
Setelah jam mata pelajaran selesai, Kia di tugaskan Kavi untuk membawa beberapa pekerjaan soal yang di berikan Kavi tadi, sekalian ia pergi untuk menerima hukumannya atas tidak mengumpulkan tugas.
"Letakkan dimeja sana !" Seru Kavi sambil menunjuk salah satu meja yang ada di pojok ruangan tersebut.
Kia tanpa mengeluarkan suara apapun meletakkan tumpukan buku tersebut dengan kesal, pasalnya ia membawa banyak buku tebal namun Kavi tak ada sedikitpun niatan untuk membantunya, membuat lengannya dirasa mau patah, karena jarak dari kelasnya dengan ruangan Kavi cukup jauh.
"Gak usah kesal gitu ! Sekarang kamu bersihkan ruangan saya ini sampai benar-benar bersih dari debu !" Seru Kavi santai duduk di kursi kerjanya.
"Gak, emang aku ini pembantu bapak." Tolak Kia.
"Ini sebagai hukuman kamu, karena tidak mengumpulkan tugas kamu yang kemarin." Ujar Kavi.
"Bialang aja bapak modus !" Seru Kia mencebikkan bibirnya, sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Maksud kamu saya modus apaan, dan buat apa juga saya modus dengan anak kecil seperti mu" Sargah Kavi.
Kia yang merasa salah bicara menjadi gelagapan sendiri, harus menjawab apa.
"Es ..saya tahu bapak mengajar disini ada maksud tersendiri bukan ?" Ujar Kia memberanikan menatap manik mata pria jauh diatas umurnya tersebut.
"Kamu to the poin aja, saya sama sekali tak mengerti dengan apa yang kamu bicarakan !" Ujar Kavi berpura-pura tidak mengerti, karena Kavi dengan sengaja ingin menghukum Kia dengan membereskan ruangannya, ia tidak ingin Kia jalan dengan Andre, karena Kavi pikir Andre adalah kekasih Kia.
"Maksud....maksud saya...." Kia malu ingin mengutarakan maksudnya.
"Bicara yang jelas Azkia ! Saya tidak ingin membuang-buang waktu saya hanya karena menunggumu membersihkan ruangan saya." Seru Kavi.
"Maksud saya, bapak modus kan menyuruh saya membersihkan ruangan bapak, karena bapak ingin dekat-dekat." Ujar Kia cepat, bahkan terdengar Kia sedang membaca dengan sangat cepat.
"Dekat-dekat bagaimana maksud kamu ?" Kavi masih pura-pura tidak mengerti.
"Aishhhh.... Dekat-dekat dengan saya pak." Sahut Kia tak berani menatap pria dihadapannya.
"Hahhahahah...."Seketika Kavi tertawa sampai-sampai tawanya terdengar memenuhi ruangan kecil tersebut, membuat Kia semakin merona karena berani mengatakan itu, tiba-tiba Kia berpikir, bagaimana jika Kavi benar-benar hanya murni mau menghukumnya.
"Dari mana kamu dapat pemikiran seperti itu ? Atau jangan-jangan kamu berharap saya seperti itu, dan apa kamu ternyata menyukai saya, iya ?" Ujar Kavi masih disisa-sisa tawannya.
"Jangan mengada-ngada pak Kavi yang terhormat, saya tidak pernah berpikir untuk menyukai bapak, lagian ayah saya juga bakal gak akan setuju saya dan bapak, apa bapak lupa dengan ayah saya." Ujar Kia memberanikan diri, dan mencoba untuk bersikap biasa-biasa saja, menutupi rasa malunya.
"Tapi bagaimana kalau yang kamu pikirkan itu benar, dan saya sengaja memberimu hukuman ini karena saya suka melihat wajahmu yang cantik ini." Ucap Kavi menunjuk wajah Kia menggunakan pena yang ia pegang sejak tadi.
"Saya harap bapak membuang jauh-jauh perasaan bapak itu, karena sampai kapanpun saya tidak akan pernah membalasnya." Ucap Kia penuh penekanan.
"Jika hanya itu maksud bapak untuk menghukum saya, saya minta maaf pak, karena saya tidak bisa menuruti hukuman bapak, dan saya berjanji akan menerima hukuman lainnya asalkan jangan seperti ini pak." Ucap Kia panjang lebar.
"Saya permisi pak." Pamit Kia langsung membalikkan badannya ingin meninggalkan tempat tersebut, baru saja Kia memutar knop pintu, Kavi angkat bicara membuat Kia menghentikan langkahnya.
"Bahkan aku rela meninggalkan pekerjaan ku, dan menjadi seorang guru di sekolah ini hanya untuk mendekatimu, aku ingin membuatmu jatuh cinta padaku, walaupun aku sadar itu sangat sulit, karena perbedaan umur kita juga restu dari ayah kamu, sulit untuk aku dapatkan, tapi aku percaya dengan kuasa Tuhan, dan atas ketulusan ku aku bisa merubah semuanya, tanpa terkecuali restu dari ayahmu dan mendapatkan cinta darimu." Ucap Kavi kemudian berjalan mendekati Kia yang masih berdiri mematung membelakanginya.
"Kia, aku rela melakukan apapun demi bisa mendapatkan mu." Tambahnya ingin memegang lengan Kia, namun dengan cepat Kia menepis tangan Kavi.
"Maaf Om, lebih baik om berhenti mengajar disini, jika om hanya berharap balas cinta dariku, karena biar sampai kapanpun aku dan ayah tidak akan pernah menerimanya." Sahut Kia tanpa membalikkan badannya.
"Tidak ada yang tidak mungkin Kia, kamu tidak bisa menebak apa yang akan terjadi dimasa depan, walau menebak diri kita sendiri, apalagi perasaan manusia tidak ada yang bisa menentukan, karena aku percaya bahwa Allah bisa mengubah semuanya, termasuk dengan perasaan kamu sendiri terhadapku, dan aku sangat meyakini itu." Ucap Kavi panjang lebar.
"Terserah apa kata bapak, kalau begitu saya permisi." Ucap Kia lalu pergi meninggalkan Kavi yang berdiri mematung menatap kepergiannya.
...----------------...
Kia berjalan menyusuri koridor menuju kantin, Kia yakin kedua sahabatnya Andre dan Prilly berada disana.
Kia terus teringat dengan kata-kata Kavi tadi.
"Kamu benar Kia, Aku sengaja menghukummu dengan menyuruhmu membersihkan ruangan ini karena saya ingin dekat denganmu, aku masih sangat menyukaimu, bukan hanya sekedar suka tapi aku juga mencintaimu." Ucapan itu kembali terngiang di kepalanya. Tak bisa Kia pungkiri kalau ia melihat kesungguhan Dimata Kavi, disana terlihat jelas ketulusan pria dewasa itu, tak ada kebohongan yang ia dapat sedikitpun. Namun Kia belum merasa yakin dengan perasaannya yang selama ini ia rasakan kepada pria dewasa itu, apalagi Kenan benar-benar tak ingin jika ia ada hubungan dengan Kavi, dan dengan ketidak sukaan Kenan kepada Kavi karena telah menyukainya, membuat Kia berpikir kalau Kavi bukanlah pria yang cocok dengannya, karena selama ini Kia percaya apa yang tidak di sukai ayahnya berarti hal itulah bukan yang terbaik.
Kia yang sudah tiba di kantin, langsung menghampiri Prilly dan Andre yang tengah asik mengobrol sambil bercanda.
"Ki, bukannya loh di hukum sama pak Kavi, kamu dihukum apa kok cepat banget ?" Tanya Prilly sedikit terkejut saat tiba-tiba Kia duduk disampingnya, dan langsung menyeruput minuman milik sahabatnya, entah itu milik Andre atau Prilly, yang jelas Kia langsung menyeruputnya.
"Ki, itu minuman gue." Ucap Andre.
"Bagi dikit Napa sih Ndre, pelit amat lu." Sahut Kia kurang semangat.
"Oh iya, Napa tuh muka lecek amat, jadi penasaran gue, loh itu di kasih hukuman apa sih sama si pak guru ganteng itu." Oceh Prilly.
"Ganteng dari mana, gantengan juga gue, dan satu lagi gue lebih muda dari dia, kalau dilihat-lihat pak Kavi itu jauh lebih tua dari kita, mungkin anaknya juga sudah seumuran dengan kita, atau setidaknya anaknya sudah SMP." Oceh Andre.
"Itu namanya sudar Daddy Andre, jika nanti kamu seumuran pak Kavi, gue gak yakin kamu masih terlihat muda seperti pak Kavi ini." Ujar Prilly.
Sedangkan Kia hanya bisa diam mencerna setiap perdebatan dua sahabatnya itu, yang terlihat jarang akur, namun saling menjaga dan peduli satu sama lain.
"Apa kata mereka jika aku beneran jadian ama om Kavi, mereka pasti ngejek gue habis-habisan, ya Allah jangan sampai perasaan ini kau ubah menjadi menyukainya ya Allah." Ucap Kia dalam hati.
Bersambung...........
Jangan lupa terus berikan dukungan, dan terus budayakan menekan tombol like, berikan komentar juga vote reader seikhlasnya.
Terimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏