Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 49 Season 3 ( Next Generatoin )


Sepulang dari kampus Enzy langsung mengemasi beberapa pakaian dan barang-barang pentingnya ke dalam koper berukuran sedang, hari ini juga ia berencana pergi ke kota Z. Saat sedang sibuk tiba-tiba Khay masuk ke kamar.


"Mau kemana ?" Tanya Khay mendekat dan langsung duduk di pinggiran tempat tidur.


"Aku mau ke kota Z, mungkin sampai beberapa hari kedepan." Jawab Enzy tak berani melihat kearah Khay, lagi-lagi ia bersusah payah menahan air matanya yang sudah menggenang di pelupuk matanya agar tak jatuh.


"Oh, kamu hati-hati !!" Imbuh Khay kemudian beranjak masuk ke dalam kamar mandi.


Enzy mengentikan aktivitasnya sejenak, lalu menoleh ke arah kamar mandi yang sudah tertutup rapat, air matanya jatuh seketika.


"Apa kamu benar-benar sudah tak mempedulikan ku ?" Gumam Enzy lalu menghapus air matanya, kemudian ia melanjutkan aktivitasnya.


Sementara di kamar mandi, Khay menatap dirinya di cermin, memikirkan bagaimana jalan kehidupan rumah tangganya yang tak pernah mulus, selalu saja ada gangguan.


"Apa kamu benar-benar ingin pergi menemuinya, apa kamu sungguh tidak bisa menerimaku ?" Khay terus bertanya-tanya menatap sendu dirinya di cermin.


Khay mengehela nafas berat kemudian mencuci mukanya, setelah dirasa lebih tenang, ia kembali keluar, ia mendapati Enzy duduk di pinggir tempat tidur, dengan barang-barang yang sudah siap.


"Sudah mau berangkat ?" Tanya Khay datar berjalan ke arah Sofa.


"Iya." Sahut Enzy.


"Apa yang gue katakan jika bunda menanyakan soal kepergian kamu ?" Tanya Khay.


"Aku sudah menghubunginya, kalau aku hanya pergi sebentar, dan kamu tidak bisa mengantarku karena lagi ngurusin masalah kantor." Jelas Enzy kemudian beranjak dari tempat tidur.


"Aku pergi." Pamit Enzy.


"Emm, hati-hati !!" Sahut Khay datar tanpa menoleh sedikitpun kearah istrinya itu.


Enzy yang melihat sikap cuek Khay, hanya bisa mengehela nafas berat, lalu menghapus air matanya kasar yang jatuh begitu saja, tanpa ia sadari Khay memperhatikannya di pantulan cermin, hingga Enzy mulai melangkah kakinya keluar dari kamar. Saat Enzy benar hilang di balik pintu, Khay memejamkan matanya, hatinya serasa hancur di tinggalkan oleh wanita yang ia cintai.


...----------------...


Setelah melewati perjalanan udara yang cukup melelahkan akhirnya Enzy tiba di kota Z, ini kali pertamanya kembali ke kota kelahirannya setelah kejadian yang menimpah keluarganya. Enzy menghela nafas panjang, kemudian memasuki taksi yang ada di depan lobi bandara menuju kediamannya bersama keluarganya dulu.


Dalam perjalanan Enzy mengingat semua kenangannya di kota ini, dimana ia selalu bersama keluarganya, bahkan Enzy jarang sekali keluar main bersama teman-temannya, karena jika weekend ia lebih memilih menghabiskan waktu bersama papa dan mamanya.


Sekitar satu jam lebih perjalanan akhirnya Enzy tiba di sebuah rumah mewah bercat abu-abu dengan gaya modern klasik. Enzy turun di depan gerbang, menatap gerbang bercat hitam itu yang menjulang tinggi.


Lagi-lagi Enzy mengehela nafas lelahnya, kemudian mulai melangkahkan kakinya memasuki rumah peninggalan kedua orangtuanya.


"Non, Enzy..." Sapa seorang security yang berjaga di rumah itu, karena sejak kepergian Rafa dan Hera Kenan menugaskan beberapa orang untuk merawat rumah tersebut. Dan yang di pekerjakan di sana orang-orang yang memang sebelumnya bekerja dengan Rafa dan Hera jadi mereka sangat mengenali Enzy.


"Iya pak, apa kabar ?" Sahut Enzy kemudian bertanya, setelah security tersebut membuka pintu gerbang agar Enzy bisa masuk.


"Alhamdulillah, bapak baik-baik saja non, non sendiri apa kabar ?" Tanya balik security tersebut.


"Alhamdulillah saya baik juga pak, oh iya pak kalau gitu aku masuk dulu ya." Jawab Enzy kemudian pamit masuk kedalam.


Saat berjalan menyusuri halaman rumahnya Enzy lagi-lagi meneteskan air matanya, mengingat semua kenangannya bersama kedua orangtuanya. Tangisan Enzy lagi-lagi pecah saat seorang bibi membuka pintu utama.


"Non Enzy." Ucap Bi Nah langsung memeluk nona mudanya itu. Bi Nah adalah pengasuh Enzy sejak ia kecil.


"Non Enzy apa kabar, non baik-baik aja kan, sehat-sehat aja kan non ?" Tanya bi Nah, memberondong Enzy dengan pertanyaan, sambil memeriksa seluruh tubuh Enzy, lalu menghapus air mata nona mudanya itu.


"Aku baik-baik aja bi, bibi apa kabar ?" Tanya Enzy sendu, dengan mata sembab.


"Bibi juga baik-baik aja non." Sahut bi Nah lalu membawa Enzy segera masuk kedalam.


"Non, sendirian aja, den Khay enggak ikut ?" Tanya bi Nah setelah mereka masuk ke ruang tengah.


"Iya Bi, aku kengen makanya aku pulang kesini, Khay tak bisa mengantarku, soalnya dia juga lagi sibuk merintis usaha yang baru ia kelola." Bohong Enzy tersenyum sedikit ia paksakan.


"Oh, non mau makan apa biar bibi masak buat non." Ujar bi Nah.


"Enggak usah bi, saya masih kenyang, pengen istrirahat dulu, tolong kopernya di bawa ke kamar ya Bu !" Seru Enzy memperhatikan setiap sudut rumahnya, yang sama sekali tak ada yang berubah, semuanya masih tertata rapi seperti sebelumnya.


Saat bi Nah ingin membawa koper milik Enzy ke kamarnya di lantai atas yang dulu ia tempati, Enzy langsung mencegahnya.


"Bi, aku mau tidur di kamar papa mama." Seru Enzy.


"Ba...baik non." Bi Nah membalikkan badannya ke arah kamar mendiang majikannya yang ada dibawah.


Enzy duduk di sofa ruang tengah, tempat sering berkumpulnya dengan kedua orangtuanya.


...----------------...


Sementara di kota Xx.


Malam ini Khay kembali menyambangi bar yang sering ia datangi, kali ini ia di temani Doni. Khay terlihat sudah sangat kacau, ia terus minum membuat Doni khawatir melihatnya.


"Bro..." Sapa Leo yang baru saja bergabung.


"Apa, kamu dari mana saja ?" Sapa balik Doni.


"Ada apa dengannya ?" Tanya Leo menunjuk Khay dengan dagunya.


"Kagak tau gue, dia sudah minum sejak ia mulai masuk.


"Apa dia sudah gak waras, apa dia mendengar apa yang kita bicarakan ?" Tanya Leo melihat keadaan Khay yang berantakan.


"Dia sudah mabuk berat, kacau pokoknya, apapun yang kau katakan ia tidak akan mendengarnya." Sahut Doni.


"Woiii, bro..." Leo mencoba untuk mengajak bicara sahabatnya itu, sambil menepuk bahunya.


"Emmm..." Sedangkan Khay hanya berdehem, dan terus meneguk minumannya.


"Apa kau baik-baik saja ?" Tanya Leo.


"Gue baik." Sahut Khay menusukkan wajahnya di atas meja bartender.


"Kau yakin ? Sejak kita masuk kamu terus saja minum, bahkan ini sudah sangat larut, apa kau ingin tinggal dan mati disini." Oceh Doni.


Khay hanya tersenyum miring, kemudian meracau.


"Biarkan saja gue mati disini, gue gak peduli, toh dia juga sudah pergi ninggalin gue, hehehe..." Racau Khay lalu tertawa, pria itu benar-benar sudah gak waras.


"Khay apa yang kau katakan, kamu benar-benar sudah gak waras, wanita mana lagi yang membuatmu seperti ini, hah ?" Seru Leo.


"Siapa lagi kalau bukan bininya, hanya dia yang bisa membuat Khay seperti ini." Sahut Doni.


"Dia satu-satunya wanita yang membuatku seperti ini, gue sangat mencintainya, namun dia sama sekali tak mencintaiku walau sedikitpun, tak peduli seberapa keras aku mencobanya, tapi dia lebih memilih laki-laki lain." Ucap Khay terdengar sangat menyedihkan.


Leo dan Doni kasian melihat keadaan sahabat mereka itu, dengan nasib percintaannya, Khay yang dikenal playboy dan selalu di kejar-kejar wanita, tapi sekarang malah Khay sendirilah yang hampir gila karena mengejar cinta seorang wanita, dan itu adalah istrinya sendiri. Leo dan Doni menatap Khay dengan tatapan prihatin.


"Kalian jangan menatapku seperti itu, gue gak butuh di kasihani, gue gak akan mati karena pata hati." Seru Khay kembali meneguk minumannya.


"Tapi, terlalu banyak minum seperti ini akan membunuhmu." Seru Doni merampas botol minuman yang akan Khay tuang kembali ke gelasnya.


"Sayang, kembalilah, aku merindukanmu." Racau Khay.


"Bro, sudahlah ! Lebih baik kita pulang, kamu sudah sangat kacau." Imbuh Leo dan di angguki Doni.


Leo membantu Khay agar berdiri lalu memapahnya keluar dari tempat tersebut.


Leo dan Doni terpaksa membawa Khay ke apartemen milik Doni yang biasa ia singgahi jika malas pulang kerumahnya, atau di saat-saat seperti ini. Dalam perjalanan Khay terus saja meracau memanggil-manggil nama Enzy.


Bersambung.....


Visual


Leo



Doni



Terus beri dukungan buat Author agar tetap semangat buat Upnya.


like, Koment dan vote.


Terimakasih 🙏🙏🙏🙏


Love You All ❤️❤️❤️❤️🤗🤗🤗🤗😘😘😘😘