
Sudah satu Minggu, setelah kejadian Arka dan Vara, tapi Arka masih belum menceritakan hal itu kepada kedua orangtuanya, karena ia belum dapat kesempatan untuk itu, karena orangtua Arka masih sibuk dengan keadaan Diva, dan juga perusahaannya yang sedikit ada masalah, di tambah lagi Arka yang tidak pernah lagi menemuinya, dan jarang menghubunginya, bahkan chatnya saja Arka hanya membalas yang seperlunya saja, bahkan tak jarang Arka tidak membalasnya.hal itu membuat Vara selalu terlihat murung, ia merasa kalau Arka hanya mempermainkannya.
Hari ini Diva sudah diperbolehkan untuk pulang dari rumah sakit.
Di rumah sakit, dimana ruangan Diva dirawat selama ini, terlihat Kenan sibuk merapikan barang-barang mereka selama mereka dirumah sakit, cukup banyak barang mereka lebih tepatnya barang-barang milik Kenan, karena selama Diva dirawat Kenan tidak pernah pulang kerumah.
" Sudah beres ?" Tanya Diva saat melihat Kenan meletakkan dua tas besar di atas meja dekat sofa.
" Sudah. " Jawab Kenan berjalan kearah istrinya.
" Yakin sudah tidak ada lagi yang tertinggal ?" Diva kembali bertanya.
Kenan melihat sekeliling ruangan mencari siapa tau ada yang teringgal.
" Sudah tidak ada lagi. " Jawab Kenan setelah melihat sekeliling ruangan.
" Ayo, Sekarang kita pulang. " Sahut Kenan dan membantu Diva turun dari brangkarnya.
" Pak tolong bawakan tasnya langsung kemobil. " Seru Kenan kepada pak Tono sopir Keluarga Salman dikota Z.
" Baik den. " Jawab pak Tono segera membawa tas-tas tersebut untuk dibawa kemobil.
sedangkan Kenan membantu istrinya itu untuk mendorong kursi rodanya. karena Diva belum bisa untuk berjalan cukup jauh, karena ia sering masih berasa pusing jika ia lama-lama untuk berdiri.
" By' Ayah sama Bunda tidak jemput ?" Tanya Diva mendongakkan kepalanya kebelakang melihat kearah Kenan.
" Tidak Yank, mereka nungguin kita dirumah. " Jawab Kenan menampilkan senyumannya.
Setelah sampai didepan lobi rumah sakit Kenan langsung menggendong Diva naik kemobil, yang sebelumnya pintunya sudah dibuka oleh pak Tono.
" Kenapa mesti digendong sih by', aku bisa sendiri. " Sahut Diva setelah ia duduk didalam mobil.
" Aku tidak mau kamu kenapa-napa yank, kamu masih belum sehat, lagian kamu ngeyel banget buat segera keluar dari rumah sakit. " Sahut kenan ikut masuk kedalam mobil.
" Aku bosen dirumah sakit Mulu by'. " Jawab Diva nyegir.
Setelah mereka masuk kedalam mobil, pak Tono juga segera menyusul, langsung melajukan mobil meninggalkan area rumah sakit.
Empat puluh menit menempuh perjalanan kini mobil yang dikendarai Pak Tono memasuki pekarangan rumah besar milik keluarga Fikram, mobilnya kini terparkir tepat didepan pintu utama rumah keluarga Fikram.
Kenan langsung keluar dari mobil dan membantu Diva untuk keluar, Kenan berniat untuk menggendong Diva, namun Diva buru-buru menolaknya.
" Aku bisa sendiri by' , cuma masuk rumah doang. " Sahut Diva menahan bahu Kenan yang menundukkan badannya untuk menggendongnya.
" Yakin kamu bisa yank, entar kamu pusing lagi. ?" Tanya Kenan mendongakkan kepalanya melihat Diva.
Diva hanya menganggukkan kepalanya dan segera berjalan menuju pintu masuk, Kenan langsung menyusul istrinya itu dan masuk dengan Kenan memeluk bahu Diva dari samping.
Setelah masuk ruang tamu, mereka disambut dengan kehadiran orangtua Diva, Arka, sahabat-sahabat Diva, dan teman sekomunitas motornya.
Ayah Fikram sengaja mengundang semua teman-teman dekat Diva untuk mengadakan jamuan makan siang sebagai tanda syukur karena Diva sudah kembali dari rumah sakit.
" Wooiisss. " Pada rame nih ?" sahut Diva dengan gaya sedikit bar-bar melihat semua teman-temannya.
" Iya ini kami khusus buat nyambut lu yang habis liburan. " Ucap Panji sedo bercanda.
" Masih bisa ngetrck tidak lu, apa lu sudah tobat ?" Tanya reza.
" Masih dong, kemarin itu tidak ada apa-apanya mah, masih biasa buat gue. " Jawab Diva songong.
" Pokoknya tidak ada lagi balap-balapan yank." sahut Kenan penuh penekanan.
" Kamu mana tau by', lagian kamu bentar lagi kembali keasal kamu. " Jawab Diva menaikkan kedua alisnya kearah suaminya itu.
" YANK..." Ucap Kenan dengan muka dinginnya dan penuh penekanan, pertanda ia tidak mau dibantah.
" Lagian elu sih, Udah hampir mati juga, masih belum ada kapok-kaponya. " Sahut Rafa.
" Bukan lagi hampir mati bro, tapi udah mati. " Kali ini Ray yang meralat ucapan Rafa.
" Kalau gue mati, gue nggak mungkin disini, dan sahabat lu itu, mungkin sudah dibawa di RSJ. " Ucap Diva sambil melirik kearah Kenan.
" Atau mungkin sudah masuk Koran kali yah, dengan judul ~ ANAK SEMATA WAYANG PENGUSAHA NO.1 DI KOTAxx, MATI BUNUH DIRI KARENA DITINGGAL MATI ISTRINYA ~. " Ucap Ray ikut mengejek Kenan.
" Karena dia nangis-nangis tuh dipelukan Om Salman sambil berkata [ Yah, apa aku harus ikut, aku tidak bisa hidup tanpa dia disisiku yah ]. Sambung Ray setelah ia menjeda ucapannya tadi, sambil meniru Kenan saat ia nangis diperlukan ayah Salman.
Seketika semua orang yang berada diruangan itu tertawa menertawakan Kenan, Kecuali Arka, dan kedua orangtuanya, Karena mendengar cerita dari Ray, dan itu sukses membuat Kenan sangat kesal menatap Ray dengan tatapan membunuhnya, sedangkan Ray yang ditatap hanya menampilkan senyuman tanpa merasa bersalahnya.
Di tengah candaan mereka tiba-tiba Arka keluar dari ruangan keluarga untuk memanggil mereka supaya segera kehalaman belakang untuk makan siang.
Diva yang melihat itu mengernyitkan keningnya.
" Hay kak, elu mau kemana ?" Tanya Diva sedikit meninggikan suaranya karena Arka sudah berada depan pintu yang sedikit jauh dari tempat mereka duduk.
" Gue ada urusan kalian terusin aja acaranya, gue cabut dulu. " Jawab Kenan kemudian melanjutkan langkahnya.
Sahabat-sahabat Diva segera menuju arah taman belakang, disana sudah ada teman-teman cewek Diva, mereka memang sudah lebih dulu kesana, karena ia malas dengan obrolan para laki-laki di ruang tamu, kecuali Lani yang ikut gabung bersama para laki-laki bernama Diva yang memang satu species dengan Diva.
mereka makan siang dengan diselingi candaan Ray dan Rafa yang sama-sama tidak bisa diam, ditambah Jova yang selalu centil.
Di tempat lain.
Terlihat Vara duduk sendirian disebuah cafe ia menatap keluar jendela dengan tatapan kosong, sambil mengaduk-aduk jus yang dari ia pesan, namun ia belum meminumnya sedikitpun.
Tiba-tiba seorang laki-laki memegang pundaknya dan langsung duduk disampingnya, Vara merasa ada seseorang langsung menoleh dan sedikit tersenyum dipaksakan.
" Maaf bee Lama tadi dijalan macet. " Terang Arka meraih tangan Vara.
" Apa kamu benar-benar akan tanggung jawab, aku takut aku hamil. " Sahut to the poin.
" Aku akan benar-benar tanggungjawab, kamu tidak usah khawatir bee, tapi aku belum punya kesempatan buat cerita sama orangtua aku, Karena diperusahaan ada sedikit masalah, dan akhir-akhir aku juga sibuk dikantor. " Terang Arka mengusap air mata Vara dengan ibu jarinya, karena Vara menangis mendengar penjelasan Arka.
" Tapi sampai kapan Ka ?" Tanya Diva mengalihkan pandangannya keluar jendela.
Arka yang melihat itu sedikit menarik kursinya mendekati Vara, ia menarik tangan Vara dan menggenggamnya yang sedari tadi mengaduk minumannya.
" Aku janji aku akan ceritakan ini setelah aku sampai rumah, karena saat ini orangtua aku berada dirumah untuk menyambut kepulangan Diva dari rumah sakit. " Jelas Arka menatap kekasihnya itu.
Vara hanya mengangguk, ia malas hanya selalu mendengar janji dari Arka.
" Bee, apa kamu masih tidak percaya sama aku ?" Tanya Arka.
" Aku akan percaya jika kamu benar-benar sudah berada di rumahku, melamarku didepan kedua orangtuaku. " jawab Vara menjeda ucapannya
"bukannya dulu kamu sendiri yang bilang akan segera melamar ku, mana janjimu itu ?" Tanya Vara melanjutkan ucapannya.
Arka terdiam mendengar ucapan Vara hanya menundukkan kepalanya, ia membenarkan semua ucapan Vara, bahwa dialah yang ingin secepatnya melamar kekasihnya itu, tapi nyatanya malah dia yang selalu mengulur waktu, bukan tanpa alasan tapi saat ini ia sibuk dikantor, bahkan kuliahnya saja sampai terabaikan.
Vara yang melihat Arka hanya diam, ia sudah jengah dengan sikap Arka itu.
" Sekarang aku sudah tau, bahwa kamu tidak ada bedanya laki-laki br****k diluar sana, jika kau sudah mendapatkan apa yang kamu mau, maka dengan seenaknya kau meninggalkanya."
Sahut Vara dan segera meninggalkan Arka, dengan perasaan kecewa bercampur sedih, Vara terus berjalan menuju parkiran dimana mobilnya berada.
Arka yang melihat kepergian Vara hanya bisa terdiam tanpa berniat untuk mengejarnya, Vara yang melihat Arka sama sekali tidak mengejarnya, ia berpikir kalau Arka benar-benar hanya memanfaatkannya.
Visual
( *saat Kenan menatap tajam Ray )
( saat Diva sedang asyik bercanda bersama sahabatnya, anggap ini diruang tamu ya readers)
( Ray dengan senyum tanpa bersalahnya )
( Rafa tertawa puas )
Bersambung......
Budayakan
like
coment
vote
🤗🤗🤗🤗🙏🙏🙏🙏*