
Tak lama dokter keluarga Kenan yaitu dokter Bagas datang, Diva yang melihat kedatangan dokter paru baya itu datang di antar oleh bi Lastri, langsung beranjak dari duduknya menyapa dokter tersebut.
"Ah Dok, sudah datang rupanya ?" Sapa Diva berbasa-basi.
"Iya nyonya, maaf sedikit terlambat soalnya tadi saya ada pasien darurat yang iaharus di tangani terlebih dahulu di rumah sakit." Jawab dokter Bagas menejelaskan..
"Iya tidak apa-apa dok, mari saya antar langsung ke kamar anak dan menantu saya." Ajak Diva berjalan lebih dulu kemudian di ikuti dokter Bagas sambil menenteng tas kerjanya.
Sebelum masuk kamar, Diva terlebih dahulu mengetuk pintu bercat coklat tersebut. Tak lama Kia membuka pintu kamarnya lalu mempersilahkan bundanya itu masuk bersama dokter Bagas.
"Bagaimana ke adaan Kavi ?" Tanya Diva berjalan masuk lebih dalam.
"Mas Kavi tidur Bun, mungkin karena sudah sangat lemas karena sejak tadi dia muntah dan mual terus." Jelas Kia lalu mempersilahkan dokter Bagas duduk terlebih dahulu di sofa yang ada di dalam kamarnya.
"Lebih baik sekarang kamu bangunkan dulu dia, karena dia mau di periksa !" Ujar Diva.
"Iya non, benar yang dikatakan nyonya." Sahut dokter Bagas.
Kia mengangguk lalu berjalan ke arah tempat tidurnya.
"Mas, mas bangun dulu, dokter Bagas sudah datang." Kia menggoyang-goyangkan lengan suaminya itu.
Tak butuh waktu lama Kavi yang merasa terusik perlahan membuka matanya menatap istrinya itu.
"Mas, dokternya sudah datang." Ulang Kia yang hanya di angguki Kavi, kemudian Kavi perlahan bangun menyandarkan badannya menjadi setengah berbaring, dengan bantal yang sudah di susun agar sedikit lebih tinggi.
"Tuan, apa yang Anda rasakan ?" Tanya dokter Bagas sambil memeriksa denyut nadi Kavi pada pergelangan juga di bagian leher Kavi.
"Saya merasa sangat pusing dan mual dok, badan saya juga rasanya lemas." Jawab Kavi.
Dokter mengangguk mendengar penuturan Kavi, kemudian memeriksa detak jantung Kavi, tak lupa pada bagian perut pria tersebut.
"Sepertinya asam lambung anda naik tuan, dan juga kelelahan, maka dari itu membuat anda lemas juga mual dan pusing." Jelas dokter Bagas.
"Saya sarankan untuk beberapa hari kedepan pola makannya dijaga, dan beristirahat, saya akan meresepkan obat untuk itu." Lanjut dokter Bagas.
"Baiklah dok." Sahut Kavi.
"Dok, apa menantu saya tidak perlu dibawah kerumah sakit ?" Tanya Diva.
"Untuk saat ini tidak perlu nyonya, tapi seandainya dalam jangka waktu dua hari kedepan tuan Kavi masih seperti ini, lebih baik dibawah ke rumah sakit saja nyonya." Jawab dokter menjelaskan dan di angguki Diva.
"Kalau begitu saya permisi nyonya, nona, tuan Kavi, dan ini resep obatnya." Pamit dokter Bagas beranjak dari duduknya kemudian memberikan secarik kertas bertuliskan resep obat untuk Kavi.
"Terimakasih sebelumnya dokter, mari biar saya antar keluar." Ujar Diva.
"Sama-sama nyonya." Sahut dokter Bagas kemudian keluar dari kamar tersebut di ikuti Diva dari belakang.
"Sambil menunggu resepnya di tebus, mas lebih baik lanjutin aja tidurnya !" Seru Kia mendudukkan dirinya di samping suaminya itu.
"Temenin." Manja Kavi kemudian membaringkan tubuhnya menjadikan paha Kia sebagai bantalnya, Kavi juga mencium dalam aroma tubuh istrinya itu yang akhir-akhir ini ia sangat sukai.
"Mas, jangan seperti ini !" Seru Kia sedikit mendorong kepala Kavi dari perutnya.
"Sebentar aja sayang, aku masih ingin seperti ini." Sahut Kavi tanpa mengubah posisinya sedikitpun.
"Tapi mas....
"Sayang, sepertinya enak ya kalau sore-sore gini kita makan bakso, tapi aku maunya yang dekat supermarket depan kompleks." Ujar Kavi masih pada posisinya.
"Tumben banget mas mau makan seperti itu, biasanya juga mas paling anti sama makanan berat apalagi berlemak seperti itu." Ucap Kia heran, pasalnya suaminya itu selalu menjaga pola makannya, suaminya itu bahkan diet untuk menjaga bentuk tubuhnya agar tetap fit dan bugar.
"Tapi rasanya mas pengen banget sayang." Sahut Kavi mengangkat wajahnya menatap Kia dari bawah.
"Ya sudah nanti aku minta tolong mang Diman untuk membelinya."
"Sekarang sayang." Rengek Kavi memperlihatkan puppy eyesnya.
"Sok imut." Cebik Kia.
"Biarin." Balas Kavi.
"Ingat umur mas, walaupun mas coba membuat wajah seimut mungkin tapi itu tidak akan berhasil karena emang mukanya mas yang sudah tua seperti itu." Ucap Kia dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari sang suami tercintanya itu, pria yang selalu menolak kalau dirinya itu sudah tua.
"Enak aja kamu bilang tua, umur boleh banyak tapi muka dan kadar ketampanan suamimu ini masih bisa disandingkan dengan pria seumuran Khay." Ucap Kavi mode on narsis.
"Terserah apa kata mas sajalah, asal itu buat mas seneng." Ucap Kia acuh.
"Minggir dulu mas !" Serunya sambil mendorong kepala Kavi agar menyingkir dari pahanya.
"Ngapain sih, emang mau kemana ?" Tanya Kavi masih pada posisinya tenaga Kia tak mampu membuat Kavi bergeser sedikitpun.
"Katanya mau makan bakso yang di depan kompleks." Sahut Kia jengah kakinya juga sudah sedikit keram.
"Suru mang Diman aja sayang, aku masih pengen seperti ini." Ucap Kavi.
"Mas, kaki aku juga keram loh ini, lagian bagaimana caranya suru mang Diman kalau aku gak pergi menemuinya."
"Istri siapa sih ini, gemes banget, rasanya pengen mas makan aja." Ucapnya.
"Minggir mas !" Seru Kia sudah merasa sangat jengah, bukannya tidak ingin Kavi tertidur di pahanya tapi kakinya sudah sangat keram.
Kavi dengan sangat terpaksa menurunkan kepalanya dari pangkuan sang istri, karena melihat perubahan raut wajah wanitanya.
"Keram banget ya, maafin mas ya sayang." Ucap Kavi merasa sangat bersalah, apalagi saat melihat Kia meringis.
"Aduh mas, jangan di sentu dong, ker banget ini." Sentak Kia saat Kavi menyentuh kakinya yang keram.
"Maaf, sini mas pijitin agar keramnya cepat hilang." Ujar Kavi.
"Sakit mas kalau di sentuh, biarin aja seperti ini, nanti juga sembuh sendiri kok." Sahut Kia meluruskan kakinya di atas tempat tidur.
Beberapa menit kemudian kaki Kia sudah merasa lebih baikan, Kia menurunkan kakinya dari tempat tidur terlebih dahulu.
"Mau kemana sayang ?" Tanya Kavi menahan lengannya Kia.
"Mau menemui mang Diman dulu mas, mau minta tolong beliin kamu bakso." Jawab Kia menoleh kebelakang dimana Kavi sedang berbaring tengkurap sambil memainkan ponselnya.
"Jangan lama-lama !" Ujar Kavi.
"Iya." Sahut Kia lalu keluar dari kamar untuk menemui mang Diman yang biasanya nongkrong di pos satpam.
...----------------...
Waktu menunjukkan jam 7 malam, tampak Enzy sedang memoles wajahnya dengan sedikit make-up tipis, tubuh idealnya sudah berbalut dres berwarna hitam yang sangat pas di badannya, dres yang Khay berikan tadi siang saat perjalanan pulang ke apartemen.
Sementara menunggu Enzy bersiap-siap, Khay menunggu istrinya itu di ruang tengah sambil mengirimkan pesan pada seseorang yang sudah ia perintahkan untuk menyiapkan semuanya malam ini.
"Bagaimana ?" Tanyanya pada seseorang lewat pesan.
"Sudah 99% Tuan." Balas seseorang ditempat yang sudah di sediakan Khay sebelumnya.
"Ok, sebentar lagi saya kesana." Balas Khay lagi.
Saat sibuk berbalas pesan dengan orang suruhannya itu, tiba-tiba Enzy sudah berdiri dihadapannya, membuat Khay sedikit terkejut.
"Serius banget ?" Sindir Enzy sedikit mengintip ke layar ponsel suaminya itu, namun wanita itu gagal mengetahui apa yang suaminya itu lakukan.
Khay tersenyum lalu memasukkan ponselnya ke saku jas yang ia gunakan saat ini, kemudian ia berdiri menarik pinggang Enzy untuk lebih merapatkan tubuh mereka.
"Lagi ngurus kerjaan sayang." Ucap Khay kemudian mencium sekilas bibir istrinya itu.
"Oh...." Enzy hanya ber oh ria saja.
"Sudah siap ?" Tanya Khay di angguki Enzy.
Khay melepaskan pelukannya dari pinggang Enzy, kemudian membawa tangan milik istrinya itu agar merangkul lengannya.
"Ayo kita pergi sekarang tuan putri." Ujar Khay tersenyum dan dibalas senyuman mengembang dari Enzy sembari mengangguk.
Setelah hampir satu jam perjalanan akhirnya mobil yang dikendarai Khay tiba di sebuah basemen hotel berbintang lima.
"Ngapain kita ke hotel yank ?" Tanya Enzy menatap Khay sibuk memarkirkan mobilnya.
"Kita akan dinner disini sayang." Jawab Khay seadanya.
"Ya sudah turun yuk." Ajak Khay.
Khay turun lebih dulu untuk membukakan pintu untuk istrinya tercinta, setelah pintu terbuka Khay mengulurkan tangannya agar di pegang Enzy.
Khay membawa Enzy masuk kedalam lift dan menekan tombol lantai paling atas gedung tersebut, lebih tepatnya menuju roftoop hotel.
"Kita ke roftoop ?" Tanya Enzy yang hanya di balas anggukan dari pria tampan di sampingnya sambil merangkul pinggangnya itu.
Enzy tak lagi bertanya, percuma rasanya Enzy bertanya, toh Enzy yakin suaminya itu tidak akan menjawabnya.
Bersambung...........
Hay readers author sudah menyiapkan lapak baru untuk Kisa Khay dan Enzy selanjutnya Yang berjudul DAMBAAN....
Mudah-mudaha cerita Khay dan Enzy selanjutnya membuat para reader gak merasa bosan, mohon dukungannya ya readers.
Jangan lupa terus berikan LIKE, jika layak diberikan LIKE menurut kalian, dan juga KOMENTAR, jika ada saran ataupun masukkan dari kalian, dan juga menurut perasaan readers mengenai episode ini, Dan satu lagi VOTE jangan lupa jika memang pantas bisa untuk diberikan VOTE....
Mampir juga ke cerita author berjudul DENDAM MEMBAWAH CINTA....
...TERIMAKASIH...
...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...