
Setelah beberapa hari di rawat, hari ini Dedek Kia sudah di perbolehkan pulang, sedangkan Abang Khay selama adiknya itu di rawat ia juga ikut menginap di rumah sakit, jangan heran kenapa ia bisa ikut menginap di rumah sakit sedangkan peraturan rumah sakit melarang bagi anak kecil untuk masuk apalagi menginap, tapi kalian jangan lupa apapun bisa dilakukan oleh keluarga Kenan, termasuk membiarkan Abang Khay bisa ikut masuk di rumah sakit.
Kenan menyulap ruangan perawatan VIP anaknya itu menjadi perawatan super VVIP, dan ia juga menyumbangkan beberapa dana untuk merenovasi beberapa bangunan rumah sakit tersebut karena sudah banyak ruangan yang harusnya di renof, bahkan Kenan juga berdonasi untuk perawatan bagi anak-anak dan orangtua yang tidak mampu, hal itu di lakukan sebagai tanda rasa syukurnya atas dirinya yang sudah kembali pulih.
"Terimakasih banyak sekali lagi tuan, atas apa yang telah tuan berikan untuk rumah sakit kami, semoga keluarga tuan selalu dalam lindungan yang maha kuasa dan tentunya selalu di berikan Rezki berlimpah yang di berkahi." Ucap dokter Pandu yang merawat dedek Kia juga sebagai kepala rumah sakit tersebut.
Karena sejak pengajuan donasi Kenan untuk rumah sakit tersebut, dokter Pandu sendirilah yang menawarkan untuk merawat langsung dedek Kia.
"Sama-sama dokter, dan terimakasih juga atas doanya." Ucap Kenan.
"Tuan tidak perlu berterimakasih, karena tuan sudah sangat membantu rumah sakit kami, dan hanya itu yang bisa kami balaskan atas kemurahan hati tuan dan keluarga." Ujar dokter Pandu.
"Baiklah dok, tapi saya dan keluarga saya ikhlas melakukan itu.
"Jika ada kekurangan atau masalah dokter bisa menghubungi saya, atau Asisiten saya." Tambah Kenan.
"Iya Tuan, sekali lagi terimakasih banyak." Ucap dokter Pandu lalu mengulurkan tangannya kearah Kenan.
"Sama-sama Dok, dokter jangan sungkan menghubungiku !!" Sahut Kenan menerima uluran tangan dokter Pandu.
"Yank, apa sudah selesai ?" Kenan berbalik kearah Diva yang sibuk mengepak barang-barangnya yang berada di lemari kecil samping brangkar.
"Sedikit lagi by', ini tinggal masukin barang-barang milik Abang." Sahut Diva sambil memasukkan beberapa mainan milik putranya.
"Kenapa juga Abang harus bawa banyak mainan seperti ini, kita lagi di rumah sakit loh ini." Keluh Diva.
"Namanya juga anak-anak yank, lagian kamu tau sendirikan anak kamu itu bagaimana." Sahut Kenan kemudian melirik putranya yang tengah duduk di sampingnya sambil serius bermain ponsel.
"Maaf ya dok, Dokter melihat keributan kami." Ujar dokter merasa tak enak karena disana masih ada dokter Pandu.
"Tidak apa-apa tuan, anak dan istri saya juga sering seperti ini, bahkan kami lebih ribut dari keluarga tuan." Ucap dokter Pandu.
"Tuan muda benar-benar tak mau jauh dari Anda ya tuan ? Dari nona muda dirawat saya perhatikan tuan mudanya tak pernah jauh dari Anda." Ujar dokter Pandu tersenyum memperhatikan Abang Khay.
"Iya dok, dari kecil dia memang sudah seperti itu." Sahut Kenan.
"Sudah beres semua by', lebih baik sekarang hubungi pak Toni untuk segera mengambil barang-barang untuk di bawah ke mobil !!" Seru Diva menutup tas tempat pakaian Abang Khay.
"Iya yank." Sahut Kenan lalu merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel lalu mencari nama pak Toni.
"Maaf Dok, saya menelepon sopir saya dulu." Ucap Kenan lalu menghubungi pak Toni.
"Silakan tuan." Sahut dokter.
Saat panggilan Kenan tersambung Kenan langsung mengatakan kepada pak Toni agar segera masuk untuk mengambil barang-barang miliknya dan keluarganya.
"Baiklah tuan kalau begitu saya permisi, jika ada sesuatu terjadi tuan bisa menghubungi saya langsung !!" Pamit dokter Pandu.
"Iya dok, sama-sama." Sahut Kenan.
"Nyonya, saya permisi." Pamit dokter Pandu kepada Diva juga."
"Iya dok, terimakasih karena sudah merawat putri saya dengan baik." Ucap Diva tersenyum.
"Iya nyonya sama-sama, itu sudah menjadi kewajiban saya sebagai dokter." Ujar dokter Pandu kemudian keluar dari ruangan perawatan tersebut.
"By', apa ayah sama bunda Enggak kesini buat jemput ?" Tanya Diva menghampiri suaminya sambil menggendong dedek Kia yang sedang duduk di sofa.
"Sepertinya tidak yank, ayah masih sibuk di kantor, sedangkan bunda ia hanya menunggu dirumah." Jawab Kenan memeriksa e-mail yang masuk di ponselnya.
"Dedek, dedek seneng ya ? Sudah bisa pulang sekarang." Diva beralih pada putri kecilnya.
"Iya unda." Jawab dedek Kia dengan cara bicara khas anak-anak seumurannya.
"Dedek mau apa, Hem ? Biar nanti ayah yang belikan." Tanya Kenan beralih pada putrinya sambil mencubit gemas pipi cabi balita umur dua tahun tersebut.
"Dedek mau cake stolbelli Yah." Jawabannya.
"Ayah Abang juga mau." Timpal Abang Khay tanpa beralih dari ponselnya.
"Dasar tak mau kalah, orang dedek yang di tawarin ayah." Cibir Diva.
"Telselah aku dong, ayah kan, ayahnya Abang, iya kan Yah ?" Sahut Khay lalu beralih meminta dari ayahnya.
"Abang maupun dedek, kalian sama-sama anak Ayah, Ok !!" Jawab Kenan kembali memeriksa ponselnya.
"Tap yah....."
"Tidak ada tapi-tapian bang ! Ayah lagi kerja ini, ayah tidak bisa di ganggu !!" Tegas Kenan ia sudah jengah mendengar putranya itu selalu mengklaim kalau dirinya hanya ayahnya seorang, apalagi saat Diva ikut mengompori putranya itu.
🍀🍀🍀
Jam 11 siang Kenan berserta anak dan istrinya tiba di kediamannya, dan langsung di sambut oleh bunda Vivian.
"Walaikumsalam." Jawab bunda Vivian langsung meraih cucu perempuannya dari gendongan Diva.
"Bagaimana kabar cucu Oma, apa sudah sembuh, hum..?" Tanya bunda Vivian sambil menciumi seluruh wajah dedek Kia.
"Alhamdulillah sudah Oma." Diva yang menjawab pertanyaan mertuanya itu.
"Apa kalian tidak ingin masuk lebih dulu ? Kenapa harus mengobrol di depan?" Ujar Kenan datar lalu masuk lebih dulu sambil menggendong Abang Khay.
Bunda Vivian dan Diva hanya saling tatap kemudian ikut masuk.
🍀🍀🍀
Malam harinya mereka berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama, seperti biasa makan malam keluarga pak Salman tak ada satupun yang berbicara, Kecuali suara sendok dan garpu saling bertautan, begitupun dengan Abang Khay juga sudah terbiasa dengan kebiasaan keluarganya itu, kecuali dedek Kia yang jarang bergabung untuk makan bersama karena balita perempuan itu lebih suka makan sambil di ajak main.
Setelah makan malam usai pak Salman dan yang lainnya berkumpul di ruang keluarga.
"Nan besok ayah sama bunda akan kembali ke kota Z, kamu sudah bisa kembali memimpin perusahaan !!" Ujar pak Salman menatap Kenan.
"Tapi yah, rencananya aku ingin mengajak istri dan anak-anakku untuk liburan, hanya beberapa hari kok, aku juga tidak jauh-jauh palingan cuman di dalam negeri." Ucap Kenan.
"Tapi Nan, ayah sudah sangat ingin kembali ke kota Z." Ucap pak Salman.
"Cuman beberapa hari doang kok Yah." Ujar Kenan memelas.
"Ya sudah kamu pergi aja, kamu serahkan semuanya kepada pak Anton, kan hanya beberapa hari doang kan ? Biar ayah sama bunda kembali ke kota Z !!" Seru pak Salman.
"Apa tidak apa-apa Yah ? Bukannya perusahaan lagi ada proyek besar ?" Tanya Kenan.
"Tidak apa-apa pak Anton bisa menghendel semuanya, lagian proyeknya sudah hampir rampung kok." Jelas pak Salman.
"Ya sudah kalau begitu, hari Minggu ini aku berangkat." Sahut Kenan.
"Emangnya kita mau kemana sih by'" Tanya Diva karena memang belum diberi tahu oleh Kenan soal rencana ini.
"Iya Nan, sebenarnya kamu mau kemana sih ?" Timpal bunda Vivian.
"Aku mau ngajak kalian liburan ke labuan bajo yank..." Jawab Kenan.
"Apa tidak apa-apa untuk anak-anak kita bawah kesana by ?" Tanya Diva mengkhawatirkan anaknya.
"Apalagi dedek Kia baru saja keluar dari rumah sakit." Tambah Diva.
"Betul yang dikatakan istrimu Nan." Sahut Bunda Vivian.
"Ayah punya usul, Bagaimana kalau kalian ke Bali aja !" Seru pak Salman.
"Tapi Yah, di labuan bajo itu bagus, apalagi buat berbulan madu." Ujar Kenan.
"Bulan madu pala mu." Cibir pak Salman memajukan bibir bawahnya.
"Lagian kalaupun kamu ingin berbulan madu, tunggu sampai anak-anak kamu besar dulu Nan, dan sudah bisa di tinggal kalian, agar kalian bisa pergi berduaan." Timpal bunda Vivian.
"Iya, apalagi sama Abang tuh, kamu kerumah sakit aja, dianya malah nangis terus kalau enggak kamu kasi ikut, bagaimana kamu mau berbulan madu kalau Abang saja enggak mau jauh-jauh dari kamu." Tambah bunda Vivian.
"Lagian kamu juga sih by', ngapain malah mikirin bulan madu segala sih, anak sudah dua juga." Sahut Diva.
"Biarpun anak sudah dua yank, tapi kita juga butuh waktu buat romantis-romantisan, iya kan ?" Ujar Kenan menampilkan senyuman menggodanya.
"Astaga.... Yah, apa jangan-jangan anak kamu ketukar ya, kenapa sih dia jadi berubah lebay gitu, padahal dulukan dia datar dan dingin banget." Ucap bunda Vivian kepada suaminya.
"Ketukar bagaimana sih Bun, emangnya aku bayi pakai ketukar segala." Ucap Kenan sedikit kesal mendengar ucapan Bundanya.
"Bukan dia yang ketukar Bun, tapi mungkin jiwanya saja yang ketukar saat dia koma dulu." Sahut pak Salman.
"Aku Setuju dengan ayah." Timpal Diva menaikkan kedua jempolnya.
"Kamu kok ikut-ikutan yank ?"Ucap Kenan menatap Diva.
"Emang bener kan by'..." Sahut Diva kemudian pak Salman dan Bunda Vivian tertawa puas.
Bersambung.....
Jangan lupa terus beri dukungan buat Author dengan memberikan Like, Komen, dan juga Vote...
Maaf jika akhir-akhir ini Upnya sering telat soalnya author masih butuh banyak istrirahat buat pemulihan.
Untuk Cinta yang Kunantikan mungkin Upnya belum bisa sekarang-sekarang ini soalnya enggak bisa konsen buat nulisnya, dan aku juga tidak mau terlalu memaksakan keadaan aku sekarang yang masih belum pulih sepenuhnya.
Terimakasih atas pengertiannya...
🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️