Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
Episode 85


Kenan berlari menaiki tangga menuju kamar orangtuanya berada, sampai-sampai Kenan hampir terjatuh karena kakinya kesandung dengan gundukan tangga, untuk saja Kenan dengan cepat berpegangan pada besi penghalang tangga berada di sisi Kiri.


"Bunda ...


"Ayah ....


Kenan terus saja mengetuk pintu kamar orangtuanya.


"Bunda mana Yah ?" Tanya Kenan saat Ayah Salman membuka pintu.


"Astagfirullah Bang, Ada apa sih ?" Tanya Ayah Salman balik, kebingungan dan juga kaget.


"Itu perut Diva.


Belum sempat Kenan meneruskan ucapannya, Bunda Vivian keluar, sepertinya Bunda Vivian baru saja selesai mandi.


Belum sempat Bunda bertanya, Kenan langsung menarik tangan Bundanya, turun tangga menuju kamarnya. Sedangkan ayah Salman hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah putranya, dan segera mengikuti dimana Kenan membawa sang Istri.


Saat menuruni tangga, Bunda Vivian hampir saja terjatuh, karena tak sengaja kepeleset di pinggiran tangga, untung saja Ayah Salman dengan sigap menahan bahunya, sehingga tidak sampai terjengkang kebelakang.


"Pelan-pelan Bang, hampir saja kamu melukai Bunda kamu !" Peringat Ayah Salman.


"Maaf Yah, Bun, soalnya saya khawatir dengan keadaan Diva, dia mengelu di bagian perutnya." Terang Kenan.


"Astagfirullah, kenapa tidak bilang dari tadi sih Bang !" Seru Bunda Vivian, kemudian menuruni tangga kembali, meninggalkan kedua pria yang menatapnya cengo.


Saat sampai kamar, Bunda Vivian segera mendudukkan dirinya di sisi tempat tidur, di samping Diva yang sedang menyandar.


"Apa yang kamu rasakan Nak ?" Tanya Bunda Vivian terlihat sangat khawatir sambil mengelus perut menantunya itu.


"Ini perut aku bergerak, seperti di tendang dari dalam Bun." Jelas Diva.


Uuhhfffftttt


Bunda Vivian mengela nafas panjang, sambil geleng-geleng kepala.


"Apa ada yang sakit ?" Tanya Bunda lagi, tapi sudah tidak khawatir seperti sebelumnya.


"Tidak ada Bun, tapi aku takut untuk bergerak, takut babynya ada apa-apa." Jawab Diva masih takut untuk menggerakkan badannya.


"Kalian ini, yang bergerak tadi itu babynya, itu pertanda kalau babynya sudah bisa merespon jika sudah di ajak ngobrol, usia kehamilannya juga sudah 4 bulan kan, dan di usia segitu, babynya sudah bisa merespon, ini baru sesekali, kalau di usia 6 bulanan sampai menjelang persalinan gerakannya lebih sering lagi." Ucap Bunda menjelaskan panjang lebar, kepada anak-anak tapi sudah mau jadi orang tua.


"Dasar anak-anak labil, makanya, kalau masih kecil jangan dulu bikin anak ! Cibir Ayah Salman jengah.


"Ayah lupa siapa yang nyuru kami untuk segera menikah." Ujar Kenan tak terima dengan cibiran sang Ayah.


"Ayah tidak lupa, Tapi kalau belum pada ngerti jangan dulu coba untuk buat !" Ayah Salman kembali berujar.


"Kalau sudah ada partnernya ngapain lagi di tunda, lagian enak ko buatnya." Ucap Kenan tanpa ada rasa malu, berbeda dengan Diva, wajah Diva sudah sangat memerah mendengar ucapan suaminya yang vulgar menurutnya.


"Tapi kamu gangguin bulan madu kami." Sahut Ayah Salman.


"Sok ... Sok an bulan madu, madunya sudah pahit kali, sudah mau punya cucu juga." Cibir Kenan.


"Enaknya aja, ngatain pahit, orang ayah masih kuat buat bunda kamu tak berdaya, buat bikin kamu adik tiga lagi juga ayah masih mampu." Ucap Ayah tak terima dengan perkataan Kenan.


"Jangan ngaco kamu Yah, masih saja tak mau kalah sama anak sendiri, Ingat encok ayah, jangan sok-sokan mau buat adik buat Kenan, lebih baik kamu tunggu cucu kamu aja !" Ujar Bunda melerai perdebatan tak berfaedah ayah dan anak itu.


"Hahaha... Seketika Tawa Kenan pecah mendengar ucapan sang Bunda.


"Tuh, makanya Yah, jangan sok-sokan mau buatkan lagi aku adik, entar ayah encok !" Ejek Kenan masih menertawakan Ayahnya.


"Bunda, siapa yang encok, Bunda lupa sama yang tadi siang, sampai bunda sendiri meminta ampun, karena permainan suamimu yang selalu kau bilangin tua dan encok." Ucap Ayah Salman, dan langsung mendapatkan hadiah pukulan dari sang istri.


"Dasar, tak tau malu, kalian Anak sama ayah sama saja !" Ucap Bunda Vivian meninggalkan kamar anak dan menantunya itu, sambil menyembunyikan wajah meronanya.


"Yah, kalau di kunciin kamar, ayah jangan sampai tidur di sofa nanti masuk angin, tidur aja di kamar sebelah !" Ujar Kenan berbisik di telinga ayahnya.


"Terimakasih sarannya, tapi sepertinya saran yang anda berikan tidak ada gunanya, karena istri aku tidak mungkin bisa tidur kalau tidak di dekapan ayahmu ini." Ucap ayah Salman menyombongkan dirinya.


"Ya sudah, ayah keluarlah dari kamar saya, saya mau melanjutkannya bulan maduku !" Ucap Kenan.


"Iya, iya, Ingat jangan terlalu kelelahan !" Ujar ayah Salman tersenyum, jauh di lubuk hatinya merasa sangat bersyukur melihat putranya itu masih bisa tertawa lepas seperti tadi, padahal ia tahu kalau sebenarnya putranya itu menahan rasa sakit yang teramat, dan hal itu Kenan berusaha menyembunyikan nya.


🍀🍀🍀


Ke Esokan harinya, Kenan dan Diva tampak berjalan menyusuri koridor rumah sakit, menuju pemeriksaannya kandungan, dengan tangan saling bertautan.


"Bagaimana keadaan kandungan dan istri saya Dok ?" Tanya Kenan setelah Diva di periksa dan juga tadi mereka sempat mendengar detak jantung anak mereka dengan alat yang di letakkan di atas perut Diva, hal itu membuat Kenan meteskan air mata haru saat pertama kali mendengar detak jantung hasil buah cinta mereka.


"Sejauh ini semuanya baik-baik saja, namun saya sarankan untuk jangan terlalu memporsir makannya, dan jangan juga meminum yang dingin. Karena hal itu akan bisa membuat proses persalinan kesusahan karena berat badan babynya bisa lebih." Ucap Dokter yang bernamrtag Katrine.


"Baiklah Dok, terimakasih, kalau begitu, kami permisi." Ucap Kenan kemudian berpamitan.


(anggap aja mereka berbicara dengan bhs.inggris).


Selama menjalani kemoterapi, Diva tidak pernah meninggalkan Kenan barang sebentar pun, hal itu yang Diva lakukan saat Kenan kemoterapi, karena ia ingin selalu berada di dekat suaminya untuk selalu memberinya suport untuk sembuh. Karena Diva juga tau saat kemoterapi Kenan merasa kesakitan, terlihat dari ekspresi wajahnya.


Setelah hampir dua jam, akhirnya kemo hari ini selesai, dan akan kembali dua hari lagi untuk kemo lagi. Mereka tak langsung pergi meninggalkan rumah sakit, Kenan beristirahat selama 30 menit karena merasa pusing, efek dari kemoterapi.


"Ayo Yank !" Ajak Kenan setelah merasa lebih baik.


"Apa pusingnya sudah berkurang by' ?" Tanya Diva memastikan, dan langsung di angguki Kenan.


Kenan memeluk pinggang istrinya itu dan keluar dari ruangan tersebut, dan menuju parkiran di mana sang sopir menunggunya.


"Yank, kita jalan-jalan dulu yuk, sudah lama kita tidak jalan berdua !" Ajak Kenan setelah masuk kedalam mobil.


"Tapi nanti kamu kelelahan by'." Sahut Diva menatap suaminya.


"Tidak, sekalian buat makan siang ! Aku tahu sekarang kamu pasti lapar kan ?" Ujar Kenan menarik hidung Diva.


"Pak, kita ke salah satu pusat perbelanjaan !" Seru Kenan kepada sopirnya.


"Baik Tuan." Sahut sang sopir ( Anggap lagi berbahasa Inggris, kecuali jika berbicara dengan keluarga Kenan maupun Diva tetap berbahasa Indonesia).


Setibanya di pusat perbelanjaan yang cukup terkenal di negara Singapore tersebut, Kenan dan Diva terlebih dahulu melangkah menuju sebuah restoran, untuk makan siang.


Setelah masuk di restoran Diva langsung memesan makanan, Diva bingung harus memesan apa untuk Kenan, semua menu adalah makanan yang tidak boleh di makan suaminya, akhirnya Diva hanya memesan salad buah untuk Kenan yang kebetulan tersedia sebagai pencuci mulut.


"By', kita jangan lama-lama ya disini, entar kamu kelaparan, karena hanya memakan salad buah saja !" Ujar Diva.


"Iya, kita jalan-jalan sebentar, ada yang pengen aku beli yank." Sahut Kenan memainkan ponselnya.


Diva diam-diam mengambil foto Kenan saat Kenan melihat sekeliling restoran. Kenan tidak melepas topi dan jaketnya.



"Kamu motoin aku Yank ?" Tanya Kenan saat bunyi kamera ponsel Diva berbunyi.


Diva yang berniat mengambil foto suaminya diam-diam ketahuan karena suara cameranya lupa untuk ia matikan.


"Iya, tadi aku dapat pose yang bagus." Jawab Diva memperlihatkan hasil jepretannya.


"Gantian, kamu yang aku foto yank !" Ujar Kenan mengarahkan kamera ponsel kearah Diva.



"Mana aku liat by' !" Ujar Diva meminta ponsel yang Kenan pake mengambil fotonya.


"By', hapus gih ! Di sini aku kelihatan gemuk banget, dan coba liat pipi aku cubby banget." Ucap Diva.


Kenan merebut ponselnya dari tangan Diva, karena Diva akan menghapusnya.


"Ini cantik Yank, kamu tambah kelihatan seksi." Ujar Kenan.


Diva kembali meneruskan makanannya, saat Kenan memasukkan ponselnya di saku celananya, karena Diva sempat ingin merebut ponsel tersebut untuk menghapus fotonya.


Saat setelah makan, Kenan membawa Diva di sebuah toko perhiasan.


"Kita ngapain kesini by' ?" Tanya Diva.


"Aku mau beli kalung buat Bunda Yank." Jawab Kenan.


Diva hanya ber Oh ria saja, dan ikut memilih kalung yang menurutnya bagus, Kenan memilih kalung yang Diva pilih.


Kenan segera membayar sebuah kalung berlian simple tapi sangat elegan dan tentu saja dengan harga yang selangit.



Setelah selesai, kemudian Kenan mengajak Diva pulang, untuk menunggu sahabatnya dan sahabat sang istri.


Ya Ray dan Lani akan berkunjung ke Singapore hari ini, untuk menemui sahabatnya, sekalian mengantarkan undangan pernikahan mereka yang akan di langsungkan 2 minggu lagi.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan kalian


Like 👍


Coment 💬


Vote ✨


Favorit ❤️


Terimakasih atas semua dukungan dari kalian para pembaca, cerita aku yang masih amatiran ini, dan mohon beri saran jika masih banyak salah dalam penulisannya 🙏🙏🙏😊😊😊


Salam dari Author 🙏🙏🙏🤗🤗🤗