" Tanya Kenan penasaran.
"Tapi saya sudah mulai menyukainya." Akhirnya kata-kata itu lolos dari mulutnya, membuat Kenan kaget dibuatnya.
"Iya saya sadar, saya sudah berumur, dan sangat beda jauh dengan umur Kia, tapi apa saya harus membohongi perasaanku, apa saya salah menyukai wanita yang jauh lebih muda dariku, bahkan dia adalah anak sahabat saya sendiri ?" Ucap Kavi mulai meninggikan suaranya.
Kenan beranjak berdiri lalu menatap tajam pria dihadapannya itu, ia benar-benar marah dan kecewa, ia tidak akan membiarkan putrinya menemuinya lagi.
"Saya harap kau tidak lagi menemui putri saya, dan mulai hari ini putri saya tidak akan lagi bekerja sebagai asisitenmu, kau jangan khawatir masalah biaya perbaikan mobilmu, saya akan membiayai semuanya." Ucap Kenan penuh penekanan lalu keluar dari ruangan tersebut dengan perasaan marah, bahkan Kenan membanting pintu ruangan tersebut dengan sangat keras, sehingga sekertis dan beberapa orang yang ada disana kaget dan takut melihat ekspresi Kenan seperti itu.
"Akkhhhhh..." Kavi mengeram prustasi menarik rambutnya.
"Kenapa, kenapa harus seperti ini, apa aku salah, kenapa orang-orang yang aku sukai selalu saja pergi begitu saja." Ucap Kavi prustasi, tanpa terasa air matanya keluar begitu saja, lalu mengambil foto almarhumah istrinya itu, ia dekap dengan erat.
"Kenapa kamu harus meninggalkan ku sendirian, Jika waktu itu aku ikut bersamu, mungkin aku tidak akan menderita seperti ini, tidak akan merasakan sakit seperti ini seperti saat kau dan bayi kita meninggalkanku sendirian." Rintih Kavi terlihat sudah sangat kacau.
Sementara di lobi, karyawan yang melihat Kenan keluar dari lift dengan ekspresi mengerikan mulai berbisik-bisik, mereka curiga apa yang telah terjadi dengan orang nomor satu di Asia itu dan bos mereka, sehingga membuat Kenam terlihah mengerikan seperti itu.
Saat akan melewati meja resepsionis Kenam berpapasan dengan Kia, yang sepertinya baru datang. Kenan langsung menarik tangan putrinya itu agar keluar dari sana tanpa bicara sepetah katapun, membuat Kia bingung dan sedikit ketakutan melihat ekspresi ayahnya itu.
"Ayah ada apa ini ?" Kia menghentikan langkahnya tepat di depan pintu masuk lobi, membuat Kenan terpaksa menghentikan langkahnya.
Sedangkan karyawan yang berada disana kaget mendengar Kia menyebut Kenan sebagai ayahnya, pasalnya orang-orang tak mengenali rupa sosok putri bungsu Kenan, karena Kenan tak pernah mengenalkan putrinya ke fublik, dengan alasan Kia seorang perempuan, takut pesaing bisnisnya memaafkan putrinya untuk menghancurkannya.
"Mulai sekarang kamu tidak perlu lagi bekerja sebagai asisitenya, dan satu lagi kamu jangan sekali-sekali menemui pria itu." Geram Kenan.
"Tapi yah, bukannya ayah sudah setuju ?" Tanya Kia bingung tiba-tiba ayahnya melarangnya bekerja dan bertemu lagi dengan Kavi, dan kenapa juga ayahnya terlihat sangat merah seperti itu.
"Kamu tidak perlu banyak tanya, pokoknya kamu nurut sama ayah !" Seru Kenan kembali menarik putrinya itu agar pergi dari sana.
"Ayah, motor aku bagaimana ?" Tanya Kia masih sempat mengkhawatirkan motornya.
"Biar sopir yang membawanya pulang, kami pulang ikut ayah sekarang." Sahut Kenan dingin.
"Saya akan menyetir sendiri, bapak bawa motor Kia pulang kerumah." Ucap Kenan datar pada sopirnya.
"Berikan kuncinya pada pak Diman !" Seru Kenan pada Kia. Tanpa protes Kia langsung memberikan kunci motornya pada sopir ayahnya itu.
"Masuk !" Seru Kenan dingin, menyuruh Kia secepatnya masuk kemobil.
Kemudian Kenan mengendarai mobilnya meninggalkan gedung tersebut.
Bersambung.........
Bagaimana kisah selanjutnya terus pantengin, bagaimana kisah selanjutnya,dan maaf jika alurnya masih belum bagus, Jika ada kesalahan mohon berikan kritik dan saran kalian.
Terimakasih 🙏🙏🙏🙏