Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 116 Season 3 (Next Generasi)


Di kota Z, tampak Diva berserta kedua orangtuanya dan mertuanya, membicarakan perihal rencana Kavi, yang ingin segera melamar Kia, sepulang Kenan dari Singapore.


"Ayah, Bun, apa Kavi gak terlalu terburu-buru dengan keputusan yang ia buat ?" Tanya Diva.


"Kalau menurut ayah sih, ya enggaklah nak, itu malah bagus, karena ayah perhatikan nak Kavi memiliki hati yang tulus buat Kia, dan Kavi juga bisa membimbing Kia agar lebih dewasa lagi." Jawab Opa Salman.


"Ayah setuju dengan perkataan ayah mertuamu itu, ayah perhatikan selama ini, Kia sudah lebih banyak berubah, dia sudah lebih dewasa, sudah tak petakilan seperti dulu, bahkan Kia sekarang sudah mengurangi hobbynya itu." Timpal Opa Fikram.


"Tapi apa Kenan sudah tahu soal rencana nak Kavi ?" Tanya Oma Hani.


"Sudah Bun, semalam setelah Kavi pulang dari sini, aku menghubunginya, menyampaikan niat baik Kavi, sepertinya Kenan juga sudah setuju." Jelas Diva.


"Ya sudah, kamu pikir apalagi toh, Kenan juga udah setuju kan, Kenan pasti tau mana yang baik atau tidaknya, Kenan tentu sudah tahu lebih banyak mengenai Kavi, makanya ia setuju." Ujar Opa Fikram.


Saat sedang mengobrol, Kia datang, gadis itu baru saja pulang dari sekolah, di ikuti Kavi dibelakangnya.


"Assalamualaikum semua." Ucap Kia langsung mendudukkan dirinya disamping bundanya, tak lupa memeluk dan mencium kedua pipi bundanya bergantian.


"Assalamualaikum om, tante." Ucap Kavi menyalimi tangan kedua Opa dan Oma tak lupa mencium punggung tangan mereka yang duduk disana secara bergantian, kecuali Diva, Kavi hanya bersalaman saja, rasanya aneh jika ia harus mencium tangan wanita paruh baya di depannya itu, tak lain adalah istri dari sahabatnya, bahkan Kavi juga telah menganggap Diva sebagai kakaknya, namun yang membuatnya aneh adalah, wanita itu akan menjadi mertuanya kelak.


"Kamu gak cium tangan Tante juga Kav ?" Goda Diva menyebutkan kata Tante pada dirinya.


Kavi tersenyum kikuk menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Hehehe, kok rasanya aneh ya kak ?" Ujarnya kikuk mendengar Diva menyebutkan dirinya Tante, padahal selama ini Kavi memanggil Diva dengan sebutan kakak.


"Bercanda Kav, lagian siapa suruh kamu menyukai anak aku !" Ujar Diva.


"Lucu juga ya, nanti Kavi bakalan manggil kamu bunda, dan Kenan, biasanya dia memanggil nama, dia juga harus mengganti dengan sebutan Ayah." Timpal opa Salman tertawa merasa lucu.


Semua yang ada diruangan tersebut tertawa, kecuali Kavi dan Kia hanya tersenyum.


"Kalau begitu aku pamit dulu tante, om, kak Diva." Pamit Kavi.


"Kenapa buru-buru sih Kav, mending kamu ikut makan siang dulu ?!" Ujar Diva.


"Masih ada yang perlu aku urus kak, kebetulan aku kesini, ada klaiyen yang tertarik bekerjasama dengan perusahaan aku." Terang Kavi.


"Oh, kalau begitu hati-hati." Seru Diva dan di angguki Kavi.


Kavi kembali menyalimi tangan semua orang yang ada disana, dan yang terakhir kepada Kia.


"Aku pamit pulang dulu ya." Pamit Kavi di angguki Kia.


"Hati-hati om !!" Seru Kia masih dengan sebutan om.


"Kamu masih belum merubah panggilan om itu pada nak Kavi dek ?" Tanya Oma Vivian menatap cucunya itu.


"Iya Oma, lagian aku merasa enak aja kalau manggil dengan sebutan itu." Jawab Kia cuek.


"Tapi itu aneh dek, masa calon suami kamu, kamu panggilan dengan sebutan seperti itu"


"Gak apa-apa kok tante, aku juga gak keberatan, terserah mana baiknya aja bagi Kia." Sahut Kavi.


"Gak nak, itu gak baik, mulai sekarang Kia harus merubah sebutan itu padamu." Sargah Oma Vivian.


"Apasih Oma." Delik Kia.


"Gak boleh begitu dek, gak sopan !"


"Gak sopan bagaimana sih Oma, memang benarkan, om Kavi sahabat ayah, otomatis dia om aku dong, letak salahnya dimana sih." Ujar Kia.


"Astaga anak ini, ini yang ayah katakan sudah berubah, sifat dewasanya mana ?" Timpal Diva jengah mendengar perdebatan Oma Vivian juga Kia.


"Ekkmmm...." Karena merasa terabaikan Kavi berdehem, semua orang langsung menoleh menatapnya.


"Maaf, tapi sepertinya aku harus pergi sekarang, aku benar-benar sudah telat." Ujar Kavi.


"Oh, maaf nak, maaf, kami sampai mengabaikan kamu." Ucap opa Fikram.


"Kalau begitu saya pergi dulu." Ucap Kavi kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut karena sudah sangat terlambat, tentunya setelah mendapatkan persetujuan dari mereka semua.


Setelah kepergian Kavi, Kia juga pamit masuk ke kamarnya untuk memberikan dirinya juga mengganti seragamnya.


Saat Kia masuk ke kamarnya, ponselnya berbunyi tanda notif chat masuk.


Om Kavi


Kia tersenyum melihat chat dari kekasihnya itu, kemudian Kia, mengetikkan pesan balasannya.


^^^*Kia^^^


^^^•Iya, hati-hati !! Om juga jangan lupa makan ! Kabari aku jika om sudah tiba di restoran.☺️*^^^


Kavi


•Iya sayangku ❤️


Setelah mendapatkan pesan balasan dari Kavi, Kia meletakkan ponselnya di atas tempat tidur, lalu ia berjalan mengambil pakaiannya di lemari, lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket karena kegiatannya disekolah tadi.


...----------------...


Di kota Xx


Enzy saat ini sedang berada di cafe bersama Priska setelah ia pulang dari kampus.


"Nzy, stop ! Kamu sudah terlalu banyak makan, apa kamu tidak akan sakit perut ?" Ujar Priska melihat Enzy makan terlalu banyak, bahkan Enzy sudah menghabiskan beberapa porsi makanan, dengan jenis yang berbeda.


"Jangan mencoba menghentikan ku ! Apa kamu lupa kalau aku makan sebanyak ini tak sendirian, di dalam sini juga ada baby aku yang ikut makan." Sahut Enzy mengusap lembut perut buncitnya.


"Lagian aku seperti ini, karena aku stres karena ulah sahabatmu itu." Lanjut Enzy kemudian kembali memakan makanannya entah itu porsi yang keberapa ?


"Enzy ayolah ! Percayalah padanya !" Seru Priska.


"Kamu ingin aku percaya begitu saja, setelah dia berbohong padaku ?"


"Mungkin dia melakukan itu karena ada alasannya, mungkin saja ia tak ingin membuatmu kecewa, asalkan kamu tahu, Khay benar-benar peduli sama kamu ?" Ucap Priska.


"Atau mungkin diapikir kamu akan berpikiran macam-macam, jika kamu tahu." Tebak Priska.


"Lagian, Khay hanya menemui Sita, bukannya tidur dengannya, kan ?" Tambahnya.


Enzy memutar bola matanya malas.


"Pertama Rendra, Nendra, sekarang kamu... Apa aku begitu terlihah salah, sampai tak ada satupun yang mengerti dan memihak ku ?" Ucap Enzy sedikit kesal.


"Bukannya seprti itu, tapi..." Priska menggantung ucapanya.


"Sudahlah ! Lalu, apa yang akan kita lakukan ?, Jika yang kamu semua katakan itu benar, maka yang patut disalahkan disini Sita." Priska melanjutkan ucapannya, menatap lurus ke arah lain sambil meneguk minumannya, entah apa yang ada dipikiran wanita itu.


Sedangkan Enzy menatap Priska dengan tatapan datar, sulit di artikan.


"Kamu baru menyadarinya ?" Tanya Enzy kemudian Priska kembali melihat kepadanya.


"Emmm... Kamu juga harus mengerti kalau kamu dan Sita adalah dua orang yang memiliki sipat kepribadian yang berbeda, semua orang mengira kalau kamu telah membullli, dengan sifat sombong, angkuh, emosional yang kamu perlihatkan saat mendatangi sekolah Sita, bahkan kamu menamparnya gadis SMA yang terlihat lugu dan sok polos itu." Ujar Priska.


"Tapi saat itu aku sungguh geram melihatnya, apalagi saat mendengar dia akan merebut Khay dariku." Sahut Enzy.


"Iya, tapi kamu harusnya kamu bisa menahan diri, beruntung karena dia tidak melaporkanmu, atau ada seseorang yang merekam kejadian itu, jika saja itu terjadi sudah di pastikan kamu akan terkena masalah, dan tentu saja akan masuk berita kembali di media kampus ataupun sekolah dibawah naungan yayasan.." Priska kembali berucap, sedangkan Enzy terdiam mencerna semua ucapan Priska, entah apa yang dipikirkan Enzy sekarang.


"Maka dari itu kamu tenang aja ! Karena semakin kamu mengikuti permainannya, maka kamu akan kalah." Tambah Priska.


"Tidak mungkin aku bisa tenang Pris, dan lihatlah, inilah aku yang sebenarnya, wanita sombong, angkuh, emosional, bahkan aku paling tidak bisa diam begitu saja, jika seseorang mencoba mengusikku ataupun orang-orang terdekatku, aku juga sudah tak peduli, jika orang mencapku sebagai wanita jahat telah membullli seorang gadis SMA yang lugu itu." Ucap Enzy dengan dengan serigai jahatnya.


"Tenanglah, sebagai sahabat akrab Khay, aku tahu kalau Khay tidak akan membiarkan Sita mengusik keluarganya, karena bagaimanapun Sita berusaha merebut hatinya kembali, tapi jika Khay menolaknya, maka itu juga tak akan berhasil, dan pemenangnya tentu kamu, istrinya, karena Khay begitu mencintaimu, yakinlah itu !" Ujar Priska


"Tapi jika saja, Khay sampai menerimanya kembali, maka sudah aku katakan dari sekarang kalau akau akan meninggalkannya, pergi menjauh darinya, dan tidak mungkin bisa menemukanku lagi juga darah dagingnya yang masih dalam kandunganku." Ujar Enzy menggebu-gebu.


Priska tersenyum miring.


"Sudah ku katakan kamu tak usah khawatir Khay tak mungkin melakukan itu, dia sudah sangat mencintaimu." Ucap Priska masih dengan senyumannya, namun senyuman itu tak ada yang bisa mengartikannya, hanya dialah yang tahu.


Bersambung........


Jangan lupa tetap terus dukung author dengan memberikan banyak like, Koment, dan Vote sebanyak-banyaknya.


Mampir juga ke cerita author lainnya berjudul DENDAM MEMBAWAH CINTA......


ceritanya juga tak kalah menarik....


...TERIMAKASIH...


...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...