
Kenan dan Diva kembali ke kamarnya setelah makan malam bersama, dengan keluarga yang lengkap karena sekarang Arka juga sudah menikah. Kenan langsung memeluk Diva dari belakang saat sudah masuk kamar.
"By', Geli tau." Sahut Diva saat Kenan terus menciumi tengkuknya.
"Yank ... Mau makan kamu." Ucap Kenan, dan tanpa aba-aba mengangkat tubuh Diva ke tempat tidur dan langsung menindihnya.
"By', kamu tidak bisa melakukannya, aku lagi ada tamu." Ujar Diva mendorong dada Kenan saat Kenan terus menciumi wajahnya.
"Apa hubungannya Yank, lagian kenapa harus bertamu malam-malam begini, tidak tau waktu banget." Gerutu Kenan masih mencium seluruh wajah istrinya itu.
"Ya adalah, bahkan tamunya bisa sampai seminggu." Sahut Diva menahan wajah Kenan supaya berhenti menciumnya.
"Siapa yang bertamu seperti itu?" Tanya Kenan menatap Diva dengan tatapan menyelidik.
"Tamu bulanan." Jawab Diva
"Jadi dia setiap bulan bertamu di sini, tamunya cewek apa cowok, dan ngapain bertamu kesini?" Tanya Kenan beruntun.
Diva menghela nafasnya panjang menatap jengah suaminya itu yang tidak mengerti tamu bulanan yang Diva maksud.
"Iya." Jawab Diva malas.
"Iya apa?" Tanya Kenan tak mengerti jawaban Diva.
"Karena aku sedang menstruasi my hubby sayang, tamu bulanannya ya itu." Sahut Diva sedikit geram.
Seketika wajah Kenan berubah tak bersemangat, membaringkan tubuhnya disamping Diva.
"Kenapa harus datangnya di saat-saat seperti ini sih Yank." Ucap Kenan memeluk tubuh Diva dari samping.
"Padahal besok aku balik loh Yank, tidak dapat jatah stok kangen dong." Ujar Kenan terdengar prustasi.
Diva terkekeh mendengar perkataan suaminya itu. Diva membalikkan badannya menghadap Kenan memeluknya.
"Pokoknya malam ini aku tidurnya seperti ini, aku mau dikelonin kamu." Sahut Kenan sambil memeluk pinggang Diva, menenggelamkan wajahnya di dada Diva.
Diva pun hanya pasrah apa yang dilakukan suaminya itu, lalu mengusap pelan rambut Kenan hingga tertidur, tak lama Diva pun ikut masuk kedalam mimpi indah mereka.
Pagi hari membangunkan Kenan, untuk segera bersiap-siap, dengan perlahan Kenan membuka matanya tersenyum kearah Diva.
Kenan menarik Diva masuk kedalam pelukannya mencium bibir Diva sekilas.
"Morning Kiss sayang." Ucap Kenan.
Diva segera melepaskan pelukan Kenan dan bangun, di ikuti Kenan, Kenan langsung ke kamar mandi.
Setelah sekitar 15 menit Kenan keluar langsung berjalan keruang ganti, memakai baju yang sudah disiapkan Diva.
"Yank ayo turun, Ray pasti udah nunggu." Sahut Kenan setelah berada di depan Diva yang duduk disofa, sudah siap dengan seragamnya. Diva tidak mengantar Kenan kebandara karena ia harus kesekolah karena ada ulangan.
Sedangkan Ray sengaja menginap di rumah keluarga Fikram, Agar tidak terlambat.
"Diva, Kamu tidak mengantar suamimu ke Bandara?" Tanya Ayah Fikram saat Diva dan Kenan sudah sampai di meja makan.
"Tidak Yah, hari ini aku ada ulangan."
"Yah motor aku sudah selesai perbaiki nya?" Tanya Diva, Karena kemarin dia melihat motornya tampak seperti baru kembali di garasi saat baru pulang dari rumah sakit.
"Sudah kemarin di antar sama orang bengkel." Jawab Ayah Fikram.
"Jadi *** ....
"Nggak boleh." Ucapan Diva saat Ayah dan Kenan kompak menyelanya.
"Kompak banget." Sahut Diva jengah, karena benar-benar Ayah dan suaminya itu melarang keras dirinya untuk bawa motor.
"Yah, boleh tidak motornya saya bawa.?" Tanya Kenan.
"Maksudnya kamu mau bawa ke kota Xx?" Ayah Fikram kembali menanyakan maksud menantunya itu.
"Iya Yah, Kalau ayah menginzinkan, saya akan naik motor kembali hari ini." Jawab Kenan.
"Yakin Bun, Lagian saya bareng Ray, kami bisa gantian bawanya." Ujar Kenan kemudian beralih menatap sahabatnya.
"Iyakan Ray.?" Tanya Kenan.
"Iya ... Iya ... Aku bisa bilang apa lagi." Sahut Ray.
Setelah sarapan Kenan dan Ray berpamitan kepada keluarga Fikram, tidak lupa Kenan kepada istri tercintanya.
Kenan dan Ray tidak jadi membawa barang-barangnya. mereka hanya membawa satu ransel kecil, untuk barang-barang penting saja.
Setelah kepargian Kenan dan Ray, Diva segera berangkat kesekolah ikut mobil Arka dan Vara yang ingin ke kampus.
"Kenapa tu muka manyun gitu, Suami elu bakal baik-baik saja." Sahut Arka kepada Diva saat mereka sudah di jalan.
"Bukan karena Kenan, tapi motor kesayangan gue" Jawab Diva dan langsung menangis.
Arka dan Vara hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Diva, mereka kira Diva murung karena kepergian suaminya, tapi nyatanya ia seperti itu karena motornya di bawa.
Sekitar 15 menit Diva sampai di depan sekolah. Ia berjalan masuk dengan sangat tidak semangat masih memikirkan motornya.
Teman-temannya yang sudah menunggunya di depan parkiran, terlihat heran melihat Diva yang kurang semangat.
"Kenapa lu ?" Tanya Lani.
"Kagak apa-apa." Jawab Diva.
"Dia pasti galau karena suaminya sudah kembali ke kotanya." Sahut Jova.
"Sok tau lu." Ujar Diva menyentil kening Jova.
"Terus kalau bukan itu, kenapa tu muka kusut banget, apa kamu tidak dapat jatah stok kangen." Ucap Hera.
"Bukan" Sahut Diva.
"Terus kenapa lu ?" Tanya ke empat Sahabatnya hampir bersamaan.
Diva yang sudah berjalan duluan, langsung menoleh mendengar kekompakan teman-temannya.
"Soulmate gue, dibawa Kenan, katanya kalau soulmate gue itu masih disini pasti nanti gue diam-diam membawanya, Kenan sama Ayah kompak tidak lagi ngijinin gue bawa motor" Terang Diva.
"Jadi Kenan sama Ray, naik motor ke kota Xx?" Tanya Lani.
Diva hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Lani.
"Wahh pasti seru banget tuh." Sahut Lani.
"Seru sih seru, tapi Soulmate gue, mana dia udah kinclong banget lagi." Ucap Diva membayangkan motor kesayangannya itu.
"Itu tandanya dia sayang sama elu, dia tidak mau lagi elu kenapa-napa." Ujar Kiki.
Setelah sampai di kelas mereka kembali mengingat sahabat laki-laki satu-satunya, yaitu Rafa, Diva dan Lani merasa sedih melihat ruangan kelas mereka tampak rapi, bersih dari gulungan-gulungan kertas, dan meja yang berantakan karena ulah mereka. karena selama Rafa berada dirumah sakit Diva maupun Lani tidak lagi bersikap bar-bar, ataupun menjahili teman sekelasnya.
"Rafa kapan sembuhnya Yah?" Sahut Jova.
"Doain saja, yang terbaik semoga dia cepat sembuh, dan kembali di tengah-tengah kita." Ujar Kiki.
Sedangkan Hera hanya diam, selama Rafa mengalami kecelakaan Hera lebih banyak diam, dia hanya menimpali obrolan temannya sesekali saja.
"Semoga kamu cepat sembuh Raf, Kamu tidak boleh terus-terusan seperti itu, masih ada orang lain yang mengharapkan mu." Batin Hera.
Bersambung....
Jangan lupa mampir juga ke karya aku yang lain yang berjudul Kinara of Journey jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan
Like
Coment
Vote
🙏🙏🙏🤗🤗🤗