
Sudah enam hari setelah kejadian Kavi membawa paksa Kia, sejak itu pula Kavi tak pernah lagi ada kabar sama sekali, ia sudah tak pernah berhubungan dengan Kenan maupun menghubungi Kia. Kenan pun bersikap seperti itu, bahkan jika ada pertemuan atau jadwal berhubungan dengan Kavi sahabatnya itu, ia selalu mengutus asistennya atau sekertarisnya untuk mewakilinya.
Hari Sabtu sore ini, Kenan beserta istri dan kedua anaknya berkumpul di ruang tengah kediaman Kenan. karena kebetulan jika hari sabtu sekolah Kia juga diliburkan.
Mereka sesekali terdengar candaan dan saling melempar ejekan, terutama Kia yang selalu mengatai kakaknya itu cengeng, bahkan Kia selalu mengatakan kalau kakaknya itu sama sekali tak tampan seperti ayahnya.
"Bangkhay sebenarnya kamu perlu dipertanyakan saat kamu dilahirkan, karena siapa tau aja pas waktu dirumah sakit kamu tertukar dengan bayi lain" Ucap Kia.
"Enaknya, bilang tertukar, kamu engga liat apa aku mirip banget sama ayah, sebenarnya aku yang mengatakan itu padamu." Ucap Khay mulai kesal.
"Yah, Bun, jujur sama Abang ! Abang ini sangat keren dan tampan kan, dan aku sangat mirip dengan Ayah." Khay beralih pada kedua orangtuanya yang duduk di sofa panjang, sedangkan Khay dan Kia duduk di single sofa yang ada di samping kiri kanan yang di duduki Kenan dan Diva.
"Tentu saja kamu anak ayah, mukanya aja ganteng dan keren seperti itu, dari mana coba kamu mau dapat tampang seperti itu kalau bukan gen dari ayah." Ucap Kenan ikut menyombongkan ketampanannya.
"Bagaimana bisa kamu begitu yakin ! Abang itu tampan karena gen dari aku, Yah." Timpal Diva tak mau kalah.
"Bunda sayang, kamu jangan terlalu percaya diri itu tidak baik ! Mana bisa kamu mendapatkan keturunan seperti mereka kalau bukan bibit unggul dari aku." Sargah Kenan.
"Kamu tuh yang terlalu percaya diri." Cebik Diva jengah, ia tak tahu harus mengatakan apalagi untuk melawan kenarsisan suami dan putra sulungnya itu.
"Bang kapan mantu kesayangan bunda pulang" Tanya Diva mengalihkan topik pembicaraan.
"Katanya besok Bun !" Sahut Khay.
"Oh....
"Semangat amat bang." Sahut Kenan melihat putranya sejak tadi terlihat bersemangat.
"Jelas semangat yah, istri udah mau balik." Sahut Khay.
"Dulu aja berantem terus, sekarang mah, baru ditinggal dua mingguan aja udah seperti mau mati saja." Cibir Diva karena beberapa hari setelah kepergian Enzy Khay tak pernah bersemangat, baru hari ini Khay terlihat mulai semangat mungkin karena Enzy akan segera pulang.
"Sekarang mah udah bedalah Bun, sekarang Enzy mah selalu nempel terus kagak bisa jauh dari Abang, tapi ayah sama uncle Ray mah tidak ada pengertiannya sama sekali menyetujui Enzy menjadi perwakilan pertukaran pelajar." Khay masih saja kesal jika mengingat perbuatan ayah dan pamannya itu.
"Cih, PD." Cebik Kia memajukan bibir bawahnya.
"Kak Enzy mah kepaksa kayak dia mah kasian aja melihat, bangkhay terus saja mengemis, minta dicintai." Lanjut Kia lalu tersenyum meremehkan.
"Enak aja, tidak ada yang tahan menolak pesona Abang mu ini." Sahut Khay mulai kesal, tak lupa ia kembali menyombongkan ketampanannya.
"Oh iya Ki, bisa enggak manggil Abang, jangan sebutan bangkhay, kesannya aku tuh kayak bagaimana gitu..." Ucap Khay sedikit kesal karena adiknya itu selalu memanggilnya dengan sebutan bangkhay.
"Terus mau di panggil apa dong ?" Tanya Kia tanpa beralih dari majalah onderdil motor.
"Ya terserah, yang penting jangan bangkhay lah, contohnya bang Devin kek, atau Bang Al kan keren tuh, Dari pada bangkhay, emang aku bangkai tikus apa ?" Oceh Khay.
"Emmmm.... Kia terlihat sedang berpikir sejenak melihat ke arah meja seolah-olah ia berpikir keras.
"Yah, Bun, sepertinya bang Devin, atau bang Al enggak cocok ya ? Kia beralih pada ayah dan bundanya. Belum sempat kedua orangtua itu berbicara, Kia kembali angkat bicara.
"Cocokan juga bangkhay, enggak usah di ganti-ganti segala, entar lidah aku belibet kalau harus diganti lagi panggilannya bang, udah bangkhay aja lah, lebih cocok, dan sesuai dengan tampang kamu itu." Oceh Kia membuat Khay melemparkan bantal sofa kewajah adiknya itu, saking kesalnya.
"Sepertinya letak kesalahannya ada sama ayah nih." Ucap Khay.
"Kok ayah ?" Tanya Kenan menatap bingung pada putranya.
"Iya, ayah salah kasih nama aku, kenapa mesti Khay, mana punya adek gak ada akhlak lagi, jadinya aku di panggil bangkhay." Jelas Khay kesal dan merajuk.
"Sudah....Sudah....perkara nama aja di permasalahkan sampai segitunya, nama kamu udah paling bagus bang, Enggak usah protes !" Ucap Diva menengahi.
"Dek, kamu mending bantuin bunda masak buat nanti malam, nanti malam kita bakal kedatangan tamu spesial soalnya." Seru Diva pada Kia.
"Bun, malam ini boleh gak ayah minta dibuatkan makanan seafood, rasanya sudah lama banget ayah gak makan itu, please !" Ucap Kenan lalu memohon, pasalnya Diva selalu membatasi suaminya itu makan makanan seperti itu, karena menjaga pola makan suaminya, takutnya tekanan darah tinggi dan kolesterolnya naik, apalagi di usia seperti itu, walaupun Kenan masih terbilang muda dan tak pernah merasakan gejala-gejala seperti itu tapi mulai sejak dini Diva sudah mulai berjaga-jaga untuk menjegahnya.
"Iya, malam ini bunda akan masak makan seafood, karena Khay juga menyukai itu." Sahut Diva kemudian melihat kearah Khay.
"Bun, kok masakan kesukaan aku enggak dibuat juga ?" Protes Kia.
"Tidak sayang, karna kakak kamu sekarang mulai pulang kerumah, lagian kalau masak makanan kesukaan kamu, nantia kita masak kebanyakan, nanti malah mubazir." Jelas Diva membuat Kia memberenggut kesal.
"Besok deh, besok bunda janji akan masak makanan kesukaan kamu." Ucap Diva karena melihat kekesalan putrinya itu.
Tiba-tiba ponsel Khay berbunyi tanda notif pesan masuk, saat membukanya tiba-tiba Khay yang tadinya kesal karena ulah adiknya langsung menjadi sumringah dan bersemangat tak lupa senyum mengembang menghiasi wajah tampannya, membuat semua yang ada di ruangan itu bingung melihatnya.
"Aku sudah pulang 🤗🤗 " Ternyata yang mengirim pesan adalah Enzy dan tak lupa pula foto Enzy berada di depan apartemen, yang Enzy kirim.
"Yah, Bun, aku tidak akan ikut makan malam bersama kalian, aku akan pulang ke apartemen." Ucap Khay lalu dengan cepat berdiri berjalan menuju laci yang ada di dekat televisi mengambil kunci mobilnya.
"Aku pergi dulu, assalamualaikum." Ucap Khay berjalan keluar dari tempat tersebut.
"Bangkhay, kenapa tiba-tiba pergi ? Apa kamu tidak ingin menemui tamu spesial kita ?" Teriak Kia.
Khay menghentikan langkahnya kemudian menoleh.
"Bilang saja padanya, aku minta maaf karena tidak bisa menemuinya." Ucap Khay lalu kembali melanjutkan langkahnya.
"Biasa, istrinya udah kembali pasti." Sahut Kenan santai.
"Tapi katanya besok." Ucap Kia bingung.
"Mungkin kakak ipar kamu sengaja, ingin memberinya kejutan." Sahut Diva di angguki Kenan.
"Ya sudah, ayo bantuin bunda masak, malam ini kita masak kesukaan kamu." Ajak Diva beranjak lalu menarik lengan putrinya itu.
"Katanya mau masak seafood ?" Sahut Kenan.
"Enggak jadi." Seru Diva cuek lalu pergi ke dapur sambil menggandeng tangan putrinya.
"Padahal pengen banget makan seafood." Ucap Kenan pasrah, lalu meneguk kopinya yang sudah dibuat Diva tadi.
Dengan semangat empat lima, Khay langsung masuk ke unit apartemennya, dan langsung menuju kamar mereka, Dengan tak sabar Khay lansung membuka pintu kamarnya, di saat yang bersamaan pula Enzy baru keluar dari kamar mandi, yang hanya menggunakan juba mandi yang hanya sebatas di atas lutut. Khay langsung tersenyum dan langsung berjalan mendekati istrinya itu begitupun Enzy membalas senyuman Khay dan ikut mendekat.
"Kamu terlambat !" Ucap Enzy.
"Emm... Apakah aku sungguh terlambat ?" Tanya Khay semakin mendekatkan dirinya, sambil memperhatikan penampilan istrinya itu.
"Aku pikir kamu akan langsung tiba disini saat aku mengirimi pesan ?" Sahut Enzy pura-pura merajuk.
"Hay, siapa suru membohongi ku, katanya besok kamu baru akan pulang, Hem?" Ucap Khay gemas menarik hidung istrinya.
"Pokoknya aku marah sama kamu." Enzy masih berpura-pura.
"Maaf, andaikan aku bisa memiliki jurus menghilang aku akan langsung menghilang saat itu juga dan langsung berada dihadapan kamu, jangankan sekarang, mungkin aku sudah lama melakukan jurus itu untuk menyusulmu kesana." Ucap Khay sok puitis membuat Enzy tersenyum.
"Dan perlu kamu ketahui, aku bukanlah seekor An***Ng yang langsung berlari jika tuannya datang." Tambah Khay semakin mendekati Enzy.
"Bukan ya, lalu apa ?" Tanya Enzy tersenyum mengejek.
"Bukan ! Tapi aku ini suami yang sudah sangat merindukan istriku ini." Ucap Khay Enzy semakin dibuat merona dengan ucapan pria dihadapannya itu.
"Apa yang kamu pakai ini, Hem ?" Tanya Khay memegang ikatan jubah mandi yang dipakai Enzy sambil menatapnya dengan tatapan menggoda.
"Ummmm... Anggap saja ini ucapan selamat datang untukmu." Sahut Enzy balik memberikan tatapan menggodanya.
"Kamu sudah pandai menggoda rupanya, apa kamu melupakan sesuatu, istriku ?" Ucap Khay lalu bertanya.
"Apa ?" Enzy balik bertanya.
"Ini." Jawab Khay langsung menarik pinggang Enzy agar tubuhnya merapat kepadanya, dengan spontan Enzy meletakkan kedua tangannya di bahu Khay, kemudian Khay langsung mencium bibir mungil istrinya, bukan hanya mencium saja, tapi Khay langsung me****matnya dengan rakus, begitupun Enzy yang mulai mengimbangi lu****n suaminya, mereka sangat menikmatinya, saling meluapkan rasa rindu mereka selama dua minggu terakhir ini.
Setelah di rasa puas dan nafas mereka mulai habis, Khay melepaskan ciumannya, lalu menyekah bibir Enzy menggunakan ibu jarinya dengan cara sensual membuat Enzy memejamkan matanya karena perlakuan Khay itu.
"Aku sama sekali tak melupakannya, tapi kamu saja yang datangnya terlambat." Ucap Enzy masih melingkarkan lengannya di leher suaminya.
"Maafkan aku karena terlambat." Ucap Khay menatap mata Enzy dengan tatapan penuh cinta. Kemudian Khay melanjutkan permainan mereka. Dengan perlahan Khay mendorong Enzy dan menidurkannya di tempat tidur tanpa melepaskan ciumannya.
Keduanya saling bertukar saliva, dan entah sejak kapan tubuh mereka sudah sama-sama polos, Khay melepaskan sejenak ciumannya sebelum melanjutkan permainan mereka yang lebih dari itu.
"Aku merindukanmu, sangat !" Ucap Khay serak kemudian mencium kening Enzy cukup lama dan penuh perasaan yang dalam.
""Aku juga merindukanmu." Sahut Enzy dengan suara serak karena keduanya sudah di liputi gairah.
Khay kembali mencium bibir istrinya itu, kemudian perlahan turun di bagian lehernya dan membuat beberapa tanda kepemilikan disana, karena perbuatannya itu membuat Enzy mendesah pelan, namun terdengar sangat menggoda bagi Khay. Khay tambah bersemangat melakukan permainannya karena mendengar desahan istrinya, dan sore itu menjadi penyatuan cinta dan saling meluapkan rasa rindu mereka setelah berpisah beberapa hari, mereka melakukannya hingga waktu magrib, sebenarnya Khay masih menginginkan tapi Enzy menolak karena mereka harus menjalankan kewajiban mereka sebagai umat Islam.
Bersambung.......
Like
Komentar
Vote
Terimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏