
Enzy dan Rendra pergi ke sekolah, untuk menemui Prilly yang sebelumnya sudah ia telfon dan membuat janji, ketemu di kantin sekolah setelah jam pulang sekolah.
"Nah, itu dia orangnya." Ujar Enzy melambaikan tangannya keatas saat melihat Sita masuk ke kantin, Prilly tersenyum lalu menghampiri keduanya.
"Maaf kak, aku telat, apa kalian sudah lama ?" Ujar Prilly merasa tidak enak, kemudian bertanya, saat ia sudah berdiri di depan meja dimana Enzy dan Rendra duduk.
"Gak apa-apa, kamu gak usah sungkan, kami juga baru dateng kok, silahkan duduk !" Jawab Enzy lanjutnya menyuruh Prilly agar duduk.
"Kamu mau pesan apa ?" Tanya Enzy ramah dengan senyuman manis khas wanita cantik itu.
"Aku pesan mie ayam sama jus jeruk aja kak, dan terimakasih sebelumnya." Sahut Prilly sambil terus menatap Enzy, benar-benar cantik, batin Prilly mengangumi kecantikan wanita dihadapannya.
Sambil menunggu pesanan mereka Enzy memulai pembicaraan, alasan apa sampai ia harus menemui Prilly.
"Maksud kakak siswi baru introvet adiknya kak Alex, anak kampus sebelah ?" Tanya balik Prilly.
"Kamu tahu Alex ?" Tanya Rendra menimpali menaikkan keaua alisnya.
"Aku hanya tahu nama kak, itupun Kia yang memberitahuku, saat kak Alex ini sering terlihat mengantar jemput siswi yang dimaksud kakak ini." Jelas Prilly.
"Jadi maksudnya, Kia juga tahu kalau siswi yang bernama Sita ini adiknya Alex ?" Tanya Enzy.
"Sepertinya Kia belum tahu deh kak, aku juga baru tahu akhir-akhir ini, saat siswa-siswi sini membicarakan kalau sebenarnya pria yang sering menjemput siswi introvet ini, adalah kakaknya, karena selama ini kami mengira kalau mereka pasangan kekasih." Jelas Prilly.
"Oh tapi kak, ternyata namanya Sita ya ? Aku juga baru tahu." Ujar Prilly lagi.
"Iya." Jawab Enzy singkat seperti berpikir.
"Apa kak Enzy tahu, kalau kak Alex juga teman kak Khay, itu juga aku tahu dari Kia." Ujar Prilly.
"Aku tahu kalau Alex juga teman Khay, tapi yang jadi masalahnya bukan sama Alex, tapi sama adiknya Sita." Sahut Enzy.
"Lalu ?" Tanya Prilly.
Enzy mengentikan obrolannya saat makanan dan minumannya diantar oleh pegawai kantin, setelah pegawai kantin itu pergi Enzy mulai angkat bicara lagi.
"Sita, apa kamu bisa membantuku untuk menemui Sita?" Tanya Enzy.
"Iya kak, aku bisa membantu kakak, di saat jam pulang sekolah seperti ini, biasanya dia berada di taman, menunggu jemputan nya." Terang Prilly setuju untuk membantu Enzy.
"Baiklah lebih baik kita makan dulu, lalu pergi menemuinya !" Seru Enzy menyendok baksonya.
"Tapi kak, jika kita makan terlebih dahulu, takutnya dia sudah keburu pergi." Sahut Prilly.
"Jadi ?" Timpal Rendra, makanan bahkan sudah hampir habis, karena di saat Enzy dan Prilly mengobrol dia malah sibuk makan.
"Kita langsung kesana aja kak." Usul Prilly.
"Ok, baiklah, mari kita pergi !" Ajak Enzy lalu ketiganya pergi meninggalkan kantin tersebut, meninggalkan makanan mereka yang masih tersisa banyak, kecuali Rendra.
Ketika sampai di taman, terlihah Sita masih berada disana sambil membaca buku seperti biasa. Prilly langsung menghampirinya, sedangkan Enzy dan Rendra menunggu di tempat cukup jauh dari sana, tapi mereka masih bisa melihat dengan jelas.
"Hay, boleh duduk disini gak ?" Sapa Prilly tersenyum.
Sita yang tadinya fokus dengan buku bacaannya mendongak menatap Prilly.
"Silahkan !" Seru Sita lalu kembali fokus dengan bukunya.
"Kenalkan namaku Prilly, apa kita berteman ?" Prilly memperkenalkan dirinya lalu berusaha dekat dengan gadis itu.
"Untuk apa ? Aku lebih suka sendirian !" Sahut Sita dingin.
"Pengen saja, aku perhatikan kita sama-sama punya kesamaan, aku juga tidak suka berteman dengan sembarang orang, tapi karena aku melihatmu sama sepertiku,makanya aku ajak berteman, siapa tau aja kita bisa jadi teman yang baik." Ujar Prilly sok ramah.
"Emm..." Sita tampak berpikir, lalu berujar kembali.
"Namaku Sita." Ucapnya.
"Karena kita sudah berteman, apa aku bisa meminta bantuanmu sebentar saja ?" Tanya Prilly beralasan.
"Bantu apa ? Tapi maaf ya, bukannya aku tidak mau, tapi takutnya kakakku datang dan mencariku." Tolak Sita halus.
"Sebentar aja kok, cuma disana sebentar, aku juga tidak tahu harus meminta bantuan siapa, soalnya aku juga tak punya teman selain dirimu sekarang." Pinta Prilly memelaskan wajahnya.
"Baiklah, aku akan membantumu." Ucap Sita pada akhirnya setelah berpikir sejenak.
"Ya, ayo, ikutlah bersamaku, barang-barangnya ada disebalah sana." Prilly berdiri lalu menarik tangan Sita sedikit kasar.
Enzy yang melihat itu langsung berdiri, wajahnya sudah menahan amarahnya ketika melihat Sita sudah berada dihadapannya.
Sita beralih menatap Prilly yang berdiri di sampingnya.
"Katanya kamu butuh bantuan, bantuan apa ? Terus mereka berdua siapa ?" Tanya Sita kebingungan, apalagi saat melihat tatapan sinis Enzy padanya.
"Kamu Sita, kan ?" Tanya Enzy dingin.
"I.. Iya..." Jawab Sita gugup menatap Enzy yang terus saja menatapnya tajam juga sinis.
"Perkenalkan aku Enzy, tapi aku rasa kau sudah tahu jika mendengar namaku." Ujar Enzy.
Sita yang memang sudah mengetahui nama istri Khay terkejut, dan sedikit ketakutan, Sita membalikkan badannya ingin segera meninggalkan tempat tersebut, namun dengan cepat Enzy menarik lengannya kasar, sehingga Sita kembali berbalik padanya.
"Kenapa terburu-buru ? Apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku, atau kau hanya ingin bicara dengan SUAMIKU ?" Enzy melontarkan banyak pertanyaan, lalu sengaja menekankan kata terakhirnya.
Sita terlihah sudah sangat gelisah, keringat dinginya mulai bercucuran, mendengar nada bicara Enzy yang sangat dingin, di tambah lagi dengan tatapan mengintimidasi wanita itu, bahkan terlihah sangat mengerihkan, seolah Enzy akan menelanya hidup-hidup.
"Kenapa hanya diam, apa kamu hanya berani menghubungi SUAMIKU secara diam-diam, hah ? Tidakkah kau ingin menyampaikan sesuatu padaku ?" Tanya Enzy lagi-lagi mengintimidasi.
Sita mulai memberanikan diri untuk menatap tatapan mengintimidasi Enzy, lalu balik menatapnya tajam.
"Aku akan membuat kalian berpisah." Seru Sita menantang.
Enzy maju mendekatkan dirinya pada Sita.
"Apa kau bilang ?" Enzy hampir saja menarik kasar rambut gadis itu, namun dengan cepat Rendra menahannya.
"Enzy, Tenanglah !" Seru Rendra.
"Gue tak menyangka dengan wajahmu yang terlihat sangat polos ini, tapi kenapa kau sampai memiliki pemikiran seperti itu, yang tega memisahkan hubungan suami istri yang saling mencintai, bahkan mereka akan segera memiliki buah hati, kau sungguh picik gadis kecil !" Seru Rendra sudah mulai ikut geram melihat sikap Sita.
"Benar yang dikatakan kak Rendra, apa penampilan mu, tak seperti dengan kelakuan mu, bagaimana kamu akan merebut suami orang, apa kau ingin di cap sebagai PELAKOR ? Dasar tak tahu malu." Timpal Prilly menatap Sita jijik.
"Terserah dengan apa yang kalian katakan padaku, aku tidak peduli, tapi perlu kamu camkan baik-baik." Sita menatap Enzy menantang.
"Kamu akan segera berpisah dengan kak Khay, aku akan merebut kembali apa yang pernah menjadi milikku." Lanjut Sita.
"Dasar kau wanita ja***Ng, si***an," Umpat Enzy amarahnya sudah sampai ke ubun-ubun, ia sudah tak bisa lagi bersabar agar tidak menyakiti gadis kurang ajar dan tak tahu malu dihadapannya itu, Enzy mencengkeram kuat lengan Sita sampai membuat Sita meringis kesakitan, bahkan kuku Enzy sudah melukai lengan kecil Sita.
"Enzy, tenanglah ! Ingatlah saat ini kamu sedang mengandung, tidak baik jika kamu mengumpat seperti itu, ingat juga kondisi kandungan mu sekarang !" Seru Rendra mengingatkan.
"Benar yang dikatakan kak Rendra kak, tolong tenanglah, jaga emosi kakak, lagian disini juga banyak orang, jangan sampai mereka mengira kita membullli dia." Timpal Prilly melihat kemarahan Enzy yang mencuak, Prilly benar-benar tak menyangka, dibalik sosok wajah cantik nan lembut itu tersimpan sosok mengerihkan dibaliknya.
"Dan kau !" Rendra menunjuk tepat di hadapan Sita.
"Perlu gue ingatkan kembali, kalau kau telah putus dengan Khay, dan gue tahu betul kau sendiri yang meninggalkan Khay tanpa alasan tak jelas, lalu tak tahu malunya kau kembali setelah kau lama pergi meninggalkannya, bahkan kau berpikir akan menghancurkan hubungan Khay dengan orang yang sudah menjadi istrinya, bahkan mereka akan segera memiliki anak, hasil dari buah cinta mereka." Rendra sudah ikut tersulut emosi, sampai Rendra melupakan kalau yang di lawannya itu seorang wanita, tapi ia sudah tak memikirkan itu, tidak peduli dengan pikiran orang-orang, karena ia sudah melawan seorang wanita, tapi jika wanita itu salah apa seorang pria tidak boleh melakukan itu, selama ia tak main pisik. Pikir Rendra.
"Benar-benar wanita gak ada harga dirinya banget." Ujar Prilly memajukan bibirnya bawahnya sambil geleng-geleng kepala.
"Apapun itu, tapi kalian akan tetap berpisah !" Dengan rasa percaya diri Sita berkata dengan sebuah penekanan di setiap kata yang keluar dari mulutnya.
"Tak peduli aku dicap sebagai perembut suami atau perusak rumah tangga orang." Lanjutnya, membuat Rendra dan Prilly benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Sita, wanita g**a. Pikir keduanya.
Plakkkk.... Plakkkk....
Tamparan keras mendarat tepat dikedua pipi Sita bergantian, tentu saja pelakunya tak lain Iyalah Enzy. Enzy benar-benar sudah muak.
Bersambung.......
Jangan lupa ya readers tinggalkan
***LIKE
KOMENTAR
VOTE
Cukup tegang ya readers, tahan sebentar, akan ada kejutan besar yang tak pernah readers nyangka***...
JANGAN LUPA MAMPIR JUGA KE CERITA AUTHOR LAINNYA ***DENDAM MEMBAWAH CINTA.....
...TERIMAKASIH...
...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏***...